“Kenapa selama disini kau tidak pernah tertarik pada perempuan? Kau memiliki banyak sahabat cantik,” tanya Sissy penasaran.
“Eh, jangan dipancing atuh!” komplain Morin.
“Aku tidak tertarik pada perempuan,” jawab Lisa yang membuat ketiga wanita lain disana menatapnya bingung.
“Lalu kenapa kau pacaran dengan perempuan?” tanya Jisoo.
“Agar disana tidak ada pria yang mendekatiku. Kalian tahu kan kalau penampilanku bisa membuat para gay disana tertarik padaku. Jadi lebih baik aku pacari wanita saja,” jawab Lisa.
“Eh, bukannya bagi bule ena-ena itu sudah biasa? Bagaimana kalau pacarmu minta ena-ena?” tanya Morin penasaran.
“Kuserahkan tugas itu pada Alex,” jawab Lisa yang membuat ketiga wanita lain sekarang terbelalak.
“Hah?” seru Morin.
“Kau gila!” seru Sissy.
“Memangnya Alex mau?” tanya Jisoo penasaran.
“Sejak kau menikah dan cinta sampai mati dengan suamimu, dia patah hati sampai depresi dan akhirnya hidup seperti pria disana pada umumnya. Alex tidak sering berganti pasangan, dia memiliki wanita simpanan, tapi sesekali dia membantuku, toh selera wanitaku dan dia mirip koq, tepatnya aku sengaja menyamakan dengan seleranya agar dia tidak keberatan dimintai tolong,” jawab Lisa sambil menunjuk Jisoo.
Kakak kembarnya dulu pernah mengajak Jisoo kawin lari ke Amerika saat wanita itu diminta Ayahnya untuk menikahi rekan bisnisnya yang seumur dengan Ayahnya itu, tapi Jisoo menolak karena dia sangat berbakti dan penurut pada orang tuanya.
“Apakah dia gagal move on?” tanya Sissy.
“Alex sudah move on, tapi masalahnya dia tidak bisa menemukan wanita yang seperti Jisoo lagi, jadilah dia belum mau serius dengan wanita-wanitanya.” jawab Lisa.
“Belum move on donk kalau cari dupenya Jisoo,” kata Morin.
“Mank kita bisa ada dupenya?” tanya Jisoo.
“Tentu saja tidak!” jawab yang lain serempak, mereka terlalu menarik dan unik hingga tidak akan ada yang bisa meniru gaya mereka.
“Maksudnya, Alex belum bertemu wanita yang bisa menyusun kepingan hatinya yang hancur karena ditolak Jisoo. Jadi sekarang dia sedang menikmati hidupnya sebagai pria lajang.” kata Lisa menjelaskan dan yang lain hanya ber-oh-ria.
“Dia tidak mau dengan Jenny saja?” tanya Sissy.
“Dari Jisoo ke Jenny?” tanya Lisa dan mereka terbahak bersama. Jisoo dan Jenny adalah dua kutub berbeda. Persamaan kedua gadis itu hanyalah mereka sama-sama cantik, tapi perbedaannya sangat banyak, yang satu manis, lugu, polos bak malaikat, yang satu iblis penggoda yang licik dan manipulatif.
“Sudah, jangan bicara ngirul-ngidul, sampai malam juga kita tidak akan selesai. Sekarang apa tugasku?” tanya Lisa.
“Nah, Morin, dari mana kita akan mulai menjalankan rencanamu?” tanya Sissy yang sudah tidak sabar. Dia ingin cepat lepas dari pertunangan ini.
“Kau sangat tidak sabar,” goda Morin.
“Ya, rasanya aku memang ingin segera kabur dari negara ini,” jawab Sissy dan Morin jalan ke mejanya untuk mengambil berkas-berkas yang sudah dia siapkan sejak kemarin, lalu berjalan lagi ke sofa tempat mereka duduk tadi.
“Baiklah. Sekarang kita harus membuat Mario Darlie tidak bisa bekerja lagi pada Jackson Martinez, sehingga Lisa bisa mengisi posisi Mario Darlie.” Morin mulai menjabarkan rencananya.
“Bagaimana caranya? Mereka berteman dari sekolah, kuliah, hingga sekarang. Pasti sulit untuk menjebak Mario Darlie, Jackson pasti percaya padanya.” tanya Sissy dan dia merinding melihat saat melihat senyum licik Morin saat mendengar pertanyaannya.
“Mario Darlie memiliki tunangan, Fenny Rosa, desainer pakaian kelas menengah yang sedang naik daun sekarang karena rancangannya yang unik.” Morin menjelaskan.
“Bukankah dia pacar Jackson? Mengapa dia punya tunangan wanita?” tanya Jisoo bingung.
“Mungkin dia biseksual. Di Amerika banyak yang seperti itu, mereka tetap menikah dengan wanita, tapi terus selingkuh dengan pria, atau sebaliknya,” jawab Lisa.
“Eh, begitu? Bukan karena dia cuma menjadikan Fenny Rosa sebagai pengalihan dari kelainan seksualnya? Dia kan pacaran ma Jackson,” kata Sissy.
“Dia berpacaran dengan Fenny Rosa sejak sekolah, mereka semua satu sekolahan, jadi Jackson juga kenal dengan Fenny Rosa,” Morin kembali menjelaskan hasil investigasinya, tepatnya hasil investigasi suaminya.
“Kurang ajar sekali, dia pagar makan tanaman!” dengus Sissy yang semakin tidak suka pada Jackson. Penilaiannya terhadap calon tunangannya semakin hari semakin jelek saja.
“Mereka sudah hampir menikah, jadi seharusnya jika harus memilih, Mario Darlie harus memilih Fenny Rosa. Kalau tidak, penyimpangan seksualnya akan diketahui semua orang dan menjadi skandal.” jawab Morin yang kembali tersenyum licik.
“Lalu bagaimana kau memaksanya memilih?” tanya Lisa yang tahu kalau Morin sudah mendapatkan caranya dari senyum licik wanita itu.
“Nanti Sissy dan Jisoo akan berpura-pura menjadi pelanggan di butik Fenny Rosa. Lalu kalian mulai bercerita tentang teman siapalah yang batal nikah karena si pria yang dulunya baik dan terlihat sangat mencintai kekasihnya itu ternyata adalah gay, setelahnya cerita seperti yang Sissy ceritakan ke kita tentang Jackson Martinez dan Mario Darlie suap-suapan es krim. Semuanya pake cara gosip ala wanita yang katanya-katanya, gitu.” jawab Morin.
“Setelahnya, aku yakin Fenny Rosa akan ngamuk dan Mario Darlie harus menenangkan tunangannya atau resikonya wanita itu akan mengatakan pada semua orang, mulai dari saudara, teman-teman sekolah mereka, hingga rekan bisnis Jackson. Mereka berada dalam circle pertemanan yang sama, Mario Darlie dan Jackson Martinez tidak akan mengambil resiko terkena skandal, dijauhi dan dipandang jijik oleh teman-teman mereka kalau sampai ketahuan. Belum lagi harga saham MM Corp yang akan anjlok. Kerugiannya terlalu besar. Bagaimana rencanaku?” tanya Morin.
“Bagaimana kalau Fenny Rosa sudah tidak mau lagi karena tahu Mario Darlie kiri kanan oke?” tanya Lisa.
“Dia tetap akan berhenti. Karena kalau sampai gosipnya tersebar, mereka akan selalu menjadi pembicaraan orang yang melihat mereka bersama. Intinya, ini rencana yang tidak memiliki jalan kembali,”
"Kenapa kau yakin sekali akan jadi gosip?"
"Karena kitalah yang membuat gosipnya,"
“Perfect!” seru Sissy semangat.
“Lalu sekarang aku tinggal dimana?” tanya Lisa.
“Aku dan Jisoo sudah berbelanja perlengkapanmu sebagai asisten. Bentar,” kata Sissy yang tidak menjawab pertanyaan Lisa. Dia berlari keluar ruangan dan tidak lama masuk kembali dengan membawa beberapa kantong belanja salah satu pusat perbelanjaan.
“Kami hanya menonton drakor dan disana asisten itu selalu menggunakan setelan jas dan dasi. Jadi agar tidak mencolok, kami membelikanmu enam setelan jas yang berwarna gelap dengan model standar. Ingat, kau kan hanya asisten, jadi gak boleh lebih keren dari si bos. Tar bos bisa marah kalau kalah keren,” kata Sissy sambil menyerahkan beberapa kantong belanja itu pada Lisa.
“Jadi, kalian sudah menyiapkan tempat tinggal untukku atau belum?” tanya Lisa.
“Belum,” jawab yang lain serempak.
“Lalu aku tinggal dimana?” tanya Lisa.
“Kau kan punya rumah disini.” jawab Sissy.
“Gede lagi,” sahut Jisoo.
“Selama ini hanya ditinggalin oleh pembantu doang lagi,” sahut Morin.
“Terus bagaimana kalau nanti Jackson Martinez mengecek dimana aku tinggal, nona-nona cantik?” tanya Lisa gemas.
****