Tiara memeluk gaun pemberian Abimana, pipinya menempel di kain lembut itu. Ia menatap suaminya dengan mata bulat polos, senyum mengembang penuh arti. “Mas, kamu itu memang susah banget dikalahin. Aku ngaku deh, istrinya harus nurut, kan? Tapi kalau harus buang gaun, kayaknya nggak perlu ya. Itu mahal, tahu. Seumur hidup aku, baru kali ini bisa pegang gaun semahal itu, sejak jadi istri kamu,” Tiara berkata cepat, matanya berbinar sambil sesekali mencubit lengan Abimana. Ia tertawa kecil, lalu melanjutkan, “Eh, kamu tau nggak? Aku pernah dikasih hadiah gaun mahal juga, dari Vanila, sahabat aku. Iya, Vanila yang itu, istri Tuan Adrian. Kamu kenal, kan, CEO itu? Duh, dia mah segalanya ada, jadi nggak heran kasih aku barang mewah. Walaupun aku ngga pernah ngarep." "Dan kamu tau, aku sampai

