Tiba di Jogjakarta hampir pukul tujuh malam, aku bukannya merasa tenang karena semakin dekat dengan tujuan. Tapi yang kurasakan malah semakin khawatir tak karuan. Sita yang masih belum bisa dihubungi, belum lagi rentetan panggilan dari butik dan rumah yang bergantian menanyakan keberadaanku. Aku aman, sehat sentausa. Hatiku saja yang sedang kacau balau dibuat Sita. “Pak, agak cepet bisa?” pintaku pada supir taksi online yang aku pesan begitu sampai di bandara Jogjakarta. “Nggih mas, ini sudah saya usahakan. Tapi memang jamnya macet kalau malam minggu seperti ini.” jawab beliau dengan sopan. Lelaki paruh baya itu sempat melirikku sekilas dari spion tengah mobil. Dan aku yakin baliau pasti menangkap gelagat gelisah dari gesturku. Benar juga sih, ini hari sabtu malam alias malam minggu. Wa

