“Udah yakin gak ada yang ketinggalan lagi?” tanyaku pada Sita saat gadis itu keluar kamar dengan satu travel bag besar di tangan kanannya. Saat gadis cantik yang pagi ini tampak berbeda karena memakai kacamata bulat itu mengangguk, aku langsung berjalan mendekat dan mengambil alih barang bawaan Sita. Hari ini kami sepakat kembali ke Malang, keadaan Sita sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Lebam di pipi kanannya sudah tak nampak sama sekali, luka robek di sudut bibirnya juga sudah kering dan sembuh. Sita bilang, ia tak ingin berlama-lama tinggal di Jogjakarta sebagai pengangguran, sementara ia punya pekerjaan baru di Malang. Meskipun melatih karate Sita anggap sebagai kegiatan menyalurkan hobby, tapi melihat binar di mata gadis itu setiap kali bertemu dengan murid-muridnya membuat Ical

