Dua orang wanita cantik memasuki sebuah butik milik desainer muda yang sedang banyak diperbincangkan karena model pakaiannya yang elegan dan berkelas walaupun harganya tidak terlalu mahal.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya pegawai toko yang membukakan pintu butik.
“Saya sudah ada janji dengan Fenny Rosa,” jawab wanita cantik yang ternyata adalah Jisoo yang nama aslinya adalah Joana Lucas, Jisoo adalah panggilan dari para sahabatnya sejak sekolah dimana saat itu lagi booming k-pop Black Pink dan mereka ikut-ikutan menyamakan nama mereka dengan para member Black Pink itu, secara beberapa dari mereka memiliki pelafalan nama yang sama dengan para member Black Pink.
“Oh, Bu Joana, ya? Mari, Bu, Bu Fenny sudah menunggu Anda,” jawab si pegawai toko sopan sambil menunjukkan jalan menuju ruang kerja Fenny yang berada di lantai dua.
Tok tok
Terdengar sahutan dari dalam dan si pegawai toko membuka pintu itu.
“Bu Fenny, Bu Joana sudah tiba,” kata si pegawai toko.
Fenny Rosa menghampiri kedua wanita itu dan mereka saling memperkenalkan diri. Pegawai toko yang sudah menjalankan tugasnya keluar dan menutup pintu.
“Selamat siang, Bu Lucas, saya Fenny Rosa,” sapa Fenny sopan pada wanita yang menghubunginya kemarin untuk membuat gaun.
“Selamat Siang Bu Fenny, saya Joana Lucas, dan ini teman saya Suzanna Martha. Dia juga tertarik dengan gaun rancangan Anda,” kata Jisoo memperkenalkan temannya.
“Selamat siang, Nona Suzanna. Sebuah kehormatan Anda berdua mau berkunjung ke butik saya,” sapa Fenny sopan.
“Selamat Siang, Bu Fenny. Saya menyukai baju-baju rancangan Anda. Ada kesan menarik di tiap gaunnya,” kata Suzanna memuji.
“terima kasih. Saya senang kalau rancangan saya cocok untuk Anda. Sekarang apa yang bisa saya bantu untuk Anda berdua?” tanya Fenny Rosa saat mereka sudah duduk di sofa dan pegawai yang tadi mengantar Jisoo dan Suzanna sudah keluar lagi setelah membawakan minum.
“Kami ada acara pesta semi formal bulan depan, apakah Anda bisa membuatkan gaun yang cocok untuk kami? Gaun yang tidak biasa, tapi menarik dan sopan,” tanya Jisoo.
“Tentu saja bisa. Biarkan saya mengukur tubuh Anda dulu dan saya akan memberikan beberapa contoh gambar rancangan saya dalam tiga hari.
“Itu terdengar cukup bagus. Baiklah, mari segera mengukur,” kata Suzanna dan setelahnya Fenny membawa kedua tamunya menuju sebuah ruangan yang memang dikhususkan untuk mengukur tubuh. Dia mengambil meteran dan beberapa perlengkapannya.
Karena ini tamu khusus dari kalangan atas, maka Fenny Rosa sendiri yang akan mengukur tubuh mereka. Jika kedua tamunya ini puas dengan gaun rancangannya, namanya bisa semakin melambung. Dan sesuai perkiraannya, kedua wanita itu juga tidak mengijinkan ada pegawai lain disana dengan alasan privasi. Orang kaya memang suka menganggap dirinya tinggi, itu sudah dia pelajari saat membangun bisnisnya ini.
Kedua wanita itu mulai mengobrol saat dia sedang mengukur tubuh Joana.
“Joana. Kau ingat Anisa kan? Teman sekolah kita dulu.” kata Suzzana sambil membuka ponselnya.
“Iya. Bagaimana kabar Anisa sekarang? Terakhir aku bertemu dengannya setahun yang lalu. Saat itu dia bersama pacarnya yang dari awal kuliah itu. Katanya mereka berencana menikah tahun ini. Tapi sekarang sudah bulan Desember dan aku belum menerima undangannya,” jawab Joana.
“Mereka batal menikah.” jawab Suzanna.
“Lah, sayang sekali. Padahal mereka couple goal sejak dulu. Tidak pernah ada gosip miring apapun tentang hubungan mereka.” kata Jisoo menyayangkan hal itu.
“Gosipnya, Anto ketahuan selingkuh dengan pria,” jawab Suzanna dengan wajah heboh.
“Serius?” tanya Joana terkejut. Dia langsung menoleh pada Suzanna.
“Iya. Selama ini Anisa tidak tahu karena memang Anto tidak pernah dekat dengan wanita lain. Katanya pria itu rekan kerjanya di kantor. Karena mereka satu tim, tidak ada yang mencurigai walaupun mereka sering dinas kerja bersama. Well, aku memang tidak menyangka juga, sih,” kata Suzanna heboh.
“Yah, kadang sesuatu tidak terduga. Padahal, kupikir, kita tinggal menunggu undangan pernikahan mereka saja. Tapi lebih baik dia tahu sekarang daripada setelah menikah. Aku tak bisa membayangkan saat kau sudah punya anak dan baru tahu kalau suamimu gay, pasti akan berdampak juga pada mental anak-anak jika tahu ayahnya seperti itu,” kata Joana yang sudah memakai pakaiannya kembali.
Sekarang Suzanna yang membuka pakaiannya untuk diukur oleh Fenny yang sejak tadi hanya diam karena memang dia hanya jadi pendengar disana. Tapi sedikit kekhawatiran muncul di hatinya tentang tunangannya yang sangat dekat dengan sahabatnya yang juga bosnya itu. Tunangannya tidak pernah dekat dengan wanita lain, tapi sangat dekat dengan bosnya. Mereka juga sering dinas keluar kota dan keluar negeri bersama.
“Eh, aku ingat sesuatu!” seru Suzanna tiba-tiba dengan heboh. Sejak tadi memang lebih banyak Suzanna yang berbicara, memang dia wanita yang suka mengobrol.
“Kau tahu kan Jackson Martinez, CEO MM Corp yang ganteng luar biasa itu.” kata Suzanna lagi dengan nada bergosip.
“Ya. Suamiku memiliki beberapa kerjasama dengan MM Corp. Kudengar dia pernah gagal menikah, dan sejak saat itu, dia tidak pernah terlihat bersama wanita lagi. Apakah sekarang dia sudah punya kekasih?” tanya Joana penasaran.
“Bukan itu. Anne bilang kemarin temannya cerita kalau dia melihat pria itu suap-suapan es krim di cafe dengan asistennya.” jawab Suzanna dengan gaya bicara penggosip sejati.
“Kau pasti bercanda?” kata Jisoo dengan wajah tidak percaya.
Klotak
Suzanna menoleh karena mendengar suara barang jatuh. Dia melihat meteran yang digunakan Fenny untuk mengukur tubuhnya tergeletak di lantai. Dia menoleh pada Fenny yang sekarang berdiri mematung dengan wajah pucat.
“Fenny?” panggil Suzanna yang langsung menyadarkan wanita itu.
“Ma-maaf. Tanganku tadi licin,” jawab Fenny sambil menunduk untuk mengambil meterannya lagi dan mulai kembali mengukur tubuh Suzanna, tapi dirinya tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena otaknya sudah berkelana ke tunangannya dan bos tunangannya itu. Sekarang seperti ada batu besar menekan dadanya hingga rasanya sangat sesak.
“Oh, tidak apa,” jawab Suzanna seakan tidak ambil pusing. Padahal dia tersenyum dalam hati karena terlihat jelas kalau Fenny terlihat syok.
“Terus bagaimana?” desak Joana penasaran.
“Katanya mereka berencana dinas ke Jepang sembari liburan dan main ski berdua disana,” kata Suzanna seru. Tangan Fenny gemetar karena tahu apa yang digosipkan kedua wanita itu benar adanya. Mario sudah mengatakan padanya kalau bulan depan sebelum mereka menikah, tunangannya itu harus menemani Jackson ke Jepang untuk mengecek MM Hotel cabang sana.
“Aku tidak menyangka. Patah hati sepertinya memang bisa membuat orang berubah orientasi. Sepertinya sekarang jika kita melihat pria tampan, kita harus memastikan dulu orientasi seksual mereka. Untung saja suamiku normal, sejak dulu dia selalu sukanya wanita.” jawab Joana prihatin sambil mensyukuri dirinya sendiri.
“Hm. Aku akan mengingat perkataanmu yang sepertinya sangat benar itu. Aku akan menyelidiki latar belakang pria yang dekat denganku sebelum memutuskan untuk serius dengannya, jangan sampai nanti kecewa karena ternyata dia jeruk makan jeruk.” jawab Suzanna menyetujui.
Setelah Suzanna menggunakan pakaiannya, kedua wanita itu pamit pada Fenny sambil mengatakan kalau mereka menunggu desain pakaian yang akan Fenny buatkan untuk mereka.
Tubuh Fenny langsung luruh ke lantai begitu pintu ruang kerjanya tertutup. Air mata yang sejak tadi ditahannya langsung tumpah. Tubuhnya gemetar dan dia terisak.
Bagaimana mungkin Mario mengkhianatinya, dengan Jackson pula!
Dia tidak mau mempercayai perkataan kedua tamunya tadi, tapi Mario memang sangat dekat dengan Jackson, sering kali Mario membatalkan janji dengannya karena harus menemani Jackson mengurusi pekerjaannya.
Walaupun terkadang dia cemburu karena sepertinya Mario lebih mengutamakan Jackson, tapi dia berusaha mengerti. Dia merasa aman karena setidaknya itu adalah Jackson, temannya juga, dan dia tahu kalau pria itu memang perfeksionis.
Tapi pada akhirnya mereka dengan kejamnya berselingkuh di belakangnya. Bahkan mereka berencana liburan bersama sebelum dia dan Mario menikah. Kejam sekali kedua orang itu padanya. Apakah sekarang mereka sedang meledeknya dan menertawakan kebodohannya? Pantas saja hanya dia sendiri yang sibuk mengurusi pernikahannya dengan Mario, ternyata karena pria itu memang tidak peduli pada pernikahan mereka.
Dia tidak tahu berapa lama dia diam tergugu sendiri di lantai hingga dia mendengar suara pintu diketuk dan tanpa mendengar jawabannya, pintu itu terbuka.
“Ya ampun, Fenny, ada apa denganmu?” tanya Juline, sahabatnya. Wanita itu langsung berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Fenny. Mereka sudah membuat janji untuk makan siang bersama dan sejak tadi dia menghubungi Fenny tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba menelepon ke butik dan pegawai Fenny mengatakan kalau Fenny berada di dalam ruang kantornya, karena itulah dia berinisiatif untuk datang.
“A-aku,” Fenny tidak bisa meneruskan kalimatnya karena dadanya terlalu sesak. Dia memeluk sahabatnya dan meraung meluapkan emosinya.
“Fenny!” teriak Juline panik saat Fenny tiba-tiba tidak sadarkan diri.
****