Doa Pertama

1351 Words
Faizin duduk di tepi ranjang. Di hadapannya, Reynaldi tengah terbaring. "Selagi kita bisa menyelesaikannya dengan kekeluargaan, jangan bawa kasus itu ke polisi," pinta Reynaldi, setelah Faizin menceritakan hasil investigasinya bersama Risma dan timnya. Faizin tidak sependapat. "Tapi Desi akan semakin menjadi, apalagi setelah saya tidak ada di Reyncar!" "Desi sudah mengundurkan diri." Faizin mendengus. "Sepertinya Desi sudah ketakutan sendiri setelah ketangkap basah." "Bukan karena itu!" sangkal Reynaldi. "Desi tidak takut sama siapa pun. Ia merasa paling hebat. Percaya dirinya tinggi. Hanya satu yang ia takuti, yaitu mati!" Faizin termenung. "Bukan karena Desi takut menghadapi hukuman, tapi ia takut dengan ancaman Risma," jelas Reynaldi. "Saya belum mengerti!" Reynaldi berusaha bangun. Melihat itu, dengan sigap Faizin membantunya. "Bapak mau minum?" Faizin menawarkan diri. Reynaldi menggeleng. "Desi tidak akan berani berulah lagi. Ia sadar, Risma lawan yang sangat berat. Sejak dicekik kemarin, ia tidak berani keluar rumah. Ia takut pada ancaman Risma." Faizin merasa heran. "Apa semudah itu Desi menyadari kesalahannya?" "Sejahat-jahatnya Desi, ia tidak berani bermain-main dengan nyawa orang lain. Maka itu ia menyerah karena merasakan sendiri bagaimana Risma bisa menyiksanya." Faizin masih belum percaya. "Kedengarannya seperti film action anti klimaks!" "Mungkin kamu sulit mempercayainya, tapi itu fakta," ujar Reynaldi. "Kakeknya desi yang cerita padaku!" Faizin masih belum bisa terima kasus itu akan menguap begitu saja, tidak ada pembersihan nama bengkel Reyncar, tidak ada permintaan maaf atau hukuman. Sementara ia dirugikan karena dipecat oleh Arya. Reynaldi menepuk punggung Faizin. "Hukuman bukan balas dendam, tetapi sebuah cara menegakkan keadilan. Desi telah mendapatkan hukumam setimpal." "Saya masih sulit menerima ini berakhir begitu saja." Pikiran Faizin melayang ke rumah. "Saya minta maaf karena tidak bisa berbuat apa-apa." Reynaldi menyesal. Terasa sesak d**a Faizin. Dipecatnya ia oleh Arya bukan hanya membuatnya kehilangan jabatan saja tetapi membuatnya setiap hari harus menutupi sesuatu dari istrinya. Selama dua hari terakhir, setiap pagi ia berpikir keras harus menghabiskan waktu ke mana agar istrinya tidak curiga saat ia pulang nanti. "Saya masih punya usaha lain," Reynaldi menawarkan. Faizin menggeleng. "Reyncar sudah menjadi rumah kedua bagi saya." "Buat sementara, Pak," bujuk Reynaldi. "Paling tidak bisa mengulur waktu agar bapak tidak bingung ketika Nia bertanya macam-macam." "Sampai kapan?" "Saya akan bicarakan ini dengan Pak Arya. Saya janji secepatnya." Reynaldi meyakinkan. Faizin menggeleng. "Tidak usah, Pak. Biarlah saya cari usaha lain ketimbang menantu dan mertua saling bertengkar gara-gara saya." "Bukan karena itu, Pak Faizin," sanggah Reynaldi. "Kami memang sudah tidak sejalan. Lagi pula, Reyncar adalah punya kita, Pak!" Faizin tersenyum masam. "Kita adalah saya, bapak, dan Pak Arya. Beliau selalu merasa berhak atas apa yang Pak Rey miliki." "Celakanya saya tidak keluar dari situasi ini," ratap Reynaldi. Faizin menggeleng. "Bukan karena bapak tidak bisa, tetapi bapak tidak berani." "Itulah kenapa saya akan memberanikan diri! Saya tidak bisa begini terus. Memang semuanya sudah terlambat, tetapi paling tidak saya harus menunjukkan kepada Pak Arya saya berhak menentukan hidup saya sendiri. Doakan saya berhasil, Pak!" Faizin mengangguk. Ia ingin berdoa untuk dirinya dan Reynaldi tetapi ia ragu apakah doanya akan diterima, mengingat ia sudah lama sekali tidak melakukannya. "Bagaimana tawaran saya, Pak?" tanya Reynaldi. Bagi Faizin, tawaran Reynaldi cukup solutif. Ia bisa memberitahukan kepada istrinya bahwa dirinya sementara bekerja di tempat lain karena Reyncar sedang diambil alih Arya. Memang ia yakin istrinya akan kecewa, tetapi tidak akan sekaget ketika mendengar dirinya dipecat tanpa mendapatkan apa-apa. "Gajinya sama." Reynaldi terus membujuk. "Apa nanti Pak Arya tidak akan ikut campur lagi?" Faiziin cemas. "Ini usaha baru saya, Pak!" beritahu Reynaldi. "Baru saya rintis dua mingguan. Pak Arya tidak tahu soal ini." "Pada akhirnya Pak Arya akan tahu." "Tidak!" sanggah Reynaldi yakin. "Usaha itu pakai nama Pak Faizin saja. Jika nanti pembahasan saya dengan Pak Arya mengalami deadlock, maka usaha itu menjadi milik Pak Faizin." "Memangnya usahanya apa?" "Bengkel juga, seperti Reyncar." Faizin mengernyit. "Bapak meminta saya memulai lagi dari nol?" Reynaldi tersenyum. Ia menarik tubuhnya ke belakang agar bisa menyandarkan punggung dengan enak. "Mendekatlah!" Faizin menggeser kursi, lebih mendekat ke Reynaldi. "Saya sudah lama merencanakan ini, membuat bengkel baru yang tidak memiliki kaitan dengan Reyncar. Sengaja saya rahasiakan agar Pak Arya tidak mengetahuinya. Bengkel itu sudah siap buka sejak dua minggu lalu," beritahu Reynaldi. "Besok saya akan berbicara dengan Pak Arya untuk meminta beliau mengembalikan Pak Faizin ke Reyncar. Jika berhasil maka bengkel baru tersebut akan tetap menjadi usaha rahasia saya. Tetapi jika Pak Arya menolak, bengkel baru itu menjadi milik bapak." Faizin tercenung. Ia tidak menyangka Reynaldi akan sejauh itu merencanakan sesuatu. "Kalau Pak Faizin mau menerimanya, arahkanlah customer Reyncar ke bengkel baru dengan permainan yang cantik, jangan sampai Pak Arya curiga." Reynaldi menepuk lengan Faizin. "Saya titp Nando. Saya berharap ia akan menjadi kepala bengkel yang tangguh seperti Pak Faizin.' "Justru saya sedang mendidiknya menjadi bos sebaik papinya," ujar Faizin. Reynaldi tersenyum. "Jadi bapak mau menerima tawaran saya?" Faizin menarik napas dalam-dalam. "Semenarik apa pun tawaran itu, ia tetap merasa berat jika harus meninggalkan Reyncar. *** Selama perjalanan pulang dari rumah Reynaldi, Faizin memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan situasi terbaru yang sedang dialaminya. Ada dua opsi yang akan Faizin pilih: opsi pertama ia akan berkata apa adanya, mengatakan pada istrimya sudah dipecat Pak Arya, sebagai gantinya Pak Reynaldi memberinya perusahan baru dan opsi kedua adalah, ia akan langsung menyampaikan kepada istrinya bahwa dirinya memiliki usaha baru. Sambil menyetir, Faizin terus berpikir mana di antara kedua opsi yang harus ia pilih. Ketika sampai di rumah nanti, ia yakin istrinya akan langsung menanyakan kenapa ia pulang lebih awal lagi. Sementara itu di rumah, Nia sedang tertatih, berjalan menuju meja ruang tengah di mana pesawat telepon sedang berdering. Nia menyandarkan kruk penyangga ke dinding. Ia duduk di kursi. Telepon masih berdering, Nia mengangkatnya. "Hallo! sapa Nia. "Hallo, ini Pak Arya," sahut Arya. "Faizin ada?" "Oh, Pak Arya?" ujar Nia. "Pak Faizin belum pulang." "Syukurlah kalau suamimu ada kegiatan." Nia bingung dengan maksud Arya. Ia mulai menghubungkan sikap aneh suaminya dengan ucapan Arya. "Apa Faizin sudah punya pekerjaan baru?" Deg! Nia kaget, semakin tidak paham maksud Arya, sekaligus semakin yakin suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. "Maksud bapak apa ya?" Debaran d**a Nia semakin kencang. "Saya sudah curiga, Faizin tidak berani cerita padamu, Nia!" Rasa penasaran Nia semakin sulit dibendung. "Apakah Faizin ada masalah dengan bengkel?" "Kau tanyakanlah pada suamimu sendiri." "Baik, Pak, terima kasih." "Iya," Panggilan berakhir. Gagang telepon masih saja menempel di telinga Nia. Nia memikirkan pertanyaan Arya tadi, apakah Faizin sudah punya pekerjaan baru? Itu berarti suaminya sudah tidak bekerja di Reyncar. Pantas saja, tiga hari terakhir suaminya selalu pulang siang. Sekarang timbul banyak pertanyaan dalam hatinya, jika benar suaminya sudah tidak bekerja di Reyncar, lalu sebabnya apa? Apakah menundurkan diri atau diberhentikan? Lalu kenapa suaminya tidak memberitahunya? Bunyi bip pengunci pintu mobil terdengar nyaring, membuat Nia tersentak. Ia sadar suaminya sudah pulang. Nia meletakkan kembali gagang telepon, kemudian melirik jam. Saat ia baru akan meletakkan kruk penyangga pada ketiak sebelah kiri, Faizin datang. Bersamaan dengan itu kepalanya terasa pusing. Faizin meletakkan tas di atas meja ruang tengah. Ia menyungging senyum pada istrinya. Nia balas tersenyum meskipun kepalanya terasa nyeri. "Bapak kok pulang cepat lagi?" tanya Nia. "Iya, nanti kita bahas soal ini," ujar Faizin. Nia menatap Faizin nanar. Ia menduga suaminya dipecat karena terkait sebuah kasus. Ia pernah mendengar sayup-sayup 'mobil hilang' yang diulang-ulang oleh ketiga tamu Faizin. Sungguh ia takut suaminya akan tersandung masalah besar. Jika hanya kehilangan pekerjaan, Ia tidak begitu risau, tetapi ia khawatir suaminya tersandung masalah. Kepala Nia semakin pusing dan nyeri. Semakin lama, semakin membuatnya merasa tidak nyaman, hingga kesadarannya hilang. Brak! Kruk penyangga jatuh tersenggol tangan Nia, membuat Faizin yang baru saja masuk kamar, kaget. Ia kembali ke ruang tengah membawa cemas yang luar biasa. "Nia!" teriak Faizin panik melihat istrinya terkulai. Faizin segera mengambil kontak mobil. Dibopongnya tubuh kurus wanita yang sangat dicintainya menuju mobil. Faizin membaringkan Nia di jok tengah. Ia tidak peduli meski kaki istrinya harus ditekuk lututnya. Kalau menelepon ambulans pun pasti lama. Dengan perasaan panik luar biasa, Faizin melajukan mobilnya kencang. Dalam hati terbersit doa agar nyawa istrinya selamat. Itu adalah doa pertama sejak dua dekade terakhir. Ia mengucapkannya secara tulus. Namun, Tuhan berkehendak lain. Nia menghembuskan napasnya yang terakhir saat rumah sakit tinggal satu kilometer lagi jaraknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD