"Suami saya sudah pulang?" tanya seorang wanita yang baru turun dari mobil Honda Jazz merah kepada Aryo, security di rumah elang saat membukakan pintu pagar depan.
"Sudah, Nyonya. Sudah beberapa menit yang lalu Tuan Muda pulang," balas Aryo sembari menerima kunci mobil dari Nyonya rumahnya untuk dipindahkan ke garasi.
Hujan sudah mulai reda saat Karin, istri Elang itu pulang syuting. Karin adalah seorang artis dan konten kreator yang memiliki wajah cantik dan tubuh seksi. Saat ini karirnya sedang naik daun, sehingga banyak job yang mengharuskannya pulang malam.
"Tumben masih sore Mas Elang sudah pulang," gumam Karin lirih. Namun, cukup terdengar oleh Aryo yang sedang menutup pintu pagar depan rumah.
"Tadi Tuan Muda datang membawa seorang wanita berhijab," ucap Aryo membuat Karin menghentikan langkah dan menoleh ke arah security-nya itu.
"Wanita berhijab? Siapa dia?" tanya Karin sembari menatap tajam ke arah Aryo.
"Saya kurang tahu, Nyonya. Wanita itu pingsan dan Tuan membawanya ke kamar tamu depan. Saya juga diminta membawa kopernya ke kamar itu," jelas Aryo membuat Karin heran.
Tanpa perkata apapun lagi, wanita itu membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat menuju kamar tamu yang terletak paling depan, bersebelahan dengan ruang tamu. Wanita itu membuka pintu kamar dan menjumpai suaminya duduk di tepi ranjang, sedangkan seorang wanita berhijab duduk bersandar di ujung ranjang.
"Mas, siapa wanita ini? Kenapa kamu membawanya pulang?" tanyanya sembari menatap tajam ke arah dua orang yang ada di dalam kamar. Sontak keduanya menoleh ke arahnya.
"Kamu sudah pulang, Sayang?" Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Elang malah balik bertanya. Lelaki itu beranjak dari tepi ranjang, lalu mendekati sang istri.
"Siapa dia?" tanya Karin lagi. Elang meraih pergelangan tangan sang istri, lalu mengajaknya masuk. Sementara Aisyah bangkit dari ranjang dan berdiri.
"Dia ini Aisyah. Aisyah, kenalkan ini istriku, namanya Karin," ucap Elang memperkenalkan. Aisyah pun tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Saya Aisyah, senang perkenalan dengan Anda," ucap Aisyah. Karin pun terpaksa menyambut jabat tangan wanita berhijab itu. Namun, dengan cepat istri Elang itu melepaskan tangannya dari Aisyah tanpa berkata apa-apa.
"Tadi aku hampir menabraknya di jalan. Jadi, sebagai permintaan maaf, aku bawa dia pulang karena tadi dia sempat pingsan," jelas Elang membuat Karin melirik tajam ke arah Aisyah.
"Harus banget dibawa pulang? Kenapa tidak kamu antarkan saja ke rumahnya?" tanya Karin sinis, membuat Aisyah merasa tak enak hati.
"Sebentar ya, Aisyah. Saya mau bicara dengan istri saya," ucap Elang sembari mengajak sang istri keluar kamar.
"Kamu jangan berkata begitu di depan Aisyah. Aku sudah mengizinkannya tinggal di sini untuk sementara waktu," ucap Elang setelah keduanya keluar kamar Aisyah.
"Kamu berani banget ya memasukkan wanita ke rumah kita tanpa izinku?"
"Aku hanya kasihan sama dia, Sayang. Lagi pula tadi aku hampir menabraknya. Dia bilang tidak punya keluarga dan aku hanya ingin menolongnya."
"Itu hanya modus saja. Aku merasa wanita ini sengaja mendekati kamu."
"Kamu jangan overthinking, Sayang. Dia hanya gadis lugu. Sepertinya dia juga gadis baik-baik. Tadi dia menolak saat mau aku antar pulang. Dia juga nolak saat aku beri uang sebagai ganti rugi karena telah hampir aku tabrak. Aku membawanya pulang karena dia pingsan."
"Kenapa aku nggak yakin kalau dia gadis baik-baik? Jangan-jangan dia mengincar kamu."
"Karin, kamu cemburu dengan gadis seperti Aisyah? Kamu sangat tahu kalau aku cinta mati sama kamu. Mana mungkin aku menoleh kepada wanita lain, apalagi Aisyah?"
"Kenapa tidak? Meskipun dia tidak seksi sepertiku, tapi sebenarnya dia cantik," balas Karin memancing reaksi sang suami.
"Omong kosong apa ini, Sayang. Kamu jelas lebih cantik dan seksi. Mana mungkin aku berpaling," ucap Elang membuat Karin tersenyum puas. Wanita itu tahu betul kalau dari dulu Elang sangat tergila-gila kepadanya.
Saat Elang sangat menginginkan anak setelah pernikahan mereka yang sudah berjalan lima tahun, tetapi Karin menolak hamil karena takut tubuh seksinya berubah gendut, Elang yang bucin pun hanya bisa mengalah dan tidak memaksakan sang istri untuk mengandung anaknya. Keduanya justru sepakat menyewa rahim seorang wanita untuk mengandung anak Elang dengan proses inseminasi, meskipun pada akhirnya gagal karena wanita yang mereka sewa rahimnya tidak kunjung hamil.
"Aku hanya kasihan padanya, Sayang. Please izinkan dia tinggal di sini, ya. Dia sedang cari pekerjaan. Aku pikir dia bisa bantu-bantu Bik Surti," tambah Elang berharap sang istri mengijinkan Aisyah tinggal di rumahnya. Entah kenapa Elang merasa kasihan pada gadis berhijab itu dan ingin menolongnya.
"Baiklah, aku ijinkan gadis itu tinggal di sini untuk bantu-bantu Bik Surti, tapi kalau dia berulah dan bikin aku kesal, maka jangan salahkan aku kalau mengusirnya," balas Karin membuat Elang tersenyum lega. Lelaki itu pun memeluk sang istri.
"Terima kasih, Sayang. Kamu itu selain cantik juga baik, bikin aku tambah cinta," ucapnya setelah melepas pelukan, lalu mengedipkan sebelah matanya kepada sang istri sebagai kode bahwa malam ini ia sangat menginginkan untuk dilayani. Namun, Karin hanya membuang napas kasar.
"Aku capek banget, Mas. Besok aja, ya," tolak Karin sembari melangkah ke kamarnya, membuat Elang kecewa. Namun, lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak hanya sekali ini Karin menolak ajakannya, bahkan hampir setiap kali wanita itu pulang syuting. Namun, Elang mencoba bersabar dan mengerti kondisi sang istri yang memang capek habis bekerja.
"Sayang, aku mau bicara," ucap Elang saat keduanya sudah bersiap untuk tidur.
"Ngomong apa, sih? Besok aja aku capek," balas Karin yang sudah berbaring membelakangi sang suami tanpa membuka kedua matanya.
"Bisa nggak kamu mengurangi jadwal syuting? Aku merasa kita semakin jauh." Mendengar ucapan sang suami, Karin pun menoleh dan menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Ini sudah sering kita bahas dan kamu tahu pasti jawabannya, kan? Sebelum menikah, kita sudah sepakat kalau aku akan tetap dengan karir aku dan kamu juga setuju. Kenapa sekarang kamu jadi bawel," tanya Karin membuat Elang membuang napas kasar.
"Tadi siang Papa menelpon, menanyakan apa kamu sudah hamil. Papa bilang akan memberikan semua saham perusahaan pada Raffi kalau tahun ini kita belum juga punya momongan," ucap Elang membuat Karin melebarkan kedua matanya. Wanita itu bangkit dari pembaringan.
"Kenapa sih Papa kamu tidak adil? Sepertinya Papa lebih menyayangi Raffi daripada kamu. Seharusnya, ada atau tidaknya anak dalam rumah tangga kita, beliau tetap membagi dua saham itu untuk kamu dan Raffi. Kalian kan sama-sama anaknya, meskipun beda ibu? Lagi pula kamu yang bekerja keras memajukan perusahaan. Terus kenapa harus Raffi yang mendapatkan mayoritas saham hanya karena dia sudah memberikan cucu untuk keluarga Wirayudha," balas Karin kesal.
Perusahaan milik Wirayudha, papanya Elang adalah perusahaan besar di bidang kontraktor. Tujuan Karin mau menikah dengan Elang awalnya adalah untuk menguasai saham perusahaan itu, karena Elang adalah anak pertama sekaligus Ceo perusahaan raksasa itu. Rasanya Karin tidak rela kalau semua saham perusahaan menjadi milik adiknya Elang.
"Itu sudah keputusan Papa. Kita nggak bisa menentangnya, Sayang."
"Aku akan pikirkan cara lain supaya saham itu tidak jatuh di tangan Raffi. Aku pastikan tahun ini kita akan punya anak," balas Karin, membuat Elang melebarkan kedua matanya
"Kamu serius, Sayang? Kamu bersedia hamil anakku?" tanya Elang bersemangat.
"Tentu saja tidak. Aku hanya akan pura-pura hamil dan bayinya bisa kita ambil dari panti asuhan," balas Karin membuat Elang kecewa. Namun, lelaki yang bucinnya sudah level tinggi itu tidak bisa menolak sedikitpun apa yang diinginkan sang istri.