Pria tampan bak aktor korea itu menarik perhatian setiap kaum hawa yang melihatnya. Wajah tampan yang putih mulus terawat, ditambah pakaian stylish dengan kaos putih berkerah tinggi dan celana berwarna biru yang dipadukan dengan jas semi formal berwarna mocca. Sebuah tas ransel tergantung di salah satu bahunya.
Alisandra memiliki semua yang dia perlukan di rumahnya yang ada di Jakarta, jadi dia hanya membawa barang yang paling penting untuk penyamarannya kali ini, kaos yang memiliki bantalan berbentuk d**a dan otot perut pria, dan celana dalam yang memiliki bantalan yang mirip alat kelamin pria.
Alisandra berjalan menuju ruang tunggu kedatangan bandara terminal tiga dimana dua sahabatnya sudah menunggunya disana dan dia langsung melihat Sissy dan Jisoo yang melambaikan tangan begitu melihatnya.
“Lisa!” seru kedua wanita cantik itu yang langsung menghambur memeluk sahabat mereka yang terakhir mereka temui setengah tahun lalu.
“Hai, gals!” sapa Lisa sambil balas memeluk kedua sahabatnya.
“Bagaimana penerbanganmu?” tanya Jisoo saat mereka berjalan beriringan menuju mobil Sissy yang sudah terparkir di depan lobby penjemputan.
“Tidak ada masalah. Kemana kita sekarang?” tanya Lisa.
“Ke rumah Morin saja,” kata Sissy yang sudah pasrah dengan banyaknya pengawal yang mengikutinya. Rumah Morin adalah yang paling aman untuk mereka menyusun rencana karena hanya disanalah pengawalnya tidak harus terus berada disisinya.
Tanpa terasa satu jam berlalu begitu saja dan sekarang mereka sudah tiba di sebuah rumah mewah bergaya mediterania. Morin yang sudah menunggu para sahabatnya langsung menyambut mereka.
“Ya ampun, Lisa. Aku bahkan tidak bisa mengira kau adalah wanita,” kata Morin saat melihat Lisa lagi secara langsung. Enam bulan lalu mereka bertemu, Lisa masih terlihat seperti pria feminim, tapi tidak sekarang, walaupun wajahnya tetap mulus, tapi tatapan mata tajam dan gerakan tubuhnya sangat maskulin.
“Hai, macan*, bagaimana kabarmu dan debay?” sapa Lisa.
*mama cantik.
“Baby Clayson masih bobo terus kalau siang, dia aktif di malam hari,” keluh Morin. Terlihat lingkaran gelap di bawah matanya, tanda kalau ibu baru itu kurang tidur berhari-hari.
“Tapi kau tetap cantik, koq,” hibur Lisa.
“Tentu saja. Aku baru saja membeli kosmetik khusus untuk menghilangkan mata panda ini. Jika kau datang dua hari yang lalu, mata ini sedang bersaing dengan dengan mata Po*” kata Morin.
*Karakter di film Kungfu Panda.
“Sudah nanti saja cerita yang itu. Sekarang kita harus segera membuat Lisa menjadi Ali,” potong Sissy yang sudah semakin takut dengan nasibnya yang harus menikah dengan pria gay. Sebenarnya walaupun calon tunangannya tidak gay, dia tetap tidak mau menikah dengan pria itu. Dia masih menunggu cinta pertamanya untuk datang menjemputnya dan tidak mau menikah sebelum memastikan kalau kisah cintanya yang itu telah benar-benar kandas.
Setidaknya sekarang dia memiliki alasan membatalkan pertunangannya akibat perjodohan yang dipaksakan oleh orang tuanya.
“Baik. ayo kita masuk,” kata Morin menuntun teman-temannya untuk ke kamar yang dia tempati sebelum dia menikah dengan suaminya. Setelah dia menikah dengan Darius, suaminya itu langsung merubah kamarnya menjadi ruang santai pribadi untuknya, tepatnya untuk dirinya mencari inspirasi dalam menyusun rencana.
Dulu para sahabat Morin juga sering berkunjung ke rumah ini untuk belajar beladiri dari Omah Rosaline yang memiliki beberapa sertifikat master beladiri Internasional. Itu adalah privilege mereka sebagai sahabat Morin, karena selain ketiga putranya, Rosaline tidak mau melatih orang lain.
Lisa adalah murid teladan diantara teman-temannya karena memang sejak kecil dia menyukai seni beladiri dan dia selalu menjadi pelindung para sahabatnya.
Mereka masuk ke kamar yang dulu merupakan tempat mereka nongkrong setelah latihan dengan Omah Rosaline. Tapi sekarang ruangan itu sudah agak berubah karena sudah tidak ada ranjang disana, diganti dengan set sofa dudukan tiga dua satu. Kata Morin, Om Darius yang bucin takut jika Morin ngambek dan memilih untuk tidur di kamar lain.
Bukan tanpa sebab Om Darius melakukan hal itu. Sebelumnya Darius sudah pernah hampir gila saat mereka bertengkar dan Morin tidak mau keluar dari kamarnya sama sekali, yang saat itu yang masih di rumah Ayahnya.
Mereka langsung menjajal sofa baru yang merupakan satu-satunya perabot baru yang ada di ruangan itu. Tidak lama pelayan datang dengan membawa makan siang bergaya prasmanan dan menatanya di meja yang juga mereka bawa. Mereka keluar setelah memastikan semua makanan itu sudah tersaji dengan baik.
Klik
Pintu kamar terkunci secara otomatis dengan pengaturan dari ponsel Morin.
“Kudu sampai dikunci pintunya, gitu?” tanya Sissy penasaran.
“Kan supaya kelihatannya pertemuan ini sangat penting dan rahasia sekali,” jawab Morin dengan wajah serius. Tidak lama kemudian, suara tawa mereka semua menggema di ruangan itu. Beginilah kalau mereka berkumpul, ada saja tingkah absurd yang mereka lakukan.
“Aku ambil makanan dulu, ya. Aku sudah lapar sejak tadi,” kata Lisa yang langsung berjalan ke meja prasmanan dan mengambil piring, diikuti oleh teman-temannya yang lain. Rencana yang penting biasa memakan waktu lama, karena itu harus mengisi perut sampai kenyang terlebih dahlu.
“Lisa, porsi makanmu kenapa jadi semakin mengerikan?” tanya Sissy yang horor melihat makanan yang menggunung di piring sahabatnya itu.
“Bukannya dari dulu segini?” tanya Lisa sambil mulai makan.
“Tidak. Dulu paling kau mengambil dua kali porsi kami. Sekarang sepertinya itu bisa porsi aku makan sehari,” jawab Morin yang juga takjub melihat porsi makanan Lisa. Sepertinya saat hamil besar saja, dia tidak bisa makan sebanyak yang ada di piring Lisa sekarang.
“Kalau begitu, tubuhku sedang bertumbuh,” jawab Lisa cuek. Dia tidak merasa tersinggung karena memang porsi makannya besar, bagusnya tubuhnya tidak melar.
“Sejak dulu aku iri pada Lisa, mengapa dia bisa makan sebanyak itu dan tetap kurus,” kata Jisoo yang selalu diet untuk menjaga berat badannya agar stabil. Diantara mereka, dialah yang berat badannya paling mudah naik.
“Kau jangan iri padanya. Lihat saja tubuhnya, rugi sekali memberi makan Lisa jika tubuhnya masih kering begitu. Seharusnya tuh makanan ada fungsinya dikit, setidaknya untuk menambah isi d**a dan b****g Lisa, jangan kayak papan gitu,” ejek Sissy.
“Kalau dadaku sebesar Morin atau Jenny, sekarang aku tidak ada disini untuk membantumu. Coba kau bayangkan, wajah dan sikap pria, tapi berdada besar, nanti jadinya aku malah dipikir ban-ci suntik silikon di dada.” kata Lisa berkelakar yang membuat ketiga sahabatnya tersedak karena ingin tertawa ketika mengunyah makanan. Mereka membayangkan Lisa dengan penampilannya sekarang, tapi dadanya besar dan bergoyang-goyang setiap kali berjalan.
“Kau mau membunuhku, ya!” omel Sissy si pertama yang bisa bicara, yang lain masih minum untuk menurunkan makanan yang baru saja tersedak tadi.
“Aku kan hanya memberi kalian gambaran yang riil.” jawab Lisa sambil menyeringai. Dia lalu berjalan kembali ke meja prasmanan dan mulai mengambil sushi dan kue.
Yang lain kembali terbelalak melihat piring Lisa yang isinya bukan beberapa potong sushi dan kue, tapi lebih dari sepuluh nigiri sushi dan lima potong kue.
“Lisa, nanti perutmu sakit!” seru Morin ngeri. Dia langsung berhenti makan karena sudah merasa kenyang melihat porsi makan Lisa.
“Aku kelaparan dari tadi.” jawab Lisa mengulang jawaban yang sama dan dia mulai makan lagi.
“Kurasa di Amerika, dia berteman dengan para raksasa, jadi porsi makannya mengikuti mereka.” kata Jisoo dan dua wanita lainnya langsung mengangguk menyetujui walau sebenarnya perkataan Jisoo sangat tidak masuk akal.
“Pakaikan dia baju perempuan saja jika lain kali kita makan dengannya,” kata Sissy dan sekali lagi kedua wanita lainnya mengangguk setuju. Lisa akan makan sesuai dengan porsi perempuan saat menggunakan gaun dan dandanan ala wanita. Mereka semua adalah anak orang kaya yang sejak kecil sudah diajari etika kalangan atas, tidak terkecuali Lisa. Jadi pada saat Lisa menggunakan gaun, sikapnya pun berubah anggun. Lisa benar-benar bisa menjadi dua orang berbeda di satu waktu.
“Kalian ingin menyiksaku, ya?” tanya Lisa yang sekarang sedang minum setelah menyelesaikan piring keduanya.
“Tunggulah saat kau jatuh cinta dan ingin tampil cantik di depan pacarmu,” kata Morin.
“Pacarku semua wanita,” jawab Lisa yang membuat ketiga wanita lainnya sakit kepala.
“Jangan sampai suamiku mendengar perkataanmu barusan,” Morin memperingatkan Lisa sebelum nanti dia tidak bisa lagi berada dekat dengan Lisa, apalagi memeluknya.
“Suamiku juga,” Jisoo menyetujui.
****