Tiara berdiri kaku di lorong sepi lantai eksekutif, punggungnya menempel pada dinding dingin berlapis marmer. Dari celah pintu kaca tadi ia sempat melihat jelas bagaimana seorang wanita menyambut Abimana. Wanita itu terlalu familiar. Senyumnya lembut, wajahnya cantik, rambutnya panjang tergerai, dan tubuhnya bergerak penuh percaya diri. Safira? Itu Safira yang tadi aku temui di studio pilates. Masa iya? Tubuh Tiara bergetar kecil. Ia menutup mulut dengan telapak tangannya, mencoba meredam degup jantung yang seakan berlari menembus tulang rusuk. Bayangan tadi siang berkelebat jelas di kepalanya, bagaimana wanita itu tampak ceria, bahkan bisa tertawa histeris hanya karena melihat gantungan ponselnya. Rasanya tidak mungkin wanita dengan sikap ramah seperti itu sekarang berdiri di hadapan Ab

