Bengkel Reyncar buka mulai pukul 07:30 wib. Semua staf dan karyawan wajib datang sebelum pukul 07:00. Siapa pun yang datang setelah itu dianggap sebagai keterlambatan, meskipun terlambat satu detik. Perihal ini sudah Risma pahami baik-baik.
Risma bergegas menuju pintu samping kanan yang diperuntukkan khusus untuk staf dan karyawan. Sampai di depan pintu sudah ada dua mekanik yang tengah mengantri untuk melakukan presensi. Bergiliran, mereka memindai jari mereka pada alat fingerprint yang berada persis di dekat pintu masuk.
Tibalah giliran Risma, namun ia bingung bagaimana harus melakukan presensi. Sidik jarinya belum terdaftar karena baru diberi tahu telah resmi menjadi karyawan Reyncar sejam lalu.
Akhirnya Risma masuk saja tanpa melakukan presensi. Ia langsung menuju ke ruangan Faizin. Hanya itu ide yang terlintas dalam pikirannya. Ia hanya disuruh datang sebelum jam tujuh, itu saja. Sehingga untuk membuktikan dirinya tidak terlambat adalah dengan menemui Faizin.
"Mbak, ada perlu apa?" tegur gadis berambut sebahu yang tiba-tiba muncul dari samping Risma.
Risma menoleh sambil memasang senyum ramah. Ia mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. "Saya Risma, karyawan baru. Pak Faizin meminta saya mulai masuk hari ini."
Gadis berambut sebahu itu menjabat tangan Risma sambil pandangannya menyisir penampilan Risma. "Saya Desi!"
Desi terus menatap penuh selidik, membuat Risma merasa risih. Beruntung tidak lama kemudian Faizin datang.
"Risma, mari ikut saya!" Faizin memberi gestur agar Risma mengikutinya.
Risma mengekor Faizin. Desi menjejeri langkahnya menuju sebuah ruangan.
Risma tertegun ketika memasuki sebuah ruangan yang cukup luas, semacam aula. Di dalamnya sudah ada belasan orang. Mereka mengenakan seragam sesuai jabatan dan duduk di kursi masing-masing.
Risma berjalan penuh percaya diri. Ia lebih tertarik untuk mengamati ruangan yang mirip kelas ketimbang terganggu dengan tatapan semua orang yang memusat kepadanya. Di Jakarta ia seorang CEO, sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Mentalnya sudah teruji, sehingga ia sama sekali tidak merasa grogi meskipun sekarang ia berada persis di depan semua orang.
Risma melirik ke arah Desi yang sejak tadi selalu mengawasinya. Gadis itu duduk di barisan depan, bersebelahan dengan Nando.
Faizin memberi isyarat kepada Risma untuk tidak bergerak pada posisinya. Sejurus kemudian kepala bengkel itu berdeham.
"Selamat pagi semua!" Faizin menyapa semua yang ada di ruangan dengan suara tidak terlalu kencang namun bertenaga.
"Pagi, Pak!" jawab semua secara serempak.
"Hari ini kita kedatangan anggota keluarga baru." Faizin menoleh sejenak kepada Risma, lalu kembali mengedarkan pandangan ke seluruh bawahannya. "Beliau akan menjabat sebagai kepala admin yang baru, menggantikan kepala Admin lama yang telah resign."
Risma mengangguk pelan, masih dengan ketenangan yang luar biasa untuk seorang karyawan baru. Beberapa karyawan cowok yang berada dipojokkan saling berbisik. Semangat mereka mendadak bertambah mengetahui ada karyawan baru berwajah cantik.
"Tadinya, posisi kepala admin yang lowong, baru akan diisi awal tahun baru nanti, tapi mengingat kita akan menghadapi liburan natal dan tahun baru, maka saya pikir lebih baik mulai sekarang saja." Faizin kembali melirik Risma. "Beliau sudah berpengalaman di bidangnya selama empat tahun. Semoga ini menjadi indikasi bagus buat Reyncar."
Risma kembali mengangguk. Tidak jauh dari hadapannya, Nando terus saja memperhatikannya. Ini situasi bagus buatnya karena ia memang akan berusaha menaklukkan pemuda itu.
Faizin melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baik, kita persilakan saja anggota keluarga baru kita untuk memperkenalkan diri secara singkat."
Para karyawan yang didominasi para lelaki menjadi semakin bersemangat. Salah satu di antara mereka adalah seorang instruktur servis bernama Hendi. Sejak tadi ia tidak pernah lepas memperhatikan penampilan Risma. Ia mengakui kalau Risma cantik, tetapi bukan itu yang membuatnya bersemangat. Ia baru saja memiliki ide cemerlang untuk memanfaatkan Risma.
"Tapi..." Faizin menggantung kalimatnya. "Tidak ada sesi tanya jawab. Kalian bisa berkenalan secara dekat nanti saat istirahat siang."
Para lelaki menunjukkan ekspresi kecewa, kecuali Nando yang sejak tadi mematung, menatap Risma dengan ekspresi datar.
Risma menoleh kepada Faizin, meminta izin untuk berbicara.
"Silakan perkenalkan dirimu!" respon Faizin.
"Terima kasih, Pak Faizin!" ucap Risma sambil mengangguk hormat kepada Faizin. Lantas ia menyungging senyum manis kepada semua yang berada di hadapannya. "Selamat pagi semua!"
"Pagiii...."
"Perkenalkan, nama saya Risma Devita. Saya dari Jakarta. Usia saya dua puluh enam tahun. Mulai hari ini saya akan menjadi ..." Risma berpikir sejenak, mencari istilah yang tepat, "bagian keluarga Reyncar. Saya sangat bersemangat dan bangga karenanya. Sebagai anggota keluarga baru sudah pasti saya butuh bimbingan dan dukungan dari rekan-rekan semua. Jangan ragu untuk menegur jika saya melakukan kesalahan karena saya terbuka menerima kririk dan saran. Kiranya hanya itu yang bisa saya saya sampaikan. Terima kasih!"
Aplaus menggema ruangan. Faizin mengangguk saja, puas dengan cara Risma memperkenalkan diri. Sementara Nando masih tetap memandang Risma dengan ekspresi datar.
***
Cukup banyak yang harus Risma kerjakan pada hari pertamanya bekerja, sebagian besar adalah meneruskan tugas-tugas kepala admin lama yang belum masuk ke dalam laporan. Itu bukan hal sulit baginya. Sebelum jam istirahat semua berhasil Risma selesaikan dengan baik.
Begitu masuk waktu istirahat, Risma berniat untuk segera menghampiri Nando. Ia harus secepatnya menarik perhatian lelaki itu. Belum sempat ia beranjak dari meja kerjanya, Nando justru masuk ke dalam ruangannya.
"Hai!" sapa Nando sambil mengulas senyum manis. "Aku mau ngajakin kamu makan siang di luar!"
Tadinya Risma mengira Nando mengajak bicara padanya. Untung ia tidak sempat kepedean ketika sadar, lelaki itu sedang bicara kepada Desi yang berada persis di belakangnya.
Desi tersenyum dipaksakan. Ia paling sebal berada pada situasi seperti sekarang ini ketika Nando sedang berusaha mendekatinya dengan berbagai cara, sedangkan ia tidak menaruh perasaan lebih kepada lelaki itu.
"Gimana?" tanya Nando dengan nada setengah mendesak.
Desi sudah kehabisan kalimat alasan untuk menolak ajakan Nando. Jika lelaki itu bukan putra pemilik bengkel, ia pasti tidak akan sedilema ini.
"Ayolah, cuman makan siang." Nando terus mendesak.
"Tapi aku sudah makan." Desi bedalih malas. Ia terpaksa berbohong, padahal cacing-cacing dalam perutnya sudah mengerang-erang.
"Kamu kan bisa minum cokelat hangat atau es kopi misalnya!" Nando mendekati Desi, seolah tidak ada Risma di situ.
Desi mendengus tertahan. Ia sadar Nando tidak mau ditolak lagi untuk ke sekian kalinya. Sebenarnya ia tidak rugi jika menerima ajakan makan siang Nando, bahkan ia bisa makan enak secara gratis. Masalahnya adalah, jika ia melakukan itu, usahanya untuk mengajak Hendi balikan akan semakin sulit. Semua orang akan mengira ia sedang dekat dengan Nando dan Hendi akan semakin leluasa untuk menjauhinya.
Hendi adalah mantan pacar Desi. Mereka sama-sama bekerja di bengkel ini. Karena suatu masalah, mereka putus. Desi masih mencintai Hendi. Ia ingin balikan dengan lelaki itu. Sayang Hendi enggan menyambung kembali hubungan mereka. Celakanya, justru sekarang Nando memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Desi.
Nando memang kalah tampan dengan Hendi namun putra pemilik bengkel ini cukup menarik. Sayang hatinya sudah cinta mati dengan Hendi.
"Aku sudah pesan tempat di coffeeshop seberang, tapi jika kamu punya rekomendasi tempat makan yang lebih oke, aku ikut saja. Gimana?" Nando mengerjap optimis kepada Desi.
Desi mengeluh dalam hati. Kali ini ia tidak enak hati untuk menolak lagi ajakan Nando. "Baiklah, di coffeshop seberang juga nggak papa," ujarnya malas.
Nando tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya ia berhasil mengajak Desi. Dengan gaya sok gentleman, ia mempersilakan Desi untuk jalan lebih dahulu. Mereka bergegas, keluar ruangan.
"Hai, Risma!" sapa Hendi kepada Risma, mengagetkan semua yang ada di ruangan itu.
Nando melirik Hendi cuek. Sedangkan Desi tampak pucat, tidak menyangka Hendi akan ke ruangannya bertepatan saat ia dan Nando akan keluar bersamaan.
Risma membalas sapaan Hendi dengan senyuman. Sebagai karyawan baru, ia harus bersikap ramah kepada rekan sekerjanya, termasuk kepada Hendi yang belum ia kenal sama sekali.
"Hai, aku Hendi! Hendi mengulurkan tangan kepada Risma.
Risma menjabat tangan Hendi. "Aku harus memperkenalkan nama lagi?" Ia terkekeh setelahnya.
Hendi ikutan terkekeh. "Aku masih mengingat dengan baik namamu. Sepertinya aku enggak asing denganmu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Risma tersentak mendengar pertanyaan Hendi. Ia cemas kalau-kalau penyamarannya akan terbongkar di hari pertama.