Bab 6. Resign

1195 Words
"Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?" tanya Umi Raudah saat dokter visit ke kamar rawat inap Kyai Umar. "Kondisi pasien sudah stabil. Beliau hanya mengalami serangan jantung ringan. Kalau tidak ada keluhan lagi nanti boleh pulang," balas Dokter setelah memeriksa kondisi lelaki paruh baya itu. "Alhamdulillah, akhirnya Abah boleh pulang," ucap Umi Raudah penuh rasa syukur. Zaenab pun tidak kalah bahagia. Putri sulung pengasuh pondok pesantren Darul Hikmah itu pun tidak kalah cemas seperti halnya Umi Raudah. Dua wanita beda generasi itu bahkan tidak pulang selama dua hari karena menjaga Kyai Umar di rumah sakit. Setelah Dokter dan Perawat keluar dari ruangan, Zainab membantu Umi Raudah untuk berkemas. Sementara Hanan bergegas mengurus administrasi kepulangan Abah mertuanya. "Bagaimana kondisi pesantren?" tanya Kyai Umar saat menantunya kembali dari mengurus administrasi rumah sakit. "Alhamdulillah, pesantren sudah mulai stabil, Bah. Meskipun beberapa hari yang lalu sempat ada beberapa wali santri yang menjemput anaknya dan memindahkan ke pesantren lain seiring dengan tersiarnya berita kehamilan Aisyah, tetapi hari ini sudah kembali kondusif. Saya dan Ustadz Hafiz telah mengadakan pertemuan dengan Wali Santri dan menjelaskan berita tentang Aisyah agar tidak ada simpang siur ataupun timbul berita hoax tentang pesantren kita. Saya juga sudah tegaskan kalau Abah telah mengusir Aisyah dari pesantren sebagai bentuk ketegasan pengurus pondok terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran dan dosa besar tidak terkecuali itu adalah anak dari pengasuh pondok sendiri," jelas Hanan panjang lebar, membuat Kyai Umar mengangguk puas. Lelaki paruh baya itu menatap menantunya dengan berjuta harapan. Kyai Umar merasa sebagai ustadz yang usianya masih muda, Hanan memiliki potensi sebagai pemimpin yang bijaksana. "Sudahlah, Bah. Jangan memikirkan masalah pesantren dulu. Abah kan baru sembuh. Nanti kalau sakit lagi bagaimana?" ucap Umi Raudah menyela. "Benar, Bah. Untuk sementara biar Mas Hanan yang menghendel urusan pesantren. Abah jangan banyak pikiran," tambah Zainab membuat Kyai Umar tersenyum. "Alhamdulillah, aku lega sekarang. Setelah dari rumah sakit, aku ingin pulang ke Prambanan," ucap Kyai Umar membuat dua wanita beda generasi yang sedang berkemas terkejut. Tak terkecuali Hanan. Ketiganya menatap ke arah Kyai Umar dengan heran. "Lho, kok pulang ke Prambanan? Bukannya ke pesantren, Bah?" protes Umi Raudah bingung. "Abah ingin menenangkan diri. Abah ingin pulang ke rumah lama kita di Prambanan," balas lelaki paruh baya itu membuat Zaenab dan Umi Raudah saling memandang. "Kenapa Abah tiba-tiba pengen pulang ke rumah lama kita?" tanya Umi Raudah. "Sama halnya dengan Aisyah. Abah tidak pantas tinggal di Pesantren. Abah merasa gagal menjadi orang tua. Kalau mendidik anak sendiri saja Abah gagal, bagaimana Abah bisa mengemban tugas mendidik anak-anak santri di pondok? Abah malu," ucap Kyai Umar membuat Umi Raudah menghela napas panjang. "Bah, Abah sudah berusaha semaksimal mungkin. Apa yang terjadi pada Aisyah di luar kuasa kita. Kalau kita tinggal di Prambanan, bagaimana dengan pesantren?" "Sudah saatnya ada regenerasi di pondok kita. Aku rasa, Hanan sudah mampu untuk memegang pesantren," ucap Kyai Umar membuat Hanan terkejut. "Saya, Bah? Tapi saya merasa masih kurang mampu. Saya masih perlu banyak belajar dari Abah. Tolong tetap di Pondok," mohon Hanan. Sementara Zaenab tidak bisa berkomentar apa-apa. "Abah minta tolong padamu, Hanan. Abah tidak punya anak laki-laki. Hanya kamu menantu laki-laki satu-satunya yang Abah percaya untuk memegang pesantren. Abah yakin kamu mampu. Tolong biarkan Abah menenangkan diri dan memohon ampun kepada Allah karena telah gagal mendidik Aisyah." Mendengar ucapan abah mertuanya, Hanan hanya bisa menghela napas berat. Seolah sebuah tanggung jawab besar kini telah dilimpahkan ke pundaknya. Bukan hal yang mudah menghandle pesantren untuk seorang ustadz yang masih minim pengalaman seperti dirinya. Sementara Zaenab mendekati sang suami dan mengusap punggung lelaki itu. Putri sulung Kyai Umar itu berusaha memberi semangat dan kekuatan agar sang suami mampu mengemban amanah yang telah dibebankan kepadanya. Sebenarnya Hanan belum siap untuk menerima tanggung jawab memegang pesantren. Namun, Ustaz muda itu hanya bisa sami'na wa atokna, mendengarkan dan taat akan perintah Abah mertuanya. Lagipula, demi kesehatan Kyai Umar, Hanan bersedia memegang tanggung jawab besar itu. "Baiklah, Bah. Insya Allah saya akan menjalankan amanah Abah dengan baik. Namun, saya tetap mengharapkan bimbingan dari Abah." "Alhamdulillah. Kamu memang selalu bisa aku andalkan. Barakallah." Kyai Umar menepuk pundak menantunya, lalu memeluk Ustaz muda itu. Beberapa saat kemudian, pintu ruang rawat inap diketuk. Umi Raudah mempersilahkan seseorang yang berdiri di depan pintu untuk masuk. Seorang lelaki tampan berbalut baju koko warna putih masuk setelah mengucap salam dan dijawab oleh semua yang ada di dalam ruangan itu. "Bagaimana kondisi Pak Kyai?" tanya lelaki muda yang tidak lain adalah Baihaqi, mantan calon suami Aisyah. Baihaqi mendekat ke arah Kyai Umar lalu menjabat dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu. "Alhamdulillah, aku sudah lebih sehat. Terima kasih kamu sudah mau datang menjenguk," balas Kyai Umar. Lelaki paruh baya itu hanya menghela napas panjang saat menyadari Baihaqi datang seorang diri tanpa disertai Kyai Somad dan Umi Afifah. Kyai Umar tau betul kalau kedua orang tua Baihaqi sangat kecewa terhadap Aisyah. Bahkan langsung memutuskan lamaran mereka dan tidak ingin tahu lagi kabar Aisyah selanjutnya. Saat mendengar lelaki Kyai Umar masuk rumah sakit, Baihaqi bergegas untuk menjenguknya. Ustaz muda itu sempat mengajak Abah dan Uminya. Namun, keduanya menolak untuk ikut. "Alhamdulillah kalau Pak Kyai sudah sehat. Kedatangan saya ke sini selain untuk menjenguk Pak Kyai, juga ada maksud yang lain," ucap Baihaqi membuat Kyai Umar menegakkan punggungnya yang tadi bersandar di ujung ranjang. "Ada apa, Bay?" tanya Kyai Umar penasaran. "Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Kyai. Abah dan Umi meminta saya menggantikan Mas Ammar memegang TPQ milik Abah di Jogja. Dengan berat hati, terpaksa saya harus resign dari pesantren Darul Hikmah," ucap Baihaqi sedih. Ustad muda itu sebenarnya berat meninggalkan Pesantren Darul Hikmah. Selain sudah nyaman menyampaikan ilmu di sana, Pesantren Darul Hikmah juga memiliki banyak kenangan antara dirinya dengan Aisyah. Semenjak sebelum menuntut ilmu ke Mesir, sampai sesudah kembali dari sana. Namun, Baihaqi tidak punya pilihan lain karena harus taat pada apa yang diperintahkan oleh kedua orang tuanya. Kyai Umar terpukul mendengar permintaan Ustaz muda itu. Lelaki paruh baya itu berpikir kalau kedua orang tua Baihaqi mungkin sengaja meminta anaknya keluar dari pesantren miliknya. "Kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Terima kasih selama ini kamu sudah mengabdikan diri untuk Pesantren Darul Hikmah. Semoga di tempat yang baru, lebih memberikan pengalaman yang baik untuk kamu," balas Kyai Umar. "Aamiin. Terima kasih doanya, Pak Kyai. Oh, ya. Kalau boleh saya tahu, sekarang Aisyah di mana?" Pertanyaan Baihaqi membuat Kyai Umar terdiam. Begitu pula Umi Raudah, Zaenab dan Hanan. "Saya ingin ketemu Aisyah. Pak Kyai tidak benar-benar mengusir Aisyah, kan?" tanya Baihaqi lagi membuat Kyai Umar menghela napas panjang. "Entah kenapa saya masih yakin kalau Aisyah tidak berzina. Saya sangat mengenal Aisyah dan saya yakin dia tidak akan melakukan hal serendah itu. Maaf, saya tahu kalau Pak Kyai dan Bu Nyai jauh lebih mengenal Aisyah daripada saya. Tapi firasat saya mengatakan, Aisyah tidak bersalah." Lagi, Kyai Umar terdiam mendengar ucapan Baihaqi. Baihaqi saja mempercayai Aisyah karena cinta seorang lelaki terhadap perempuan. Lalu, bukankah seharusnya cinta seorang ayah kepada anak perempuan jauh lebih besar? Seharusnya Kyai Umar menjadi garda terdepan yang mempercayai dan membela Aisyah, bukan malah menuduh dan menghinakan putrinya dengan mengusir dari pesantren tanpa mempercayai ucapannya. "Astaghfirullahaladzim, Aisyah. Kamu di mana, Nduk? Maafkan Abah," sesal Kyai Umar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD