Menyayangkan Sikap Nando

1394 Words
Ruang tamu mendadak riuh. Empat anak muda dan seorang lelaki paruh baya saling berpelukan satu sama lain. Ini kali pertama mereka bertemu setelah dua tahun berpisah. Semua menyungging senyum, saling bertanya kabar, dan saling memperhatikan perubahan fisik masing-masing. Faizin yang sejak tadi memasang ekspresi serius, kini sedikit mencair. Hanya Nando, yang tampak merasa tidak nyaman. Risma mengarahkan para tamu untuk duduk di sofa yang membentuk sudut L. "Aku ucapkan selamat datang dan berterima kasih kepada semua yang sudah menyempatkan hadir pada reuni terbatas ini." Risma tersenyum bahagia. "Maaf kalau lokasi reuni sulit dijangkau. Kuharap suasana perbukitan ini bisa membuat semua rileks." Desi mengedarkan pandangan, menyisir setiap sudut ruang tamu. Ia kagum dengan perabotan yang mayoritas terbuat dari kayu jati, serasi dengan bentuk bangunan yang klasik. "Sepertinya kamu betah di sini." Hendi menyenggol siku tangan Desi. "Kamu kan sekarang sudah jadi CEO, pasti gampang saja buat beli rumah seperti ini. Desi tersenyum penuh arti. Risma berdeham, meminta perhatian. "Tujuan reuni ini untuk menyambung silaturahmi. Idenya berasal dari Hendi, aku hanya memfasilitasi saja." Desi mengangkat tangan, memandang Risma. "Kamu tinggal di sini, Ris?" "Aku tingga di Jakarta namun sebulan sekali menyempatkan diri ke Tegal," jawab Risma. "Bangunan ini hanya tempat menginap Kak saya setiap kali mengunjungi perkebunan." "Kamu ke sini pakai apa?" tanya Faizin. "Aku tidak melihat ada kendaraan di sekitar sini." "Aku diantar kakak tadi pagi," jawab Risma. "Kenapa hanya empat orang saja yang diundang?" tanya Desi. "Kupikir ini reuni semua karyawan Reyncar." Risma melirik ke arah Hendi. "Biar Hendi yang menjelaskannya. Silakan, Hen!" Kini semua pandangan berpusat ke Hendi, membuatnya menjadi sedikit kikuk, tidak terbiasa menjadi pusat perhatian. "Benar kata Risma, reuni ini ideku." Hendi mengatur napas. Ia melirik Faizin. "Maaf kalau aku lebay. Jujur, selama dua tahun aku mencari keberadaan Pak Faizin. Informasi yang kudapat beliau pindah ke luar kota. Namun karena minimnya informasi, aku nggak berhasil menemui beliau. Sampai akhirnya, aku ketemu Risma di sebuah mall di Tegal. Dia mengaku punya kontak beliau. Kemudian setelah berbincang-bincang, aku mengusulkan buat ngadain reuni." Faizin menyela. "Kalimat sepanjang itu belum menjawab pertanyaan Desi. Alangkah baiknya tidak bertele-tele." Hendi menunduk, cengar-cengir. Cukup lama ia terdiam. Suasana mendadak hening, menunggu kelanjutan ucapannya. "Di samping temu kangen, tujuan reuni juga untuk mendudukkan persoalan lama yang kuyakin belum semua mengetahui permasalahan yang sebenarnya." Hendi mengangkat wajah, memandang satu per satu semua yang ada di ruang tamu. "Maaf kalau aku terpaksa mengungkit kasus dua tahun lalu." Desi tanggap. Otak encernya langsung paham ke mana arah pembicaraan Hendi. "Jika yang dimaksud Hendi adalah kasus hilangnya mobil customer, akulah yang bertanggung jawab." Nando yang sejak tadi kurang antusias, spontan tertawa. "Astaga, itu masa lalu! Kenapa harus dibahas?" Faizin menimpali. "Benar kata Fernando Hierro, itu masa lalu. Bapak anggap itu ego anak muda." Desi menangkupkan kedua telapak tangan, tanda meminta izin menyela. "Benar, Pak. Tapi saya masih menyimpan perasaan bersalah yang amat dalam. Terutama kepada bapak yang akhirnya dipecat. Saya juga merasa bersalah kepada Nando yang sampai terusir dari keluarga. Nando melengos. Wajahnya tampak tidak nyaman. Desi memajukan tubuh agar tangannya bisa menyentuh tangan Nando. "Aku minta maaf, Do. Sungguh aku menyesali semua." Nando menatap Desi dengan wajah memerah. "Sejak naik mobil sampai sekarang, kamu sudah meminta maaf sebanyak empat kali!" "Karena kamu belum memaafkan!" sergah Desi. Nando melengos. Risma berusaha mendinginkan suasana. "Aku sampai lupa belum menyuguhkan apa pun, maaf. Hehehe." Ia bangkit, bermaksud mengambil minuman dan makanan ringan. Faizin menahan Risma. "Biar pertemuan ini lebih khusyuk, bagaimana kalau semua ponsel kita kumpulkan?" Nando berdiri. Ia merogoh saku celana, mengambil ponsel kemudian meletakannya ke atas meja. "Ada sesuatu yang tertinggal di mobil." Ia melenggang keluar. Desi menghela napas berat. Perasaan bersalahnya kepada Nando semakin besar. Ia meraih remot alarm, membuka kunci mobil. Selepasnya ia meletakkan ponsel ke atas meja. Hendi meletakkan ponsel ke atas meja, diikuti Risma dan Faizin. Risma mengumpulkan lima ponsel ke dalam kedua telapak tangan. "Ponsel ini akan aku simpan di lemari tengah. Aku pamit ke dalam dulu." "Aku bantu!" ujar Desi. Risma dan Desi ke dalam, tinggal Hendi dan Faizin yang sama-sama membisu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Tidak sampai lima menit, Risma datang membawa satu baki berisi satu poci dan lima gelas kecil yang semuanya terbuat dari tanah liat yang dibakar. "Teh poci datang!" Desi menyusul, membawa baki berisi tiga piring. "Dan tahu aci khas Tegal!" Ia menata piring-piring di atas meja. Hendi bersemangat, membayangkan betapa indahnya menikmati teh poci dan tahu aci pada suasana sejuknya perbukitan. "Nando belum kembali?" tanya Risma. "Belum!" jawab Hendi. Matanya tidak lepas pada tahu aci dan teh poci. "Sambil menunggu Nando, bapak mau ke toilet dulu." Faizin berdiri. "Kamar mandi di dekat dapur," beritahu Risma kepada Faizin." Bapak lurus saja, nanti mentok dinding belakang, bapak belok kanan." Faizin mengangguk sambil berjalan menuju kamar mandi. "Kalian minum saja dulu, nggak harus nunggu Nando sama Pak Faizin," ujar Risma kepada Hendi dan Desi. Hendi langsung menyesap teh poci. Matanya merem melek, menikmati kekentalan dan kewangian teh yang masih panas. Desi mencolek bahu Risma. "Aku mau sedikit cerita tentang Nando." Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan Nando tidak berada di dekat situ. "Wah seru kayaknya, nih?" ujar Hendi sambil mencomot tahu aci. "Tadi aku nyamperin Nando, tapi kata kakaknya, dia lagi keluar beli sarapan. Sambil menunggu, kakaknya cerita tentang perjalanan hidup Nando." Desi mulai bercerita. "Begitu dikeluarkan dari Reyncar, Nando dipindahkan ke salah satu perusahaan Pak Arya di Jawa Timur. Di sana ia menjadi karyawan biasa, tidak diberi jabatan. Itu semua karena Nando bermaksud mengembalikan Reyncar kepada papinya. Pak Arya tahu, maka itu ia menghukum Nando." Sepotong tahu aci di mulut, urung Hendi kunyah. Ia tercekat, mendengar cerita Desi. Ia juga pernah mendengar sendiri dari Kakaknya Nando. Setiap kali mengingatnya, perasaan bersalahnya semakin besar. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri, telah menyebabkan hidup Nando sengsara. "Terus?" Risma penasaran kelanjutan cerita Desi. "Gaji Nando sangat kecil. Ia tidak tahan hidup di perantauan dengan penghasilan pas-pasan. Maka itu ia kabur," lanjut Desi. "Ia minggat ke Jakarta, kemudian menjadi TKI ilegal di Malaysia. Meskipun aman selama hampir setahun, tetapi akhirnya ia ketangkap petugas, terus dideportasi. Sampai di rumah, ternyata Pak Reynaldi sudah meninggal dua bulan sebelum ia pulang. Ia depresi, menyesal tidak pernah berkomunikasi dengan keluarga, terutama papinya." Hendi mematung. Matanya mulai sembab. Rupanya, ibu kakaknya Nando tidak hanya bercerita kepadanya saja, tapi juga pada Desi. "Kenapa ia nggak berkomunikasi dengan keluarganya? Apa ia nggak punya ponsel?" tanya Risma. "Nando sengaja menghilangkan jejak, takut sama kakeknya," ujar Desi. "Dalam keadaan depresi berat, kakaknya mengirim Nando ke pesantren di Jawa Timur. Di sana ia sedikit tenang dan lebih relijius. Suatu saat ia bermaksud pulang ke rumah. Baru masuk terminal bus, tiba-tiba ada sekumpulan orang berlari ke arahnya sambil meneriakinya copet. Karena panik dan takut, ia berlari sekuat tenaga. Sayang akhirnya ia ketangkap dan menjadi bulan-bulanan masa." Hendi menelan potongan tahu yang belum sempat dikunyah. Sisa potongan lain di tangan, ia letakkan kembali ke piring. Kisah Nando dituduh menjadi copet baru ia dengar. Itu semakin membuatnya terpukul. Desi menelan ludah. Ia pun tak kalah sedih mengingat cerita itu. "Nando babak belur, penuh luka di sekujur tubuh. Untung nyawanya masih tertolong. Belakangan, ia terbukti bukan copet seperti yang dituduhkan sekumpulan orang di terminal." "Kenapa Nando yang jadi sasaran?" tanya Risma miris. "Baju yang dipakai Nando mirip sama yang dipakai si copet." Risma menarik napas dalam-dalam. Sementara Hendi tampak geram. "Menurut kakaknya, sejak itu Nando sangat terpuruk. Ia menjadi temperamental. Ia merasa dunia tidak adil karena dirinya selalu menjadi korban fitnah." Desi memejamkan mata kuat-kuat. Perasaan bersalah yang sejak tadi ia redam, kini tak dapat lagi dibendung, bila ingat kejadian sepuluh tahun lalu. Hanya karena dendam selalu dibully, ia memfitnah Nando sampai dikeluarkan dari sekolah. Risma memeluk Desi, menguatkan hati sahabatnya itu. Hendi berdiri dengan tangan terkepal. Ia sangat marah, tapi tak tahu kepada siapa. Ia meninggalkan ruang tamu. "Aku lupa nyiapin tisu." Risma melepas pelukannya. Ia beranjak ke dalam. Suasana ruang tamu menjadi hening, hanya sesekali terdengar isak tangis Desi. Sementara itu, di ruang tengah. Seseorang sedang berdiri di depan sebuah lemari. Dengan tergesa, ia memungut semua ponsel yang tadi dikumpulkan. Satu per satu, daya ponsel itu dimatikan, kemudian dimasukkan ke sebuah kantung kresek hitam, bercampur dengan empat kunci T yang telah disiapkan untuk menghabisi empat nyawa. *** Poci : Wadah yang digunakan untuk menjerang daun teh. Teh poci : Teh yang diseduh secara dalam poci, khas Tegal. Tahu Aci : Tahu kuning goreng yang dibelah secara diagonal ditempeli tepung kanji. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD