21. Pedang Hitam Kembar

2574 Words
Vay memiliki cara lain untuk mengetahui keberadaan pasar perdagangan ilegal, yaitu dengan meminta data penjahat yang ada di pengadilan desa, tetapi tidak diizinkan. Mereka melanjutkan mencari kebenaran asumsinya di pagi yang begitu cerah. Satu cara tidak berhasil, maka cara lain terwujud. Di pantai yang telah berubah menjadi dermaga, banyak kapal kecil yang berlabuh. Bau amis menyeruak hingga ke teluk. Ini ide Vay lagi untuk mereka berpencar dari segala sisi di dermaga dan mengawasi setiap pedagang ikan yang masuk ke pulau. Vay berdiri tepat di jembatan dan mengawasi mereka semua. Pandangannya begitu menelisik. Tak segan-segan bertanya jenis ikan apa yang mereka bawa dan akan dibawa ke mana. Tak sedikit dari mereka yang sudah memiliki janji dengan pedagang lain sehingga setelah menyerahkan ikan mereka pergi. Hal itu cukup membuat Vay curiga. Kedatangan para pedagang dari luar pulau bisa saja membawa barang ilegal yang tersembunyi di balik tumpukan ikan dan bertransaksi secara diam-diam atau menggunakan kode. Karena itu, Vay menguping setiap pedagang yang berjualan dengan cukup santai. Rey berdiri di tebing teluk. Mengawasi dari atas untuk setiap kapal yang berlabuh. Vay memintanya untuk menyelidiki barang-barang yang terlihat mencurigakan di kapal, karena itu mungkin bisa membantu. Namun, Rey tidak tahu barang mencurigakan itu seperti apa, sehingga dia hanya berdiri dan melengkungkan bibirnya ke bawah. "Bagiku semua barang yang mereka bawa mencurigakan. Aku tidak tau fungsi barang-barang mereka," gumam Rey setelah mendesah berkali-kali. Meskipun dia pusing, Rey tetap memperhatikan sampai menemukan apa yang membuat hatinya merasa ganjal. Lain dengan Kal yang bersembunyi di balik gapura desa. Dia berbincang dengan para gadis yang berlalu-lalang sambil menggoda dengan lagu yang sesekali dimainkannya. Tugas Kal adalah mengawasi setiap orang asing yang memasuki desa. Dari gerbang itu, nampak penginapan serta peternakan kuda bahkan banyak rumah makan yang menjadi sasaran para pendatang baru di pulau. Jika Kal mendengar atau melihat hal yang asing dari yang asing, maka dia harus segera bertindak. Zee jauh dari Rey, Vay, maupun Kal. Dia berada di ujung dermaga di mana hanya penuh dengan orang-orang yang sedang merakit perahu. Para nelayan asli pulau Biru Laut hendak berburu di laut. Dia seperti gadis yang bermain di pagi hari tanpa menimbulkan kecurigaan bagi mereka. "Gadis muda, kenapa kau ada di sini? Apa kau mau membeli ikan?" tanya salah satu nelayan dengan senyum ramah. Dia sedang merakit jala yang tersangkut di ujung perahunya. Zee menggeleng dan menunjukkan deretan giginya, "Maaf, Paman. Aku hanya ingin bermain sebentar. Teman-temanku meninggalkanku, jadi aku rasa aku akan menunggunya di sini." "Oh, begitu? Apa kau tidak merasa jijik di sini? Kulihat dari penampilanmu sepertinya kau bukan dari desa," kata orang itu. Zee melihat pakaiannya, "Haha, aku dari pulau pengetahuan. Menginap dengan teman-temanku sejak kemarin." "Benarkah? Kalau begitu selamat datang! Jika kau bosan apa kau mau ikut denganku menangkap ikan segar?" tawar orang itu masih dengan senyuman ramah. "Terima kasih, Paman. Aku akan menunggu di sini saja." Zee tersenyum hampir menyipitkan matanya. Nelayan itu pergi. Laut cukup bersahabat hari ini. Semuanya berjalan lancar. Sayangnya Zee tidak melihat adanya hal aneh di sana. 'Tidak ada nelayan dari pulau lain atau penjual ikan yang mendekat ke sini,' batin Zee. Menurutnya jika ada orang-orang asing mendekat ke wilayah yang jarang dari kerumunan, maka pastilah orang itu layak dicurigai. Begitu pula dengan Fang yang berada di ujung lain dermaga. Dia melakukan hal yang sama dengan Zee, hanya saja tidak ada nelayan di sana. Hanya ada penjual ikan dari penduduk lokal. Kapal pun berjajar di bibir pantai. Namun, tidak menarik perhatian Fang sama sekali. Sejak tadi Fang berpura-pura melihat ikan untuk membeli salah satu dari jenisnya, tetapi matanya terus melirik ke segala arah. Berpindah dari satu penjual ke penjual lain. Dia membawa pedang di pinggangnya membuat para pedagang meneleng heran. Ada juga yang ketakutan. "Hei, Tuan! Kau niat membeli ikanku atau tidak? Ke mana kau melihatnya, hah?" seru pedagang wanita paruh baya yang sangat cerewet. Dia menegur Fang karena Fang memegang ikannya lebih dari satu menit, tetapi pandangannya terarah ke titik lain. Sontak Fang berkedip dan tersenyum kaku, "Maaf, Nyonya. Bukan jenis ikan ini yang kucari." "Kalau begitu pergilah! Kau mengganggu pelanggan ku untuk datang saja!" kata wanita penjual ikan itu. Fang meringis bodoh, "Iya, maafkan aku. Permisi!" Semua usaha mereka berlaku hingga siang hari. Pukul sepuluh di mana tidak ada awan mendung yang membuat pantai teduh, keringat terus bercucuran dan malas mulai datang. Bosan tidak tergantikan. Satu pun petunjuk juga tidak didapatkan. Hanya Vay yang berdiri di jembatan dan melihat para kapal bersiap untuk kembali ke pulau masing-masing. Namun, ada satu kapal yang tidak bergerak meskipun awak kapalnya berada di dalam. Bukan hanya Vay, melainkan semuanya menjadi terarah pada kapal tersebut. Semacam insting yang membuat mereka terfokus pada kapal sederhana berwarna merah dan memiliki bendera yang berlubang. Vay memicing, "Kenapa hanya kapal itu yang tidak bersiap pergi? Semuanya sudah hampir berlayar." Di tebing teluk Rey berpendapat hal yang sama. Terpaan angin panas menerbangkan rambutnya dan juga kain-kain biru di setiap pohon. "Banyak sekali yang menaiki kapal itu. Mereka seperti sangat sibuk," gumam Rey. Gerbang desa yang mulai sepi orang keluar-masuk desa membuat Kal tidak lagi bersembunyi. Dia berdiri di ambang gapura dan melihat kapal tersebut dari jarak jauh. "Aku mencium aroma amis yang berlebihan. Kapal itu ... sepertinya aku pernah melihatnya." dahi Kal mendadak berkerut serius. Mengingat apakah ingatannya benar atau salah. Kemudian, di kedua sisi dermaga di mana Fang sudah mendapatkan jenis ikan yang aneh, sedangkan Zee mengumpulkan beberapa kerang yang mati, mereka dibuat membeku oleh kapal itu. Terutama, sebuah peti mati yang tidak asing bagi mereka. "Kapal pemberontak!" kata Zee dan Fang bersamaan di tempat yang berbeda. Seketika mereka berlari menghampiri Rey, Kal, dan Vay untuk berkumpul dan bersembunyi di dekat kapal itu. Sebuah kapal pemberontak yang melarikan diri dari tugas istana beberapa tahun yang lalu. Peti mati dari kayu yang sangat tebal itu menjadi bukti yang kuat. Di dalam kapal terdapat sepuluh orang berbadan besar dengan membawa senjata di pinggangnya. Mereka berbincang dan sedikit gelisah. Rey dan yang lainnya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saat Zee dan Fang menjelaskan jika kapal dan peti mati tersebut adalah pemberontak yang tidak ditemukan hingga kini, Rey memperhatikan setiap isi kapal diam-diam. Beberapa tong dan kotak berbau amis, tandanya berisi ikan. Lalu, hanya ada satu peti mati yang sangat tebal dan terlihat berat yang tidak tahu apa isinya. Peti itu memiliki ukiran unik berwarna hitam. Sayangnya, Zee dan Fang tidak menemukan pelaku pemberontak tersebut. "Memang benar ini kapalnya, tapi orang-orang bukan," kata Zee berbisik. "Apa mungkin kapal ini telah dijual pada mereka dan pemberontak yang asli sudah lama mati?" Vay memberi saran yang masuk akal. "Mungkin juga si pemberontak melakukan pekerjaan yang membuat orang-orang ini menaiki kapalnya dan pemberontak itu bersembunyi di suatu tempat, seperti pasar gelap." pandangan Rey menurun dari setiap isi kapal. Zee dan Fang menatap Rey setuju, "Kau benar, Rey! Tidak mungkin orangnya mati. Pasti dia melakukan sesuatu. Karena isi di peti mati itu bukanlah barang sembarang yang bisa disentuh oleh siapapun." "Apa? Memangnya apa isinya?" Kal ikut berbisik. Seluruh perhatian tertuju pada Zee dan Fang. "Sepasang pedang hitam kembar." jawab Zee dan Fang bersamaan dengan raut serius. Deg! Kal terkejut di saat Vay dan Rey diam tak mengerti. "Jadi benar apa yang aku ingat. Aku pernah melihatnya," kata Kal seketika. "Apa? Kau mengetahuinya, Penyanyi jalanan?" Fang bertanya serius pada Kal. Vay dan Rey hanya memandang mereka bergantian. "Iya, itu terjadi ketika aku memulai jalanku sebagai penyanyi. Di jalan belakang istana menuju sebuah sungai ada kapal merah yang tidak terlalu besar dikendarai oleh seorang pemberontak yang membawa peti mati dari gudang istana. Aku melihat kapal itu berlayar hingga ke laut. Prajurit kerajaan bersorak dan mengejar orang itu sampai menimbulkan kericuhan luar biasa. Bahkan, gudang istana mengalami kebakaran. Diduga orang itu lah yang membakar gudang dan mencuri peti matinya. Setelah itu banyak senjata yang tidak bisa digunakan lagi karena hangus terbakar dan juga kapal merah itu tidak bisa ditemukan. Bersamaan dengan hilangnya sepasang senjata yang didapat dari seorang ahli bela diri terhebat dari negeri sihir yaitu pedang hitam kembar," jelas Kal tentang semua ingatannya. "Tidak salah lagi. Kita harus mengikuti orang-orang ini." desis Fang sambil mengepalkan tangan. Zee terkejut dengan penjelasan Kal. Vay yang diam saja kemudian menatap Kal yang masih tak berkedip, "Hei, kau sungguh berkelana ke mana-mana. Kau tau banyak hal. Apa kejadian itu membuatmu trauma?" Kal menggeleng, "Hanya saja senjata itu bagaikan iblis jika berada di tangan yang salah. Zee, kau bisa mengendalikan energi senjata, bukan? Ini tidak baik jika mereka mengatur rencana buruk untuk senjata dahsyat itu. Lakukanlah sesuatu!" menatap Zee penuh harap karena ada bayangan mengerikan di wajahnya. Rey menatap Kal dalam, "Tenanglah, Kal. Sekarang sihir tidak lagi berfungsi. Keberadaan pedang hitam kembar juga tidak diketahui. Kekuatannya pasti juga tidak bisa dibangkitkan. Dia seperti besi pajangan sekarang. Masih ada waktu bagi kita untuk merebutnya sebelum jatuh ke tangan yang salah." Kal menatap Rey dengan penuh kekhawatiran, "Kau tidak tau arti hitam pedang itu. Itu pedang iblis yang dapat menghancurkan sebuah pulau. Sekali pedang itu diayun, maka hilanglah negeri ini." "Kau terlalu trauma dengan kebakaran gudang istana dan rumor yang beredar di masa lalu. Pemilik pedang hitam kembar adalah guru kami. Kami lebih tau ancaman dan fungsinya." Zee pun ikut mengepalkan tangan. Pandangannya tajam seperti Fang. Rey dan yang lainnya sangat terkejut. Seperti guru dan seperti murid, keseriusan dua pelindung utama istana kerajaan itu tiada bandingannya. Pencuri tetaplah pencuri. Seberapa lamanya dia bersembunyi pasti dapat dicari. Tanpa pikir panjang, mereka mengikuti sepuluh orang yang berada di kapal itu setelah dermaga sedikit sepi. Para kapal telah pergi. Mereka membungkus peti mati dengan kain hitam dan dibawa turun dari kapal. Rey dan yang lain perlahan menggeser tempatnya agar tidak terlihat satu pun oleh mereka. Dua orang membawa peti mati itu bersama-sama. Lalu, mereka mencoba memasuki desa. "Ayo!" isyarat dari Fang dan Rey hanya mengerjap polos. Mereka mengikuti secara sembunyi-sembunyi. "Hei, apa yang kalian bawa? Dari tempatnya sepertinya ikan yang sangat besar," seorabg pedagang ikan menegur sehingga jalan mereka terhenti. Rey dan yang lain segera bertingkah seperti pembeli ikan dan membalikkan badannya seakan tidak tahu apa-apa. "Oh, ini sudah dipesan," jawab salah atau orang yang membawa peti mati. "Boleh aku tau ikan jenis apa? Dari tadi tidak ada yang membawa sebesar ini!" penjual ikan itu berdiri dengan riang ingin membuka tirai menutup peti mati. "Tidak boleh! Ini spesial dan sulit didapatkan. Urus saja ikan-ikanmu!" tiba-tiba seseorang yang berjalan di barisan paling depan menepis tangan penjual ikan itu. "Aw! Kasar sekali! Kalau tidak boleh, ya, sudah!" penjual ikan itu marah dan duduk kembali. Dia memalingkan wajahnya. Hal itu menimbulkan perhatian orang-orang yang masih sibuk berniaga dan beraktivitas di sana. Orang kasar tadi memberi isyarat untuk terus maju sampai mereka berhasil memasuki desa dengan lancar. "Sangat tidak sopan!" desis Rey dengan tatapan kesal. "Ssttt! Jangan keras-keras!" Vay menaruh telunjuknya di bibir memperingati Rey. Mengikuti mereka bukanlah hal yang sulit. Bahkan pembicaraan mereka di tengah perjalanan dapat didengar jelas. Sesuatu yang mulanya tidak dimengerti berubah menjadi mudah di pikiran Rey dan teman-temannya. "Sulit sekali untuk datang ke pulau biru ini. Ketua sudah menunggu selama satu minggu untuk pedang ini. Aduh, berat sekali! Kenapa ketua tidak memperbolehkan tempatnya diganti? Aku serasa sedang melakukan upacara kematian kalau begini. Menakutkan!" keluh salah satu yang membawa peti mati. "Diam kau! Kalau anak buahnya mengawasi kita dan mendengarnya, habislah kau!" satunya lagi memperingati meskipun tangannya sudah merasa lelah dan sakit. Sepuluh orang itu menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan karena membawa senjata. Rey dapat melihat jelas raut ketakutan di wajah semua warga. "Kalau tidak salah, senjata cukup dilarang di sini. Mereka terang-terangan menunjukkan senjatanya. Tentu saja merasa khawatir," gumam Rey seraya terus mengikuti. "Tidak sepenuhnya," balas Fang tanpa mengalihkan pandangan lurusnya membuat Rey menoleh. "Ini pulau yang tenang di setiap sudutnya. Tidak ada perkelahian, jadi senjata bukanlah ancaman mereka. Namun, mata-mata kerajaan lah yang menjadi ancaman. Mungkin penduduk takut jika mata-mata Raja mengetahuinya, pulau Biru Laut akan diserbu. Itu tidak baik," sambung Fang. Rey mengangguk ria, "Oh, jadi begitu. Kau juga membawa senjata, Fang." Fang melirik pedang di pinggangnya, "Pinggangku tidak nyaman tanpanya." "Alasan saja! Bilang kalau kau mau menantang mata-mata Raja," Zee menimpali. Fang merasa terintimidasi. "Kau mulai berani karena percaya diri sejak ada Rey yang membawa cahaya di langit negeri ini. Benar, 'kan? Tanganmu sudah tidak sabar ingin bertarung," sambung Zee. Fang berdecih dan membenarkan hal itu dengan menghela napas panjang sambil menunduk. Baik Rey maupun Vay memandang mereka bergantian. Berbeda dengan Kal yang terus fokus pada orang-orang di depannya. Kal hampir tersedak ludahnya sendiri ketika yang diikuti mengambil langkah ke ladang warga yang berhubungan dengan hutan kecil, padahal sedari tadi hanya mengambil jalan lurus. Terlebih lagi Kal baru menyadari jika jalanan itu belum pernah mereka lewati. "Ini sudah diluar batas, teman-teman. Kita sudah keluar desa," kata Kal pelan. "Apa?" Rey berbalik pada Kal. Dia menatap sekeliling yang berubah menjadi pepohonan tanpa adanya rumah, "Se-sejak kapan kita memasuki hutan?" "Pelankan suaramu dan langkah kakimu. Jangan menimbulkan suara sedikit pun. Ini akan menjadi lebih menarik dari yang kau bayangkan," balas Kal serius. "Wow! Hutan asli! Semak belukar dan pepohonan yang tinggi. Kal, kau tau tempat ini?" Vay mendongak mencoba melihat ujung dari pohon-pohon yang menjulang tinggi. Kal menggeleng, "Tidak, tapi mereka sepertinya juga belum pernah." "Hmm?" Vay mengerutkan dahi. Lalu, mereka memperhatikan langkah orang-orang di depannya yang juga sangat berhati-hati m merek bahkan mengikuti petunjuk yang tertulis di sebuah kertas. Rey semakin menautkan alisnya. "Ini pasti pertemuan rahasia," desis Rey dan diangguki oleh semuanya. Suara burung berkicau dan hewan liar seperti monyet hutan sudah mengusik pendengaran sejak memasuki hutan. Ternyata, hutan ini bukanlah hutan kecil. Mereka telah masuk lebih dalam. Cukup lama sampai sinar matahari menerobos celah-celah dedaunan di atas kepala, seseorang datang menyambut di balik pohon besar tanpa buah dan bunga. Daunnya lebat berwarna hijau tua dan orang itu tersenyum miring sambil melipat tangan di d**a. Seketika langkah sepuluh orang itu terhenti. Mereka yang membawa petinya pun tidak sanggup lagi untuk membawanya sehingga menyuruh temannya berganti posisi. Rey dan teman-temannya bersembunyi di balik pohon. "Selamat datang, kawan-kawan baru! Selamat datang di kediaman rahasia ketua kita. Hmm, sudah satu minggu untuk menanti benda itu. Apa perjalanan kalian menyenangkan? Pasti tidak ada kesulitan, benar? Hahaha, aku senang melihat kalian. Ayo, kita langsung saja menuju ketua. Dia sudah gelisah sekarang." orang itu mempersilahkan. Suara, wajah, pakaian, senjata, dia adalah orang yang sama dengan orang yang menculik Vay menarik sore. Sontak Rey terkejut bahkan Vay menutup mulutnya rapat. Mata mereka melebar tak percaya. 'Mustahil! Mereka saling berhubungan?!' pikir Rey. Vay menggeleng, "Dasar si tua bau! Ada urusan apa mereka dengan senjata dan orang-orang mengerikan itu? Siapa yang dia maksud ketua?" Gumaman Vay tidak bisa didengar dari jarak jauh karena tersumbat tangannya sendiri. "Astaga, apa ini? Benar bukan apa kataku? Firasatku buruk." Kal menggeleng dalam desisan. Zee dan Fang saling pandang. "Kita rebut kembali pedangnya," kata mereka kompak. "Siapa kau? Katakan pada ketua kalau barangnya selamat meskipun kami mengalami perjalanan yang cukup sulit. Badai tempo hari hampir menenggelamkan kapal jika kamu tidak segera berteduh di pulau lain. Sudahlah, segera antar kami padanya." Dia yang berada di barisan depan seperti pemimpi sepuluh orang itu telah berbicara dengan nada berat yang mengerikan. Orang yang menculik Vay membalas dengan nada sok akrab tanpa takut dan membimbing mereka ke suatu tempat. Rey melambaikan tangan memberi tanda agar teman-temannya mengikutinya. Setelah melewati beberapa jalan berliku-liku dari sebuah hutan, mereka tiba di sumber mata air yaitu air terjun yang memancarkan keindahan pelangi di antara air dan tebing. Di sana terdapat rumah kayu yang cukup kokoh dan anak buah penculik Vay yang tengah berjaga di sekitar rumah tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD