"Saudari Risma!" Faizin menatap Risma lekat-lekat. "Menurut CV, Anda berpengalaman selama empat tahun sebagai kepala administrasi di sebuah perusahaan bengkel mobil ternama yang memiliki belasan cabang di pulau Jawa. Itu menarik."
Risma sudah menduga sebelumnya jika perihal pengalaman kerjanya akan dibahas. Ia pun telah siap untuk membuktikannya dalam interview ini.
"Pertanyaan saya...." Faizin menghela napas sejenak. "Apa alasan Anda meninggalkan bengkel sebonafid tersebut dan justru melamar pekerjaan di bengkel lokal di sebuah kota kecil?"
Senyum Risma mengembang. Ia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang sudah ia duga akan diajukan.
"Saya ingin kembali ke kota Tegal, tempat kelahiran saya, juga sebuah kota di mana ibu saya dimakamkan." Risma menjawab lugas. Ibunya memang dimakamkam di kota ini, tapi jelas bukan karena itu motivasinya kembali ke sini. "Sejujurnya memang berat meninggalkan perusahaan yang sudah membuat saya merasa nyaman, namun saya harus memilih salah satu."
"Tapi Anda belum tentu mendapatkan pekerjaan yang sama di kota ini." Faizin menyergah.
Risma mengangguk sambil tetap mempertahankan senyum. "Saya menyadari itu, Pak, dan saya telah siap dengan resiko terburuknya."
Faizin tertarik dengan pernyataan Risma. "Menarik, sampai saya gagal untuk tidak penasaran."
Risma sudah bisa menebak pertanyaan yang akan Faizin ajukan selanjutnya.
"Jika Anda merasa nyaman pada perusahaan tersebut, kenapa Anda tidak minta pindah saja ke cabang di kota ini? Saya tidak yakin Anda tidak mengetahuinya!"
Tebakan Risma benar. Pertanyaan Faizin persis seperti yang ada dalam benaknya. Ia bahkan sangat yakin lelaki itu akan menanyakan hal lain yang berhubungan dengan SCS.
"Saya sudah mengajukan pindah ke cabang Tegal Pak, tapi tidak disetujui. Terpaksa saya harus mencari pekerjaan di tempat lain," jawab Risma berbohong dikuatkan dengan ekspresi sedih.
Risma sudah mengantisipasi jika Reyncar sampai harus mengecek keterangannya itu. Sebagai CEO SCS Group, ia telah mengondisikan cabang Tegal agar tidak memberi informasi apa pun mengenai dirinya, bahkan para pimpinan dan seluruh karyawannya diharuskan seolah tidak mengenal dirinya jika bertemu di tempat umum atau jika ada persoalan yang menyangkut dirinya.
Faizin mengangguk paham, mendengar jawaban Risma. "Baik, pertanyaan selanjutnya..."
Risma menghela napas lega karena Faizin tidak membahas lebih jauh mengenai alasannya pindah dari Jakarta ke Tegal.
"Berapa gaji yang ingin Anda minta untuk kontribusi Anda pada perusahaan ini, seandainya nanti diterima?" Faizin bertanya tanpa basa-basi.
"Lima juta rupiah, Pak!" jawab Risma tegas. Ia tidak asal sebut. Sebelumnya ia sudah mempelajari kemampuan perusahaan selevel Reyncar dalam membayar gaji seorang kepala administrasi. Gaji itu jauh lebih kecil ketimbang yang ia dapatkan di Jakarta.
Faizin mengerjap. "Saya yakin nominal itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan apa yang sudah Anda dapatkan di Jakarta!"
"Saya akui memang nominal itu lebih kecil dari yang sebelumnya saya dapatkan di tempat lain, tetapi saya berusaha untuk berpikir realistis. Tegal tidak sebesar Jakarta. Sehingga saya merasa jumlah itu layak dan sesuai untuk saya dapatkan jika nanti diterima di perusahaan ini." Risma menimpali dengan kalimat yang sudah ia hafal sebelumnya.
Faizin mengangguk puas. "Baik, saya sudah merekam semua jawaban Anda. Sesi wawancara ini sudah selesai."
Risma terkejut karena Faizin hanya menanyakan sesuatu yang menurutnya tidak substantif dengan posisi yang ia lamar. Padahal ia sudah mempersiapkan banyak hal. Ia bahkan telah melakukan simulasi tanya jawab sebelumnya. Namun ia merasa lega karena ini lebih cepat dan lebih mudah dari perkiraannya.
"Biasanya sebelum interview, pelamar harus mengikuti tes tertulis," beritahu Faizin. "Kali ini, tes tertulis dilakukan setelah interview."
Risma menelan ludah. Ia pikir prosesnya sudah selesai. Namun buru-buru ia memasang senyum.
Faizin mengambil map dari laci meja. Ia menyodorkannya kepada Risma. "Waktu Anda hanya empat puluh lima menit, dimulai dari ketika Anda membuka map tersebut."
Risma memandang map yang ia perkirakan berisi tidak kurang dari lima halaman. Ia tidak berani menyentuhnya sebelum diberi aba-aba.
"Sebagai seorang kepala administrasi yang sudah berpengalaman selama empat tahun, saya yakin Anda akan mudah saja mengisinya." Senyum Faizin seperti sebuah tantangan di mata Risma.
"Siap, Pak," timpal Risma. "Saya menunggu instruksi kapan harus mulai mengerjakannya."
Faizin menyeting hitungan waktu mundur dalam empat puluh lima menit. "Saya akan meninggalkan Anda sendirian di ruangan ini. Anda boleh membuka map tersebut setelah saya menutup pintu ruangan ini."
Risma mengangguk. Ia merasa geli dengan gaya Faizin yang menurutnya unik.
Faizin berdiri. Sebelum berlalu dari hadapan Risma ia memberi pesan. "Saya akan kembali ke ruangan ini seperempat jam lagi."
Risma sudah siap mengerjakan tes tertulis. Ketika Faizin menutup pintu, ia langsung membuka map.
***
Risma keluar dari ruangan Faizin. Ia merasa puas dengan sesi wawancara dan tes tertulis yang ia selesaikan tadi. Faizin berjanji akan mengabarinya besok lewat telepon. Ia pun sangat optimis akan mendapatkan posisi sebagai kepala administrasi.
Sebenarnya ia tidak peduli apa pun posisi yang akan ia dapatkan, asal diterima sebagai karyawan Reyncar. Selama sebulan atau dua bulan ke depan ia akan menyelidiki kenapa perusahaan itu bisa mengalahkan perusahaan cabangnya di kota ini.
Tidak hanya berperan sebagai kepala administrasi saja, Risma juga telah merencanakan untuk mendekati Nando, putra bungsu pemilik Reyncar agar lebih mudah dalam melakukan misi.
Tadinya Risma akan langsung pulang selepas mengikuti sesi interview dan tes tertulis. Namun begitu sepasang matanya menangkap sosok lelaki berbadan atletis sedang berjalan menuju ke ruangan Faizin, ia mengurungkannya. Risma yakin, lelaki itu adalah Nando. Ia sudah mempelajari profil dan fotonya. Keyakinannya diperkuat oleh bet nama pada seragam kerja lelaki itu yang tertulis: NANDO.
Dengan sopan Risma mencegat Nando. "Maaf, Pak, boleh menumpang ke toilet itu?" Ia menunjuk ke arah sebelah kirinya. Ia sengaja mengunakan kata ganti 'Pak' meskipun tahu Nando masih seumuran dengannya dan belum menikah.
Nando berhenti, mengamati penampilan Risma sejenak, sebelum akhirnya menyungging senyum tipis. Ia menunjuk ke arah toilet lain yang jaraknya cukup jauh. "Silakan ibu menggunakan toilet di pojok sana, yang diperuntukkan khusus untuk pelanggan."
"Tapi saya bukan pelanggan, Pak!" ujar Risma agar tetap terus berbincang dengan Nando.
Nando tersenyum, mempertahankan sikap ramah meskipun sebenarnya ia sangat terganggu dengan cegatan Risma. Ia sedang buru-buru, harus segera menemui Faizin. "Selain buat pelanggan, toilet itu juga buat semua tamu, Bu."
Risma tersenyum simpul. "Maaf, Pak, saya juga bukan tamu."
Nando menarik napas dalam-dalam, berusaha sabar. "Jadi, kalau bukan tamu dan pelanggan, sebenarnya ibu ini siapa?"
"Saya ke sini untuk melamar pekerjaan, Pak!"
Reflek, dahi Nando berkerut. "Kalau begitu ibu silakan pilih, mau menggunakan toilet yang mana saja. Maaf, saya buru-buru!" Ia mengangguk ramah sambil berlalu dari hadapan Risma.
Dalam hati, Risma tertawa ngakak. Ia baru saja menguji kesabaran Nando. Senyumnya mendadak terkembang, mengingat wajah Nando yang tampan.
Tampan? Risma senyum-senyum sendiri. Dalam hati ia memang mengakui kalau Nando berwajah tampan, tapi ia merasa tidak tertarik.
Risma meneruskan langkah. Ia menuju area servis. Sambil berjalan pelan, ia mengamati isi ruangan. Peralatan bengkel dan fasilitasnya tidak lebih baik dari bengkel miliknya. Itu membuatnya semakin penasaran.
Risma takjub dengan jumlah mobil yang sedang servis. Ia menghitung ada enam mobil yang sedang dalam penanganan, belum lagi beberapa mobil di luar area servis yang ia tebak kalau tidak sedang mengantri, kemungkinan telah selesai penanganannya. Untuk ukuran bengkel yang baru setahunan berdiri, baginya itu termasuk banyak.
Rasa penasaran Risma semakin menggebu. Ia harus secepatnya mengetahui faktor-faktor yang membuat Reyncar menjadi bengkel nomor satu di kota ini. Sungguh ia sudah tidak sabar untuk mencari tahu.
Akibat terlalu fokus dengan pengamatannya, Risma tidak menyadari selangkah di depannya ada mobil yang sedang dalam perbaikan.
Bug! Risma menabrak mobil. Karena pelan, ia tidak mengalami masalah yang serius, tapi ia tidak bisa menahan rasa malu ketika menyadari beberapa karyawan spontan memandang ke arahnya.
Seorang mekanik mendekati Risma. "Mbak nggak papa?" Ia memperhatikan kondisi gadis asing di hadapannya.
"Nggak papa, Mas!" Risma mengusap-usap bajunya yang sama sekali tidak kotor.
Dari kejauhan, Nando mendekati Risma sambil setengah berlari. "Ada apa ini?" tanyanya kepada bawahannya.
Sang mekanik mendadak pucat. Meskipun insiden itu bukan kesalahannya, tetapi membiarkan orang selain karyawan berada di area servis adalah masalah yang cukup serius.
Risma peka dengan situasi. Buru-buru ia menjelaskan kepada Nando. "Maaf, Pak, tadi saya kurang hati-hati."
Nando menoleh. Alis kirinya terangkat. "Ibu yang tadi mau ke toilet?"
Risma mengangguk malu. "Iya, Pak."
"Kalau mau ke toilet, silakan Ibu lewat pintu sebelah sana!" tunjuk Nando ke arah pojok, dekat lobi.
Risma mengangguk kaku. Dalam hati ia mengumpat, kesal atas sikap Nando yang menurutnya tidak asyik.