Kecewa

1066 Words
Ketika Faizin merasa bingung harus pergi ke mana untuk menghabiskan waktu seharian ini, tiba-tiba pagi-pagi sekali Risma menelepon, mengajak ketemuan. Keruan saja itu kebetulan yang indah. Lebih terasa indah lagi saat ia tahu bahwa pertemuan itu untuk membahas hasil investigasi yang baru. Tadi Faizin meminta pertemuan tersebut diadakan pukul 07:00, tempatnya ia ikut saja. Maka, Risma menawarkan rumah kosnya untuk dijadikan tempat pertemuan. Maka kini di ruang tamulah, Faizin, Diko, Faisal, dan Risma bertemu. Risma menyiapkan empat kopi hitam, khusus untuk Faizin tanpa gula. "Seperti biasa, saya tidak bisa berlama-lama karena pukul 09:00 nanti saya akan dimintai keterangan polisi sebagai saksi ahli dalam kasus penyebaran video porno di media sosial," ucap Diko. "Wow!" Risma berdecak kagum. "Yang lagi viral itu ya?" tanya Faisal. Faizin tidak tertarik pada hal begituan. Ia lebih memilih menyeruput kopi, ketimbang menimpali. "Oh iya, sebelum kita mulai, aku mau nanya sama kamu, Sal!" Risma menatap Faisal. "Beneran kamu sudah pensiun menjadi detektif?" Faisal mengedikkan bahu. "Jangan tanya kenapa soalnya aku malas menjawab pertanyaan yang sama selama sebulan terakhir." "Kebetulan, saya juga nggak tertarik apa alasanmu," timpal Risma. "Aku cuman mau memastikan kalau kamu belum lupa cara memecahkan sebuah kasus!" Faisal mengerjap. "Kamu sudah saksikan sendiri kemampuanku kemarin petang!" "Kenapa aku nggak diajak?" protes Diko. Faisal melotot. "Bukannya kamu lagi asyik nonton bokep ya?" Diko cengar-cengir. "Enak ya jadi saksi ahli IT kasus video porno? Bisa menonton secara legal. Hahaha!" Faisal mengedipkan sebelah mata. Risma menimpali. "Mana videonya dapet dari polisi pula!" "Cuman aku merasa jijik lama-lama!" ujar Diko. Faizin menyela. "Kita akan mulai kapan?" Faisal dan Diko saling pandang. "Baik, kita mulai! ucap Risma. Ia menoleh kepada Diko. "Silakan, Diko, ahli video bokep. Hehehe!" Diko tersenyum geli. Ia memandang Faizin. "Jadi begini, Pak. Saya telusuri semua akun media sosial Desi. Ada salah satu akun Twitter anonim dia yang mencurigakan karena meskipun jarang nge-twit tapi sering online. Saya coba retas, hasilnya saya menemukan sebuah percakapannya DM dengan si gondrong." Faizin mendengarkan dengan seksama. "Mereka janji ketemuan di sebuah studio musik. Lalu saya teruskan informasi tersebut kepada Faisal." Diko melirik Faisal. Faisal berdeham. "Saya ajak Risma buat menangkap basah mereka. Sayangnya Risma sedang asyik sama pacarnya." Risma melotot kepada Faisal. "Profesional dong, jangan bercanda!" Faisal terkekeh. "Risma sedang ada tamu, Nando. Ia malah mengajak Nando ikut serta. Akhirnya kami jalan bertiga." "Nando ikutan?" Faizin terkejut. "Iya, Pak," sahut Risma. "Saya pikir lebih baik ia tahu. Makanya kami ajak." Faizin mengangguk sepakat. "Terus?" "Ternyata benar mereka ketemuan." Faisal melanjutkan. "Ia memberikan amplop yang kami duga berupa uang tunai kepada si gondrong." Risma meneruskan laporan Faisal. "Saya sudah merekam transaksi tersebut." Ia membuka laptop dan memutar video rekamannya. Faizin menonton video tersebut. Ia terkejut dan geram, atas fakta bahwa Desi bisa sekeji itu pada Reyncar, terutama kepada dirinya. Ia tidak habis pikir gadis yang kerjanya sangat rajin itu tiba-tiba menjadi monster kecil. "Jadi kita bisa ambil kesimpulan kalau Desi adalah sutradara sandiwara hilangnya mobil si gondrong. Si gondrong aktor utama, berpura-pura kehilangan mobil padahal mobil tersebut diambil orang atas suruhannya," ucap Risma. "Kita sudah memiliki banyak buktinya," sahut Faisal. "Beberapa rekaman CCTV, video, gambar, dan data lain." "Saya sudah mengumpulkannya ke dalam satu folder, bapak bisa menjadikannya sebagai bukti. Saya simpan semua di sini!" Diko menyerahkan flashdisk kepada Faizin. Faizin menimang flashdisk tersebut. Ia akan membawa kasus ini ke polisi. "Ris, boleh saya pinjam ponsel yang ada rekaman Desi sama si gondrong?" pinta Faizin. "Barangkali akam lebih kuat kalau membawa bukti dari perangkatnya langsung." Risma berpikir sejenak. "Baiklah, silakan, Pak, cuman nanti SIM CARD-nya aku ambil karena itu nomor khusus buat keluarga." "Terima kasih, Ris," ucap Faizin. Risma berharap kasus ini segera selesai. Ia ingin membayar kesalahannya pada Reyncar dengan membantu mereka memecahkan kasus hilangnya mobil customer. Pertemuan itu cukup singkat tetapi memuaskan semua pihak. Diko dan Faisal mendapatkan bayaran sesuai perjanjian. Faizin mendapatkan bukti-bukti kuat, dan Risma mendapatkan kebahagiaan karena bisa meninggalkan Reyncar dengan kepala tegak. Diko undur diri lebih cepat dari yang lain. Faisal dan Faizin menyusul satu jam kemudian. Tinggalah Risma di rumah kos yang tidak lama lagi akan ditinggalkan. Ia merapikan seisi rumah, selagi ada kesempatan, mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan semua kaca, sampai menguras bak mandi. Setelah rumah rapi, ia ingin melepas lelah dengan rebahan di kasur. Masih pukul sebelas kurang tiga belas menit, ia ingin tidur sampai masuk waktu sholat zuhur. Baru berapa menit matanya terpejam, Risma dikagetkan dengan ketukan pintu. Risma beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan ke pintu sambil merapikan rambut. Diintipnya si pengetuk pintu melalui gorden. Risma segera membuka pintu begitu tahu yang datang adalah Hendi. "Kamu nggak kerja, Hen?" tanya Risma basa-basi. "Enggak!" Wajah Hendi tampak ketus. "Shift siang!" "Oh?" Bibir Risma membulat, sekadar merespon. Sebenarnya ia agak sebal atas jawaban ketus Hendi. "Aku mau bicara!" "Kamu sudah bicara sejak tadi!" Hendi melengos, kemudian menatap sinis. "Bisa kita bicara serius?" Risma terpancing emosi. "Terserah!" Ia melenggang ke kursi, lalu mendudukinya. Hendi duduk di sebelah Risma. "Desi mengundurkan diri dari Reyncar." "Oh!" ujar Risma malas. Ia tidak peduli Desi mau mengundurkan diri atau bunuh diri sekalipun. "Ia ketakutan!" Tatapan Hendi terhunus ke mata Risma. "Oh iya?" Risma mengerjap. Hendi membelalakan mata. "Ia merasa ketakutan setelah dicekik seseorang!" Sepasang alis Risma terangkat bersamaan. Tidak lama kemudian ia terkekeh. "Jadi ia lapor padamu?" "Ris!" hardik Hendi. "Kamu sadar nggak sih, yang telah kamu lakukan ke Desi itu sangat tidak pantas, apalagi buat CEO perusahaan besar sepertimu!" Risma semakin terkekeh. Ia yakin Hendi sudah terhasut Desi. "Memang nggak pantas kalau tanganku menyentuh ular betina seperti mantanmu itu!" "Ris!" Hendi melotot. Risma balas melotot. Ia berkacak pinggang. "Kamu nggak terima? Okey, sekarang maumu apa?" "Aku cuman mau ingetin, apa yang kamu lakukan sama Desi itu nggak bisa dibenarkan." "Memangnya apa yang Desi lakukan bisa dibenarkan?" Risma balik bertanya. "Ia sudah melakukan tindak pidana, Hen!" Hendi tersenyum sinis. "Oke, anggap saja Desi melakukan tindak pidana seperti yang kamu tuduhkan, tetapi lebih keji mana yang antara kamu dan dia?" Risma bersedekap. Matanya menghunus. "Itu pelajaran, shock terapi biar Desi.sadar." "Kamu main hakim sendiri!" bentak Hendi. Risma terkekeh. "Iya benar, aku hakimnya dan Desi penjahatnya. Hehehe." Hendi melengos. Ia menjadi malas berdebat dengan Risma. "Dengar ya, Hen, kalau kamu menuntutku buat meminta maaf sama Desi. No way!" Hendi menoleh, menatap Risma lekat-lekat. "Ketika semua orang menyalahkanmu karena ketahuan menyusup, aku membelamu. Aku masih menemanimu karena kesalahanmu bukan urusanku. Juga karena kamu adalah temanku." Risma terdiam. "Tapi kini aku kecewa sama kamu, Ris!" Hendi melengos. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD