"Mas Elang?" Aisyah terkejut dan melebarkan kedua matanya saat melihat Elang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Lelaki itu menggunakan baju koko lengkap dengan sarung dan peci serta membawa satu mushaf Al Qur'an di tangannya.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Aisyah? Apa aku nggak pantas pakai pakaian seperti ini?" tanya Elang yang tidak percaya diri.
Beberapa hari setelah Aisyah tinggal di rumahnya, Elang memiliki ketertarikan tersendiri kepada gadis itu. Namun, bukan ketertarikan seorang lelaki kepada seorang wanita, melainkan ketertarikan terhadap kebiasaan yang dilakukan oleh Aisyah.
Diam-diam, lelaki itu memperhatikan Aisyah yang tidak pernah terlambat melaksanakan salat lima waktu. Belum lagi, gadis itu selalu rutin membaca Alquran setiap bakda Subuh dan Magrib. Ditambah kebiasaan gadis itu bangun dan melaksanakan salat tahajud di sepertiga malam yang akhir. Serta hal yang paling menarik perhatian Elang adalah, Aisyah selalu berdoa dan menangis serta memohon ampunan dari dosa-dosa setelah melaksanakan salat tahajud.
Jauh di lubuk hati Elang yang paling dalam, kebiasaan Aisyah mengingatkannya kepada sosok sang mama yang telah meninggal puluhan tahun lalu. Meskipun saat itu Elang masih berusia lima tahun, tetapi lelaki itu masih mengingat beberapa kebiasaan sang Mama sebelum dipanggil ke hadapan Sang Khalik.
Tadi sore sepulang dari kantor, Elang sengaja mampir ke sebuah toko busana muslim dan membeli beberapa buah baju koko, sarung serta peci dan sebuah mushaf Al Qur'an. Entah kenapa hatinya tergerak untuk mengikuti kebiasaan Aisyah yang membuatnya merasa kalau sang mama kembali hidup lewat kehadiran gadis itu.
"Tentu saja pantas, Mas. Lelaki seperti Mas Elang ini memakai pakaian apapun juga pantas," balas Aisyah sembari memalingkan pandangan.
Jujur, Aisyah mengagumi Elang. Apalagi penampilannya menimbulkan Aura yang berbeda. Elang yang biasa berpenampilan formal kini tampak agamis. Namun, gadis itu tak ingin memupuk rasa kagumnya, mengingat Elang adalah seorang lelaki beristri. Lagi pula, Aisyah masih sangat mencintai Baihaqi. Meskipun sepertinya gadis itu merasa telah pupus harapan untuk bersatu dengan lelaki yang pernah ia sebut namanya di setiap doanya.
"Terima kasih pujiannya, Aisyah. Oh, iya. Boleh aku minta tolong?" tanya Elang membuat Aisyah yang telah membuang pandangan kembali menatapnya.
"Minta tolong apa, Mas? Kalau saya bisa, pasti akan saya lakukan. Mas Elang sudah begitu baik kepada saya. Mau menampung saya di rumah ini. Jadi, apapun akan saya lakukan untuk membalas budi baik Mas Elang, asalkan itu tidak bertentangan dengan syariat agama," balas Aisyah yakin.
"Begini, Aisyah. Selama beberapa hari kamu tinggal di sini, aku selalu mengamatimu. Apa yang kamu lakukan mengingatkanku pada apa yang dulu dilakukan Mama. Aku jadi merasa kalau selama ini telah jauh dari agamaku, jauh dari Tuhanku.
Aku memang beragama Islam, tapi hanya sekadar status di kartu tanda penduduk karena selama ini aku tidak pernah melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam. Aku tidak pernah salat, puasa, apalagi bayar zakat. Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara membaca Al Quran karena sedari kecil, Papa tidak pernah mengarahkanku untuk belajar ilmu agama," ucap Elang panjang lebar. Aisyah masih terdiam menyimak apa yang akan disampaikan lelaki itu.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin kamu mengajari aku caranya salat dan baca Al Qur'an. Sebentar lagi bulan suci Ramadan akan datang. Aku ingin mulai memperbaiki diri di bulan Ramadan nanti," lanjut Elang membuat Aisyah tersenyum.
"Alhamdulillah, semoga niat baik Mas Elang dimudahkan oleh Allah. Namun, saya mohon maaf. Saya tidak bisa mengajari Mas Elang." Mendengar jawaban Aisyah, Elang pun terkejut.
"Kenapa kamu tidak bisa mengajari saya?"
"Karena kita bukan mahram, Mas. Saya takut terjadi fitnah. Kalau Mas Elang ingin belajar tata cara salat dan juga membaca Alquran, sebaiknya Mas Elang mencari seorang ustaz. Dengan begitu akan sama-sama nyaman."
"Oh begitu, ya. Terima kasih sarannya, Aisyah. Nanti aku akan coba mencari ustad di daerah sini yang bisa mengajariku tata cara salat dan baca Alquran dari nol," balas Elang bersemangat.
"Masya Allah. Tabarakallah. Saya ikut senang, Mas." Aisyah tersenyum lega dan bersyukur karena meskipun kepergiannya dari pesantren membawa aib, tetapi setidaknya dirinya masih bisa memberikan manfaat untuk orang lain.
***
"Papa? Tumben Papa ke sini tanpa memberi kabar?" tanya Karin saat melihat Papa mertuanya datang. Kebetulan wanita itu sedang libur syuting di hari Minggu dan berniat memanjakan diri ke salon untuk perawatan. Namun, terpaksa Karin membatalkan rencananya karena sang papa mertua yang datang dan memberitahu terlebih dahulu.
"Di mana Elang?" Bukannya menjawab pertanyaan menantunya, lelaki paruh baya yang tidak lain adalah Wirayuda, Papa Elang itu malah balik bertanya.
"Mas Elang ada di kamar. Papa silakan duduk dulu, saya akan panggilkan," balas Karin sopan. Wirayuda mengangguk lalu duduk di sofa sembari mengeluarkan cerutunya.
"Oiya, Papa mau minum apa? Biar dibuatkan Bik Surti," tawar Karin sebelum ke kamar untuk memanggil Elang.
"Suruh Surti bikinkan aku kopi hitam less sugar," titah lelaki paruh baya itu sembari menghidupkan cerutunya dan menghisapnya hingga mengeluarkan asap. Karin mengangguk, lalu bergegas ke dapur untuk meminta Surti membuatkan pesanan Papa mertuanya. Namun, karena Surti sedang ke toserba untuk membeli keperluan dapur, akhirnya Karin pun meminta Aisyah untuk membuatkan Papa mertuanya Kopi Hitam. Wanita itu kemudian ke kamar untuk memanggil sang suami.
"Aku senang Papa berkunjung ke sini. Sepertinya sudah lama Papa tidak mengunjungi rumah ini," ucap Elang sembari duduk di samping sang papa.
"Oh, aku kira kedatangan papa malah ganggu kalian," balas Wirayuda sembari menghisap cerutunya.
"Sama sekali tidak mengganggu, Pa. Justru senang kalau Papa sering-sering ke sini," balas Elang membuat Wirayuda meletakkan serutunya di atas asbak lalu menatap ke arah Putra sulungnya itu.
"Apa sudah ada tanda-tanda Karin hamil?" Pertanyaan Wirayuda membuat Elang menghela napas panjang. Setiap kali sang papa datang berkunjung ke rumahnya, selalu hal itu yang menjadi topik pembicaraan mereka.
"Jangan bilang kalau Karin belum hamil. Kalian sudah lima tahun menikah dan kalau memang benar kalian sama-sama sehat, harusnya istri kamu itu sudah hamil," lanjut Wirayuda lagi.
"Papa tenang saja. Karin sudah hamil, kok," sahut Karin yang tiba-tiba muncul sembari melangkahkan kaki menuruni anak tangga dari lantai dua.
"Serius?" tanya Wirayuda memastikan. Sementara Elang terkejut mendengar pengakuan sang istri.
"Serius, Pa. Papa tenang saja. Aku pasti akan melahirkan penerus papa," balas Karin sembari bergabung dengan suami dan mertuanya duduk di sofa.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga. Kenapa kamu tidak memberitahukan Papa berita baik ini?" tanya Wirayuda yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya.
"Tadinya aku dan Mas Elang mau kasih surprise buat Papa. Iya, kan, Mas?" Karin menoleh ke arah Elang yang masih bingung sembari mengedipkan sebelah matanya. Pada akhirnya lelaki itu pun mengangguk.
"Iya, Pa. Tadinya aku dan Karin mau kasih surprise untuk Papa, tapi karena Papa sudah bertanya jadi terpaksa kami beritahukan," balas Elang sekenanya. Wirayudha pun pada akhirnya percaya dan tidak curiga. Obrolan ketiganya terjeda saat Aisyah mengantarkan kopi hitam pesanan papanya Elang.
"Ini kopinya, Tuan," ucap gadis itu sembari meletakkan segelas kopi hitam di atas meja, lalu segera kembali ke dapur.
"Siapa gadis berhijab itu?" tanya Wirayuda dengan ekspresi terkejut.