20. Pasar yang Terlarang

2961 Words
Di lapangan kecil yang hijau, buku Leazova berhenti memberi sinyal dan Rey tersenyum karenanya. Beberapa menit telah berlalu. Fang dan Kal kembali tanpa orang yang dicari. Zee memasukkan senjatanya ke dalam sepatu. Vay menatap semua orang yang dibuatnya jatuh sambil menggaruk kepala. "Bagaimana mereka bisa sampai di sini? Tidak kukira kalau mereka akan mengejarku. Ck, menyebalkan sekali!" gerutu Vay sambil menyimpan belatinya di ikat pinggang. "Vay, kau ini! Mau membuatku pingsan gara-gara mencarimu? Bagaimana kalau kau hilang?" Rey mendesah setelah buku di dadanya tak lagi menghangat. Vay menoleh heran, "Hmm? Kau sendiri bagaimana bisa menemukanku? Ini lumayan jauh dari teluk. Nada bicaramu juga berubah. Kau kerasukan, ya?" "Kau yang kerasukan! Menyusahkan saja! Sudah kupikir jauh-jauh hari kalau kau pembuat onar!" Kal menunjuk Vay tidak santai. Napasnya terengah sambil memegangi lututnya. "Maaf, kami gagal," kata Fang. Zee berdecak, "Orang itu ancaman lain. Kita harus waspada, karena dia satu-satunya yang memiliki ilmu bela diri lebih hebat dari orang-orang ini dan dia tidak mengincar Vay." Mereka kompak menatap Rey membuat Rey salah tingkah. "Kenapa kalian melihatku?" tanya Rey polos. Mereka mendesah lelah. Rey semakin tidak mengerti, sehingga hanya meringis tanpa merasa berdosa. Padahal teman-temannya sedang bertanya-tanya mengapa Rey bisa menemukan Vay dan sifat yang mendadak berubah. Rey sudah percaya seratus persen jika semua itu ulah buku Leazova. 'Terima kasih, tapi apa yang kau inginkan dariku setelah semua ini? Apa kau hanya ingin aku melihat negeri sihir ini?' batin Rey yang seolah bicara pada buku Leazova. Mereka kembali ke penginapan tepat di waktu senja. Membiarkan orang-orang yang terluka karena Vay begitu saja. Keluar dari setiap gang kecil dan berada di jalan desa, ternyata ramai penduduk desa dengan wajah yang lelah dan ceria. Senyum saling sapa pun tak bisa dihindari. Ternyata perayaan telah usai. Rey selalu memandang ke barat di mana satu-satunya warna jingga yang bisa dia temui karena di sekelilingnya kini penuh warna biru. Bahkan tanah dan dedaunan pun hampir serupa dengan biru. Memang pantas pulau ini disebut dengan pulau Biru Laut. Air laut di pantai itu nampak jauh lebih biru dan jernih dari laut manapun. Pemandangan indah ini memang tak bisa terlewatkan walau hanya satu detik. Bahkan Rey tidak sadar jika matanya tak kunjung berkedip. Setelah tiba di penginapan, Rey hanya duduk di teras dan memandang semua yang ditangkap indera penglihatannya. Sesekali berbicara pada warga yang berlalu-lalang. Mereka ramah, sama seperti yang dijelaskan oleh Fang. Melihatnya saja membuat Rey tenang. Apakah Rey menyukai warna biru sekarang? Lalu, hari telah berganti malam dengan begitu cepat. Lentera dinyalakan di sepanjang jalan menambah kesan damai. Kini tidak ada satu orang pun yang keluar rumah. Mereka kelelahan. Satu-satunya orang yang berada di luar rumah hanya Rey, meskipun dia duduk di teras tanpa bergerak. "Rey Sann! Masuklah! Makanannya sudah siap!" seru Zee dari ruang tamu. Barulah Rey berkedip. Melirik pintu tanpa menghilangkan senyum, "Kalian makan dulu, aku masih ingin di sini." Jawaban yang membuat hening beberapa detik. Setelah itu mereka keluar sambil membawa makanan yang telah Zee persiapkan. Tentu saja Rey terkejut. "Kenapa kalian bawa keluar?" Rey memasang wajah lugu. "Untuk makan bersamamu. Apa pemandangannya bagus?" Kal duduk di samping Rey dengan senang hati. "Iya, sangat bagus!" Rey mengangguk semangat. "Haha, jadi bagaimana kalau aku membuat sedikit nada untuk menemani makan malam kita? Wah! Sangat sunyi, ya!" Kal memegang alat musiknya sambil terpesona melihat jajaran rumah yang berkilau antara biru dan jingga. Cahaya dan aromanya memabukkan mereka. "Udara laut pun bisa tercium dari sini." Vay duduk di samping Rey yang lain. Lalu, disusul Zee duduk di samping Vay setelah membagikan makanan. Kal duduk di sebelah Kal dan memandang lurus ke hadapan meskipun tangan memegang sepiring makanan. Rey menatap mereka satu per-satu, "Terima kasih, Zee. Aromanya harum sekali! Kalian tidak masalah makan di luar? Ini cukup dingin." tersenyum ragu. "Tidak juga. Aku merasa segar sekarang." Kal mulai membuat nada yang indah. Senyumnya pun tak pernah luntur. "Begitu, ya? Baiklah." Rey meringis. "Soal tadi sore, terima kasih sudah menolongku. Maaf karena merepotkan," ujar Vay secara tiba-tiba. Dia sedikit gelisah. "Ck, kau mempermasalahkan ucapanku? Aku hanya bercanda. Tentu saja kami akan menyelamatkanmu kalau kau dalam bahaya," Kal menjadi merasa bersalah. "Bukan begitu, tapi orang-orang tadi memang berbahaya. Mereka adalah pedagang di perdagangan gelap. Bermain-main dengan mereka sama saja mengundang sial." Bibir Vay sedikit mengerucut. "Apa?!" bukan hanya Rey, melainkan semuanya terkejut. "Lalu, orang yang melawan Zee?" tanya Rey penasaran. "Kalau itu aku tidak tau. Itu aneh!" Vay menunduk dan berpikir serius. "Memangnya apa yang kau buat sampai mereka mengejarmu ke sini?" Kal hampir berdecak. Dia juga penasaran. "Itu karena ikan runcing yang ku curi dari mereka. Mereka mencurinya dari penguasa dermaga. Padahal ikan itu akan diserahkan ke pasar pusat. Aku dan penjual ikan lainnya menerobos pasar gelap dengan tipu muslihat sehingga berhasil mendapatkan ikan itu kembali secara cuma-cuma. Mereka rugi besar sedangkan dermaga kami berhasil membawa ikan itu ke pasar pusat. Bagiku itu masalah sepele. Mereka saja yang melebih-lebihkan sampai mengejarku. Yah, meskipun wajar juga karena mereka kehilangan banyak uang, hahaha!" Vay tertawa cukup puas. "Begitu? Apa yang kalian lakukan sampai berhasil memasuki pasar itu?" Kal kembali bertanya. Dia mendekat pada Rey agar mendengar Vay lebih jelas. "Hmm, aku bergabung dengan mereka, tapi hanya pura-pura. Lalu, teman-temanku bersandiwara menjadi saudagar kaya yang akan membeli ikan runcing dengan harga yang sangat mahal. Dia kali lipat dari biasanya dan akan mengedarkan ikan runcing di kerajaan lain. Karena ikan itu hanya dimiliki di pulau kami, tentu saja keberadaannya tidak boleh disebarkan secara ilegal oleh saudagar yang tidak mendapat izin kerajaan. Saat itu mereka senang dan menjual ikannya. Namun, saat kami hendak membayar, aku merampok seluruh hartanya dan membawa pergi ikan itu bersama teman-temanku. Saat itu lah aku membongkar penyamaran dan melaporkan mereka pada penjaga kerajaan. Mereka tertangkap, tapi tidak tahu bagaimana bisa lepas. Yah, dari sana aku dan penjual ikan lainnya termasuk penguasa dermaga mendapat untung banyak. Ahaha, aku pintar bukan?" Vay semakin terbahak-bahak. "Wah, cara yang bagus! Mereka bodoh sekali dapat dibodohi orang bodoh sepertimu? Hahaha!" Kal ikut tertawa dan seketika tawa Vay terhenti. "Itu namanya cerdas, Bodoh! Kau tidak tau betapa berharganya ikan runcing bagi kami. Itu simbol pulau kami!" Vay mencubit lengan Kal sampai Kal berteriak kesakitan. Rey menghela napas panjang dan memisahkan mereka, "Sudah-sudah, jangan bertengkar! Sekarang sudah jelas cerita Vay dengan orang-orang dari pasar gelap itu. Satu yang masih menjadi misteri. Jadi, rencana selanjutnya apa?" "Kenapa menatapku?" Vay mendelik. Rey dan yang lainnya menatapnya penuh tanya. "Kurasa kita bisa mendapat petunjuk dari mereka, Rey. Bagaimana pun juga kita harus tau mengapa satu orang itu menyerangmu," sela Zee. "Menurutku juga begitu, tapi berarti kita harus berurusan dengan mereka yang menculik Vay lagi, 'kan?" Rey mengangguk sambil berpikir. "Tidak masalah. Lagipula jika tidak dicari, orang itu bisa melaporkanmu pada mata-mata kerajaan. Aku rasa, dia adalah orang yang ingin mengetahui kebenaran rumor itu. Karena orang-orang dari pasar gelap tau aku adalah orang yang membantumu keluar dari dermaga Ikan Runcing, jadi membuatnya berpikir jika kau bersamaku. Makanya dia mengikuti mereka, demi mendapatkanmu." Vay mendongak untuk berpikir dan menunjuk Rey di akhir ucapannya. "Itu masuk akal." Rey mengangguk-angguk cepat. "Bisa juga dia adalah mata-mata kerajaan. Gawat! Kita akan tertangkap!" Kal menyahut. "Itu juga masuk akal!" Rey memekik. "Ck, kita harus mencaritahu dulu sebelum menerka-nerka dalam ketakutan." Fang menggigit makanannya santai. "Iya, kita harus mencarinya," sahut Zee. "Tapi di mana? Mereka pasti sudah pergi dari lapangan." Vay mengendikkan bahu. Mereka terdiam, tetapi Rey justru tersenyum miring. Cukup aneh dan menakutkan karena mampu membuat mereka berpikir yang bukan-bukan termasuk berpikir apakah sifat Rey yang lain akan muncul. "Di pasar perdagangan gelap," jawab Rey dengan suara mantap tanpa ragu sedikit pun. Bulu kuduk Vay merinding. Dia melotot menatap Rey. Memegang dahi Rey yang tertutup oleh rambut dan Rey tak menepis tangannya. Itu satu hal yang membuatnya terkejut kembali. "Jangan bermain-main, Rey. Kau tau apa tentang pasar gelap? Mereka bisa menculikmu dan menjual seluruh organmu untuk praktik kedokteran dan menjualnya ke negeri lain. Aku tidak mau masuk ke sana!" pekik Vay. "Sungguh pemikiran yang bagus! Kau luar biasa, Rey! Aku mendukungmu! Ayo kita lihat bagaimana rupa pasar gelap itu." Kal mendesis bagaikan hewan buas yang siap memangsa apapun di hadapannya. "Hmm, aku tidak tau apakah ada pasar sejenis itu di pulau ini. Ingat, ini pulau ketenangan." dengan mudahnya Fang memperingati sambil makan. Dari mereka semua hanya dia yang bisa makan. "Ssshhh! Aku melupakan hal itu!" Rey menepuk dahinya. "Tidak, pasti ada. Namanya juga perdagangan ilegal, pasti terselubung di antara ketenangan ataupun keheningan lainnya. Pasar itu pasti tersembunyi dari masyarakat awam. Bagaimana kita akan mencarinya?" Vay justru berubah semangat. "Di mana rasa negatif mu tadi?" Kal berdecak dan memutar bola matanya jengah. Rey bingung menatap Vay dan Kal bergantian. "Rey, kita harus mencari poster buronan pencuri yang masih menjadi buronan selama bertahun-tahun. Pasti itu adalah pencurian besar dan barangnya sudah hilang, pelakunya juga tak ditemukan. Maka, pelakunya pasti berdagang di pasar gelap. Tidak tau bagaimana pasarnya beroperasi, tapi itu pasti ada di pulau biru yang tenang ini." Vay tersenyum licik. Rey hendak bicara setuju, tetapi Kal mendahuluinya sambil menjentikkan jari, "Pintar kau! Haha, tidak salah kau dipanggil gadis licik! Otakmu benar-benar penuh dengan strategi!" "Hmm, tentu saja! Bagaimana? Sekarang kau memujiku, 'kan?" Vay berkacak pinggang berbangga diri. "Tidak juga, karena kau tidak mengatakan bagaimana kita akan masuk ke pasar itu tanpa dicurigai." Kal menjulurkan lidahnya membuat Vay menganga dan ingin memukulnya, tetapi Rey mencegah hal itu terjadi. "Diam kalian! Aku bingung melihat tingkah kalian berdua. Zee? Fang? Bagaimana menurut kalian?" Rey memegangi tangan Vay dan Kal agar tidak bisa berkelahi. Menatap Fang yang makanannya hampir habis dan Zee yang terus menunduk. "Emm, aku ikut kau saja," kata Zee datar. Hal itu menimbulkan kerutan di dahi Rey. "Kau kenapa? Apa kau terluka waktu berkelahi? Kenapa tidak bilang pada kami?" Rey langsung melepaskan tangannya dari Vay dan Kal. Segera berpindah duduk di samping Zee dengan penuh khawatir. Seluruh pandangan pun berpusat pada Zee. "Kau baik-baik saja? Katakan sesuatu," pinta Rey halus. "Wow, perhatian sekali!" Kal menaikkan alisnya pada Vay. "Zee? Ada apa?" Fang ikut bertanya. "Rey, jangan terlalu dekat! Bisa bahaya!" Vay mengibaskan tangannya mengisyaratkan Rey agar sedikit menjauh dari Zee karena mereka begitu dekat. Seketika Rey menggeser duduknya. Zee mulai mendongak, "Aku hanya sedih karena kalian tidak memakan makanannya." bibirnya melengkung ke bawah. "Astaga!" baik Rey dan yang lainnya mendesahkan hal yang sama. Begitu polosnya Zee menatap mereka dengan ekspresi sedih. Lain dengan Fang yang terkekeh setelah itu. "Aku sudah hampir menghabiskannya, 'kan?" kata Fang sambil terus mengunyah. Zee mengangguk pelan. "Baik-baik, kami akan makan. Jangan menangis hanya karena makananmu sudah dingin, tapi tidak kami sentuh. Salahkan Vay yang bicara tanpa henti!" Kal menunjuk Vay. "Loh? Aku?" Vay menunjuk dirinya sendiri. Hendak membantah, tetapi melihat Zee yang sudah makan dengan tak selera membuatnya prihatin. 'Aduh! Dia ini kekanak-kanakan sekali! Beda jauh sama serangannya yang begitu menakutkan,' batin Vay. "Kau lucu sekali!" tiba-tiba Rey terkekeh dan kembali duduk di antara Vay dan Kal. Kemudian, mereka makan makanan dari Zee meskipun sudah dingin. Lagi dan lagi, kata-kata Rey meresap ke ingatan Zee dan membuat pipinya yang dingin menjadi bersemu merah muda. Zee menggeleng karena kata lucu dari Rey terus terngiang. Itu pujian atau sekadar ungkapan, Zee pun tak tahu. "Fang, ada apa dengan Zee? Senyumnya aneh setelah Rey duduk bersamanya sebentar," bisik Kal pada Fang yang sudah selesai makan. Fang yang sedang menikmati minumannya melirik Zee sebentar, "Oh, dia malu." Jawaban singkat dari Fang membuat Kal hampir menyemburkan makanannya, "Malu? Malu kenapa?" bisiknya lebih kecil. "Menurutmu?" Fang meneguk air hingga habis. Sikap yang terlalu santai dan dingin dari Fang membuat Kal berpikir keras sendiri. Dia melihat Zee yang masih tersenyum-senyum sambil makan sedikit demi sedikit. Ujung bibirnya pun terangkat. 'Aku tidak bisa mengerti perempuan. Kenapa Zee dan Vay sifatnya berbeda? Satunya galak, satunya lagi senyum malu-malu tanpa alasan. Apa semua perempuan seperti itu?' pikir Kal. Meskipun dalam hatinya Kal yakin jika senyum Zee berubah karena Rey yang duduk singkat di sebelah Zee. Namun, Kal tidak mau memikirkan hal lain selain tujuan mereka dan juga bersenang-senang. Menunggu hari berganti pagi terasa begitu lama. Mereka mencari poster buronan di setiap papan nama, tetapi tidak menemukan satu pun penjahat yang sedang dicari. Seakan desa ini desa suci yang jauh dari kata kriminal. "Aku tidak bisa mencarinya lagi, Rey. Sejak sore menyusuri desa ini, hampir ku ingat seluk beluknya, tapi tidak mendapati satu saja poster buronan. Aku lelah!" Vay menggeleng sambil memegang lututnya. Mereka berada di perempatan jalan desa. Tentu saja diterangi lentera api yang menyala. Rey pun menanggapi dengan anggukan serta helaan napas yang begitu kasar. Tandanya dia pun kelelahan. "Aku juga sudah lelah. Sepertinya mengejar kriminal tidak berlaku di sini," kata Rey lemas. "Sudah kubilang bukan? Di sini tempat ketenangan. Tidak akan ada huru-hara ataupun keributan," kata Fang santai. Zee mengetuk dagunya sambil melihat langit, "Langit malam cerah sekali!" Mereka pun menatap Zee dan ikut menghadap ke langit. Seketika senyum tersungging di bibir mereka. "Wah! Indahnya!" gumam Rey tanpa sadar. Lalu, dia menggeleng. "Kita harus mencari orang yang dicari, bukan melihat langit," sadarnya. "Bicara apa kau ini? Terlalu berbelit-belit." Vay mengibaskan tangannya. "Tapi kalian lihat sendiri, tidak ada orang jahat di sini. Mungkin orang-orang yang menculik Vay juga bersembunyi di tempat yang jauh dari desa ini. Kita cari besok saja," Zee menengahi. "Iya-iya! Besok saja, ya? Aku haus, tidak sanggup berjalan lagi. Aduh, kakiku!" Kal menjulurkan lidah berpura-pura kehabisan oksigen dan mendadak lututnya lemas sehingga jatuh tengkurap dan terlentang. Vay bergidik, "Kenapa tidak kau cium saja tanahnya? Ada banyak kaki dan mungkin kotoran hewan tepat di depan wajahmu." "Kau jahat sekali! Rey, gendong aku!" pinta Kal malas sambil mencoba menggapai tangan Rey. Rey meringis kaku, "Aku tidak sekuat itu, Kal." "Biar aku saja yang bawa. Teman-teman, ayo kembali!" Vay menepuk tangannya mencoba membersihkan debu. Kemudian, menarik sebelah kaki Kal dan menyeretnya sepanjang jalan hingga Kal protes dan berdiri tegak. Akhirnya mereka kembali bertengkar seiring perjalanan ke penginapan. Di saat semua tidur dengan tenang, Zee terjaga dan tidak berada dalam penginapan. Setelah memastikan Vay tidur dengan lelap, dia pergi melalui pintu utama tanpa tahu jika Rey masih belum memejamkan mata di ruang tamu. Sekarang, di sini lah Zee berdiri, pantai pulau Biru Laut. Tangan saling berkaitan di belakang serta senyum manis menyapa udara malam yang segar. Cerahnya langit dan laut seakan terpadu hingga Zee merasa sedang tidak menginjak tanah, melainkan laut. Rambutnya yang tidak terikat rapi menjadi terurai karena terpaan angin. Namun, Zee membiarkannya. Paling tidak hampir satu jam Zee berdiri dan menikmati malam sendirian. "Ceroboh sekali! Kau bisa masuk angin nanti." Zee terkejut. Tiba-tiba sebuah jubah hangat menutupi punggungnya. Seketika dia menoleh dan terlihat senyum Rey menyapa ramah. Mata Zee melebar. "Rey? Kau belum tidur? Aku pikir kau tidur lebih awal dari Fang dan Kal," Zee hampir memekik. Rey terkekeh, "Entahlah. Akhir-akhir ini aku sulit tidur malam, 'kan? Sepertinya aku harus meminta obat penghalang demam darimu lagi besok." meringis bodoh. Zee melongo menatap Rey. Dia memegang jubah yang tersampir di pundaknya. Ketika Rey mendesah panjang dan melihat air laut yang mengikis tepian pantai, Zee baru mengalihkan pandangannya. "Aku juga ingin menjadi kuat," celetuk Rey mengagetkan Zee lagi. "Apa?" mata Zee benar-benar melebar polos. "Iya, agar tidak menyusahkan kalian dan bisa melindungi kalian. Ternyata, dunia kalian sangat berbahaya, haha," Rey tertawa renyah. Zee terus memperhatikan Rey. Rey menyingkap rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. Sontak mata Zee melebar lebih dari sebelumnya. "Hah, segarnya! Ini benar-benar pulau yang indah!" Rey memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Zee sadar akan sesuatu, "Eee, Rey? Kau membiarkan rambutmu terbuka?" Rey membuka matanya segera, "Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ingin melakukannya. Saat ini tidak ada yang membuatku merasa malu." "Eh? Tapi ada aku di sini." Zee mendelik. "Memangnya kenapa?" Rey menjawabnya begitu saja. Zee menjadi semakin bingung. Dia menjadi sering berkedip. Lalu, Rey kembali menatap Zee membuat Zee memundurkan kepalanya sedikit, "Kau sendiri? Pipimu memerah. Karena udara malam atau karena malu?" "Hah?!" spontan Zee menutup kedua pipinya. Rey tergelak, "Hahaha, kau lucu, Zee! Aku hanya bercanda. Kau tau? Keberanian, insting yang tajam, dan rasa percaya diri yang mendadak hadir lalu menghilang dalam sekejap. Semua itu membuatku sedikit mengalami perubahan." "I-iya, kau memang sedikit aneh." Zee meringis kikuk. "Aku menyukainya. Jadi, semua emosi yang seharusnya tidak kumiliki kini perlahan-lahan memenuhi diriku. Apa menurutmu aku bisa membuka diriku dan mengubah sedikit atau banyak kepribadianku saat aku bersama kalian?" tanya Rey dengan tatapan berbinar. Zee menggeleng pelan, "Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan." Rey tetap tersenyum, "Maksudku apa aku bisa menghilangkan sisi pemalu ku dan menjadi lebih berani?" Zee mengerjap polos, "Eee, iya, kurasa." "Benarkah? Itu bagus! Aku akan mencobanya!" Rey sangat senang sampai mengepalkan tangannya. Dia kembali mendesah dan memandang lautan, "Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?" "Ah, aku? Ahaha, hanya tidak bisa tidur. Mencari udara segar sampai aku mengantuk," Zee tertawa kaku. "Kalau begitu aku akan menemanimu. Apa boleh?" Rey tersenyum jauh lebih manis. Pipi Zee menghangat lagi. Kata hatinya membiarkan dirinya mengangguk dan itu membuat Rey menunjukkan deretan giginya. "Oh, iya. Bagaimana kalau kita berjalan menyusuri pantai? Ceritakan tentang kehidupanmu di istana kerajaan dan sihir yang kau miliki. Aku ingin mendengarnya! Pasti kau sangat hebat dan populer!" Rey berjalan terlebih dahulu sebelum Zee memutuskannya. Namun, Zee justru mengikuti Rey dan memegang erat-erat ujung jubah di pundaknya. "Baiklah, kalau kau tidak keberatan menemaniku. Aku akan mengatakan banyak malam ini. Kau siap mendengarnya?" Tidak tahu sihir apa yang Rey gunakan, Zee merasa nyaman dan malam ini berlalu begitu saja. Langkah kaki mereka tercetak jelas di tepian pantai hingga saat mereka kembali dan duduk di ujung jembatan, cerita Zee masih berlanjut. Rey sedikit kualahan menanggapinya. Energi positif itu mengalir begitu saja dalam setiap pembuluh darah mereka. Tidak tahu pukul berapa malam ini, mereka tidak memperhatikan waktu. Kemudian, Zee lelah bercerita dan kantuk mulai menyerang. Matanya terpejam tepat ketika kata terakhir Zee dalam balutan ceritanya yang selalu membuat Rey tersenyum. Tidak ada pilihan lain, Rey harus menggendong Zee menuju penginapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD