Berpacu Dengan Waktu

1133 Words
"Selamat pagi, Risma!" sapa Faizin begitu Risma menjawab panggilan telepon. Risma terlonjak mendengar suara berat yang ia yakin milik Faizin. Irama detak jantungnya menjadi tidak beraturan. Itu membuat tenggorokannya sedikit tercekat. "Pa-pagi, Pak!" Baru sekarang Risma segugup ini. Semua disebabkan karena telepon dari Faizin akan mengabarkan pengumuman diterima atau tidaknya lamaran pekerjaannya. "Saudari Risma, selamat anda diterima bekerja di Reyncar untuk posisi kepala administrasi!" beritahu Faizin. Spontan Risma terlonjak, merasa senang bukan main. Rasanya mirip seperti ketika dulu ia mendapati namanya dalam daftar calon mahasiswa baru yang lolos ujian masuk pada universitas negeri ternama di Jakarta. "Beneran, Pak?" Risma masih belum percaya dengan apa yang didengarnya, meskipun tahu tidak mungkin Faizin bercanda untuk hal sepenting ini. "Iya, saya pastikan ini bukan konten prank di Youtube!" Risma terkekeh, menganggap Faizin sedang berkelakar. Ia belum paham karakter lelaki itu yang suka bermain satire. "Baik, Pak, saya paham. Maafkan saya," ucap Risma sambil berusaha meredam kekehannya. "Mungkin karena saya sangat bahagia mendengar kabar ini." "Perlu saya tegaskan, sesuai syarat yang ada dalam iklan lowongan pekerjaan yang kami pasang, pelamar yang diterima harus siap mulai bekerja kapan saja secara mendadak. Saya harap Anda sudah membaca poin itu." Firasat Risma berkata, ia harus segera bersiap untuk memenuhi panggilan kerja hari ini juga. "Iya, Pak. Saya siap." "Saya apresiasi kesiapan Anda!" ujar Faizin datar. "Kami tunggu kehadiran Anda di bengkel sebelum pukul tujuh. Sebagai kepala bengkel, saya tidak pernah menolerir semua keterlambatan meskipun cuma satu detik!" Wajah senang Risma seketika redup. Spontan ia melirik penunjuk waktu pada layar ponsel: 05:42 wib! "Anda keberatan?" "Ti-tidak, Pak!" jawab Risma terbata. "Baik, sampai bertemu kembali!" Risma menarik napas dalam-dalam begitu panggilan berakhir. Tanpa membuang waktu ia segera memasukkan ponsel ke dalam tas, kemudian bergegas ke kamar mandi. Risma tidak tahu harus senang atau kesal. Dua rasa itu kini terus menguasai hatinya selama berada di kamar mandi. Rasa itu berubah menjadi menjadi kepanikan menyadari dirinya telah menghabiskan waktu hampir setengah jam hanya untuk mandi. Pagi ini ia memang membawa ponsel dan meletakkannya di pojokan yang jauh dari jangkauan air. Itu ia lakukan agar bisa memantau waktu. Ia pun segera mengeringkan seluruh badan menggunakan handuk. Selesai mandi, ketika sudah berada di kamar, Risma terus saja mengumpat "Sial!" sambil menarik resleting yang sedikit tersendat di bagian belakang rok. Selepasnya ia memakai baju hem dengan menahan perasaan kesal pada diri sendiri karena membutuhkan banyak waktu hanya untuk menautkan setiap kancingnya. Waktu Risma tersisa setengah jam lagi. Dengan tergesa, tangan kanannya memungut sepasang sepatu dan tangan kiri meraih tas dari atas meja, lalu keluar kamar menuju ruang makan. Sambil melangkah tergopoh, Risma melingkarkan tali tas ke leher. Begitu sampai di kursi, sepatu ia hempas ke lantai. Ia duduk sambil mencomot sepotong kue brownis di atas meja. Ia tidak peduli meski harus bersusah payah mengunyah kue di mulutnya sambil membungkuk untuk mengenakan sepatu. Pada akhirnya ia berhasil menelan makanan dan selesai berkemas secara bersamaan. Ia mengeluarkan ponsel dan bedak dari dalam tas. Sambil tangan kiri bermain di layar untuk memesan taksi online dan tangan kanan menuang air minun ke gelas, ia masih sempat melirik waktu yang sekarang sudah menunjukkan pukul 06:39 wib. Beruntung pesanan langsung diterima. Ia hanya harus menunggu waktu empat menit sampai driver tiba di depan kosannya. Sambil menunggu, ia pun menyapu wajahnya dengan bedak. Ponsel berdering tepat ketika Risma selesai menyisir rambut secara kilat. Pada layar ponsel terpampang sebuah nomor telepon tidak dikenal yang ia yakin adalah driver taksi online. Maka ia merasa tidak perlu menjawabnya karena sekarang ia langsung bergegas keluar rumah. Ia bahkan tidak peduli meski sekarang baru sadar belum minum sejak menghabiskan sepotong brownis tadi. Dugaan Risma benar. Taksi online sudah berada di depan kosannya. Kaca jendela depan kanan terbuka. Driver melempar senyum kepadanya sambil membuka mulut bermaksud bertanya. "Saya Risma," ucap Risma sebelum sang driver sempat bertanya. "Ke bengkel Reyncar sebelum jam tujuh bisa?" "Siap, Mbak!" Driver menutup kembali kaca jendelanya, kemudian menyalakan mesin. Tanpa membuang waktu Risma masuk ke mobil. "Ngebut gapapa, Pak, yang penting sebelum jam tujuh saya harus sampai di sana!" Paham dengan maksud Risma, sang Driver segera tancap gas. Mobil bergerak cukup kencang di jalanan yang mulai padat. Risma sedikit lega meskipun hatinya tidak akan tenang hingga dirinya sampai di Reyncar sebelum jam tujuh. Untuk mengalihkan kegelisahan, ia memeriksa isi tas. Semua yang dibutuhkan ada di dalamnya. Ia pun menyibukkan diri dengan membenahi kemeja dan rok yang terasa tidak nyaman di badannya. Sepuluh menit menuju pukul tujuh. Dalam perkiraan Risma, ia akan tiba di Reyncar paling lambat lima menit lagi jika perjalanan tidak mengalami hambatan. Ia pun mulai merasa tenang. Sungguh ia merasa bersemangat untuk memulai misi ini. "Maaf, Mbak, apa saya terlalu ngebut?" Driver melirik Risma melalui spion dalam. "Enggak, Pak. Hati-hati ya?" jawab Risma. "Siap, Mbak!" Risma mengedarkan pandangan keluar jendela, mengamati suasana kota Tegal pada pagi hari. Ada perasaan aneh hinggap di dalam hatinya. Ia tidak tahu kenapa, yang pasti sensasi ini baru ia rasakan. Risma mencoba meraba perasaannya. Ia yakin sensasi itu timbul bukan sekadar karena akan memulai misi, tetapi karena ia merasa senang berhasil mendapatkan pekerjaan dengan cara melamar, bukan diberikan begitu saja. Risma memang pernah bekerja sebelumnya tapi itu tidak melalui proses melamar seperti yang ia lakukan pada Reyncar. Ia ditunjuk papinya untuk mengisi posisi kepala administrasi di SCS pusat. Kala itu sebenarnya ia merasa keberatan karena lebih asyik menjadi penulis ketimbang bekerja di kantor. Apalagi saat itu ia sudah mulai dikenal. Beberapa cerpen dan puiisnya dimuat di koran nasional. Bahkan salah satu novelnya hampir saja diterbitkan label major, sebelum akhirnya papinya tahu dan memaksanya untuk menarik naskah tersebut. Sejak kecil hidup Risma seperti robot. Segala urusan ditentukan semua oleh kedua orang tuanya. Jangankan soal pendidikan dan pekerjaan, memilih teman pun harus sesuai selera papinya. Benar bahwa ia hidup bergelimangan harta. Ia bisa membeli segala barang yang diinginkan, namun ia merasa tidak bisa membeli kebebasannya sendiri. Itulah kenapa hingga usia dua puluh enam tahun Risma belum pernah pacaran. Ia takut jika lelaki pilihannya tidak sesuai dengan kriteria papinya. Sejatinya Risma bukan anak penurut. Ia hanya tidak mau berseberangan dengan papinya yang sering sakit-sakitan. Terpaksa ia mengikuti semua apa yang diinginkan kedua orang tuanya. Sampai suatu ketika papinya terkena stroke dan menyerahkan semua perusahaan kepada ketiga anaknya. Maka jadilah Risma seperti sekarang ini, melampiaskan semua ide-ide yang sebelumnya hanya mengendap di kepala. Begitu menjadi CEO SCS Group, Risma langsung berencana membuka banyak cabang baru. Namun, rencana tersebut sementara harus ia tunda ketika mendapatkan laporan jika cabangnya di Tegal mengalami kemunduran. Ia bergerak cepat dan turun tangan langsung. Turun tangan yang dilakukan Risma bukan dengan mengintervensi manajemen karena setelah membuat analisa ia mendapatkan kesimpulan: bukan manajemen perusahaan cabangnya yang salah, tetapi manajemen perusahaan kompetitorlah yang lebih baik. Maka ia harus mencari tahu sebabnya. "Sudah sampai, Mbak!" beritahu Driver. Risma terkesiap. Sejurus kemudian ia tersenyum lega ketika mendapati pukul 06:51 wib pada layar ponselnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD