Senja berganti malam ketika Abimana masih duduk di balik meja kantornya. Lampu ruangan redup, menyisakan pantulan siluet tubuhnya di kaca besar yang menghadap ke gemerlap kota. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengung halus dari pendingin ruangan. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka perlahan. Bastian masuk sambil membawa map hitam di tangannya. Wajahnya serius, seolah tahu bahwa informasi yang dibawanya bukan hal sepele. “Laporan yang Anda minta, Tuan,” katanya sambil meletakkan map itu di atas meja. Abimana tidak langsung menyentuhnya. Ia mengangkat alis dengan tenang. “Lengkap?” “Lengkap. Termasuk latar belakang individu yang Anda minta saya telusuri, yaitu Clarissa Putri A., Naya Ayu, dan Trixie Paramitha.” Abimana membuka map itu perlahan. Lembar demi lembar berisi ha

