bc

Cinta Beda Dunia

book_age16+
1.5K
FOLLOW
13.3K
READ
possessive
time-travel
tomboy
student
comedy
sweet
bxg
ghost
highschool
first love
like
intro-logo
Blurb

Jatuh cinta dengan manusia itu sudah biasa. Namun apa jadinya jika Lidya jatuh cinta dengan seorang cowok yang tak kasat mata.

Berawal dari Lidya yang memang memiliki kemampuan bisa melihat yang tak sebagian orang bisa lihat.

Kegiatan berkemah Lidya mempertemukannya dengan seorang cowok bernama Arya, namun sayang sungguh sayang, Arya bukanlah seorang manusia. Melainkan makhluk tak kasat mata yang sedang berkeliaran di sekitaran kemah.

Jelek?

Tidak. Justru Arya sangat tampan. Dia sepertinya seumuran Lidya, dan pertemuan Arya dengan Lidya memulaikan kisah baru untuk cowok tersebut.

chap-preview
Free preview
Chapter 1 : Pertemuan Tak Terduga

Aku pikir siapa yang sedang bersembunyi di balik pohon. Ternyata dua seorang lelaki tampan.

*****

Suara krasak krusuk terdengar di kamar seorang gadis yang biasa di panggil dengan Lidya. Kain bertebaran di mana-mana, dan kamar tersebut sudah nyaris seperti kapal pecah.

"Ya Allah Lidya. Kamu habis ngapain? Kenapa ini kamar kayak habis diterjang banjir?"

Lidya melirik ke arah pintu kamarnya. Di sana ada ibunya yang baru saja masuk dan menyaksikan kebrutalan Lidya memporak-porandakan isi lemarinya.

"Bunda lihat Scraft Lidya nggak?" tanya Lidya pada wanita itu.

"Scraft yang mana?"

Wanita itu melangkah sambil berjinjit-jinjit untuk mengelakkan baju sang anak agar tak terinjak.

"Itu lho bun, Scraft anggota kemping sekolah. Besok Lidya mau kemah bun, dan wajib pakai scraft itu.."

Lidya kembali memporak porandakan isi lemarinya namun dengan cepat dihalangi oleh Dian, Bundanya Lidya.

Lidya melirik bundanya yang sudah menatap Lidya dengan tatapan jutek.

"Bunda kenapa natapnya gitu?"

Suara helaan nafas terdengar keras. Dian melirik tempat gantungan tas dan topi anaknya lalu menunjuk ke sana.

Lidya mengikuti arah tunjuk bundanya. "Apa Bun?" tanya Lidya yang masih belum paham.

Dian berjalan ke arah gantungan tersebut lalu menyingkirkan salah satu topi di sana.

"Ini apa?" tanya Dian kesal.

Lidya yang melihat posisi scraft nya ada di sana langsung kaget. Ia melotot tak percaya saat benda yang ia cari bahkan sampai memporak-porandakan isi lemarinya ternyata tergantung manis di gantungan tas serta topinya yang ada di pojok ruangan di dekat jendela kamar.

Lidya melirik maminya lalu tersenyum lugu membuat Dian langsung menjewer telinga sang anak.

"Awww.. Ampun bun.. Sakit bun.."

"Kamu ya! Nggak nyari dulu..."

"Ini kan nyari bun..awww..."

"Nyari apanya ini!!!? Ini mah sama aja kamu hancurin kamar kamu...!!" berang Dian sambil melepaskan jewerannya pada telinga Lidya

Lidya cemberut sembari mengusap telinganya yang panas karena ulah jeweran manis bundanya.

"Ya Maaf bun. Namanya juga panik.."

"Iiihhh,, masih juga ngejawab. Bunda nggak mau tahu,  sepuluh menit lagi bunda masuk kamar kamu, ini kamar udah harus beres.!!!" perintah Dian. Wanita itu langsung melangkah pergi, namun baru dua langkah, ia kembali berhenti dan berbalik menatap sang anak. "HARUS DILIPAT!!"

Untuk dua kata terakhir itu langsung membuat Lidya terkejut, "Bun..Bunda ini.."

"Nggak ada ini ininya.."

"Tapi bun, sepuluh menit mana bisa beresin ini bun.. Dilipat pula.."

"Bunda nggak mau tahu, semuanya harus dilipat.."

"Satu jam ya bun!?" tawar Lidya.

"Lima belas menit..!" jawab Dian.

"Hikkss.. Mana bisa bundaku yang cantik. Lima puluh menit?"

Dian menggeleng, "Setengah jam!"

"Bun..."

"Nggak ada tawar menawar lagi. Setengah jam harus beres, kalau nggak bunda nggak akan izinin kamu kemah,.."

Deg!

Lidya langsung jleb mendengar ancaman bundanya.

Yang benar saja tak diizinin kemah. Bisa galau berminggu-minggu dirinya.

Berkemah adalah hobi yang paling Lidya sukai. Ia sangat menyukai alam, karena alam bemberikannya kenyamanan.

Lidya melirik kamarnya yang sungguh tak berbentuk.

"Waktunya terhitung setelah bunda keluar dari kamar kamu.."

"Bun, nggak..."

"Bereskan atau nggak boleh kemah!?" ancam Dian yang membuat Lidya seketika frustasi.

Dian kembali melangkah. Belum juga wanita itu sampai di luar kamar anaknya, Lidya sudah bergegas membereskan dan melipat satu per satu pakaiannya yang tadi bertebaran dan menyusunnya kembali ke dalam lemari pakaian.

Sembari bekerja, Lidya tak lupa terus melirik jam yang ada di dinding kamarnya.

"Ya Allah ini kok waktunya cepat amat..." Lidya terus berlari meraih satu persatu pakaian tersebut, melipatnya asal.

Ia tak peduli yang penting semua beres dan terlipat.

Waktu terus berlalu, kain yang bertebaran pun satu persatu mulai kembali ke asalnya.

Nafas Lidya ngos-ngosan. Dikejar waktu demi bisa ikut berkemah.

Pekerjaan Lidya selesai lima menit lebih lama dari jadwal yang sudah bundanya berikan. Namun ia bisa bernafas lega karena saat kamarnya selesai dibereskan, bundanya belum memunculkan diri di kamarnya.

"Kerja yang bagus Lidia...semua ini demi perkemahan yang sudah lo tunggu-tunggu sampai hari ini.." ucap Lidia dengan bangganya walaupun ia sendiri sekarang merasa sangat kelelahan karena tenaganya terkuras habis untuk membereskan kamarnya tersebut.

ia menatap pintu kamarnya. tak ada tanda-tanda sang Bunda akan muncul. Ia juga melirik ke arah jam dinding yang terpajang indah di kamarnya, waktu sudah hampir melewati 15 menit dari prediksi bundanya.

Semakin lama waktu berlalu, Bundanya yang ia tunggu tak kunjung datang membuat Lidia berpikir lebih cerdas.

Lidia berlari ke luar kamarnya. Di sana ia mendapati bundanya sedang menikmati mpek-mpek bersama ayahnya di ruang keluarga. Mereka kini sedang saling menyuapi satu sama lain membuat Lidia mencelos.

"Berarti sedari tadi ia berlarian mengejar waktu tak ada gunanya?" gumam Lidia yang seketika kesal pada bundanya tersebut.

"Bunda!!" teriak Lidia membuat pasangan suami istri tersebut langsung menatap ke samping dan menemukan sang buah hati berdiri di sana.

"Oh! Sayang? Sudah selesai beres-beresnya? Bunda cek dulu..."

"Nggak perlu! Bunda tega banget sih ngerjain anak." mendengar ucapan Lidia Dian seketika tersenyum.

" Sorry sayang, bunda bukannya mau ngerjain kamu. cuma kalau nggak Bunda gituin kamu nggak bakal mau beresin. mau sih, cuma tunggu nanti nanti dulu. kamu tahu sendiri kan Bunda nggak suka berantakan.." jawab Dian yang masih belum bisa diterima oleh Lidya.

Dengan kesalnya gadis itu kembali memasuki kamarnya dan membanting pintu kamar tersebut cukup keras. Daripada ia marah-marah dengan Bundanya lebih baik dia tidur karena besok adalah hari perjalanannya menuju tempat perkemahan.

*****

Lidya berdiri dari duduknya setelah ia selesai melaksanakan salat subuh. Pagi ini ia akan Berencana untuk pergi ke sekolah karena semalam Ia mendapat kabar jika titik kumpul peserta perkemahan adalah di sekolah tersebut. Setelah melipat mukena nya dengan rapi Lidya memasukkan kain tersebut kedalam tas kecil khusus untuk mukenanya lalu menyimpan mukena itu di dalam tas ransel yang akan Lidya bawa ke sekolah. Sebelum berangkat dia kembali mengecek satu per satu peralatan yang diperlukan selama perkemahan ia tak ingin nanti Saat di jalan baru ia mengingat beberapa yang hilang dan tak mungkin ia menjemputnya kembali pulang ke rumah. Kurang dari seperempat jam Lidya pun selesai memeriksa semua barang-barangnya. Dengan sedikit kesusahan Lidya menentang tas tersebut keluar dari kamarnya beruntung ia tak mempunyai rumah bertingkat karena bisa dipastikan akan kesusahan membawa barangnya turun ketika kamarnya berada di atas.

sesampainya di ruang tengah, Lidia kembali kesal saat melihat bundanya yang berdiri menatapnya dengan manis.

"Anak bunda masih kesal aja.." goda Dian pada putrinya tersebut.

"Bunda jangan ganggu deh. masih pagi bun, jangan ngilangin mood.." ucap Lidia kesal.

"Oh bagus dong! ngilangin mood, jadinya kamu nggak jadi kemah dan bisa nemenin bunda ikut arisan memasak di rumah bu Intan.."

Lidia langsung menatap bundaya horor. nama buk Intan begitu melekat di ingatan Lidia saat wanita tua itu pernah memarahinya sampai menjewernya gara-gara ia mengambil mangga yang ada di pekarangan rumah buk Intan tanpa sepengatuhan pemilik mangga.

alhasil, saat ia ketahuan memanjat, wanita itu langsung menunggunya di bawah.

menetap di atas? oh, tak mungkin. mau sampai berapa lama?

alhasil, ketika ia turun, telinganya langsung di jewer tanpa ampun oleh wanita itu dan membawanya pada nyonya Dian yang tentu saja langsung menambah jeweran ditelinga sebelahnya.

sejak saat itu, Lidia tak pernah mau memunculkan wajahnya di rumah buk Intan lagi.

menatap wajah bundanya, Lidia langsung menggeleng cepat.

"Bunda aja deh. mending tidur kalau nggak kemah.."

Dian seketia mencibir. jawaban Lidia masih sama.

"padahal mama punya anak perempuan, tapi kok kelakuan kayak anak jantan. nggak suka masak, pakaiannya celana besar semua dan baju kaos. kapan kamu feminim nya? bunda juga pengen bareng-bareng sama anak bunda ini. keburu bundamu ini Ko-Id."

Lidia mendelikkan matanya kesal. bundanya selalu seperti ini. bahkan kalimatnya pun sama dan jika dihitung, mungkin sudah ratusan kali kalimat ini keluar dari bibir bundanya.

"Bun... sebagai ibu, harusnya bunda dukung semua yang aku lakuin, kan nggak nyusahin orang bun..."

"Ya emang nggak nyusahin orang, tapi kan..."

"Bundaaaa. sepulang kemah, Lidia janji deh temenin bunda masak, tapi nggak di rumah buk Intan..!"

Dian tersenyum merekah lalu mengangguk antusias. "Janji ya.."

"Iya bunda. aku janji.."

Lidia mengecup pipi bundanya.

"Ya udah,kamu hati-hati kemahnya. jangan bawa-bawa ya.." pesan sang ibu yang langsung membuat Lidia tertawa.

oh iya, aku belum cerita. aku punya kemampuan bisa melihat yang orang lain kadang tak bisa lihat dan yang mempunya kemampuan itu hanya aku. ayah dan bunda tak punya sama sekali, apalagi adikku Alfi.

walaupun Alfi saat ini sudah menginjak usia sepuluh tahun, ia tak menunjukkan tanda-tanda jika bocah kecil tersebut mempunyai kemampuan yang sama dengan sang kakak.

dan yang paling Dian takutkan adalah, setiap Lidia pulang berkemah, pasti anaknya itu akan membawa 'sesuatu' ke rumah. ya walaupun diusirnya cepat, tapi kan ngeri juga.

"bunda tenang aja. kali ini Lidia pastikan tak akan membawa apapun pulang.. hehehehe" kekehnya yang lucu melihat bundanya cemberut. "Ya udah, Lidia pergi ya bun.ngumpulnya di sekolah.."

Dian mengangguk, "Kamu pergi pake apa?"

"Tadi udah pesan taksi online..."

"Ya udah.hati-hati ya sayang.."

Lidia mengangguk. setelah menyalami dan mencium bundanya, Lidia segera melangkahkan kakinya ke luar rumah dan membuka pagar kecil yang terbuat dari kayu tersebut.

Lidia bukan terlahir dari keluarga kaya raya. ia mempunya rumah yang sederhana yang diisi dengan tiga kamar tidur dan masing-masing kamar ada kamar mandinya. dan di luar ada satu kamar mandi.

tak seperti orang-orang yang tinggal di sekitarnya yang begitu kaya raya, rumah bertingkat dan mempunyai fasilitas lengkap, Lidia justru lebih menyukai rumah sederhana dengan halaman luas yang tak di semen dan masih tanak asri. pagar rumahnya pun hanya terbuat dari susunan kayu namun begitu apik karena yang membuatnya adalah ayahnya sendiri.

dengan halaman luas tanpa di semen itu, Lidia bisa menanam tanaman apapun bahkan mempunyai kebun kecil-kecilan yaang ia buat di samping rumahnya. di kebun tersebut, Lidia bertanam sayur-sayuran dan buah.

mulai dari cabai, tomat, rawit, terong dan banyak lagi. sedangkan tanaman buah yang tumbuh di pot juga ada dan saat ini yang sedang berbuah adalah jambu biji, jambu air, buah belimbing dan masih banyak lagi.

kembali lagi pada Lidia, gadis itu melambaikan tagannya pada sebuah mobil yang melaju ke arah rumahnya,.

Lidia mematikan ponselnya yang tadi dihubungi pihak driver.

"Buka bakasi ya mas.." ucap Lidia yang langsung diikuti oleh sang driver.

"Mau kemana Mbak? kayak orang  mau kemah?" tanya sang driver.

Lidia mengangguk lalu tersenyum, "Iy mas. aku mau kemah..."

Lidia berjalan masuk ke dalam mobil, dan ia duduk di bagian belakag sopir. kemudian ia disusul oleh supir masuk.

"Udah berapa lama mbak suka kemah?" sang supir mulai memajukan mobilnya.

"Sejak SMP. mas suka kemah juga? "

pembicaraan itupun berlanjut. dan bagi Lidia itu bisa ia jadikan penghilang kantuk selama diperjalanan ia menuju sekolah.

*****

"Baik semua. hari ini sesuai agenda kita akan mengadakan kemah di bumi perkemahan yang ada di kota A. dan sama seperti kemah-kemah kita sebelumnya, tetap jaga sopan santun karena di sana tak cuma hanya kita yang ada di sana. kita hidup berbaur dengan makhluk lainnya, jadi hati-hati dalam bersikap dan bertutur kata, kalian paham?"

jawaban paham diucapkan secara serentak. setelahnya, semua anggota yang ikut berkemah diminta untuk memasukkan bawang bawaan mereka ke dalam bus yang akan membawa mereka menuju tempat berkemah.

prediksi berangkat selalu tepat pada waktunya. itu yang ia sukai dari cara kerja Pak Tristan sebagai pembina hari ini. ia selalu tepat waktu dan tak memberi toleransi apapun bagi siswa yang terlambat.

terlambat sama dengan tidak hadir. jadi segala jurus bujuk rayu yang siswa berikan tak memberikan efek apapun bagi pak Tristan.

bus sudah mulai melaju. semua siswa yang ikut satupun terlihat hadir. selama perjalanan, mereka mengisi waktu luang dengan bernyanyi bermain gitar bersama-sama.

perjalan yang harus mereka tempuh dari sekolah sampai tempat mereka berkemah nanti yaitu tiga jam. dan itu cukup melelahkan di dalam bus. karena itu, pak Trintan tak melarang jika ada siswanya yang membawa gitar dan hanya gitar. tak boleh yang lain karena takut akan mengganggu.

rasa kantuk dan lelah sudah menyerang yang akhirnya membuat bus mendadak sunyi karena sebagian siswa ada yangmemilih tidur, ada juga yang memilih mendengarkan musik sambil diam.

Sampai bus yang membawa mereka pun sampai.

Lidia meregangkan tubuhnya dan melihat ke luar jendela. ia sudah mulai memasuki area perkampungan.semakin jauh semakin minim rumah penduduk.

"Waaahh.. lokasinya nantang banget pak..." ucap Alex yang juga sudah terbangun dan takjub melihat lokasi.

Lidia melirik Alex sejenak lalu kembali menatap ke luar jendela. namun ada yang aneh.

Lidia menajamkan penglihatannya dengan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas apa yang ia lihat.

"KEnapa ada orang di sini?" Ucap Lidia cukup keras membuat Ririn yanga da di sebelahnya langsung bertanya balik..

"Apa?" tanya Ririn.

"Lo lihat ada orang nggak tadi di sana?" Ririn segera melirik ke belakang, dan tak melihat siapa-siapa di belakang mobil.

"Nggak ada siapa-siapa. salah lihat kali lo. lagian mana ada orang lalu lalang ditempat beginian.. yang ada mungkin cuma anggota kemah seperti kita.."

Lidia melirik ke belakang, dan ia masih bisa melihat orang itu duduk di batu besar yang ada di dekat sungai kecil.

tapi jika Ririn tak bisa melihatnya, itu artinya yang ia lihat bukanlah manusia.

Lidia kembali mencoba memastikan jika ia tak salah lihat dengan sekali  lagi memutar tubuhnya ke belakang, dan orang itu masih ada. namun betapa terkejutnya Lidia saat ia melihat orang itu melihat ke arahnya lalu tersenyum.

Deg!

seketika Lidia merasakan ketakutan. belum juga mulai berkemah, ia sudah melihat hantu. yang benar saja.

Lidia tiba-tiba terpekik keras,membuat seisi bus langsung melirik ke arahnya, bahkan yang sedang tertidur pun langsungterbangun.

"Kenapa?"

"Ada apa Lidia?"

"Kamu nggak apa-apa?"

pertanyaan bertubi-tubi dilotarkan temannya pada gadis tersebut, bahkan pak Tristan juga ikut bertanya.

Lidia hanya tersenyum, "Maaf pak. saya cuma mau bikin prank doang..hehehe" ucapnya yang tentu saja berbohong.

siswa di bus seketika menyoraki Lidia, sedangkan pak Tristan hanya geleng-geleng kepala.

Lidia menatap ke arah depan. ia menatap dengan takut-takut. pasalnya orang yang ia lihat di luar tadi, kini berada di dalam bus nya. tubuh Lidia keringat dingin. apalagi saat orang itu mendekat.

"Hai.. kau bisa melihatku?"

ia berbicara pada Lidia. Lidia menggelengkan kepalanya lalu segera memalingkan wajahnya pada yang lain membuat 'orang' tersebut tersenyum.

"Aku tahu kau bisa melihatku. mana ada orang bisa merespon saat makhluk tak kasat mata bertanya padanya jika manusia itu tak melihat makhluk tesebut.."

Lidia memejamkan matanya sejenak lalu ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan. ia lalu mengarahkan padangannya pada 'orang' yang ada di depannya.

'orang' itu tersenyum pada Lidia membuat Lidia seketika terdiam. "Kenalin, namaku Arya, kau Lidia kan? aku mendengar tadi teman-temanmu memanggilmu seperti itu.."

Lidia tersenyum kaku. ia tak mungkin menjawab dengan suara. bisa-bisa nanti Ririn dibuat ketakutan.

Makhluk yang mengenalkan dirinya sebagai Arya itu menatap Ririn.

"kau tak mau bicara karena takut temanmu ketakutan?"

Lidia mengangguk pelan. Arya kembali tersenyum.

"Tak apa. aku hanya butuh dirimu. aku kesepian di sana..."

Lagi-lagi Lidia hanya menatap Arya dengan tatapan kosong.

Lidia menatap dari atas sampai bawah. Arya bergaya layaknya anak remaja zaman sekarang. tahun berapa cowok ini mati?, tanya Lidia membatin.

"kira kira sepuluh tahun yang lalu, aku tak terlalu tahu tahun berapa.. .." ucap Arya yang sukses membuat Lidia melotot tak percaya.

"KAu bisa membaca pikiran dan kata hati?" tanya Lidia dan hanya ia ucapkan di dalam hatinya saja.

Arya mengangguk, "Aku bisa mendengarnya... itu keahlianku sebagai arwah.."

Lidia terkejut bukan main.

"Cowok berjaket denim warna hitam itu menyukaimu, dan temanmu ini juga menyukai cowok itu."

satu lagi keterkejutan Lidia. ia tak menyangka Arya membongkar semuanya yang ia sendiri tak tahu.

yang ia tahu, Ririn menyukai Alex, tapi Alex menyukainya, ia sendiri tak tahu tentang itu.

"Lid..!"

Lidia melirik ke belakang, dan di sana ada Alex yang sedang memegang makanan ringan yang menjadi favorit Lidia.

"buat gue?" tanya Lidia.

Alex lalu mengangguk.

"Ini buat lo Rin. dan ini..." alex membagikan satu persatu makanan yang ia bawa tadi pada teman-temannya .

Lidia menatap Ayra, namun Arya menatap Ririn.

"Dasar gadis pengganggu. kenapa Alex bisa suka sih sama si cewek satu ini. cantik juga nggak, kaya apa lagi.."

"Dia marah padamu.."

Lidia melotot pada Arya.

Arya mengangguk, "Iya. dia marah padamu lantaran Alex menyukaimu dan tak menyukainya..."

Lidia segera menatap Ririn. ia kurang percaya tapi melihat dari wajah bete Ririn cukup menandakan jika temannya itu marah. bisa dikatakan cemburu padanya.

Lidia kembali menatap Arya. ia menatap dengan seksama wajah Arya. kulit putih pucat dengan pakaian yang bisa dibilang keren. baju kaos putih dengan lampisan luar kemeja kota-kotak berwarna biru langit.

"Kau asli di sini?" tanya Lidia dalam hatinya.

Arya menggeleng, "Aku tak ingat dimana asalku. yang aku ingat namaku Arya."

"Lalu?"

"Tak ada lalu. aku hanya mengingat itu, dan tak mengingat apapun lagi. saat membuka mata, aku sudah terbaring di atas batu yang aku duduki tadi sampai waktu berlalu selama sepuluh tahun.."

sungguh, ini hal yang mengejutkan bagi Lidia. di hari pertamanya, bahkan ia belum memulai kemah, ia sudah dihadapkan dengan makhluk asrtal bernama Arya.

entah bagaimana hari-hari Lidia di perkemahan nanti. entahlah ia juga tak tahu..

*****

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Jadilah Mamaku

read
35.3K
bc

Tergoda Janda Kembang

read
33.4K
bc

Yes, I'm Sugar Baby

read
34.8K
bc

Menggoda Tuan L

read
256.5K
bc

BELENGGU

read
54.2K
bc

Terpaksa Berjodoh

read
6.2K
bc

Mendadak Nikah

read
45.2K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play