16 Titah Aruna

1868 Words

"Cie ... Cieee ... Jadi gitu ceritanya. Pantesan senyumnya lebar banget dari tadi. Ternyata baru diterima cintanya sama mbak Sita." ucap Nana sambil merebahkan kepalanya di sandaran sofa. Kata Mama, si Nana ini sudah sejak sore tadi setia menunggu kedatanganku di rumah. Apalagi yang ditunggu si ibu hamil itu kalau bukan oleh-oleh yang ia pesan dari Yogyakarta. Mulai dari daster batik, bakpia pathok, yangko, keripik belut sampai buah kelengkeng hasil panen di kebun milik Sita. Luar biasa memang saudara sepersusuanku yang satu ini kalau sudah dengar tentang makanan. "Iya dong.. udah resmi dong, udah gak jomblo lagi nih akhirnya." sahutku bangga jumawa. Aku yang baru sekitar tiga puluh menit masuk rumah, langsung duduk di sofa, tepat di sebelah Nana yang tampak tak sabar membongkar barang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD