"Suara siapa itu?" gumam Elang lirih saat mendengar suara seorang wanita melantunkan ayat suci Al Quran dengan suara yang pelan.
Tepat pukul 03.00 dini hari, Elang terjaga dari tidur. Tenggorokannya terasa kering. Namun, persediaan air putih di kamarnya habis. Terpaksa lelaki itu turun ke dapur untuk mengambil air putih.
Saat melintasi kamar tamu, lelaki itu mendengar suara Aisyah melantunkan ayat suci Al Quran dengan suara merdu dan enak di dengar. Meskipun suaranya tidak terlalu keras, akan tetapi cukup terdengar karena malam begitu sunyi. Entah kenapa, Elang membelokkan langkahnya menuju kamar Aisyah. Lelaki itu berdiri sejenak di depan kamar dan mendengarkan suara merdu gadis itu yang membuat hatinya tersentuh.
"Apa Aisyah tidak bisa tidur, ya? Kenapa malam-malam gini dia malah baca Al Quran?" batin Elang heran. Lelaki itu berniat mengetuk pintu kamar. Namun, segera ia urungkan saat mendengar gadis itu mengakhiri bacaannya. Tak berapa lama kemudian, terdengar Aisyah terisak dan menangis sambil berdoa, memohon ampun kepada Allah.
"Kenapa dia malah menangis?" Rasa penasaran membuat Elang merundukkan kepala dan mengintai dari balik lubang kunci kamar Aisyah. Lelaki itu melihat Aisyah yang masih menggunakan mukena berdoa sambil menangis dan memohon ampun berulang kali kepada Allah.
"Beban berat apa yang sedang dipikul gadis itu ?" batin Elang heran. Lelaki itu merasa tertampar dengan apa yang dilakukan Aisyah. Padahal gadis itu terlihat seperti orang yang rajin ibadahnya. Namun, masih menangis dan meminta ampun kepada Allah karena mengingat dosa. Lalu, apa kabar dirinya yang bahkan tidak pernah ingat kepada Allah? Mengerjakan salat wajib saja masih bolong-bolong, tapi mana pernah dirinya sampai mengingat dosa-dosa apalagi sampai memohon ampun kepada Allah seperti apa yang dilakukan Aisyah.
"Aisyah sepertinya gadis yang istimewa. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan latar belakang kehidupannya. Aku yakin dia bukan orang sembarangan," batin Elang sembari membalikkan tubuh dan melangkah hendak meninggalkan kamar Aisyah. Namun, sialnya tangan lelaki itu justru menyenggol guci pajangan yang ada di meja samping pintu kamar tamu, hingga benda itu terjatuh dan pecah, menimbulkan suara yang mengejutkan, terutama bagi Aisyah yang ada di dalam kamar.
"Astaghfirullahaladzim, suara apa itu?" tanyanya dengan ekspresi terkejut. Gadis itu bergegas bangkit menuju pintu kamar, masih dengan posisi menggunakan mukena, lalu membuka pintu.
"Mas Elang?" ucap Aisyah yang terkejut melihat lelaki itu sudah ada di depan kamarnya. Sementara Elang yang berjongkok membereskan bekas pecahan guci pun terkejut karena Aisyah tiba-tiba muncul membuka pintu kamar sehingga tangan lelaki itu tertusuk pecahan guci dan berdarah
"Aw," teriaknya spontan. Aisyah yang melihat tangan Elang berdarah pun jadi panik.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Tangan Mas Elang berdarah," ucapnya. Aisyah bergegas masuk ke kamar untuk mengambil tisu lalu melilitkannya di tangan Elang agar darahnya berhenti.
"Mas Elang ngapain malam-malam di sini?" tanya Aisyah sembari menatap wajah lelaki itu. Baru kali ini gadis itu berani menatap wajah laki-laki yang bukan mahramnya dengan begitu dekat. Sementara Elang justru gelagapan berada dalam posisi yang begitu dekat dengan Aisyah untuk yang kesekian kalinya. Apalagi jantungnya malah berdebar dengan cepat.
"Kenapa aku selalu berdebar saat dekat dengan Aisyah?" batin Elang bingung. Lelaki itu pun segera mengalihkan pandangan karena tatapan Aisyah bagaikan pisau tajam yang menguliti hatinya.
"Mas Elang." Aisyah masih menanti jawaban pertanyaannya.
"Tadi aku mau ke dapur mengambil air putih terus aku dengar suara dari kamar kamu. Karena penasaran aku pun mendekat. Ternyata kamu sedang baca Al Quran. Saat mau kembali, aku tidak sengaja menyenggol guci dan pecah," jelas Elang sembari berdiri. Aisyah pun mengikuti berdiri.
"Maaf kalau suara mengaji saya mengganggu tidurnya Mas Elang. Lain kali saya akan lebih memelankan suara saya," balas Aisyah sembari menunduk karena merasa tak enak hati.
"Oh tidak! Aku tidak terganggu, kok. Justru aku senang mendengar suara kamu yang merdu itu. Rumah ini jadi terasa damai. Sudah lama tidak ada yang baca Al Quran di rumah ini. Dulu, almarhumah mamaku sering baca Al Quran, tapi sudah sangat lama. Waktu aku masih kecil. Semenjak mama meninggal rumah ini menjadi suram tidak ada lagi Kedamaian Apalagi setelah Papa menikah lagi. Maaf, aku jadi curhat," kekeh Elang.
"Oh jadi mamanya Mas Elang sudah meninggal? Maaf kalau saya mengingatkan Mas Elang pada beliau."
"Tidak apa-apa, Aisyah. Sekarang aku tahu kenapa sejak awal aku selalu ingin menolong kamu. Aku melihat sosok Mama dalam dìri kamu. Tetap ramaikan rumah ini dengan bacaan Al Quranmu, Aisyah. Mamaku di surga sana pasti senang."
"Iya, Mas. Insya Allah. Oh, iya. Itu tangannya yang luka kalau masih berdarah segera dikasih Hansaplast saja. Biar darahnya tidak terus keluar.
"Aman, hanya luka kecil, kok. Kalau begitu aku ke dapur dulu, ya. Mau panggil Bik Surti untuk membereskan pecahan guci ini."
"Jangan, Mas. Kasihan Bik Surti masih tidur. Biar saya saja yang membersihkan," cegah Aisyah. Elang pun mengangguk dan membiarkan Aisyah membersihkan bekas pecahan guci itu. Sementara dirinya mengambil air putih dan kembali ke kamar.
***
"Apa katanya, Umi?" tanya Kyai Umar pada sang istri usai menerima telepon dari kerabatnya yang tinggal di Gunung Kidul.
Umi Raudah menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan menatap ke arah suaminya dengan perasaan gelisah.
"Kata Aina, sampe hari ini Aisyah belum sampai di rumahnya," balas Umi Raudah membuat Kyai Umar terkejut. Lelaki paruh baya itu memegang dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Kemana anak itu? Apa dia pergi bersama lelaki yang sudah menghamilinya?" ucapnya lirih sembari menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di d**a sebelah kirinya.
"Abah jangan suudzon dulu." Umi Raudah mencoba berpikir positif.
"Astaghfirullahaladzim. Terus kira-kira Aisyah ke mana?" Kyai Umar mengusap wajahnya dengan kasar, membuang pikiran buruk yang tiba-tiba muncul mengenai putri bungsunya, Aisyah.
"Abah, Umi. Maaf kalau saya menyela. Sebenarnya saat di Terminal Jombor, saya dan Mas Hanan melihat Aisyah naik bus jurusan ke Bantul," ucap Zainab membuat Kyai Umar dan Umi Raudah terkejut. Keduanya sontak menoleh ke arah putri sulungnya itu.
"Apa? Jadi Aisyah tidak ke Gunung Kidul?" tanya Umi Raudah memastikan. Zainab hanya membalas dengan anggukan kepala. Setelah mengantarkan Aisyah ke Terminal Jombor, Zainab dan suaminya tak lantas pergi dari terminal. Keduanya terus mengawasi Aisyah hingga naik bus. Keduanya pun tidak menyangka kalau Aisyah justru naik bus jurusan Bantul, bukannya ke Gunung Kidul seperti pesan abahnya.
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa Aisyah jadi seperti ini?" balas Umi Raudah sembari menggelengkan kepala. Namun, kedua wanita beda generasi itu semakin terkejut saat tiba-tiba Kyai Umar meringis kesakitan sembari memegang d**a sebelah kirinya.
"Abah kenapa?" tanya Zainab panik. Namun, lelaki paruh baya itu tidak menjawab dan justru menyandarkan punggungnya di sofa, lalu memejamkan mata.
"Zainab, panggil suamimu. Siapkan mobil, kita bawa Abah ke Rumah Sakit!" titah Umi Raudah membuat Zainab mengangguk, lalu bergegas bangkit untuk mencari suaminya.