Saat bangun pagi, Lisa sudah menerima email balasan yang memintanya datang interview ke MM Corp jam sebelas siang nanti, dimana disana juga tertulis kalau dia hanya diminta datang jika bisa langsung masuk bekerja jika memang diterima, yang artinya, orang yang masih harus mengajukan resign dari kantor sebelumnya dan menjalani tenggang waktu berhenti dari kantor lama telah ditolak.
Dia tersenyum melihat email itu, artinya peluangnya semakin besar. Sepertinya Jackson sangat sibuk karena asistennya berhenti. Lisa bersiul sambil masuk ke kamar mandi, seharusnya ini tidak akan sulit untuknya.
Alisandra tiba di MM Corp jam setengah sebelas dengan menggunakan taksi online. Dia terlalu pengangguran dan tidak tahu harus melakukan apa di hotel, jadi lebih baik dia menunggu sambil melihat-lihat calon kantor barunya.
Dia tersenyum bersemangat saat turun dari taksi online itu. Rasa antisipasi akan hal baru membuatnya bersemangat. Kalau bukan karena rencana Morin, mana mungkin dia akan menjadi asisten perayu sang bos? Bukankah hal itu sangat menantang? Merayu gay pula. Ini pasti akan sangat mengasyikan!
Darahnya bergejolak karena tantangan yang akan dia hadapi setelah ini. Dia harus mendapatkan posisi itu dan menjalankan rencana mereka, dan dia yakin akan menikmati prosesnya. Dia menyukai petualangan dan tantangan, dan tugasnya sekarang membuatnya mendapatkan kedua hal itu.
Dia berjalan menuju meja resepsionis dan menyungingkan senyum mautnya pada wanita yang duduk di meja resepsionis itu, yang membuat wanita itu menatapnya tak berkedip. Wanita itu merasa tiba-tiba kejatuhan durian runtuh, sepertinya ada aktor K-Pop yang berkunjung ke kantornya. Dia sangat senang bekerja disini, banyak pria tampan berkeliaran sepanjang hari.
“Selamat siang, saya ada janji untuk interview hari ini di lantai lima puluh dua.” kata Ali sambil mengulurkan kartu tanda pengenalnya, karena biasa barang itu yang akan ditukar dengan kartu akses masuk ke sebuah gedung.
“Ah, i-iya. Sebentar Pak,” kata si resepsionis yang langsung mengambil KTP Ali dan menyerahkan kartu masuk untuk pria itu. Matanya masih terus memperhatikan pria tampan itu hingga pria itu masuk ke lift.
“Ya ampun, ganteng banget! Itu dah kayak oppa korea banget. Hoki banget gue bisa liat dari jarak dekat kek tadi,” monolog si resepsionis yang lalu melihat KTP Ali dan memperhatikannya.
“Aih, baru dua puluh tiga tahun, brondong korea ini mah!” seru si resepsionis yang sangat berharap kalau si brondong barusan diterima kerja di kantor ini, jadi dia bisa melihatnya setiap hari.
Di lantai lima puluh dua, Ali kembali bertemu dengan resepsionis khusus lantai itu.
“Selamat siang. Bu. Saya ada janji interview di jam sebelas,” sapa Ali pada si resepsionis yang juga sedang memperhatikannya, tepatnya terpesona pada wajah bak aktor K-pop itu.
“Atas nama siapa, Pak?” tanya si resepsionis dengan tag nama Yuli itu.
“Alisandra Purnama,” jawab Ali.
“Ah, baik. Silakan ikut saya.” kata Yuli setelah dia memeriksa daftar nama yang tadi diberikan asisten bosnya. Ali mengintip daftar yang dipegang Yuli dan melihat kalau ada lebih dari sepuluh nama daftar di dalam list itu.
Ali dibawa ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada dua pria lain. Dengan tenang dia menunggu disana sambil bermain ponsel. Dia tidak seperti dua orang lainnya yang terlihat tegang, dia sangat santai. Walau dia harus lulus wawancara ini, tapi tidak ada yang dipertaruhkan olehnya disini selain egonya sendiri.
Satu persatu dari mereka dipanggil untuk masuk ke pintu berbeda di ruangan itu hingga meninggalkan dirinya sendiri di ruangan itu. Dengan penasaran dia menatap pintu tempatnya tadi masuk dan tidak ada lagi yang masuk dari sana. Adanya orang yang keluar dari sana setelah selesai interview. Apakah dia orang terakhir?
“Alisandra Purnama!” panggilan itu membuatnya menoleh ke arah wanita yang memanggil namanya. Dia berdiri dan berjalan ke arah wanita itu yang lalu mengantarnya masuk ke sebuah ruangan lain. Dia agak terkejut menemukan Mario Dalie disana, dia pikir dia akan bertemu dengan Jackson Martinez karena Mario Darlie telah berhenti.
Dia sedikit khawatir karena sekarang dia berpenampilan maksimal sebagai pria ganteng dan mempesona, maksud hati kan memberi kesan yang baik pada Jackson. Tapi berbeda jika yang mewawancarainya adalah Mario Darlie, bagaimana kalau pria itu merasa tersaingi oleh ketampanannya dan khawatir Jackson berpaling dari pria itu?
“Silakan duduk, Pak Alisandra,” kata Mario mempersilahkan Ali duduk di depannya.
“Terima kasih, Pak. Panggil saya Ali saja,” jawab Ali. dia duduk di kursi yang ditunjuk Mario.
“Perkenalkan, saya Mario Darlie, asisten Pak Jackson Martinez.” kata Mario memperkenalkan diri dan Ali mengangguk. Mario sedikit penasaran dengan reaksi Ali yang tidak seperti pelamar lainnya. Reaksi pelamar lainnya biasanya akan bersemangat dan sedikit memujinya ataupun berkata pernah melihatnya, pokoknya berusaha mendekatinya.
“Wawancara ini bertujuan untuk mencari asisten kedua untuk CEO MM Corp, Bapak Jackson Martinez. Karena itulah, saya yang mewawancarai Anda dan semua peserta lainnya,” kata Mario lagi dan Ali kembali mengangguk. Nah kan, pelamar yang ini agak beda! Tidakkah pria itu merasa kurang sopan kalau hanya mengangguk? Tapi masalahnya, resumenya ini terlalu bagus untuk dilewatkan!
“Apa Anda memiliki masalah dalam percakapan?” tanya Mario pada akhirnya. Percuma resume bagus kalau agak bisu.
“Tidak.” jawab Ali singkat.
“Mengapa sejak tadi Anda tidak bicara?” tanya Mario.
“Karena Anda tidak bertanya,” jawab Ali datar yang membuat Mario merasa kalau pria itu tidak sopan. Alisandra sebelumnya membantu Ayahnya dan Alex bekerja di kantor mereka, jadi dia tidak tahu etika bawahan yang harus merendahkan diri saat bicara dengan orang dengan posisi lebih tinggi darinya. Dia bicara dengan sopan, tapi cara bicara dan nada suaranya tidak menunjukkan rasa hormat pada orang yang posisinya lebih tinggi, dia bicara seakan mereka setara.
“Baiklah. Kita mulai wawancaranya.” kata Mario. Walau dia tidak terlalu suka dengan pria di depannya, sekarang dia tidak punya pilihan, dia harus mendapatkan yang terbaik dari yang datang wawancara hari ini dan sampai sekarang, resume Alisandra yang menduduki peringkat pertama di listnya, sebelum wawancara ini tentunya.
“Ya,” jawab Ali.
“Di lamaran Anda, tertulis kalau sebelumnya Anda bekerja sebagai Asisten Darius Hartadi?” tanya Mario.
“Betul, Pak,” jawab Ali.
“Mengapa Anda berhenti setelah bekerja enam bulan?” tanya Mario. Dia sudah mengecek ke Volle Group dan memang Alisandra berhenti dengan baik-baik setelah bekerja enam bulan, bahkan mendapatkan surat rekomendasi yang ditandatangani sendiri oleh Darius Hartadi. Jadi bisa dipastikan kinerjanya baik, tapi mengapa pria itu berhenti? Kalau itu karena tidak tahan banting menjadi asisten Darius Hartadi, maka dia juga tidak bisa menerima pria itu.
“Ibu saya sakit parah. Jadi saya harus berhenti untuk merawat Ibu saya dulu.” jawab Ali.
“Memangnya tidak bisa sambil bekerja?” tanya Mario bingung.
“Ibu saya tinggal di New York,” jawab Ali seakan jawabannya itu cukup. Sekali lagi Mario mengumpat dalam hati. Tidakkah pria itu bisa menjawab pertanyaannya dengan lebih jelas? Dia tetap kesal walau dia sebenarnya tahu maksud jawaban Ali.
“Pak Darius tidak bisa menunggu saya kembali karena saya tidak bisa memberikan kejelasan waktu berapa lama saya akan berada di Amerika, jadi saya berhenti.” kata Ali lagi saat melihat Mario yang menatapnya tajam.
“Mengapa sekarang kamu melamar disini?” tanya Mario.
“Karena saya membutuhkan pekerjaan dan Pak Darius sudah mendapatkan asisten baru yang menggantikan saya,” jawab Ali seadanya yang membuat Mario terkejut. Biasanya orang menjawab pertanyaan ini dengan jawaban diplomatis dengan memuji perusahaan tempat mereka akan bekerja atau kemampuan mereka yang mungkin bisa membantu mengembangkan perusahaan. Lah, ini?
“Apakah kau selalu seperti ini?” tanya Mario yang kembali pusing. Baru saja dia pikir pria ini bisa diajak bicara, eh sekarang jawabannya begini lagi.
“Maksud Bapak?” tanya Ali.
“Menjawab pertanyaan dengan jujur seperti tadi,” tanya Mario kesal.
“Saat bekerja, yang diperlukan adalah keahlian, bukan mulut manis. Itu yang saya pelajari dari Pak Darius. Untuk apa sekarang saya memuji diri saya sendiri dan mengatakan betapa baiknya diri saya dalam pekerjaan, tapi nyatanya nol saat sudah bekerja. Saya tidak pandai bersilat lidah, tapi saya yakinkan Anda, saya selalu all out dalam melakukan segala sesuatunya. Saya tidak pernah mengecewakan Pak Darius selama saya bekerja padanya. Anda boleh mengecek di kantor saya yang lama.” jawab Ali yang malah memberikan kesan sombong.
****