Pohon Ranting Biru benar-benar nyata. Rey berharap itu juga tertulis dalam cerita. Dia heran mengapa orang-orang merayakan tumbuhnya satu ranting di pantai, bukan di dekat pohonnya langsung. Teluk yang syahdu dengan ombak kecil menyapu tepian pulau dan matahari di barat masih terlihat jelas. Cahayanya berkilauan terpancar air laut.
"Luar biasa! Ini indah sekali!" Rey memutari pohon itu. Banyak kain biru yang diikat di pohon biasa di sekitar teluk. Rey pikir itu adalah adat desa.
Angin bertiup semilir menggerakkan kain-kain kecil dan menambah kesan manis. Mereka berkeliling teluk, bebas tanpa hambatan.
"Hmm, segarnya! Ini jauh lebih baik dari tadi pagi!" Vay merentangkan tangan tepat di kepala teluk. Matanya terpejam, membiarkan angin menyejukkan wajahnya.
"Aku ingin mengambilnya, sungguh!" Zee menahan gejolak di hati. Tangannya sudah tidak sabar ingin memetik sedikit ranting biru, tetapi rantingnya pasti sudah diambil penduduk desa, sehingga tidak berguna jika dia mengambilnya.
Fang berdiri di samping Zee yang berteduh di salah satu pohon besar dan berdaun lebat yang akan memekarkan bunga. Banyak kain biru kecil yang terikat di sana. Dia tersenyum membiarkan teman-temannya bermain. Kal duduk di tepi teluk sambil menyanyikan lagu yang begitu ringan membuat suasana hati hilang dari keburukan.
"Hai, gadisku! Kau cantik jelita bagaikan laut biru! Melambai manja di ujung senja yang membuatku rindu. Pulau Biru Laut memang seindah nama dan karena dirimu para gadis penariku, menarilah di pelupuk mataku! Aku bisa jatuh dalam nyanyian laut yang misterius, hingga aku tak mau kembali ke pulau manapun! Ah, darahku membiru!" Kal terhanyut dalam suasana hatinya. Matanya kini penuh dengan bayangan gadis-gadis cantik di pantai. Meskipun liriknya tak masuk akal, tetapi nada dan melodinya sangat memikat sukma. Dia menikmatinya dengan menutup mata dan tersenyum membayangkan sesuatu.
"Mari kita lihat! Emm, tidak ada perahu sama sekali! Udaranya cukup bagus, lingkungan bagus, dan teman-teman yang bagus. Tidak ada keanehan sama sekali!" Vay menilik segala arah dengan lebih tajam menggunakan tangannya sebagai teropong.
Tiba-tiba sebuah panah melesat cepat ke arah Vay. Sontak Vay merunduk sehingga panah itu jatuh ke laut.
"Vay!" teriak Fang dan Zee bersama. Segera mereka menghampiri Vay.
Vay pun kembali berdiri tegak dan terjingkat, "Aaaa, apa itu tadi! Untung saja pendengaranku tajam! Aku pikir udaranya baik-baik saja, tapi mendadak tekanannya cukup dalam dari belakang dan ternyata anak panah! Dugaanku benar kalau itu serangan senjata!" memekik sampai mengira perhatian Rey dan Kal. Mereka menghampiri Vay dan bertanya mengapa. Fang dan Zee berbalik badan memperhatikan sumber anak panah berasal.
"Vay, kau tidak apa-apa? Syukurlah kau punya insting yang kuat. Kalau tidak, anak panah itu sudah mengenai kepala belakangmu!" Kal menunjuk kepala Vay meskipun ekspresinya sangat khawatir.
"Huh! Ini pentingnya pandai bela diri! Tidak seperti kau yang berkhayal gadis cantik dari tadi!" balas Vay sambil mencengkeram telunjuk Kal.
"Aarghh! Aku khawatir padamu tau!" Kal berteriak sakit. Vay terlonjak kaget ketika Kal bicara jujur meskipun dia sudah tau dari raut wajah Kal.
Rey memperhatikan Vay dari atas hingga bawah, kemudian mendesah, "Kenapa tiba-tiba ada yang menyerangmu? Aku senang kau baik-baik saja."
Vay menoleh, "Hahaha, kau pikir siapa yang bisa melukaiku? Soal itu aku juga tidak mengerti, tapi kenapa aku yang diserang?"
"Sepertinya mereka belum pergi." kata Zee dengan pandangan tajam yang berlawanan dengan teman-temannya.
"Apa? Mereka?" Rey terkejut.
"Iya, lebih dari satu orang. Mereka mengincar Vay," sambung Fang. Dia sudah berjaga-jaga di depan yang lain.
Rey bingung harus bersikap apa. Lain dengan Vay yang santai dan hanya matanya yang melebar. Kal ikut celingukan.
Vay menyibak Fang dan Zee membuat Kal menepuk dahinya, "Siapa yang mengincarku?! Hei, keluar kalian! Jangan jadi pengecut!"
"Dasar tidak punya rasa takut!" pekik Kal dan menarik Vay untuk mundur.
"Ck, cerobohnya!" sambung Rey. "Apa benar ada yang mau melukai Vay? Apa mereka hanya menjaga pohon Ranting Biru dari orang asing seperti kita? Mari bicarakan baik-baik dulu," tawar Rey.
Sebelum mereka menjawab, Rey terlebih dahulu memecah kerutan di dahi mereka dengan melangkah ke depan Zee dan Fang.
"Apa kalian penjaga teluk dan pohon ini? Maaf, kami hanya pengelana yang ingin melihat pohon Ranting Biru." Rey bicara cukup keras sambil tertawa sopan. Namun, balasannya justru anak panah yang kembali melesat tepat di depan Vay hingga tertancap di depan kaki Vay.
"Hah! Wah, dalam satu detik!" kagum Rey dalam keadaan mengejang kaku.
"Kurang ajar!" Vay mengerang dan mengambil anak panah itu. Tidak ada surat atau petunjuk apapun, tetapi ujung senjata kecil itu memang tajam dan mematikan. Jika mengenai kakinya maka akan berlubang.
"Serangan yang begitu tegas." Zee berubah serius. Raut sayu dan lugunya hilang seketika ketika tangannya menyambar senjata yang tersembunyi di sepatunya.
Sontak Rey kembali bergerak karena terlalu terkejut. Ternyata Zee membawa pedang cemeti itu di kakinya setiap saat. Rey pikir cemeti besi itu ada di bingkisan bersama senjata lainnya. Melihat Zee yang bergerak terlebih dahulu, Fang mengurungkan niat untuk mengeluarkan senjata. Kal pun bersiap untuk melayani luncuran anak panah lainnya. Kini Vay dalam lingkaran teman-temannya kecuali Rey yang masih berada di depan Fang dan Zee. Napasnya menjadi tak beraturan.
"Eee, tunggu-tunggu! Kenapa kau mengeluarkan senjata? Apa masalahnya serius?" Rey ketakutan menatap Zee.
"Mereka bertambah banyak," jawab Zee. Pandangannya tak teralihkan dari pepohonan serta rumput-rumput yang tinggi di depan sana.
"Apa? Vay, kau punya musuh? Apa orang yang pernah kau singgung saat di dermaga? Mereka mengincarmu!" Rey menjambak rambutnya.
Vay membalas tatapan resah Rey. Dia meringis, "Hehe, aku banyak membuat orang kesal saat berjualan, tapi tidak ada yang menyerangku diam-diam seperti ini. Dasar pengecut!"
Rey semakin gelisah dan dia bingung mau ke mana. Akhirnya tetap diam dengan lutut bergetar. Apalagi melihat betapa runcingnya setiap sisi pedang cemeti Zee.
"Teman-teman, biar aku saja yang menghadapinya. Mungkin mereka pembeli ikan yang aku naikkan harganya, tapi mereka tidak terima. Hahaha!" Vay tertawa keras. Dia melintasi jalan di tengah-tengah Fang dan Zee bahkan berada di depan Rey sekarang.
Vay menarik napas dalam-dalam, "KELUAR KALIAN!"
Suara Vay menggelegar di teluk. Seketika hujan anak panah menyerbu dan hanya menembak lurus ke arah Vay. Mata Vay hampir keluar dan saat ujung anak panah itu hampir mengenainya, Zee menutup pandangan Vay dan mendorong Vay mundur hingga menabrak Rey dan menangkis semua anak panah itu dengan cemetinya, sehingga hujan anak panah menancap di tanah. Baik Fang, Rey, maupun Kal menutupi kepalanya agar tidak terkena anak panah. Namun, Zee begitu lihai karena mengarahkan anak panah itu ke sisi lain.
"Mereka benar-benar tidak punya otak! Dasar siput pemalu! Beraninya hanya sembunyi!" Vay hilang kesabaran, sehingga berlari dan hilang di antara pohon-pohon. Dia tak memperdulikan seruan teman-temannya.
"Vay Ijri!" teriak Rey paling keras dari mereka.
Ketika dia dan yang lain hendak menyusul takut terjadi sesuatu pada Vay, tetapi yang ada justru keheningan. Tidak ada tanda aksi saling pukul bahkan suara Vay yang menggelegar. Rey pikir akan terjadi pertarungan hebat karena Vay yang begitu tak bisa dikendalikan, ternyata tidak terjadi apa-apa.
"Gawat! Jangan-jangan dia diculik!" Kal memecah keheningan dan segera mengejar Vay.
Hal itu tak terpikirkan oleh Rey dan yang lain. Segera mereka berlari laju mengikuti Kal dan ternyata tidak ada satu orang pun di antara pepohonan itu. Angin masih berhembus sama, kain-kain biru kecil masih melambai bersama dedaunan, dan para pemuda itu kebingungan menoleh ke segala arah. Dari mana asal anak panah dan di mana orang-orang yang dapat dicium keberadaannya oleh Fang dan Zee sebelumnya, kini hilang tanpa jejak. Vay diduga telah diculik karena masalah pribadi.
"Tidak! Vay! Vay, kau di mana?!" Rey sangat resah dan khawatir. Dia berlari ke sana kemari, tetapi tak menemukan petunjuk apapun.
Mereka berpencar mencari Vay, akan tetapi tetap tidak menemukannya. Ketika kembali ke titik sebelumnya, Rey yang tengah mengacak-acak rambut frustasi pun tak sengaja menginjak sesuatu yang berat. Betapa terkejutnya dia karena benda itu adalah belati milik Vay. Belati yang selalu tersemat di ikat pinggang Vay. Ujung belati itu mengarah ke arah penginapan. Tanpa pikir panjang Rey mengajak teman-temannya kembali ke penginapan. Dia memiliki firasat buruk.
Napas terengah dan keringat bercucuran, semua tenaga telah dicurahkan untuk menyusuri penginapan yang masih sepi. Anehnya jejak sepatu di tanah yang rata tak memiliki rumput pun tidak terlihat, membuat mereka berpencar dan telah menyusurinya berkali-kali termasuk Rey. Rey terus memegang belati milik Vay dan selalu kembali ke penginapan yang dia sewa. Sayangnya tanda-tanda keberadaan Vay seakan hilang tertepa angin. Kini dirinya berdiri di gerbang masuk desa, di mana terlihat jembatan penghubung pantai dan desa serta orang-orang yang mulai lemas melakukan perayaan. Bahkan pantai itu sudah kotor dengan sisa-sisa makanan serta aroma yang aneh. Tandanya perayaan akan segera berakhir. Matahari sebentar lagi pun akan terbenam. Lantas kepanikan semakin melanda. Rey menyeka keringat di dahinya dan menghela napas panjang berkali-kali. Mencoba berpikir jernih, di mana perkiraan orang-orang misterius membawa Vay.
Matanya terpejam seiring napasnya yang mulai teratur. Ketika pikiran dan hatinya yang kalut bisa dikendalikan, buku Leazova di dalam pakaiannya menghangat. Hangat seperti ketika dia berhadapan dengan Fang dan Zee pertama kali. Itu terjadi begitu saja. Kening Rey berkerut dan alisnya bertaut. Dia pikir apa yang sedang buku itu katakan padanya, petunjuk apa yang akan diberikan. Ini terlalu lama sejak kemunculan bab selanjutnya karena telah terjadi banyak hal. Semakin lama semakin hangat dan itu membuat d**a Rey bergemuruh.
'Apa yang ingin kau tunjukkan padaku? Apa kau mau menuntunku menuju Vay? Tolong aku! Aku sangat khawatir terhadap Vay,' batin Rey.
Bagaikan bicara layaknya telepati yang tidak mungkin dilakukan Rey dan begitu bodoh baginya, dia tetap melakukannya. Kata-kata yang berasal dari hatinya itu mendadak membuat detak jantungnya berdegup kencang. Rey membuka matanya lebar. Memegang buku yang ada di dadanya. Dia menoleh ke kiri. Ada jalan desa yang menuju rumah-rumah warga tanpa penginapan dan tanpa hiruk-pikuk perdagangan. Kakinya melangkah begitu saja di jalan itu dan tangan kanan masih memegang dadanya yang terdapat buku tersembunyi.
Bertepatan dengan itu, Zee telah berkeliling selama tiga kali di sekitar pantai dan penginapan, akhirnya kembali. Dia melihat Rey berjalan lurus tanpa kepanikan yang hebat seperti sebelumnya. Zee pikir Rey telah menemukan petunjuk membuatnya mengikuti Rey. Tidak tahu di mana Fang dan Kal, mereka masih berpencar. Cukup lama Rey berjalan dan dia memilih jalan yang berliku-liku, jalan yang memasuki gang kecil di antara rumah-rumah. Tentu saja jalan itu belum dia lewati. Zee pun berpikir ke mana Rey akan pergi. Pergerakan Rey sangat mantap dan aneh, tidak seperti Rey yang gegabah. Zee sedikit ragu sehingga tidak mendekati Rey dan terus berjalan di belakang Rey dengan jarak dua meter. Dia pun belum pernah melalui jalanan itu.
"Ke mana Rey akan pergi? Mengapa dia masuk ke dalam desa lebih jauh? Dalam waktu yang singkat, tidak mungkin musuh Vay membawa Vay ke dalam desa seperti ini, terlebih lagi kita sudah mengejarnya," gumam Zee.
Zee menggulung senjatanya dan masih dipegang di kedua tangan. Zee memegangnya begitu saja seakan memegang tali tanpa bisa menggores tangannya yang halus. Kemudian, langkah Rey berhenti di sebuah lapangan kecil, tepat berada di belakang rumah-rumah warga. Zee pun bersembunyi. Dia sendiri tidak tahu mengapa harus bersembunyi. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang mengganjal. Lalu, Rey memutar pandangan ke segala arah. Tangannya tidak lagi memegang d**a. Dia berkedip sekali dan mendadak berubah menjadi pandangan tajam. Zee tersentak dalam diam.
"Lepaskan temanku!" seru Rey lantang.
Zee semakin terbelalak. Keberanian Rey mengingatkannya ketika Rey memasuki rumahnya pertama kali. Rey memiliki insting yang luar biasa.
"Aku tidak akan mengulanginya untuk kedua kali," lanjut Rey sedikit melemahkan suaranya.
Zee tersentak ketika seseorang muncul dari salah satu rumah sambil membawa Vay yang telah terikat dan mulutnya dibekap kain putih. Vay meronta tak terkendali. Namun, orang itu tidak melepaskan Vay. Rey berhadapan dengan mereka. Sadar jika Vay memintanya untuk menyelamatkannya karena Vay melotot dan terus meronta.
Zee menggeleng takjub, "Rey menemukan mereka. Hebat! Mungkin itu pemimpin penculik Vay? Karena aku bisa merasakan adanya orang lain di sini." pandangannya mulai menajam ke segala sisi. Zee tetap bersembunyi dan akan muncul ketika waktunya tepat. Terkadang Zee heran dengan sifat Rey yang berubah-ubah. Dia juga ingat jika Rey pernah berkata kalau Rey tidak tahu dari mana mendapat keberanian yang begitu besar. "Itu dia! Buku Leazova membimbing Rey! Iya, pasti karena itu Rey menjadi orang yang berbeda. Apa memang itu sifat asli Rey dan kuasa buku itu hanya mendukungnya? Karena Rey masih sadar tentang dirinya sepenuhnya," sambung Zee dalam bergumam.
"Apa motifmu?" Rey kembali bersuara. Zee mendengarkan seksama.
"Bukan aku, tapi kami." orang itu menyeringai.
Sontak banyak orang muncul dari rumah yang sama dan mengepung Rey. Vay semakin tak terkendali dalam meronta bahkan menginjak kaki orang itu, tetapi orang yang memeganginya tak goyah. Rey menatap mereka tajam. Diam dan mengintimidasi. Ada lebih dari sepuluh orang dan tidak lebih dari dua puluh orang. Zee mengingat setiap wajah mereka. Sangat bodoh karena mereka tidak menyembunyikan wajahnya.
"Apa kau yang jatuh dari langit dan diselamatkan oleh gadis licik ini? Selamat datang di pulau Biru Laut. Senang menunggumu terlalu lama, Tuan Muda." orang yang memegang Vay kembali bicara.
"Apa?" Zee kaget.
Rey menautkan alisnya lagi, "Aku tidak menyuruhmu menunggu."
"Oh, kejam sekali! Mengenai penculikan Nona Vay dan urusan denganmu adalah hal yang berbeda, tapi kamu akan dapat keuntungan berlipat ganda. Gadis licik yang lincah ini telah menipu kami habis-habisan! Lalu, tidak sengaja ada rumor hebat yang tidak dipercayai setiap orang, tapi kami percaya dan itu alasan kami mencarimu. Kau akan kami serahkan pada pejabat kerajaan," jelas orang itu licik.
"Oh, rencana yang bagus," hanya itu jawaban Rey. Dia bahkan tak bereaksi.
Orang itu berdecak kesal. "Sombong sekali! Kenapa rumornya tidak seperti aslinya? Orang-orang bilang kau penakut dan menangis seperti gadis, tapi sekarang?"
Vay bahkan berhenti meronta. Dia melihat Rey lekat-lekat karena perubahan Rey begitu besar.
'Ada apa dengan si bodoh ini? Otaknya bermasalah? Tapi tidak apa-apa, yang jelas selamatkan aku sebisa mungkin dan kita akan segera lari, Rey! Mereka bukan orang baik!' pekik Vay dalam hati.
"Memangnya apa kesalahan Vay?" tanya Rey.
"Salahnya adalah ..."
"Rey, awas!" Zee berteriak dan segera berlari menuju Rey dan menghalang sebuah pedang yang hendak menusuk Rey dari belakang. Bahkan orang yang memegang Vay terkejut. Pedang itu berhasil dibuah oleh Zee.
Rey membalik badannya tak menyangka, "Zee? Kau tidak apa-apa? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Hilangkan raut wajahmu yang tidak tau. Mereka mencoba membunuhmu seakan kau tidak takut saja. Aku yang menangkisnya saja takut." Zee mencambukkan senjatanya sekali membuat mereka sedikit mundur.
Vay kembali meronta membuat Rey menoleh. "Vay," panggil Rey.
"Apa yang kalian lakukan? Kita tidak akan dapat hadiah jika dia terluka!" ujar orang yang memegang Vay.
'Dasar si tua bau! Keras kepala sekali tidak mau melepaskan ku! Padahal kakinya sudah ku injak kuat. Kalau dilihat-lihat, ada yang aneh di sini. Kenapa orang itu menyerang Rey? Kalau Rey terluka, mereka tidak akan dapat uang hadiah bukan? Apa jangan-jangan ada motif lain?' pikir Vay.
"Apa lihat-lihat?!" Zee membentak karena orang-orang itu mengamati Zee dengan ekspresi aneh. Rey sampai terkejut karenanya.
"Dia cantik, tapi mengerikan. Senjatanya juga mematikan. Kita hanya memegang busur dan panah," ujar salah satu dari mereka.
"Wah, benar-benar gadis yang cantik! Aku tidak tau kau punya teman secantik ini, Vay. Hahaha!"
"Dia gadis yang unik. Serangannya pun tajam dan terlatih. Dia pasti bukan petarung biasa."
"Gadis manis, siapa namamu? Apa kau teman si licik Vay Ijri?"
Mereka mulai melontarkan kalimat yang membuat telinga Zee sakit. Warna merah muda pada kalian Zee memang tak bisa dilepaskan. Rey juga heran mengapa setiap pakaian Zee berwarna merah muda.
"Ck!" Zee berdecak tak suka.
Rey juga tidak suka. Dia kembali menoleh pada Zee dan melototi mereka semua sehingga mereka sedikit ketakutan. Mereka berpikir Rey jauh berbeda dari yang dirumorkan, hanya tampilan fisiknya yang sama kecuali pakaian yang sudah sama seperti mereka.
"Beraninya kalian menculik temanku dan sekarang menghina temanku yang lain? Jauhkan tatapan menjijikkan kalian dari Zee dan cepat lepaskan Vay!" Rey mengatakannya lebih mirip perintah.
Orang yang bersama Vay berdecih, "Kau pikir kau siapa? Teman-teman, cepat tangkap dia!"
"Ya!" mereka berseru dan mulai merenggangkan jaring untuk menangkap Rey. Sungguh hal itu tidak terduga, ternyata mereka memiliki jaring yang besar.
Namun, sebum mereka melangkah lebih dekat dengan Rey, orang yang hampir menusuk Rey beraksi. Dia mendapatkan pedang yang lain dan hal itu luput dari pengawasan Zee. Orang itu kembali ingin menebas Rey, akan tetapi Zee menghadang dengan serangan balik. Akhirnya orang-orang yang hendak menangkap Rey mundur penuh heran, sedangkan Zee bertarung dengan orang yang memegang pedang.
"Kurasa kau mengkhianati mereka. Apa mungkin kau bukan bagian dari mereka? Siapa kau? Kenapa mengincar Rey?! Katakan!" paksa Zee seiring dia melawan.
Suara cambukan cemeti Zee sangat menyakitkan di telinga. Rey bahkan meringis dan semua orang ketar-ketir. Vay pun melotot dan tak lagi meronta. Orang itu tak menjawab. Serangannya pun serius dan tajam. Hampir beberapa kali mengenai lengan Zee, tetapi Zee dengan lihai menghindar. Sebisa mungkin Zee mencari celah serangan orang itu yang semakin lama semakin serius.
'Sial! Dia sangat berbakat! Ilmu bela diri ini belum pernah kutemui. Kenapa di tidak bicara?' batin Zee.
Seiring mereka bertarung dan yang lainnya diam, Rey mengambil kesempatan untuk memberi kode pada Vay lewat mata dan memperagakan tendangan ke belakang pada Vay ketika Vay memperhatikannya. Seketika Vay mengerti dan menendang tulang kering orang di belakangnya sehingga dia terlepas. Orang itu memekik kesakitan. Segera Rey melepaskan ikatan tali di tangan Vay, melepaskan kain yang membekap mulut Vay, dan memberikan belati Vay.
"Rey! Kau datang!" Vay berteriak senang.
"Hah?! Dia lolos! Ketua! Lihat, ketua kesakitan!" seru salah satu dari mereka.
"Dasar bodoh! Aku menendangnya, tentu saja kesakitan! Sekarang, siapa yang mau melawanku?!" Vay menodongkan belatinya dengan senyuman sinis layaknya lawan yang sulit dikendalikan.
Rey tersenyum, "Maaf, aku tidak bisa menendang atau memukul, jadi kau harus menendangnya sendiri, tapi aku senang kau selamat. Sekarang, situasinya sedikit kacau. Zee yang lebih kacau darimu saat ini. Penjelasannya nanti saja setelah kita berhasil kabur." memandang semua orang yang mulai mengepungnya dan Vay.
Vay mengangguk paham, "Aku mengerti! Rey, tetaplah di belakangku. Pastikan tidak terluka, ya. Ayo kita buat mereka membiru dan pingsan! Hiyaaaa!"
Rey mengangguk senang. Mereka mulai menyerang karena orang yang ditendang Vay memberi perintah untuk menangkap Vay bagaimana pun caranya. Kali ini Vay bebas bergerak dan melawan mereka dengan senang hati dan Rey tetap berada di belakang Vay untuk beberapa detik. Setelah itu dia sadar, jika orang yang mengincarnya dengan serius hanya satu yaitu dia yang sedang bertarung melawan Zee. Sedangkan yang lain hanya sibuk pada Vay. Artinya dia bisa berdiri bebas menonton perkelahian mereka.
'Apa yang sedang terjadi?' pikir Rey bingung.
Tidak lama kemudian, Kal dan Fang datang. Ternyata mereka mengikuti petunjuk dari Zee di sepanjang jalan. Zee menggoreskan senjatanya pada tanah untuk menuntun jalan dan beruntung hal tersebut dapat dibaca oleh Fang dan Kal. Namun, ketika mereka datang, Zee berhasil melukai lengan orang yang berkelahi dengannya dan kembali membuang pedangnya. Seketika orang itu lari ke arah yang berlawanan.
"Fang! Kal! Tangkap orang itu! Cepat!" Zee berteriak dan menunjuk orang itu.
Tidak tahu apa yang terjadi, Fang dan Kal langsung melakukan perintah Zee tanpa berpikir panjang. Mereka tahu jika itu pasti ancaman yang buruk.
Zee langsung menoleh pada Rey. Merek hanya saling pandang sejenak dan Zee sadar ketika pemimpin mereka telah melupakan rasa sakit di tulang keringnya dan lari terbirit-b***t. Zee hendak mengejarnya, tetapi Rey mencekal tangannya. Beberapa saat kemudian, Vay berhasil mengalahkan orang-orang yang menculik dirinya. Tidak tanggung-tanggung, Vay membuat tubuh mereka lebam dan membiru karena pukulan Vay yang mematikan.