17. Perahu dan Air Hujan

2604 Words
Hobi melamun mengubah sedikit gemuruh di hatinya. Rey tersentak ketika Zee mendekat dengan semu merah di pipi sambil membawa ikan bakar yang telah matang. Wajah polos nan lugu keduanya sedikit menimbulkan kesan canggung. "Apa kau sudah selesai melamun? Aku tidak mau mengganggu, tapi setidaknya makanlah dulu." cukup ragu bagi Zee untuk menyerahkan ikan bakar tersebut. Telah mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih tebal dan masih di warna merah muda, membuat kemerahan pipi semakin jelas. Rey berkedip dua kali dan menerimanya, "Ah, maaf. Terima kasih." Dari nada bicaranya terdapat sedikit sentuhan kecil yang mengundang tawa, termasuk Vay dan Kal. Mereka menahan tawa karena sikap kedua temannya yang terlalu kaku. Beberapa ikan masih dibakar di atas api unggun kecil. Sementara Fang telah makan hingga habis setengah dari satu ikan. "Zee seperti gadis lugu yang penuh perhatian sekarang. Mana keceriaannya beberapa menit lalu?" gumam Vay yang sangat jelas didengar oleh Fang dan Kal. "Begitulah dia. Pada dasarnya Zee gadis polos yang dibebankan tanggung jawab sebesar kerajaan. Meskipun sifatnya sering berubah seiring situasi, tapi Zee tetaplah Zee yang melindungi kerajaan dengan nyawanya. Karena itu, aku harus selalu ada bersamanya," jawab Fang tanpa memberi ekspresi. "Oh, jadi begitu. Kalau boleh jujur, aku lebih suka Zee yang ceria daripada malu-malu seperti ini." Vay mengendikkan bahu dan membalik ikan yang dia bakar. Kal berhenti membakar ikan. Dia menyerahkannya pada Vay dan duduk di kursi panjang yang saling berhadapan dengan Rey membuat Rey dan Zee menoleh. Petikan alat musik mulai terdengar karena jemari Kal bermain. Pelan semerdu angin malam yang menghembuskan dingin dari sisa-sisa hujan. Kal menutup matanya dan mulai menikmati nada-nada kecil dari petikan alat musiknya. "Hei, ikanmu hangus!" Vay berdecak membalik ikan bakar Kal. Namun, Kal justru bersenandung. "Semburat biru terlintas dalam imajinasi. Bagaimana ku katakan betapa indahnya kau di depan laut suci? Sukmaku jauh melintasi samudra, hanya demi bernaung bersama cinta biru muda. Namun, ini hanya kisah seorang pengelana." Dalam senyumnya Kal bernyanyi sedikit bait yang terlintas di kepala. Seketika riuh tepuk tangan dari Vay dan disusul oleh Rey dan Zee. Fang hanya tersenyum menatap mereka sambil makan. "Ahaha! Ah, hatiku penuh lautan cinta! Aku ingin berkelana!" Kal berseru sambil merentangkan tangan tanpa membuka matanya. "Bodoh! Kita sudah berkelana sekarang!" Vay menodongkan ikan Kal yang sedikit hangus dan kembali membakarnya. Kal justru tertawa dan kini matanya terbuka lebar. Benar, ada kerlingan manis di matanya dan pancaran hangat dari efek udara laut tersirat di sana. "Apa kalian mau aku nyanyikan sesuatu?" tawar Kal senang. "Iya-iya! Aku mau!" Zee segera duduk di dekat Rey dan berhadapan dengan Kal. "Hmm, tidak buruk. Nyanyi saja mumpung kita punya api yang hangat," kata Vay memberi alasan untuk setuju. Fang mengangguk dan Rey terkekeh. "Boleh aku ikut?" Rey duduk lebih baik setelah menyimpan bukunya dalam pakaian lagi. Suaranya yang bahkan terdengar lebih halus daripada Kal menyita perhatian semua temannya. "Yah! Ayo kita habiskan malam ini dengan senandung harapan sebiru lautan!" Kal berseru lagi mengibarkan semangat. Vay ikut berteriak sampai mengangkat tangannya yang memegang ikan bakar dan Zee tepuk tangan sedari tadi. Lalu, suara alat musik Kal dengan cepat mendominasi keadaan. Rey tidak berhenti tersenyum. Mendengar suara Kal memang bisa membuatnya tenang. Bahkan Vay yang selalu mencari celah untuk berdebat dengan Kal pun menjadi diam dan menikmati suasana. Mereka makan, bernyanyi, dan memejamkan mata untuk beberapa detik demi angin yang melintas lebih dingin sesaat. Sering kali mereka bercanda ringan dan akhirnya mereka tidak sadar jika telah melewati malam. Mereka tidur tanpa sadar setelah mendengar musik syahdu dari petikan terakhir Kal. Seakan menghipnotis mereka semua untuk tertidur bersama Kal detik itu juga. Sayang sekali Rey masih terjaga. Dia memberi teman-temannya selimut cadangan dan menjaga api agar tetap menyala. Percikannya kini menjadi satu-satunya bunyi yang bisa Rey dengar. Laki-laki itu masih tidak sadar jika wajahnya terlihat sepenuhnya. Kemudian, saat pandangan Rey mengarah ke segala arah, dia berhenti pada seekor kuda yang telah menemani dan membantunya hingga kini. Senyumnya terangkat. Dia mendekat pada kuda itu yang juga terlelap. Mengelus kepala kuda yang bahkan sebelumnya tidak pernah dia memegang seekor kuda. Bulu kuda itu sedikit kasar, tetapi sangat menyenangkan jika menyentuhnya. d**a Rey menjadi lebih merasa hangat. "Ternyata, kuda itu baik. Kupikir hanya hewan liar yang dijinakkan dan dijadikan pacuan kuda. Mereka seperti hewan peliharaan yang berteman dengan manusia, juga sangat berguna," gumam Rey. Dia terus mengelus kepala kuda. Berwarna cokelat dan terdapat sedikit corak putih tepat di dahi kuda itu. Rambut dan ekor yang panjang dengan punggung kuat. Rey terpesona sesaat. Kemudian, kakinya merasa pegal. Dia berdiri sambil menghirup udara segar. "Aku tidak mengantuk sama sekali. Lebih baik aku jalan-jalan sebentar. Siapa tau akan mengantuk nanti." kata Rey pada diri sendiri dan mulai meninggalkan tempat papan informasi. Kakinya yang menginjak tanah pelabuhan terasa dingin meskipun memakai sepatu yang kering. Rey mendesis seraya menggosok telapak tangannya. Langkahnya kini menyisir lokasi di mana ada banyak kapal dan perahu yang dibiarkan terikat di tepi jembatan kayu. Ternyata dermaga tempat keluar-masuk nelayan. Jaring, ember, dan segala macam alat untuk memancing ikan ada di setiap perahu dan kapal. Semua itu tertutup oleh kain besar dan ada juga yang dibiarkan terbuka. Rey rasa tidak akan ada pencuri yang mencuri alat-alat mereka karena dibiarkan begitu saja. Semua itu pemandangan yang tidak bisa Rey tolak. Kehidupan seperti ini membuat Rey menghela napas panjang berkali-kali. Senyumnya pun tak ragu-ragu untuk menyapa setiap kapal dan perahu. 'Perasaan ini, cukup baik,' batin Rey. Tidak ada orang, sunyi, dan terus berjalan menyusuri dermaga. Aroma ikan yang amis dan angin laut benar-benar memabukkan. Rey terkekeh sendiri ketika ingat dia mabuk karena semua bau itu saat bersama Vay. Arus laut yang telah tenang menyita pandangan Rey. Tanpa pikir panjang, Rey pergi ke tepi laut, tepatnya di dekat jajaran perahu yang terikat. Anginnya semakin kencang di sana. Kakinya sering terkena ombak kecil sehingga menambah rasa dingin, tetapi pandangan Rey tetap menantang ke depan dan menikmatinya. "Desiran ombak, selalu menjadi nada terindah di malam hari, ya?" Rey tersentak. Menatap sekeliling dan mencari sumber suara. Suaranya terdengar seperti lelaki tua yang lelah dan masih mempunyai cukup tenaga. "Hah, hujannya cukup lebat. Aku lupa menutup perahu. Akhirnya jaringku hilang saat air memenuhi perahu. Apa mungkin terbawa arus?" Suara itu terdengar lagi. Rey semakin celingukan dan sedikit menjauh dari tepi pulau. Mencari sumber suara yang dirasa benar-benar seseorang yang sedang bicara. Tidak Rey sangka masih ada orang di dermaga setelah hujan datang. Rey hampir jatuh saat kakinya salah langkah dan sedikit tertekan di tanah. Segera dia mencari sumber suara itu kembali setelah kakinya berhasil diselamatkan. Dia mengedarkan pandangan di antara perahu-perahu. Seketika menemukan seorang kakek-kakek dengan rambut putih yang sedikit panjang dan memakai jaket tebal berwarna putih. Rey mengerjap dua kali. Orang tua itu sedang menguras air yang menggenangi perahunya dengan ember kecil sambil terus mengeluh karena jaringnya hilang. "Hmm? Ada tamu rupanya." orang itu melirik Rey dan berhenti melakukan pekerjaannya sejenak. Rey tersentak lagi dan segera mendekat. Sontak kakek itu tertawa membuat Rey mengerjap bodoh untuk kedua kalinya. "Ahahaha! Denyut nadimu pasti sederas ombak yang menyatu beberapa detik yang lalu. Bukankah menyenangkan ketika melihat ombak datang dan pergi begitu saja?" kakek itu tersenyum pada Rey. "Eh?" Rey mendelik sambil mengerjap. Dia tahu kakek itu menyindirnya. "Terlebih lagi malam ini yang sekejap hangat dan sekejap dingin, tapi tetap saja lembab dan sunyi. Hah, ini malam yang cukup panjang. Apa kau menikmatinya, anak muda?" kakek itu kembali menguras air. Kata-kata kakek itu mampu membuat Rey menarik napas dalam secara tak sengaja. 'Apa yang dia bicarakan?' pikir Rey meskipun Rey tahu maksud kakek itu. "Eee, permisi. Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya Rey tanpa menjawab setiap ucapan kakek tersebut. "Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan berdiri di tepi laut dan memandang luas ke hadapan? Ini sudah terlewat malam untuk dibilang malam," kata kakek itu tanpa menatap Rey. Dia tetap fokus pada perahunya yang masih tersisa sedikit air. Rey memandang itu semua bergantian, "Ah, aku tidak bisa tidur. Teman-temanku ada di sana dan aku ..." "Aku tau. Apa suara laut lebih merdu dari nyanyian temanmu? Haha, harus ku akui dia pandai bersyair. Suaranya juga bagus dan halus." kakek itu tertawa pelan. Dia memotong ucapan Rey. "Apa? Kau tau kami?" Rey tidak menduga jika sejak tadi dirinya diperhatikan dan orang itu masih ada di sana selama ini. "Ya, kalian anak muda yang nekat. Hanya demi melihat pusaran air laut saja harus rela bermain hujan hingga menaiki bukit kecil. Jiwa muda memang menyenangkan, hahaha. Andai saja aku masih muda. Sayangnya aku hanya kakek tua yang tidak sanggup menangkap ikan. Hahaha!" tertawa keras dan mendominasi lingkungan. Rey tersenyum hingga menampilkan giginya, "Aku tidak tau kalau kau ada di sini. Maaf, jika kami mengganggumu." menunduk sedikit untuk meminta maaf. Kakek itu menguras air lagi dan akhirnya suara ember yang bertabrakan dengan perahu pun mulai terdengar. Tandanya air di dalam perahu sudah hampir habis. Kakek itu melirik Rey tanpa berhenti bekerja, "Kau ramah dan tampan. Apa yang mengganggu pikiranmu, Nak?" Dalam hati Rey terkejut karena kakek itu mengetahui pusaran air laut dan memperhatikan mereka jauh dari yang Rey kira. "A-aku hanya mencari udara segar." Rey tertawa kaku. "Oh, sungguh?" Kakek itu semakin keras menabrakkan ember dengan perahu. "I-iya, haha," Rey sedikit terbata-bata. Lalu, kakek itu tidak bicara lagi. Dia mengangkat perahu ketika airnya sudah sedikit dan itu mengejutkan Rey sampai Rey menutup mulutnya dengan tangan. Matanya terbuka lebar terkesan. "Hah, ini cukup berat bagi orang tua sepertiku. Apa besok aku bisa dapat ikan dengan perahu usang ini?" kakek itu mengurut dagunya setelah menurunkan perahu pelan-pelan. Rey masih tercengang. Dia ternganga dalam beberapa detik, "Ka-kakek tua? Bagaimana bisa kakek-kakek bisa mengangkat perahu seberat itu?!" menunjuk perahu dan kakek itu bergantian. "Hmm? Ahaha, mengejutkanmu, ya? Maaf!" kakek itu menggaruk kepalanya polos. Rey tersentak mundur. "Siapa kau? Penjaga dermaga? Penguasa dermaga? Apa pemimpin pelabuhan? Tidak mungkin seorang kakek bis mengangkat perahu tinggi-tinggi seperti itu!" "Sstt! Kau mengganggu ketenangan laut di malam hari." kakek itu dengan tenang mengulurkan telunjuknya di bibir. Sontak Rey membekap mulutnya lebih kuat dan menggeleng. Kakek itu meringis. "Aku hanya sering berolahraga saat muda. Ini hanya sisa tenaganya, hahaha," sambungnya. "A-apa?!" pekik Rey pelan. Kakek itu menggeleng dan duduk di tepian perahu tanpa menghilangkan tumpuan kakinya yang kuat di tanah. Kemudian, dia memandang laut yang membuat senyumnya lebih memiliki arti, "Semua nelayan, semua saudagar, semua pedagang ikan dan semua orang yang keluar-masuk dari satu pulau ke pulau lain. Jembatan penghubung antara pulau yang lebih dekat tidak bisa menghentikan hempasan ombak yang datang tiba-tiba. Kita adalah orang yang tinggal di darat dan dekat dengan laut. Musuh alami kita adalah laut, meskipun mereka teman dan alam indah yang tenang. Jika kalian masih memiliki tujuan yang kuat, maka kalian bisa membedakan mana musuh yang sesungguhnya dan mana teman yang sesungguhnya." Perkataan itu mampu meluruhkan jiwa takut Rey. Tangannya luruh dan mulutnya tak lagi terbuka. Dia memperhatikan wajah sayu kakek itu yang penuh harapan. "Kau tau, Nak? Ada sihir yang tidak bisa diambil oleh Raja, yaitu sihir yang mampu mengendalikan seluruh pulau di negeri ini. Dia adalah sesuatu yang tersembunyi sedalam laut dan seluas lautan. Bisa kau bayangkan bagaimana kekuatannya?" Kakek itu tetap tak berpaling dari hadapan. Dada Rey bergemuruh. Dia segera mendekat lebih dekat bahkan tepat berada di samping kakek itu, "Bagaimana kau bisa tau, Kakek? Siapa kau? Mengapa kau mengatakannya padaku?" dahinya sedikit berkerut. "Jangan terburu-buru. Semua akan ada masanya. Biar ku katakan satu rahasia. Kau mau mendengarkannya?" kakek itu menoleh pada Rey dan Rey mengangguk cepat. "Hal yang paling ditakutkan Raja saat ini adalah laut dan setiap orang di kerajaan Leazova," kata kakek itu sungguh-sungguh. "Hah? Apa?" Rey berbisik meskipun sangat dikejutkan. "Iya! Karena setiap sihir bisa saja kembali ketika dia lengah dan laut bisa menjadi musibah yang besar jika semua pulau tenggelam. Lalu, dia tidak akan memiliki kekuasaan. Kau tau mengapa pulau-pulau ini bisa tenggelam?" kakek itu serius menceritakannya. Rey menggeleng dan mendengarkan secara seksama. "Karena sihir yang ada di laut lah yang paling besar di antara pulau-pulau kerajaan Leazova. Jika seseorang berhasil mengendalikan sihir terkuat yang bisa menguasai seluruh pulau dan dapat memiliki sihir kekuatan laut maka Raja terancam sepenuhnya. Tinggal kekuatan sebesar itu jatuh pada tangan siapa, tidak ada yang tau," sambung kakek itu. "Wah! Aku merinding mendengarnya." desah Rey pelan. "Hahaha! Masa depan tidak ada yang tau, bukan? Seringkali manusia khawatir akan masa depan. Yah, aku tidak terlalu peduli dengan kenyataan itu karena aku bisa mati kapan saja. Orang tua sepertiku hanya perlu bertahan hidup untuk waktu yang telah ditentukan." kakek itu menggaruk kepalanya lagi sambil tertawa santai. Seolah semua ucapannya tadi hanya cerita belaka. Rey hanya bisa mengerjap dan mengingat setiap kata yang dilontarkan kakek itu. Bagaikan isyarat seorang pemerhati negeri yang telah melihat masa lalu dengan puas dan kini tinggal menikmati nasib sambil tertawa di atas segalanya. Rey mendesah panjang dengan senyuman yang indah. "Aku mengerti." Rey menunduk sebentar, "Kakek, apa kau tidak kedinginan?" Kakek itu berhenti tertawa, "Hmm? Apa kau mau memberiku minuman hangat?" "Tentu saja! Teman-temanku membuat minuman herbal yang enak. Aku akan mengambilnya untukmu." Rey hendak beranjak, tetapi kakek itu menghentikannya. "Tidak perlu, anak muda! Aku hanya ingin duduk di sini sampai pagi. Dingin tidak bisa menganggu tulang-tulangku yang sudah tua, hahaha," ujar kakek itu santai. Sungguh Rey merasa sulit. Dia ingin memberikan minuman penghangat itu, tetapi sosok kakek di depannya sangat kuat dan Rey menghargainya. Akhirnya Rey tidak jadi pergi. "Terima kasih sudah memanggilku dan memberitahu kabar yang besar." Rey tetap tersenyum. "Ah, tidak masalah." kakek itu mengibaskan tangannya. Setelah itu, hanya terdengar desiran ombak yang mengikis tepian laut secara perlahan. Rey tak henti-hentinya menatap kakek itu meskipun kelak tersebut memandang lautan. 'Aku tidak ingin bertanya mengapa kau percaya padaku dan bagaimana kau tau aku sedang dalam perjalanan melawan Raja kalian. Kakek ini jenis orang yang tidak suka mengumbar kehebatannya. Jika dia orang biasa, maka beruntung negeri ini dipenuhi orang-orang hebat seperti dia. Jika dia orang kerajaan, maka cepat atau lambat ketenarannya akan terungkap. Sungguh aku masih tidak bisa percaya akan terjadi seperti ini saat aku mencari udara segar,' pikir Rey. Rey juga mengira kakek itu mengetahui identitasnya karena rumor tentangnya yang beredar. Sekarang ketenangan benar-benar melanda mereka. Kantuk tidak datang dan membiarkan Rey terjaga sepuas yang dia inginkan. "Ah, aku akan berlayar pagi ini. Kau mau ikut?" tiba-tiba kakek itu memecah keheningan. Rey berkedip satu kali, "Tidak untuk menangkap ikan, 'kan?" mengerlingkan matanya. "Ahaha, tentu saja tidak. Aku juga punya kapal kecil yang muat untuk hewan juga. Aku sering menggunakannya untuk menjual ikan di pulau lain," ucap kakek itu. Rey tersenyum lebih manis, "Baiklah, kalau begitu mohon bantuannya." Kakek itu tertawa lagi sehingga mempengaruhi Rey untuk ikut tertawa. Pembicaraan mereka terbawa hingga pagi meskipun matahari belum terbit seutuhnya. Rey pergi untuk membangunkan teman-temannya dan mengatakan mereka akan berangkat segera karena telah mendapat kapal tumpangan. Tentu saja mereka terkejut dan lebih terkejut lagi karena wajah Rey terlihat lelah bahkan penuh dengan udara laut. Kemudian, kakek itu telah menyiapkan kapal sederhana miliknya yang penuh dengan ember kosong dan jaring yang baru. Teman-teman Rey bertanya tentang cara Rey mendapat tumpangan dengan cepat, tetapi Rey segera tidur saat menaiki kapal. Mereka terkejut dan berkomentar yang tidak-tidak, tetapi kakek yang mengendalikan kapal justru tertawa. Dia ditanya oleh Vay pun tetap tertawa, sehingga membuat mereka frustasi. Kemudian, Fang mengambil alih dan memperkenalkan diri. Akhirnya kakek itu mau berbicara dan menceritakan apa yang terjadi tadi malam kecuali dia yang memberitahu Rey tentang kebenaran sihir yang tertinggal. Rasa terkejut benar-benar mengguncang hati mereka terlebih lagi Vay yang sangat mengkhawatirkan Rey. Kenyataan Rey tidak tidur semalam membuatnya merasa bodoh karena tidak menemani Rey terjaga dan menyalahkan Kal karena dia tidur akibat nyanyian Kal. Di saat mereka bertengkar dan Fang yang terus berbincang dengan kakek pengemudi kapal, Zee terus berada di dekat Rey yang terlelap dan menghitung setiap helaan napas Rey yang keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD