Jisoo sudah berada di mobil bersama Suzanna Martha alias Sissy yang menyamar, sekarang rambutnya keriting dan wajahnya dirias menor dan sangat berwarna.
“Apakah kita terlalu kejam?” tanya Jisoo khawatir karena melihat wajah Fenny yang sudah hampir menangis.
“Tidaklah. Kita, kan, menyelamatkannya dari pernikahan mengerikan itu. Nanti dia pasti akan berterima kasih pada kita.” jawab Sissy yang merasa telah melakukan hal yang benar.
Sekarang mereka tinggal menunggu badai di kantor Jackson Martinez. Mereka sudah mencari tahu kalau hubungan keluarga Fenny dan Mario juga sudah sangat dekat. Jadi seharusnya kejadian selanjutnya juga berjalan sesuai dengan rencana Morin.
Jika Fenny memutuskan Mario karena ketahuan memiliki hubungan terlarang dengan Jackson, pasti keluarga Mario akan menyuruh pria itu berhenti kerja, dan saat itulah Lisa akan melamar ke MM Corp sebagai asisten yang baru. Disisi lain, mereka menyelamatkan Fenny Rose dari bencana menikahi pria menyimpang seperti Mario Darlie. Benar-benar rencana yang sempurna!
****
Mario berlari ke ruang perawatan Fenny saat orang tuanya memberitahu kalau Fenny jatuh pingsan di butiknya. Pantas saja sejak tadi dia tidak bisa menghubungi tunangannya. Dia khawatir Fenny kelelahan karena mengurusi butiknya yang sekarang cukup ramai dan pernikahan mereka secara bersamaan. Biasanya dia hanya bisa membantu di hari minggu karena di hari lain dia sibuk mengurusi pekerjaannya yang menggunung.
Dia membuka pintu kamar perawatan Fenny dan bersyukur saat melihat Fenny sudah sadarkan diri. Wanita itu sedang duduk bersandar di ranjangnya sambil mengobrol dengan orang tuanya.
Berbeda dengan dia yang senang karena melihat Fenny baik-baik saja, Fenny yang melihatnya berjalan mendekat ke ranjang perawatannya langsung mengamuk.
“Pergi kau, b******k!” teriak Fenny yang membuat semua orang disana terdiam. Fenny adalah wanita yang ramah dan sopan, tapi sekarang dia berteriak dan memaki. Mario sangat terkejut, baru kali ini Fenny memakinya dengan kasar. Selama ini Fenny hanya mendiamkannya jika wanita itu sedang marah.
“Aku tidak mau melihatmu lagi. Keluar dari sini!” amuk Fenny lagi saat dia melihat Mario melangkah mendekatinya. Air mata yang sudah ditahannya sejak tadi kembali mengalir.
“Jangan mendekat! Kau menjijikkan!” amuk Fenny memukuli Mario yang sekarang memeluknya. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan yang dulu selalu menenangkannya.
“Tenangkan dirimu, Fenny. Katakan apa yang terjadi?” kata Mario lembut. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia tahu Fenny bukan wanita yang bisa mengamuk tanpa alasan.
Orang tua Fenny juga sama terkejutnya dengannya. Fenny tidak pernah bersikap kasar dan mengamuk seperti sekarang.
Fenny masih terus berontak namun tenaganya kalah dengan Mario yang sekarang tetap memaksa memeluknya, apalagi sekarang tubuhnya masih lemah. Dia mencoba menarik dan membuang nafas perlahan untuk menenangkan dirinya.
Ini bukanlah dirinya, dia harus kembali ke dirinya yang biasa. Mereka berpacaran dengan baik-baik, jika memang harus berpisah, maka juga harus baik-baik. Berapapun sakitnya nanti, dia akan menanggungnya, tapi sekarang dia harus menyelesaikan semuanya dengan Mario.
“Bisakah kau melepaskan aku sekarang?” kata Fenny tenang. Dia masih merasa jijik dengan pelukan Mario, tapi dia terus mengingatkan dirinya untuk tenang dan tabah, setidaknya hingga pria itu keluar dari ruang perawatannya ini.
Mario yang merasa kalau Fenny sudah lebih tenang melepaskan wanita itu. Dia bangga pada tunangannya yang selalu bisa bersikap dewasa.
“Ibu dan Ayah keluar dulu, ya. Kalian coba bicarakan baik-baik,” kata Ibu Fenny sambil menarik suaminya keluar. Dia pikir Fenny stress karena sudah mendekati hari pernikahannya.
“Tolong menjauhlah,” kata Fenny setelah mendengar suara pintu ditutup. Dan Mario melangkah mundur untuk memberi jarak diantara mereka. Dia bisa merasakan tubuh Fenny kaku saat dia memeluknya. Dia tidak tahu apa salahnya, tapi dia yakin Fenny sedang tidak nyaman berada di dekatnya, jadi dia mengalah.
“Aku mau membatalkan pernikahan kita,” kata Fenny sambil menatap lurus pada mata Mario.
“Apa maksudmu?” tanya Mario panik, wajahnya tampannya langsung memucat.
“Aku tidak akan memberitahu orang tua kita yang sebenarnya. Aku hanya akan mengatakan kalau aku tidak bisa menikah denganmu.” kata Fenny tegas.
“Ada apa denganmu, Fenny? Tadi pagi kau masih baik-baik saja. Apakah ada masalah dengan persiapan pernikahan kita?” Mario kembali berjalan untuk mendekati Fenny. Perkataan Fenny hampir membuatnya kena serangan jantung. Dia sangat mencintai Fenny dan setahunya Fenny juga mencintainya. Bagaimana mungkin wanita itu memutuskan pertunangan mereka satu bulan sebelum pernikahan yang mereka tunggu-tunggu. Dan apa juga maksudnya wanita itu tahu yang sebenarnya? Dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari Fenny.
“Jangan mendekat!” seru Fenny yang membuat Mario berhenti melangkah lagi.
“Fenny, jangan menakutiku. Kau tahu aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu,” bujuk Mario. Dia merasa Fenny sedang sangat tertekan, jadi dia berusaha menenangkan wanita itu. Mereka sudah berpacaran lebih dari lima tahun, berbagai rintangan sudah mereka lalui bersama. Dia tidak akan bisa jika harus kehilangan wanita itu.
“Berhenti membohongiku lagi. Aku sudah tahu yang sebenarnya, jadi berhentilah berpura-pura mencintaiku,” desis Fenny. Dulu dia sangat bahagia mendengar pernyataan cinta Mario, tapi sekarang hatinya sakit karena tahu itu hanyalah kepura-puraan. Selama ini dia hanya dijadikan tameng Mario untuk menutupi hubungannya dengan Jackson.
“Apa maksudmu, Fenny?” panggil Mario bingung. Dia sedih karena Fenny seakan tidak percaya perkataannya. Ada apa dengan tunangannya ini sebenarnya?
“Ayo kita akhiri sandiwara ini. Aku tidak akan menceritakan pada siapapun tentang hubunganmu dengan Jackson, tapi aku tidak mau kau jadikan tameng untuk penyimpangan seksualmu.” kata Fenny tegas. Dia ingin menangis lagi saat melihat wajah Mario yang pias saat mendengar perkataannya. Dia benar-benar berharap kalau Mario akan menyangkalnya, menjelaskan kalau hal itu tidak benar, bukannya diam membatu dengan wajah pias seperti ini, seakan membenarkan semua perkataannya.
“Bu-bukan seperti itu. Itu tidak seperti yang kau pikirkan,” seru Mario panik setelah tersadar dari ketakutan terbesarnya yang akhirnya terjadi. Fenny akhirnya mengetahui hal itu. Dia tidak tahu darimana Fenny mengetahuinya, tapi dia harus menjelaskan kalau sebenarnya itu tidak seperti yang dipikirkan tunangannya itu.
“Sudahlah. Aku sudah tidak memiliki tenaga untuk berdebat denganmu. Kuharap kau bisa menghargai perasaanku selama ini dengan tidak melanjutkan kepura-puraanmu.” kata Fenny lemah. Dia benar-benar sudah tidak punya tenaga lagi, emosinya terkuras habis. Pria yang dia cintai sepenuh hati ternyata tega menyakitinya seperti ini.
“Tolong dengar penjelasanku dulu. Aku mohon,” pinta Mario. Dia berlutut di tempatnya, dia tidak mau membuat Fenny semakin tidak nyaman karena dia memaksa mendekat.
“Aku tidak bisa lagi mempercayaimu,” kata Fenny.
“A-aku akan memanggil Jackson untuk menjelaskannya padamu juga. Dia yang harus bertanggung jawab atas kesalahpamanan ini,” kata Mario yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor ponsel Jackson. Kepalanya sudah buntu. Dia sangat takut Fenny meninggalkannya, apalagi hanya karena kesalahpamahan konyol semacam ini.
“Jangan berani-beraninya kau panggil pria b******k itu!” seru Fenny marah yang membuat Mario menurunkan tangannya yang sedang memegang ponsel di telinganya, dia kembali melihat pada Fenny yang marah. Dia tidak menyadari kalau Jackson sudah mengangkat panggilannya.
“Kalau begitu kau harus mendengarkan penjelasanku.” pinta Mario memelas.
“Baiklah. Aku akan mendengarkan penjelasanmu. Setelah itu kau harus keluar dari sini.” jawab Fenny. Dia tahu Mario tidak akan menyerah sebelum keinginannya dikabulkan dan dia sudah lelah berdebat, lebih baik pembicaraan ini cepat selesai dan biarkan dia meraung lagi nanti.
“Tidak ada hubungan apapun antara aku dan Jackson selain bos dan asistennya. Kejadian yang kau sebutkan itu terjadi minggu lalu ...” Mario baru memulai ceritanya, namun terpotong karena Fenny histeris.
“Kau mengakuinya. Kau mengaku kalau kau berselingkuh dengannya!” jerit Fenny yang membuat Mario langsung bangkit dan berlari mendekat ke Fenny. Dia langsung memeluk tunangannya yang kembali mengamuk, Fenny memukul dan berusaha mendorongnya tanpa membiarkannya bicara.
“Kau kejam! Kau tidak punya hati! Aku benci padamu!” Fenny terus berteriak memaki Mario. Dia masih terus berusaha melepaskan pelukan Mario karena dia merasa sangat jijik pada Mario.
****