Pembagian Kamar

1342 Words
Hingga acara makan siang, Nando tampak tidak antusias mengikuti reuni. Ia lebih sering membuang muka ke arah lain, alih-alih hanyut dalam suasana kangen-kangenan. Tampak sekali ia malas mendengar bahasan perihal kasus hilangnya mobil customer dua tahun lalu. Argumennya bahwa peristiwa itu hanya 'masa lalu' yang tak perlu diungkit bisa dimaklumi, terlebih lagi karena posisinya sebagai korban fitnah, semua pun berusaha memahaminya. Sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kasus tersebut, Desi beberapa kali meminta maaf kepada semua pihak, terutama Nando, bahkan siap menerima konsekuensi apa pun asal dimaafkan. Semua memaafkannya, kecuali Nando yang bersikap ambigu. Acara makan siang pun lebih dikuasai suasana hening, hanya sesekali terlontar kelakar ringan di antara denting bunyi piring yang beradu dengan sendok. Masing-masing menahan diri untuk tidak membahas kasus tersebut. Hendi yang paling bersemangat untuk mengungkit kasus tersebut terpaksa bungkam. Hatinya menjadi tidak tenang. Ia takut masih ada pihak yang belum bisa menerima kasus tersebut. Jika Nando berkenan membahas kasus tersebut, Hendi ingin menceritakan perihal teror yang ia alami. Sebulan setelah kekuar dari Reyncar, ia mendapatkan paket berisi kunci T berlumuran darah yang sudah mengering. Tadinya Hendi menganggap itu ulah iseng belaka. Faktanya sejak itu ia tidak mendapatkan lagi paket serupa. Namun, selama tiga bulan terakhir, sudah dua kali ia mendapatkan paket yang serupa. Berdasarkan isinya, Hendi curiga paket teror tersebut berkaitan dengan kasus dua tahun lalu. Maka itu, ia berupaya agar reuni ini menghasilkan kesepakatan agar semua pihak bisa saling menerima dan saling memaafkan. Sayang, Nando secara sepihak menolak untuk membahasnya. Ia harus melakukan sesuatu sebelum acara reuni berakhir. Selepas makan siang, Risma mempersilakan tamu-tamunya untuk beristirahat. "Di rumah ini ada tiga kamar," ujar Risma. "Yang paling depan, dekat ruang tamu, adalah kamar utama. Di dalamnya terdapat kamar mandi. saya persilakan Pak Hendi untuk beristirahat di sana." Faizin tersenyum tipis. "Saya mah di kamar mana saja nggak masalah, asal kaki saya yang sudah asam urat ini bisa selonjoran." Semua tersenyum mendengar penuturan Faizin, kecuali Nando. Risma menunjuk dua kamar yang berada dekat ruang tengah. "Dua kamar bersebelahan itu, yang depan buat Nando sama Hendi, yang belakang buat aku sama Desi. Kita berbagi kamar mandi yang letaknya dekat dapur. Silakan kalau mau istirahat sejenak. Nanti sore kita jalan-jalan mengelilingi perkebunan." Semua bergegas ke kamar yang sudah ditentukan. Barang bawaan mereka tidak banyak, masing-masing hanya membawa satu tas. Penasaran dengan cerita yang disampaikan Desi, begitu sampai kamar, Hendi langsung meminta klarifikasi Nando. "Tadi Desi cerita tentang kamu," ujar Hendi. Nando diam, seolah tidak mendengar ucapan Hendi. Ia lebih tertarik menatap cermin di atas meja. Hendi merasa sedang bicara dengan orang asing yang sangat angkuh. Menurutnya, Nando berubah drastis. Dulu sahabatnya itu banyak ngomong, ceria, enerjik, dan reaktif. "Desi bilang kakakmu cerita banyak tentangmu," lanjut Hendi, mencoba memancing reaksi Nando. "Ia cerita tentang kamu selepas pergi dari Reyncar." Nando menoleh. Matanya terbelalak. "Aku tidak pergi, tapi dikeluarkan!" Suaranya lirih tapi penuh tekanan. Hendi menarik napas dalam-dalam. Ia ingin meminta maaf lagi untuk ke sekian, tetapi diurungkan karena Nando tidak mau lagi membahas kasus itu. Melihat sikap Nando yang kurang bersahabat, Hendi memilih diam. Ia membaringkan tubuh di atas kasur. "Desi cerita apa saja?" tanya Nando datar sambil memandang wajah Hendi melalui cermin. Mendapat pertanyaan Nando, Hendi bangun. "Katanya kamu dikirim ke sebuah perusahaan di Jawa Timur, kemudia kabur dan menjadi TKI ilegal do Malaysia." Wajah datar Nando seketika merah padam. Ia menoleh ke Hendi. "Terus ia cerita apa lagi?" Hendi takut melihat perubahan mimik Nando. "Emmhh, ia juga cerita tentang kamu pernah dituduh mencopet sampai menjadi bulan-bulanan masa." Tangan Nando terkepal. Matanya melotot tajam. "Lancang sekali mulutnya membicarakanku di belakang!" Hendi beringsut, menjauhi Nando sampai badannya mentok dinding. Nando meninju udara. Dengan kesal ia beranjak dari kamar. "Mau ke mana?" tanya Hendi khawatir, kalau-kalau Nando akan melabrak Desi. Nando menoleh. "Nggak usah ikut! Aku mau ke kamar mandi." Hendi mengangguk takut. Nando keluar kamar, menuju belakang. Beberapa saat kemudian Hendi juga keluar. Sementara itu, Desi dan Risma sedang berbaring di atas kasur. "Ris," panggil Desi. "Kamu tahu nggak kalau istri Pak Faizin sudah meninggal?" Risma menoleh, menatap Desi. "Pak Faizin tadi cerita kalau istrinya meninggal akibat serangan jantung, beberapa saat setelah mendengar kabar suaminya mengundurkan diri dari Reyncar." Desi mengerjap. Ia bangun, kemudian duduk bersila. "Pak Faizin dipecat, bukan dikeluarkan!" "Hah, masa?" "Iya. Aku punya cerita menarik, tapi nggak yakin kamu akan percaya atau nggak." Risma bangun. Ia menyandarkan tubuh di dinding. "Cerita apa?" Desi menyiagakan pendengaran, memastikan tidak ada orang lain lagi di sekitar kamar. "Sini, aku bisikin!" Awalnya Risma ragu, tapi demi menuruti rasa penasaran ia mendekatkan telinga ke bibir Desi. Desi bercerita dengan cara berbisik selama hampir lima menit. Beberapa kali Risma terbelalak, antara percaya dan tidak, mendengar bisikan temannya itu. Bahkan setelah cerita selesai, ia masih mematung. "Aku maklum kalau kamu nggak percaya," ujar Desi, melihat ekspresi Risma. Ia kembali membaringkan tubuh. "Kamu dapat cerita itu dari mana?" tanya Risma. "Aku punya teman polisi. Bisa dibilang kami sangat dekat. Pas aku menyebut nama sekolah kita, ia langsung bertanya tentang orang yang aku ceritakan tadi." Risma penasaran, masih belum bisa mempercayai cerita Desi tadi. "Kenapa teman kamu mau menceritakannya padamu? Bukankah itu dokumen penting yang tidak boleh diketahui umum?" "Kasus itu sudah berkuatan hukum tetap. Publik boleh tahu. Temenku juga cerita berdasarkan fakta pengadilan, bukan berdasarkan penyelidikan polisi." "Aku masih belum paham!" Desi menatap Risma lekat-lekat. "Kamu akan semakin nggak paham dan akan semakin nggak percaya, kalau kukatakan aku pernah mengalami tiga kali teror. Entah siapa pelakunya." "Teror?" Desi mengangguk ngeri. "Sebulan setelah mengundurkan diri dari Reyncar, aku mendapatkan paket berisi kunci T yang berlumuran darah." Mata Risma terbelalak, kaget. Badannya mematung. "Apa?" "Tiga bulan lalu juga," lanjut Desi dengan perasaan gelisah. "Sebulan lalu juga aku mendapatkan paket yang sama." Risma menatap sepasang mata Desi lekat-lekat, berusaha mencari kejujuran di sana. Ia masih belum yakin dengan penuturan gadis di sebelahnya itu karena menurutnya tidak masuk akal. Risma berpikir, bisa saja Desi mengarang semua, namun apa motifnya? Pikirannya mendadak kusut. Hatinya menjadi gelisah. "Kalau bukan karena paksaan Nando, aku nggak mau datang ke reuni ini." Desi menunduk gelisah. "Tapi yang bikin kesal ia malah nggak bersemangat gitu." "Nando maksa?" Desi mengangguk. "Lebih tepatnya mendesak secara terus-menerus. Terpaksa aku menyanggupi tapi dengan syarat aku nggak akan menginap?" "Sebaiknya jangan pulang sebelum acara selesai," pinta Risma. "Betewe, buat apa Nando maksa-maksa kamu?" Desi mengedikkan bahu. "Mungkin karena kalau aku nggak datang, ngga ada yang bisa buat tumpangan, entahlah!" Pikiran Risma semakin kusut. Ia beringsut menuju tepi kasur. "Aku mau ke dapur sebentar, ambil soft drink di kulkas." Desi mengerjap malas. Risma keluar kamar, begitu membuka pintu ia terkejut mendapati Faizin berdiri di depan kamarnya. "Bapak mau ke mana?!" Faizin tersenyum tipis. "Toilet!" "Di dalam kamar bapak kan ada toilet." "Bapak nggak biasa pakai kloset duduk. Di belakang klosetnya duduk apa jongkok?" Risma tersenyum. "Di belakang klosetnya jongkok." "Syukurlah," ucap Faizin. "Baik, makasih ya?" Risma mengangguk. Ia menutup pintu, lantas menuju dapur. Sebelum sampai tujuan, ia berpapasan dengan Nando. Nando melirik Risma sekilas. Jangankan menyapa senyum saja tidak. Risma tersenyum kecut. Sambil menggerutu, ia meneruskan langkah menuju dapur. Sepeninggal Risma, Desi memanfaatkan waktu sepi dengan memindahkan baju dari tas ke dalam lemari, sambil bersenandung ria. Ia tidak menyadari seseorang bercadar hitam baru saja membuka pintu secara perlahan agar tidak berderit. Orang bercadar hitam berjingkat pelan. Tangan kanannya menggenggam erat kunci T yang ujungnya tajam. Ia berdiri tepat di belakang Desi yang masih belum menyadari kedatangannya. Desi menghentikan senandung. Hidungnya mengendus aroma parfum, pertanda ada orang di dalam kamar. Ia menoleh. Namun belum sempat melihat siapa yang berada di belakangnya, lubang hidung dan mulutnya dibekap. Ia meronta sambil berteriak. Sayang suaranya terbungkam. Matanya melirik ke kanan, melihat sebuah kunci T terayun kuat ke d**a sebelah kirinya. "Arrgghh" Desi mengerang, menahan sakit yang luar biasa ketika kunci T menembus jantungnya. Darah mengucur segar, melumuri baju, sisanya memercik tak tentu arah. Orang bercadar hitam menguatkan bekapannya agar erangan Desi tidak terdengar keluar kamar. Setelah memastikan korban tak bersuara ia melepaskan rengkuhannya. Tubuh Desi terhuyung ke lemari. Kepalanya membentur laci. Sepasang lututnya menghempas lantai yang bersimbah darah. Orang bercadar hitam segera keluar dari kamar. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD