"Aisyah sudah jujur, Bah. Demi, Allah Aisyah tidak pernah berbuat zina," balas Aisyah sembari bercucuran air mata. Gadis itu tidak menyangka kalau sang abah masih juga tidak percaya dengan apa yang diucapkannya.
"Cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini. Pesantren ini bukan tempat tinggal yang pantas untukmu." Kyai Umar tetap pada keputusannya. Sementara Aisyah hanya bisa pasrah menerima nasib buruknya.
Tidak ada satu orang pun yang percaya, bahkan ibu dan Kakak perempuannya tidak berusaha membela Aisyah di depan Kyai Umar. Dengan berat hati, gadis itu membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper.
"Sudah siap, Dek?" tanya Zaenab yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Aisyah. Gadis itu mengangguk lalu bergegas keluar kamar sembari membawa kopernya.
"Abah, Umi, Aisyah pergi. Aisyah akan buktikan kalau Aisyah bukan pezina," pamit Aisyah saat hendak meninggalkan rumah kedua orang tuanya. Gadis itu menjabat dan mencium punggung tangan Kyai Umar. Namun, lelaki paruh baya itu seolah enggan menatap putrinya. Hanya Umi Raudah yang memberikan pelukan terakhir sebelum putri bungsunya itu pergi.
"Jaga diri baik-baik, Nduk. Jangan lupa mohon ampun kepada Allah," bisik Umi Raudah, membuat kedua mata Aisyah kembali mengalirkan cairan bening. Sampai di detik dirinya harus pergi dari pesantren pun, kedua orang tuanya masih tidak percaya kalau dirinya bukan pezina.
Zainab membantu Aisyah membawa koper dan meminta pada suaminya untuk memasukkannya ke bagasi mobil. Suasana pesantren terlihat sepi karena para santri sedang ada jam pelajaran. Beberapa saat kemudian, mobil pesantren yang dikendarai oleh Hanan, suami Zainab meninggalkan area Pesantren Darul Hikmah menuju Terminal Jombor.
"Dek, maaf. Mbak sama Mas Hanan hanya bisa mengantarmu sampai terminal. Tadi Abah berpesan, agar kamu ke Gunung Kidul. Ke tempat Bibi Aina, saudara jauh Umi yang ada di sana. Ini alamatnya," ucap Zainab sembari menyerahkan secarik kertas kepada adiknya, beberapa saat setelah mobil yang dikendarai Hanan berhenti di area Terminal Jombor.
Kedua mata Aisyah meneteskan air mata. Meskipun terlihat tidak peduli, tetapi ternyata Abahnya tidak semerta-merta melepaskannya begitu saja tanpa tujuan. Lelaki paruh baya itu tetap memberikan solusi tempat tinggal untuk Aisyah.
"Terima kasih, Mbak," balas Aisyah sembari menerima kertas dari Zaenab, lalu memasukkannya ke dalam tas selempang kecil miliknya. Sementara Hanan pun turun dari mobil dan mengeluarkan koper Aisyah.
"Hati-hati dan jaga diri baik-baik, Dek," ucap kakak ipar Aisyah itu sembari menyerahkan koper.
"Iya, Ustaz. Insya Allah," balas Aisyah sembari menerima kopernya. Wanita itu kemudian menyeret kopernya memasuki area Terminal Jombor.
Aisyah mencoba tawakal menerima nasib dan akan menyendiri ke Gunung Kidul sampai melahirkan bayinya. Mata lelah Aisyah pun terpejam saat telah duduk nyaman di atas bus. Gadis itu terbangun saat kondektur meminta uang ongkosnya.
"Turun di mana, Neng?" tanya kondektur bus saat Aisyah menyerahkan uangnya.
"Terminal Wonosari, Pak," balas Aisyah membuat sang konduktor terkejut.
"Loh, Mbaknya mau ke Gunung Kidul?" tanya kondektur bus yang dijawab anggukan kepala oleh Aisyah.
"Waduh, Mbak pasti salah naik. Bus ini mau ke Bantul, Mbak," ucap kondektur membuat Aisyah bingung.
"Astaghfirullahaladzim. Saya tadi tidak fokus saat naik bus. Jadi saya salah naik," ucap Aisyah sembari mengusap wajahnya.
"Nggak papa, Mbak. Nanti Mbak turun di terminal Giwangan saja. Dari sana, Mbak bisa cari bus yang ke Gunung Kidul," ucap kondektur sembari memberikan kembalian Aisyah. Gadis itu menghela napas panjang. Pikirannya lelah sampai tidak fokus melihat bus yang ia tumpangi.
Sesampainya di Terminal Giwangan, Aisyah turun untuk oper bus menuju Gunung Kidul. Namun, gadis itu merasa ingin buang air kecil, sehingga memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Saat keluar dari toilet Aisyah terkejut karena tiba- tiba dua orang lelaki merampas tasnya dan lari dengan cepat. Kebetulan toilet lagi sepi. Gadis itu berteriak dan berlari hendak mengejar jambret itu. Namun, naasnya Aisyah malah terjatuh.
Aisyah menangis. Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah diusir dari pesantren, tasnya malah dijambret pula. Padahal semua uang dan juga handphonenya ada di dalam tas kecil itu. Perlahan, Aisyah bangkit kembali dan menyeret kopernya. Gadis itu berjalan keluar area terminal Giwangan. Mau naik bus lagi, tetapi Aisyah sudah tidak punya uang.
Aisyah terus berjalan tanpa tujuan menyusuri pingir jalan protokol Kota Yogyakarta. Namun, tiba-tiba hujan turun dengan lebat seolah menambah penderitaannya.
"Ya Allah ... kenapa begitu berat cobaan yang kau berikan pada Hamba? Apa salah dan dosa Hamba? Selama ini Hamba selalu menaati peraturanMu. Hamba tidak pernah melanggar sejengkal pun peraturan yang Kau tulis dalam kitabMu. Tapi kenapa Hamba harus menghadapi fitnah sekeji ini? Hamba bukanlah pezina, tapi mengapa Hamba diperlakukan hina?" ucap Aisyah setengah berteriak. Namun, tentu saja tidak terdengar oleh siapapun karena orang-orang yang terlalu lalang di jalanan itu tidak menghiraukan dan sibuk dengan urusan masing-masing. Hingga akhirnya sebuah mobil dari arah berlawanan hampir saja menabraknya.
Aisyah terkejut dan terjatuh di aspal jalanan tepat di depan mobil. Sementara pengemudi mobil langsung menghentikan kendaraannya tepat di depan Aisyah. Seorang lelaki tampan keluar dari mobil membawa payung dan langsung menghampiri gadis itu.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja. Apa ada yang sakit atau luka? Biar saya bawa ke rumah sakit." Lelaki tampan yang tidak lain adalah Elang itu membantu Aisyah berdiri. Untuk sejenak keduanya saling bertatap dalam diam.
"Tolong jangan pegang-pegang saya. Kita bukan mahram," tolak Aisyah membuat Elang pun melepaskan tangannya dari lengan Aisyah dan membiarkan gadis itu berusaha berdiri sendiri.
"Sekali lagi saya minta maaf, Mbak. Apakah ada yang luka atau sakit? Biar saya antar ke rumah sakit untuk diobati," tawar Elang peduli.
"Tidak, Mas. Saya tidak apa-apa. Terima kasih, saya harus pergi," balas Aisyah yang tidak ingin berlama-lama dengan lelaki asing. Gadis itu mengambil kopernya dan hendak meninggalkan Elang.
"Tunggu, Mbak! Sebagai permintaan maaf saya, ijinkan saya mengantar kamu. Hujannya deras sekali, saya takut kamu kenapa-napa. Kamu mau ke mana biar saya antar," ucap Elang membuat Aisyah menghentikan langkah dan menoleh.
"Terima kasih, Mas. Tapi maaf saya bisa pulang sendiri," tolak Aisyah sopan. Tidak mungkin wanita itu menerima tawaran dari lelaki asing untuk pulang bersama. Mereka bukan mahram. Aisyah takut akan timbul fitnah yang lebih besar, apalagi kondisinya sedang hamil entah anak siapa. Lagipula, gadis itu juga tidak tau mau diantar ke mana. Seandainya alamat rumah kerabat uminya yang ada di Gunung Kidul tidak hilang bersama dengan tasnya, mungkin Aisyah bisa minta tolong lelaki itu mencarikan taksi.
"Kalau begitu, terima uang ini sebagai permintaan maaf saya karena hampir menabrak kamu." Elang belum menyerah. Dia mengambil dompet dan memberikan sejumlah uang kepada Aisyah. Namun, gadis itu tetap menolaknya, meskipun sebenarnya sangat membutuhkan.
"Maaf, Mas. Saya tidak apa-apa. Jadi, kamu tidak perlu memberikan ganti rugi," tolak Aisyah lagi. Gadis itu pun melangkahkan kakinya menjauh.
"Ya sudah. Kalau begitu tolong pakai payung ini saja, agar kamu tidak sakit," ucap Elang membuat Aisyah kembali menoleh.
"Tidak perlu, Mas. Baju saya sudah terlanjur basah. Terima kasih niat baiknya," tolak Aisyah lalu kembali melanjutkan langkah. Sementara Elang hanya bisa menghela napas berat dan akhirnya kembali ke mobilnya. Namun, dia tak lantas pergi meninggalkan tempat itu. Kedua matanya menatap ke arah Aisyah yang terus berjalan kaki menembus lebatnya hujan sembari menyeret koper.
"Sebenarnya siapa dia? Kenapa malam-malam begini, hujan lebat pula malah jalan kaki membawa koper?" batin Elang heran sekaligus kagum, sebab Aisyah menolak semua pemberiannya. Padahal biasanya orang akan memanfaatkan kesempatan karena hampir ditabrak dengan meminta ganti rugi. Entah itu minta uang atau minta diantar pulang.
Elang kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan berniat meninggalkan tempat itu. Namun, dia terkejut saat melihat Aisyah melalui spion mobilnya tiba-tiba ambruk dan jatuh di tepi jalanan. Elang pun memutar balik mobilnya mendekati tempat Aisyah jatuh, lalu turun dan berniat menolong gadis itu.
"Astaga, dia pingsan."