Faizin menuruni undak-undakan teras vila. Langkahnya terhenti ketika mendengar desis angin yang cukup panjang, makin didekati makin kencang. Ia mengamati keadaan sekitar, memastikan sumber bunyi.
Perlahan, ia mendekati mobil yang ia duga sumber bunyinya berasal dari sekitar sana. Sambil berjingkat ia menyiagakan pendengaran. Namun bunyi tersebut berhenti.
Terdengar suara kresek-kresek, seperti bunyi sepatu menginjak reranting kering. Faizin yakin ada orang berada tidak jauh dari posisinya. Ia menduga orang tersebut berada di balik mobil.
Faizin berjongkok. Kepalanya diturunkan, hampir menyentuh tanah. Pandangannya memeriksa kolong. Di sisi seberang mobil ia melihat sepasang kaki, menandakan memang benar ada orang.
Faizin berdiri. Posisinya berseberangan dengan orang tersebut. Ia berada di bagian kanan mobil, dan orang itu berada di sebelah kirinya. Setengah berjingkat ia memutar lewat belakang, mencari tahu siapakah orang tersebut.
Pada saat yang bersamaan, orang tersebut memutar lewat belakang mobil. Ketika wajah Faizin berusaha mengintai, saat itu juga wajah orang tersebut tersembul. Mereka sama-sama terkejut.
"Bapak?"
"Hendi, bikin bapak kaget saja!" Faizin mengelus d**a.
Orang tersebut ternyata Hendi. Wajahnya merah padam karena kaget dan tidak menyangka akan bertemu Faizin.
"Ngapain kamu di sini?" Faizin menatap Hendi curiga. "Wajahmu seperti habis melihat hantu saja!"
Hendi cengar-cengir. "Cari angin, Pak."
"Angin tidak perlu dicari. Mereka yang mencari kita. Sudah menjadi sifatnya bergerak ke segala arah."
"Mereka?"
"Iya. Angin itu jamak. Jumlahnya banyak."
Hendi terkekeh. "Iya juga, sih!"
Faizin mengacak rambut Hendi. "Itulah akibat dari sering bolos waktu pelajaran fisika. Hal mendasar seperti itu saja tidak tahu!"
Hendi membela diri. "Setahu saya, angin tidak disebut dengan kata ganti orang ketiga jamak."
Faizin terkekeh sinis. "Kamu masih saja ngeyel setiap kali ditegur. Benar-benar belum berubah selama dua tahun ini."
"Bakat dari lahir, Pak!"
Faizin mengernyit. "Dan kamu bangga?"
Hendi cengar-cengir, malu.
"AAAHHH!" Tiba-tiba terdengar teriakakan histeris dari dalam vila.
Faizin dan Hendi serempak menoleh ke Vila. Tanpa dikomando, mereka berlari menuju sumber suara.
Bunyi rentetan pijakan sepatu menggema vila, bukan hanya Faizin dan Hendi saja, dari dapur, Nando juga berlari menuju kamar belakang, asal teriakan.
Nando sampai lebih dahulu karena posisinya lebih dekat. Ia mendapati Risma berdiri di ambang pintu kamar dengan tubuh mengejan. Tangan kanannya membekap mulut. Matanya terpejam kuat-kuat.
"Ada apa, Ris?" Nando menengok ke dalam kamar. Apa yang ia lihat telah menjawab pertanyaannya. Desi terlungkup di lantai, bersimbah darah yang masih segar.
Nando masuk kamar. Ia berjinjit agar sepatunya tidak menginjak darah. Diperiksanya denyut nadi pada pergelangan tangan dan leher Desi.
"Ada apa, Ris?" tanya Hendi sambil mengatur napas.
Alih-alih menjawab, Risma membenamkan wajah ke pundak Hendi.
"Ada apa?" Hendi mengulangi pertanyaannya.
Tangis Risma pecah. Badannya sesenggukan. "De-desi, Hen!" jawabnya tergagap.
Hendi sulit bergerak karena pelukan Risma. Dari posisinya berdiri, ia tidak bisa melihat keadaan Desi, terhalang dinding kamar.
Faizin baru saja sampai. Napasnya terengah-engah. "Ada apa, Hen?"
"Belum tahu, Pak!" jawab Hendi.
"Desi sudah nggak bernyawa!" beritahu Nando pelan. Ia keluar kamar, kemudian duduk setengah berjongkok dengan punggung menyandar dinding. Ekspresinya datar. Pandangannya kosong.
"APA?" Hendi mendorong pelan tubuh Risma, mendekati pintu kamar sambil tetap membiarkan kepala gadis itu menyandar pundaknya. Sekarang matanya bisa melihat tubuh Desi. "Oh my God!"
Faizin merangsek, masuk kamar. "Ya Tuhan!" ucapnya, begitu melihat kondisi Desi yang mengenaskan.
Risma mengangkat kepala dari bahu Hendi. Ia duduk di dekat Nando, menekuk kedua lutut untuk menopang wajahnya yang tampak shock.
Faizin melangkah ke kamar. Diraihnya selimut dari atas kasur. Ia menutupi jasad Desi dari kepala sampai kaki.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Hendi, tidak jelas ditujukan pada siapa. Wajahnya menunjukkan ekspresi ngeri.
"Padahal waktu lewat kamar itu, aku tidak melihat ada sesuatu yang aneh," beritahu Nando.
Hendi mendekati Nando. Ia penasaran dengan apa yang tadi dilakukan teman sekamarnya itu. "Waktu kamu lewat, kamar itu terbuka apa tertutup?"
"Tertutup," jawab Nando tanpa memandang Hendi. "Aku mendengar ada percakapan, tapi nggak jelas. Andai jelas pun, aku nggak suka menguping. Lagi pula aku buru-buru mau ke kamar mandi. Yang pasti aku yakin di dalam ada lebih dari satu orang."
"Percakapan bisa saja lewat telepon, dari luar kan nggak bisa bedain." Hendi berargumen.
Risma membuka suara. "Desi ngobrol sama aku. Sebelum aku keluar ia kelihatan baik-baik saja."
"Memang kamu pergi ke mana?" tanya Hendi.
"Ke dapur," jawab Risma parau.
"Nah, waktu Nando lewat kamar itu, kamu sudah keluar kamar apa belum?" tanya Hendi kembali.
"Aku nggak tahu. Tapi waktu mau ke dapur, aku papasan sama Nando."
"Berarti, kemungkinan besar, waktu Nando lewat kamar itu, kamu masih di dalam kamar bersama Desi," duga Faizin.
"Sepertinya begitu!" celetuk Nando.
Risma kembali menangis. "Kalau tahu akan begini, aku nggak akan ninggalin Desi. Aku nggak akan ngadain reuni!" Tangisnya semakin menjadi.
Faizin mengelus rambut Risma pelan. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Ada reuni atau tidak, takdir Desi tidak akan berubah!"
Nando memandang Hendi. "Kamu tadi ke mana, Hen? Kenapa tadi waktu Risma teriak kamu dari luar?"
Wajah Hendi memerah, tidak suka dengan intonasi ucapan Nando yang terkesan curiga. "Aku keluar vila, cari angin."
Faizin menimpali. "Bapak juga tadi keluar dan ketemu Hendi di dekat mobil. Nggak lama kemudian terdengar teriakan Risma."
"Jadi, kamar kalian sepi?" Risma memandang Hendi dan Nando bergantian dengan sorot menghakimi. "Kalau kalian berada di dalam kamar saat Desi tewas, pasti kalian mendengar sesuatu!"
"Aku keluar kamar nggak lama setelah Nando keluar yang katanya mau ke kamar mandi," ujar Hendi.
"Aku memang ke kamar mandi!" sergah Nando, tampak kesal karena nada Hendi terkesan tidak mempercayai alibinya.
Faizin menengahi. "Sudah, sudah, adu mulut tidak akan memperbaiki keadaan!"
"Apa mungkin Desi bunuh diri?" Nando berujar. Pandangannya lurus ke depan. Kepalanya menyandar dinding.
Faizin mengangkat kedua tangan. "Jangan berspekulasi dulu. Lebih baik kita telepon pihak yang berwajib."
"Hape kita, kamu taruh di mana, Ris?" tanya Hendi.
Alih-alih menjawab, Tangis Risma kembali pecah.
Nando menepuk bahu Risma, mencoba menenangkan. Ia menatap Faizin dan Nando. "Lebih baik kita tunggu Risma tenang dulu."
Risma mendongak, memandang semua orang di sekitarnya secara bergantian. Wajahnya mendadak merah. "Mau tenang gimana? Desi teman kita! Dan repotnya, ia mati di kamarku, di vilaku!"
Hendi mendesah perlahan. Nando bungkam. Faizin mondar-mandir di depan pintu kamar.
Beberapa saat suasana mencekam. Sunyi. Masing-masing sibuk dalam pikirannya. Sampai akhirnya, Risma berdiri.
"Mau ke mana?" tanya Hendi.
Mata Risma membelalak, menatap Hendi dengan sorot marah. "Bukannya tadi kamu menanyakan ponsel?"
Faizin menepuk bahu Hendi, memberi isyarat untuk menahan diri dan memahami emosi Risma.
Hendi mengangguk paham.
"Biar aku yang ambilkan. Kamu kasih tahu saja di mana tempatnya?" ujar Nando pada Risma.
"Di lemari itu!" Risma menunjuk lemari di dekat meja makan. "Buka saja, tidak dikunci."
Nando langsung menuju lemari. Ia membuka pintu atas. Matanya bergerak ke sana kemari. Tangannya meraba-raba, tapi tidak menemukan ponsel. Dibukanya pintu bawah, sama saja, barang yang ia cari tidak ditemukan.
Nando memandang Risma. "Nggak ada!"
Risma mengernyitkan dahi. Ia berjalan menuju lemari. "Aku kumpulkan jadi satu di bagian atas!"
"Apa mungkin aku kurang teliti?" tanya Nando, setengah berujar.
Risma mencari ponsel-ponsel di bagian atas. Ia tidak menemukannya. Mulai panik, ia mencari di bagian bawah, tapi sama saja nihil. Wajahnya tampak kesal dan menunjukkan keheranan.
Faizin dan Hendi mendekat ke lemari.
Risma mengacak-acak isi lemari, mengeluarkan beberapa benda yang dianggap menghalangi pencariannya. Namun, ponsel-ponsel yang ia letakkan di sana tetap tidak ia temukan.
"Pasti ada yang mengambil!" ujar Risma, setengah berteriak.
Faizin, Nando, dan Hendi saling pandang.