Bab 3. Pingsan

1084 Words
Elang yang tak punya pilihan pun akhirnya mengangkat tubuh Aisyah meski sempat terbesit keraguan karena tadi Aisyah tak ingin bersentuhan dengan lawan jenis. Setelah meletakkan tubuh Aisyah di kursi belakang mobilnya, lelaki itu kembali mengambil koper Aisyah dan memasukkannya pada bagasi mobil. "Kenapa dia bisa pingsan?" Elang buru-baru melajukan mobilnya begitu duduk di kursi kemudi. Sesekali pandangannya terbagi melihat Aisyah yang masih tak sadarkan diri di kursi belakang mobilnya. Elang bingung hendak membawa Aisyah ke mana. Mau ke rumah sakit takut dikira yang tidak-tidak. Apalagi ditanya atau dituduh yang macam-macam. Lelaki itu malas jika harus berurusan dengan Polisi. Akhirnya Elang pun memilih membawa Aisyah pulang ke rumahnya. "Aryo," panggilnya saat turun dari mobil. Lelaki berseragam security yang sedang berjaga di pos segera mendekati lelaki muda itu. "Iya, Tuan Muda," balasnya setelah mengikis jarak dari sang majikan. "Di Bagasi ada koper. Kamu bawa ke kamar tamu," titah Elang sembari membuka pintu mobil bagian belakang, lalu membopong tubuh Aisyah keluar dari mobil menuju kamar tamu. Sang security yang merasa heran karena majikannya membawa pulang seorang wanita berhijab tidak banyak bertanya dan langsung mengeluarkan koper dari bagasi, lalu membawanya ke kamar tamu sesuai perintah majikannya. "Panggilkan Bik Surti ke sini," titah Elang lagi. Lelaki berseragam petugas keamanan itu mengangguk lalu bergegas memanggil Surti, asisten rumah tangga di rumah itu. Tak berapa lama kemudian, wanita paruh baya bertubuh sedikit gemuk yang dipanggil Bik Surti pun telah sampai di kamar tamu. "Tuan Muda memanggil saya?" tanya wanita paruh baya itu. "Iya. Tolong kamu gantikan pakaian wanita ini agar tidak kedinginan. Bajunya ada di koper itu," titah Elang, lalu bersiap keluar. "Siapa wanita ini, Tuan Muda?" tanya Surti memberanikan diri. "Aku juga tidak tahu. Aku hanya menolongnya karena pingsan di jalan. Cepat gantikan bajunya dan lakukan sesuatu agar dia sadar dari pingsannya," balas Elang. Surti pun mengangguk, lalu segera melaksanakan perintah majikannya. "Kalau dia sudah sadar, cepat beritahu aku," ucap Elang sebelum keluar kamar. "Baik, Tuan Muda." Elang pun kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian karena bajunya juga basah kuyup. Sementara itu, Surti telah selesai menggantikan baju Aisyah. Wanita paruh baya itu kemudian membuat segelas teh hangat dan membawanya ke kamar tamu. Tak lupa, Surti juga mengambil minyak kayu putih lalu membalurkannya ke telapak tangan dan kaki Aisyah. Surti juga mendekatkan botol minyak kayu putih itu ke hidung Aisyah agar cepat tersadar. Gadis itu pun menggerakkan tubuh dan perlahan membuka kedua matanya. "Alhamdulillah, akhirnya Neng sadar juga," ucap Surti lega saat melihat Aisyah telah membuka kedua dengan sempurna. "Saya di mana?" tanya Aisyah bingung sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar yang luas dan mewah itu. "Neng ada di rumah majikan saya. Kata majikan saya tadi Neng pingsan di jalan terus dibawa pulang ke sini," balas Surti membuat Aisyah terkejut, lalu mulai mengingat kejadian sebelum ia pingsan. "Diminum dulu teh hangatnya, Neng. Biar tidak masuk angin," ucap Surti sembari mengulurkan segelas teh hangat kepada gadis itu. "Terima kasih, Bu," balas Aisyah sembari menerima gelas berisi teh hangat dari Surti. "Panggil saja saya Bik Surti. Saya asisten rumah tangga di rumah ini," ucap Surti ramah. "Baik, Bik Surti. Terima kasih," balas Aisyah lagi. Gadis itu kemudian meminum teh hangat pemberian Surti hingga tinggal separuh, lalu meletakkan gelasnya di atas nakas. "Oh, iya. Nama neng siapa?" "Saya Aisyah, Bik." "Oh, Neng Aisyah. Sebentar, ya. Saya keluar dulu panggil majikan saya karena tadi beliau berpesan kalau neng Aisyah sudah sadar, saya disuruh memanggil beliau," ucap Surti sembari beranjak dari duduknya. Aisyah pun mengangguk bangkit dari pembaringan dan duduk menyandarkan punggungnya di ujung ranjang. "Bik Surti!" panggil Aisyah membuat Surti yang hendak keluar kamar menghentikan langkah. "Iya, Neng. Ada apa?" "Majikan Bibik laki-laki atau perempuan?" tanya Aisyah. "Laki-laki, Neng. Ada apa?" "Tolong ambilkan jilbab saya. Saya tidak mau ada laki-laki melihat aurat saya," balas Aisyah membuat Surti mengangguk, lalu mengambilkan jilbab Aisyah dari dalam koper dan membantu gadis itu memakainya. "Terima kasih, Bik." "Iya, Neng. Sama-sama." Surti pun keluar dari kamar Aisyah lalu memberitahukan majikannya kalau gadis itu telah siuman. Tak berapa lama kemudian, Elang masuk ke kamar yang ditempati Aisyah. "Syukurlah, kamu sudah sadar. Maaf kalau aku terpaksa membawamu pulang ke rumah karena aku nggak tahu harus ngantar kamu ke mana," ucap Elang sembari duduk di tepi ranjang Aisyah. Gadis itu menggeser sedikit posisi duduknya agar tidak terlalu dekat dengan lelaki muda itu. "Terima kasih Mas sudah menolong saya. Maaf kalau saya merepotkan, tapi saya janji besok pagi-pagi sekali saya akan pergi dari rumah ini. Tolong ijinkan saya menumpang di sini semalam saja," mohon Aisyah membuat Elang tersenyum. "Kalau kamu tidak tahu harus pergi ke mana, kamu boleh tinggal di sini untuk sementara waktu," ucap lelaki muda itu membuat Aisyah bingung. Sebenarnya gadis itu pun tidak tahu harus pergi ke mana besok. Apalagi dia sudah tidak punya uang sama sekali karena tasnya dirampas oleh penjambret saat di terminal. "Sepertinya lelaki ini orang yang baik. Apa aku tinggal di sini dulu untuk sementara waktu sambil mencari pekerjaan, ya?" batin Aisyah bimbang. "Oh, ya. Kita belum kenalan. Nama kamu siapa? Aku Elang Pradigta Wirayuda. Panggil saja Elang," ucap lelaki itu sembari mengulurkan tangannya. Namun, Aisyah hanya menelangkupkan kedua tangannya di depan d**a. "Saya Aisyah Al Kayyis Umar," balasnya membuat lelaki itu menarik kembali uluran tangannya. "Maaf, saya tidak bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram," jelas Aisyah agar lelaki berlama Elang itu tidak salah paham. "Oh, ya. Saya tahu. Sepertinya kamu memang terlihat agamis." "Mas Elang, sekali lagi saya ucapkan terima kasih karena telah menolong saya. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda." "Aamiin. Sudah kewajiban sesama manusia saling menolong, bukan? Apalagi saya hampir menabrak kamu. Jadi, ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab dan permintaan maaf saya." "Oh ya, Mas. Apa boleh saya minta tolong sekali lagi?" tanya Aisyah ragu, membuat Elang menatapnya. Entah kenapa lelaki itu merasa sosok Aisyah begitu menarik perhatiannya. "Minta tolong apa? Katakan saja." "Saya butuh pekerjaan. Bisakah Mas bantu saya mencari pekerjaan? Apa saja saya mau. Asalkan halal," mendengar ucapan Aisyah, Elang terdiam sejenak. "Kalau kamu tidak keberatan, untuk sementara kamu bantu-bantu Bik Surti dulu. Nanti kalau saya sudah menemukan pekerjaan yang cocok untuk kamu, akan saya beritahu." "Terima kasih banyak, Mas Elang. Maaf kalau saya merepotkan," balas Aisyah sembari membuang pandangan menghindari tatapan lelaki itu. "Sama sekali tidak merepotkan. Saya senang bisa membantu kamu," balas Elang yang justru terus memandangi wajah Aisyah. "Mas, siapa wanita ini? Kenapa kamu membawanya pulang?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah istri Elang. Wanita itu sudah berdiri di ambang pintu dengan sorot mata tajam, membuat Elang maupun Aisyah seketika menoleh ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD