Pulau Biru Laut terletak cukup jauh bahkan dilihat dari pelabuhan. Di saat yang bersamaan, matahari telah terbenam.
"Aku yakin gelombang ombak itu tidak ada hubungannya dengan hujan," kata Rey menyita perhatian teman-temannya. "Juga pusaran yang kita bicarakan bukanlah petunjuk adanya gunung berapi, melainkan sesuatu yang bersangkutan dengan gelombang ini," sambung Rey.
Mereka tersentak. Awan mendung sudah berkumpul di atas mereka. Udara dingin bertambah. Dedaunan pohon dan kain yang tersebar di sepanjang jalan melambai-lambai karenanya.
"Pernyataan macam apa itu, Rey?" tanya Vay. Dia kembali memperhatikan tengah-tengah laut di depan mereka, "Memang sedikit aneh dengan gelombangnya kali ini, tapi tentang tanda pusaran di peta kurasa mengenai keberadaan gunung berapi. Kalau tidak, memangnya apa lagi?"
Rey menggeleng. Angin yang menerpanya membuat wajah Rey terekspos keseluruhan. Kerutan di dahinya pun terlihat sempurna. Dia memandang tajam ke hadapan, "Kita harus naik ke tempat yang tinggi untuk mengetahui apa yang terjadi di sana."
Kobaran kepercayaan diri yang penuh cahaya. Semua temannya tercengang. Mereka saling pandang dan memahami laut.
"Bahkan Rey membiarkan wajahnya terpampang jelas," gumam Vay.
"Apa yang kau katakan? Kami tidak mengerti. Apa kau tau yang terjadi di tengah jalur antara dua pulau ini?" tanya Kal sambil mengendikkan bahu.
Rey mengangguk pasti membuat Kal terkejut. Kemudian, hujan datang dengan peringatan Guntur sebelumnya. Zee dan Vay menutupi kepalanya dengan tangan. Fang memandang langit yang sangat gelap dan hujannya menjadi deras seketika.
"Hujan sudah turun," gumam Zee. Dia hampir merasa kedinginan.
"Tapi mengapa kita harus memperhatikannya, Rey?" tanya Kal lagi sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Kalian harus tau arus ini berbahaya pada waktu tertentu. Ayo, kita cari tempat yang tinggi!" Rey berbalik menatap mereka semua.
Tentu saja derasnya hujan tidak bisa ditahan. Terasa sakit di kepala. Kuda mereka pun meringkik dan sulit dikendalikan Fang. Apapun yang Rey katakan mereka percaya meskipun dilanda bingung. Fang mengikat kuda itu di salah satu gubuk yang berisi tentang papan informasi untuk berbagai dermaga di pelabuhan tersebut. Setelah itu mereka mencari tempat yang sekiranya tinggi, tetapi tidak ada bangunan yang tinggi.
"Kau yakin, Rey? Bahkan untuk berjalan di tengah hujan deras seperti ini terasa sulit. Kita juga tidak menemukan tempat tinggi," kata Vay. Dia cukup frustasi.
"Iya, kita harus melakukannya. Vay, lihatlah gelombangnya!" Rey menunjuk laut.
Saat ini mereka masih berteduh bersama kudanya. Tubuh basah kuyup dan kepala pusing tidak menjadi halangan bagi Rey. Jubah yang sebelumnya dilepas kembali dikenakan agar dingin tidak menembus lebih jauh. Baik Vay maupun yang lainnya mengikuti arah telunjuk Rey.
"Gelombang itu ..." Vay menggantung ucapannya. Matanya menajam memperhatikan ombak lebih jauh. Seketika raut wajahnya berubah, "Seolah berlari dari pantai. Tunggu dulu ... Apa mereka mendekat ke tengah pulau? Anginnya telah berubah!"
"Apa?!" Kal, Zee, dan Fang semakin kebingungan.
Rey mengangguk pasti, "Tidak salah lagi. Pusaran itu akan terjadi karena dua arus laut yang saling bertabrakan. Berlawanan arah seakan menjauh dari pulau dan akhirnya bertemu di tengah-tengah, maka terbentuklah pusaran itu. Jika kita berlayar sekarang, kemungkinan kita akan tenggelam di pusaran air. Ayo cepat cari lokasi yang tinggi di manapun itu! Kita lihat secara langsung!"
Rey berlari setelah menjelaskan dan itu membuat teman-temannya terkejut tak terelakkan. Mereka mengikuti Rey yang lari tanpa tahu arah. Jubah mereka bahkan terasa berat karena guyuran hujan yang begitu menyakitkan.
"Jadi kau memang tidak berniat menyeberangi pulau sekarang? Aku pikir kau akan nekat pergi, ternyata ingin melihat fenomena yang tidak pernah kami ketahui?" Kal berlari sambil menyeimbangkan langkahnya pada Rey. Dia menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
"Zee, kau tidak apa-apa?" Fang berada di belakang barisan mereka karena menemani Zee yang sudah terengah bahkan menggigil.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Rey, ada bukit yang tidak terlalu tinggi di dekat dermaga paling ujung. Setidaknya itu tempat tertinggi di sini, tapi di sana banyak bebatuan yang licin. Kondisi hujan seperti ini sangat sulit bagi kita untuk naik." Zee menaikkan nada bicaranya membuat semua orang menoleh dan berhenti berlari. Fang terus memegangi Zee dengan penuh rasa khawatir.
Vay ada di tengah-tengah mereka pun mencoba melihat dermaga yang berada di paling ujung pelabuhan, "Bagus! Tidak jauh dari sini. Zee, kau terlihat tidak baik. Akan buruk jika kau main hujan lebih lama."
"Aku hanya kedinginan. Aku juga ingin melihat fenomena yang dikatakan Rey itu benar terjadi atau tidak. Ayo, sebelum pusaran air laut menghilang!" Zee berlari lebih dulu sampai tangan Fang yang memegangi pundaknya terlepas.
"Anak itu!" Fang mendesis dan segera menyusul Zee.
Rey, Vay, dan Kal saling pandang dan mengikuti mereka.
"Bahkan pusarannya belum muncul, tapi akan segera muncul. Aku pikir kalian sudah tau ini dari dulu," gumam Rey sambil menunduk seiring larinya.
"Hah? Kau bilang apa?" Kal mengerutkan dahinya. Dia mendengar gumaman Rey, tetapi tidak jelas meskipun dia berada di samping Rey.
Rey tidak menjawab dan terus berlari hingga tiba di daerah bukit itu yang tanahnya sedikit longsor karena hujan. Napas mereka terengah.
"Rey, apa pusaran airnya sudah hilang? Kita sudah lari cukup lama!" Vay mendadak antusias meskipun dahinya berkerut. Lalu, menoleh pada Zee yang masih berpegangan pada Fang. "Aku kasihan pada Zee," sambungnya.
"Sepertinya baru akan dimulai." jawab Rey sambil mengatur napas. Dia mencoba meraih rerumputan di sekitar bukit untuk berpegangan saat naik, tetapi rumput itu patah. Lalu, pohon-pohon yang cukup berjarak di dekatnya digunakan sebagai pegangan. "Tanah ini cukup kuat. Tidak terlalu gembira meskipun dilanda hujan. Tidak masalah, kita bisa naik, tapi hati-hati. Ada bebatuan kecil yang licin," sambung Rey.
Dia berhasil menggapai salah satu pohon, begitu juga dengan Kal. Fang membantu Zee untuk berpegangan pada pohon.
"Ah, yasudah, lah. Aku penasaran bagaimana jadinya." Vay memutuskan untuk mendaki dan berhenti mengkhawatirkan Zee.
"Eh, kalau takut tergelincir jangan ikut naik! Jangan memegang bajuku, hei! Aaa, tidak-tidak! Kita jatuh!" Kal berteriak karena Vay memegangi pakaian belakang Kal. Akhirnya mereka tergelincir saat baru naik.
"Aarghh!" Kal dan Vay berteriak bersamaan saat jatuh. Pakaian mereka penuh lumpur. Bahkan mata Vay terkena lumpur.
"Aaa, kenapa kau mendorongku jatuh?! Sekarang mataku buta, Aaa!" Vay memukul punggung Kal yang mencoba berdiri sehingga Kal kembali jatuh.
"Aduh! Kenapa memukulku?! Kalau kau buta, syukurlah!" maki Kal kesal.
Mereka berdua berdebat dan Rey tidak bisa melerainya. Pandangannya jatuh pada Zee yang semakin pucat. Gadis itu masih berada di bawah bersama Fang. Mata Rey membulat.
'Zee!' pekiknya dalam hati.
Segera melepaskan diri dari pohon dan kembali ke bawah membuat Kal dan Vay yang tengah berkelahi menjadi diam. Rey menghampiri Zee dan memakaikan jubahnya untuk menutupi kepala Zee. Vay dan Kal terbelalak. Dahi Fang berkerut dan Zee diam memandang Rey yang juga memandangnya.
"Setidaknya kau tidak akan terkena hujan lagi. Ayo, aku bantu kau naik," kata Rey hangat di dekat Zee.
"Hah! Astaga!" spontan Vay berteriak. Membekap mulutnya lekas.
"Apa yang kulihat? Rey dekat dengan Zee?" gumam kal sambil menggeleng. Dia tepat di samping Vay sehingga Vay pun menggeleng cepat.
Fang yang heran pun merekatkan tangannya pada pundak Zee, sehingga Zee dan Rey menoleh. "Aku akan menuntunnya," ujar Fang cakap.
Rey justru tersenyum hangat, "Kalau begitu kita bersama saja."
"Hah!" napas Vay dan Kal tercekat.
"Rey? Kau ... kau yakin? Kenapa kau dekat sekali dengan Zee? Bukankah kau tidak suka perempuan?" tanya Vay sambil menggigit jarinya. Dia takut menyinggung perasaan Rey.
"Aku hanya membantu Zee. Dia sangat pucat, tapi masih ikut bersama kita, tidak mau berteduh bersama kuda," jawab Rey polos.
Vay menepuk dahinya berulang kali bahkan sampai dibantu Kal, "Denganku saja kau tidak mau dekat-dekat. Astaga!"
"Sstt! Kau dekat denganku saja kalau iri!" Kal merangkul Vay sangat kuat seakan akan mencekik Vay. Vay terbatuk dan memukul lengan Kal sehingga mereka bertengkar lagi.
"Ahaha, maaf, aku merepotkan. Aku juga ingin tau bagaimana bentuk pusaran air laut." Zee meringis tak berdaya.
Kini ada dua lelaki di kanan-kirinya. Fang yang merangkul pundaknya dan Rey yang terus memegangi jubah di atas kepala Zee. Lalu, bagaimana mereka akan naik nanti? Zee mendesah pasrah.
"Ayo!" Kal memimpin jalan setelah puas berkelahi dengan Vay.
Setelah itu disusul Vay dan mereka bertiga. Fang dan Rey memudahkan jalan bagi Zee dan karena itu Fang selalu melirik Rey yang terus memandang lurus ke depan. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dipendam dalam benak. Seringkali mereka hampir tergelincir dan sulit menginjakkan kaki, tetapi tetap bekerja sama agar tiba di puncak bukit. Andai saja tidak hujan deras, mereka bisa naik dengan mudah bahkan tidak sampai memakan waktu satu menit.
Di atas bukit yang tumpul itu, banyak pepohonan yang bisa digunakan sebagai pegangan, tetapi daunnya basah dan angin meniupnya tanpa ampun membuat air yang ada di daun-daun berjatuhan tak karuan. Namun, dari sana merek bisa melihat laut yang lebih luas. Sontak Rey tersenyum cerah meskipun teman-temannya terkejut terutama Vay.
"Arus dari dua pulau memang saling berlawanan. Mungkinkah karena angin mempengaruhinya atau karena sesuatu? Lihat! Mereka bertabrakan dan menyatu! Karena menerjang terus-menerus membuat airnya membentuk pusaran yang semakin lama semakin besar dan terlihat dalam. Wah, sungguh menakutkan, tapi menakjubkan! Aku baru melihat yang seperti ini!" Vay menunjuk dan menjelaskannya sesuai dengan kata hati. Dia sampai keluar dari pohon yang dipakai untuk berteduh.
"Hei, cepat kembali! Jangan dekat-dekat dengan tepi bukit!" Kal berdecak memperingati Vay. "Ah, gadis itu merepotkan!" kesal Kal karena Vay tak mendengarkannya.
"Lihat-lihat! Sudah mulai besar! Zee, kau bisa melihatnya?! Ahaha, baik kapal ataupun perahu yang melintas di jalur itu pasti terbawa arus dan tenggelam!" Vay sangat senang sampai melompat-lompat.
"Iya, aku melihatnya!" Zee melepaskan diri dari Fang dan Rey. Lalu, ikut dengan Vay yang melihat jauh lebih jelas dari yang lain.
Rey menghela napas lega sambil memandang pusaran air itu, tetapi Fang masih tetap memandangnya dan Rey mengetahuinya.
"Berarti paman saudagar tadi juga tau jika akan terjadi arus laut. Karena itu dia memberitahu jika kapal yang berlayar akan tenggelam," ujar Rey tanpa berhenti tersenyum.
Dahi Fang yang terus berkerut begitu mengganggu pikiran Rey, sehingga Rey mendesah panjang meskipun senyumnya tetap dipertahankan. Di saat yang bersamaan, Kal tengah menyusul Zee dan Vay. Dia ikut memeriahkan suasana kedua gadis itu dengan berkomentar tentang arus tersebut.
"Kenapa kau terus melihatku, Fang?" tanya Rey membuat Fang tersentak. Sedetik kemudian, Fang bisa mengendalikan ekspresinya.
"Aku hanya memikirkan sesuatu." Fang beralih memandang pusaran arus yang sama.
"Semakin besar dan semakin menakutkan. Aku penasaran, apa kita akan dibawa sampai ke dasar laut oleh pusaran itu? Haha, sepertinya tidak mungkin." tawa Rey ringan.
"Kenapa kau tidak bertanya apa yang aku pikirkan?" Fang mengerutkan dahi lagi.
Rey melirik Fang sebentar, "Karena aku tidak mau bertanya apa yang tidak ingin kau katakan."
Fang terbelalak. Reaksi Fang membuat Rey melanjutkan ucapannya, "Sejak di bawah bukit kau terus melihatku, tapi sampai sekarang kau tidak mengatakan maksudmu. Jadi, aku rasa kau tidak ingin mengatakannya. Artinya aku juga tidak akan mengganggumu dengan bertanya mengapa."
Fang tersenyum simpul mendengarnya, "Oh, ternyata begitu. Sekarang aku sedikit mengerti cara berpikirmu."
"Hmm? Benarkah?" Rey sepenuhnya menatap Fang.
"Yah, kau sangat sederhana." Fang melipat tangan di d**a. Dia tersenyum untuk waktu yang cukup lama.
Rey terkekeh, "Aku tidak pandai berpikir panjang. Aku hanya berjalan sesuai instingku saja." menggaruk kepala bodoh.
"Jujur saja, Rey. Saat kau membantu Zee menaiki bukit bersamaku, aku merasa kau sangat peduli pada kami. Aku tidak khawatir dengan kau yang dekat dengan Zee tiba-tiba, tapi aku sedang berpikir apakah kau tidak takut teman-temanmu tidak akan peduli padamu? Karena kau sangat baik dan pintar," Fang menguji Rey.
"Apa? Sampai sejauh itu, ya? Emm, aku tidak merasa begitu karena selama ini Vay menjagaku. Kita ada di jalan yang sama, jadi kita harus saling membantu, 'kan? Tidak mungkin kalian akan meninggalkanku sendirian." Rey menunjukkan deretan giginya.
Fang tersentak lagi dalam hati.
'Dia tampak lugu. Di balik senyumnya yang naif, ada kepercayaan diri yang tinggi. Pusaran arus dari dua sisi pulau itu menjadi bukti, jika Rey bisa menunjukkan masa depan dengan prediksi yang tepat. Raja Heng Louyan, seseorang telah datang membawa petaka yang besar khusus untukmu!' Geram Fang dalam hati.
Menakutkan, tetapi menghipnotis setiap mata yang hendak berpaling darinya meskipun satu detik. Pusaran dua arus yang bertemu begitu menelan semua hasrat yang ingin berlayar. Bahkan langit seakan ikut mengamuk seperti pusaran itu. Tidak tahu kapan hujan akan reda dan arus itu kembali normal, mereka terus berada di atas bukit dan menunggu fenomena tersebut hilang dari pandangan.
Kini yang dipikirkan Rey salah ketika arus pusaran air telah hilang dan hujan reda. Tepatnya pada pukul sembilan malam ini, mereka telah turun bukit dan bermalam di tempat papan informasi bagi dermaga di mana kuda mereka berteduh. Api unggun lebih sulit dibuat di dalam ruangan yang terbuka itu karena tanahnya sedikit basah akibat hujan. Setidaknya ada kursi panjang untuk mereka duduk.
Saat Vay sibuk bercerita dan takjub dengan peristiwa tadi, Kal pun sibuk memijat kakinya dan mengeluh. Lalu, Fang sibuk membuat api unggun dengan kayu-kayu yang ada di tempat itu. Zee sibuk membuat minuman dengan bahan persediaan mereka yang sederhana sambil menanggapi cerita Vay. Kondisi perlahan menghangat dengan sendirinya, sama hal-nya dengan Zee yang mendadak pulih setelah hujan reda. Namun, kesibukan mereka tak membuat Rey teralihkan terhadap bukunya. Buku yang bersembunyi di balik pakaiannya dan sedikit basah di sampulnya. Masih bisa dibersihkan dengan tangan yang kering dan tidak menimbulkan perubahan pada buku tersebut. Sayangnya bukan basah atau kerusakan yang dipikirkan Rey, melainkan kejadian tadi.
Rey pikir setelah perjalanannya tiga hari dan berhasil mengetahui simbol pusaran air laut, kisahnya akan muncul kembali. Ternyata tidak ada. Masih tetap berada di titik cerita sebelumnya. Dia harus bersabar sembari menghela napas tenang. Sampai tidak sadar jika rambutnya yang masih basah tersingkap sepenuhnya. Wajahnya begitu jelas dan menjadi pandangan yang tak membosankan. Napasnya yang teratur membuat semua temannya ikut bersantai sejenak. Hujan pasti tidak akan turun sampai pagi. Mereka bisa tenang dan menghangatkan diri.
Api unggun telah menyala. Kal segera turun dari kursi panjang dan membantu Fang untuk membakar kayu. Dia bercerita dan mengeluh dengan bebas pada Fang dan membuat Fang tersenyum. Dia juga tak segan-segan menyebut nama Rey untuk menyinggungnya, tetapi Rey seakan diliputi oleh awan kehidupannya sendiri. Logika mereka bergerak untuk tidak bertanya apalagi mengejutkan Rey. Melihat Rey saja mereka sangat tahu jika Rey kelelahan. Laki-laki itu seolah tidak sadar sama sekali apa yang dibicarakan dan dilakukan oleh teman-temannya dan tetap sibuk pada buku.
"Kau lihat? Wajah sok seriusnya sampai dahinya berkerut tipis. Tidak mandi saja membuatnya tampan. Aku sangat iri. Oh, iya! Dia, 'kan, sudah mandi hujan, haha." Kal mengejek tertawa pelan sambil menumpuk kayu yang sebagian menjadi arang pada api unggun.
Fang menatap Rey sesaat dan kembali menghangatkan tangannya pada api, "Biarkan saja. Mungkin terlalu lelah baginya."
Kal berdecak, "Zee yang tadi lemah gemulai sekarang sehat bahkan bercanda dengan Vay, tapi sekarang ganti Rey yang menekuk lehernya. Aku ingin memanggilnya, tapi rasanya tidak enak." menggeleng pasrah.
"Kalau begitu kita buat makanan saja," tawar Fang.
Mata Kal membulat, "Ide bagus! Vay, ikanmu sudah busuk apa masih segar? Ayo kita bakar!" menatap Vay penuh harap.
"Diam! Tinggal ambil apa susahnya?" Vay mengibaskan tangan dan lanjut bercerita dengan Zee.
"Baiklah, aku ambil sendiri. Kau tidak bisa diajak bicara." Kal mengendikkan bahu dan mengambil ikan di kotak perbekalan Vay.
Vay telah mengawetkan ikan di kotak itu yang dibawa kuda dalam tiga hari ini. Kemudian, Zee berdiri dan memberikan minuman pada semua orang kecuali Rey.
"Ini dia! Meskipun tidak hangat, tapi ini enak. Sedikit pedas karena aku menggunakan ramuan herbal yang telah aku keringkan bersama Fang," jelas Zee saat membagikan minuman.
"Wah! Kau hebat sekali! Badanku bisa hangat lebih cepat kalau begini." Kal mengedipkan sebelah matanya saat Zee memberinya minuman.
"Kedipanmu membuatku muak." Vay cukup santai untuk minum setelah mengatakan hal itu dan membuat Kal tersinggung dan Zee tertawa ringan.
"Aku mau memberikan ini pada Rey, tapi dia ...," Zee menggantung ucapannya. Pandangannya mengarah pada Rey.
"Ck, biarkan saja dia. Nanti juga minum sendiri. Anggap saja dia sedang bermeditasi. Kau bantu aku membakar ikan, bagaimana?" tawar Kal sambil menaikkan dagu.
Zee tertawa lagi, "Boleh!" mengangguk semangat.
"Bagus kalau begitu! Kita bakar-bakar malam ini!" Kal berseru ria.
Keseruan mereka masih tak menyadarkan Rey. Sekuat itu keinginannya untuk membuat cerita di buku itu terisi sepenuhnya sampai terlelap dalam pikirannya sendiri meskipun yang Rey pikirkan adalah kosong.