Perbekalan selama perjalanan baik uang, makanan, pakaian, senjata, semua telah siap dan dikemas sedemikian rupa. Semua ayam milik Zee dan Fang dijual dan ditukar dengan kuda yang penurut dan kuat untuk membawa semua barang mereka. Senjata yang ada di rumah batu itu disembunyikan dan tidak dibawa seluruhnya, hanya beberapa senjata yang menjadi pegangan sehari-hari mereka. Pedang untuk Fang dan pedang cemeti untuk Zee. Selain itu, Zee juga membawa beberapa senjata yang dianggap pusaka dan kuasanya telah hilang.
Mereka pergi malam ini juga. Rencana untuk menggunakan kuda agar tiba di pelabuhan dalam waktu singkat dibatalkan. Rey memilih untuk memakan waktu tiga hari selagi melihat-lihat kondisi. Namun, dia memperingatkan untuk teman-temannya agar berhati-hati. Sebelum mereka pergi jauh dari lokasi persinggahan, mereka bersembunyi dan melihat kondisi rumah Zee dan Fang. Ternyata benar ada beberapa orang yang memakai pakaian rakyat biasa datang mengelilingi rumah itu. Mereka bertanya-tanya dengan wajah kaku dan ekspresi yang bervariasi. Hal itu menimbulkan rasa curiga Zee dan Fang. Setelah itu mereka pergi sejauh mungkin dengan jalur yang dikira pendek untuk mencapai pelabuhan.
Sekarang tepat di pukul dua belas malam. Angin bertiup cukup kencang membuat mereka memakai jubah penghangat. Udara malam benar-benar tidak bisa dihindari di kerajaan berkepulauan ini. Mereka terus berjalan sambil menggosok tangan masing-masing untuk menghangatkan diri. Fang yang terlihat jauh lebih kuat dari mereka semua bertugas untuk menarik tali kuda.
"Sungguh tidak kusangka ternyata selama ini kita diperhatikan. Jika bukan karena Rey, kurasa kita akan tertangkap basah," kata Zee mewakili perasaan Fang dan dirinya.
"Mereka mengetahui penyamaran kita. Tidak, tapi kurasa mereka selalu memperhatikan kita dan melihat apakah kita akan bertindak atau tidak," ujar Fang. Pandangannya lurus ke depan.
"Huft, menakutkan sekali! Ternyata kita bisa terjebak jika terus di pulau ini. Untungnya kau bisa menduganya, Rey." Kal sibuk menggosok tangan dan meletakkannya pada pipi.
"Menurutku itu bukan satu-satunya alasan. Mata-mata kerajaan bukan hanya fokus pada Zee dan Fang, melainkan pada rumor tentang Rey," ucap Vay serius.
"Apa? Benarkah?" Kal menoleh tercengang. Begitu pula Zee dan Fang.
Vay dan Rey mengangguk. Tandanya mereka memiliki pemikiran yang sama, "Sejak rumor itu beredar, meskipun rakyat biasa tidak percaya, tetapi petinggi kerajaan pasti percaya. Contohnya saja Zee dan Fang. Jika mereka saja percaya dan sampai rela akan mencari Rey, apalagi mata-mata kerajaan? Aku yakin mereka sudah menyebar ke seluruh penjuru pulau hanya untuk mencari kebenaran rumor itu. Rey adalah tersangka utama," sambung Vay.
"Mengejutkan! Otakmu bekerja di saat dingin begini." Kal menggigil.
"Diam kau! Aku selalu memikirkan nasib Rey, bukan sepertimu!" Vay mendorong lengan Kal sampai Kal terdorong sedikit.
"Hei, aku memujimu, kenapa jadi dipukul?" Kal mendesis.
"Itu sudah terjadi sejak kita berpencar mencari uang, Vay. Aku rasa mereka mulai bergerak saat kita bertemu dengan Kal," kata Rey mengehentikan pertikaian antara Vay dan Kal yang akan dimulai.
"Apa lagi katamu? Aku?" Kal menunjuk dirinya sendiri. Saat Rey mengangguk, seketika mata Kal membulat. "Jangan bilang jika mereka mendatangi panggung rahasiaku? Tidak!"
"Aku rasa begitu, tapi itu hanya kemungkinan," jawab Rey. Kal semakin melongo.
"Tempat penyimpanan senjata Zee dan Fang didatangi, jadi pasti gubuk jelekmu juga. Kuharap mereka tidak curiga berlebihan karena rumornya masih dalam tahap awal saat itu. Bagaimana ini?" Vay menyambung dugaan Rey membuat Kal semakin berpikir buruk.
"Panggungku yang tersayang! Jika mereka menyentuhnya aku tidak akan segan-segan balas dendam! Akan kuruntuhkan istana kerajaan Heng Louyan!" geram Kal penuh ambisi besar.
"Tuan penyanyi juga merasakan dampaknya, ya?" Zee merasa prihatin. Kal menekuk bibirnya sedih seraya mengangguk.
"Jangan sedih, aku yakin mereka masih memeriksa, belum dalam tahap penggeledahan," Zee menghibur.
Kal langsung menatap Zee penuh binar, "Oh, terima kasih banyak, Nona Zee. Kau sangat halus, lembut, dan perhatian. Seolah cemetimu bukan terbuat dari besi, melainkan sutra."
"Ahaha, terima kasih." Zee menjadi tersenyum kikuk.
Vay memutar bola matanya malas, "Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal, Rey?"
"Aku takut kalian akan khawatir. Padahal kita baru akan melakukan perjalanan bersama." jawab Rey dengan senyum manis. Itu mampu menyihir Vay lagi dan lagi. Bahkan Zee ikut terkena auranya sampai pipinya memerah lagi. Zee segera memalingkan wajah.
Vay heran dan melihat Zee yang bertingkah aneh, tetapi dia tetap diam. Perlahan Vay mendekati Zee dan berbisik, "Kau kenapa? Rey mengusik otakmu, ya?"
Sontak Zee terperangah menatap Vay. Dari ekspresi Zee sudah menjelaskan segalanya membuat Vay menahan tawa. Dia membisikkan sesuatu lagi pada Zee. "Tenang saja, aku mengerti perasaanmu. Pertama kali aku bersama Rey juga begitu. Dia seperti penyihir tanpa sihir. Aku hanya kagum saja padanya, bukan seperti gadis-gadis lain. Kalau kau?"
Zee tersentak mundur, "Apa yang kau katakan? Aku tidak seperti itu."
"Hahaha, ayolah! Aku sangat mengerti. Kalau kau mau akan kubantu kau dekat dengan Rey." Vay mengedipkan sebelah matanya.
"Apa? Ti-tidak." Zee memalingkan wajahnya lagi.
"Hah? Kau pemalu rupanya. Kenapa tadi biasa-biasa saja?" Vay sedikit menatap langit.
"Aku memang pemalu, sebab itu Fang selalu menjagaku. Namun, aku bisa mengendalikan diri dalam situasi apapun," ujar Zee masih tak memandang Vay.
"Oh, kemampuan yang jujur! Kau cukup lugu seperti Rey. Katakan saja kalau kau terpesona padanya, 'kan?" Vay menyenggol lengan Zee.
"Bu-bukan seperti itu!" Zee masih salah tingkah. Vay tertawa pelan. Akibatnya yang lain menoleh.
"Hei, kalian berbisik apa?" Kal kembali cemberut.
Perhatian Zee dan Vay teralihkan, "Apa? Ini urusan perempuan. Mau tau saja."
"Ck, perempuan? Memangnya kau perempuan? Nona Zee, jangan mau berteman dengannya. Selain bau amis, dia itu tidak ada anggunnya sama sekali. Tidak asik! Bisanya cuma marah dan memukuli orang saja." Kal menyilangkan tangannya pada Zee.
"Kal Liem, akan kupukul kau ribuan kali!" Vay mendesis marah dan mulai bertengkar dengan Kal. Zee hanya tersenyum ramah.
Sementara itu Fang terus memperhatikan gerak-gerik Zee. Gadis itu terlalu memperhatikan Rey diam-diam.
"Fang, apa benar ini jalannya?" tanya Rey karena ada jalan bercabang untuk menuju pemukiman selanjutnya. Hal itu membuat Fang kembali sadar dan menunjukkan arah jalan.
Rasa lelah mulai melanda. Tubuh seakan mati rasa, terlebih lagi kaki yang tak sanggup lagi untuk berjalan. Sekuat apapun mereka tetap tidak bisa menahan udara yang sejuk hingga ke tulang. Akhirnya di tengah heningnya pemukiman yang menyisakan pelita api yang menyala, mereka istirahat di gubuk kecil sekadar menghangatkan badan. Tidak ada pembicaraan, tidak ada pergerakan, hanya duduk diam menunduk dan menikmati jubah masing-masing yang tidak hangat sama sekali. Kantuk pun tak bisa dibendung. Vay dan Kal tidur terlebih dahulu. Mereka tidur dengan bersandar papan gubuk. Lain dengan Rey yang menahan kantuknya. Sedangkan Zee dan Fang masih kuat seperti sedia kala.
"Tidurlah, Rey. Besok pagi kita berjalan lagi," suara berat dari Fang mengejutkan Rey hingga Rey membuka lebar matanya.
"Tidak, aku tidak mengantuk." Rey menggeleng dan mengusap matanya.
"Kau harus tidur. Ini masih dua puluh persen dari perjalanan. Masih ada dua hari lagi," sambung Zee. Dia bahkan tersenyum.
Rey menatap mereka bergantian, "Kalian kuat sekali."
Fang menggeleng, "Kami sudah terbiasa dengan udara dingin. Malam ini kami akan berjaga, jadi tenanglah."
"Aku merasa tidak enak dengan kalian. Aku juga akan terjaga." Rey menunjukkan deretan giginya.
Fang dan Zee tak bisa menghentikan tekat Rey sehingga mereka mengiyakannya. Namun, kantuk Rey sudah berada di ujung tanduk. Dia terlelap dalam beberapa menit setelah terjaga. Membuatnya jatuh tidur menimpa Kal. Zee dan Fang saling pandang. Lalu, kuda yang tidur di sebelah gubuk pun diselimuti kain besar nan tebal. Mereka turun dan mengumpulkan ranting di sekitar serta jerami yang bertahan dari atap gubuk. Dibentuk membukit dan mencoba membuat api.
"Tidak kusangka kita akan dalam perjalan lagi." Zee bicara pada Fang sambil terus berusaha memunculkan percikan api dari dua batu yang digosok.
Fang tersenyum santai, "Nasib apa yang akan terjadi pada kita? Tidak tau benar atau salah, yang pasti hanya Rey yang bisa kita percayai saat ini. Zee, kau teruslah berusaha memanggil energi semua pusaka diam-diam. Aku yakin masih ada sihir yang tersisa."
Fang menggosok batu dengan keras hingga akhirnya percikan api muncul. Jeraminya terbakar. Perlahan menyebar ke ranting-ranting yang mengelilinginya. Senyum Zee merekah. Cahaya jingga mulai menerangi wajah mereka dan kuda itu.
"Aku sudah berusaha, tapi sihirku memang tidak tersisa sedikit pun," jawab Zee.
Fang menghela napas panjang, "Kalau begitu, kita percayakan sisanya pada Rey. Sudah kuputuskan, apapun yang terjadi kita harus membantu Rey." menengok Rey yang tak terusik. Dia tenang membiarkan alam mimpi menguasai.
Zee ikut melihat Rey, "Bebanmu sangat berat, Rey. Padahal dia hanya ingin kembali ke dunianya."
Fang berdecih pelan, "Aku tidak percaya ini. Bahkan dia bukan berasal dari dunia kita. Ternyata melintasi waktu benar-benar ada."
Jerami yang terbakar dengan cepat kini tinggal abu dan menyisakan ranting-ranting yang mulai membuat api besar. Mereka berbincang halus seperti langkah tanpa suara. Terus membuat api yang bisa menghangatkan udara di sekitar gubuk. Beruntung angin sudah tidak bertiup, tetapi menyisakan dingin yang tak berkesudahan. Beberapa jam lagi menuju pagi. Baik Zee maupun Fang juga harus tidur, setidaknya matanya terpejam untuk beberapa saat.
Zee selalu mencoba mencari keajaiban tentang sihirnya yang mungkin masih tersisa demi menarik energi dari semua pusaka yang hilang, tetapi gagal. Hingga kini, dia terus mencoba.
Kuda itu mendadak meringkik dalam tidur seolah merasa kehangatan di depannya memudar. Benar, api unggun sederhana itu sudah mulai padam. Pembuatnya masih tidur dalam posisi duduk. Namun, dinginnya pun perlahan menghilang. Menyisakan kabut yang menandakan pagi akan datang. Dari ufuk timur, terhalang pepohonan yang menjadi jarak untuk satu rumah ke rumah yang lain, matahari mulai muncul. Semburat jingga yang sejuk menghiasi langit. Sayangnya, kabut semakin tebal. Keadaan mengusik Rey. Matanya terbuka perlahan-lahan dan menyadari pagi telah tiba. Lalu, sadar kondisi gubuk itu berubah.
Harum sisa ranting dan jerami yang dibakar menggelitik penciumannya. Kuda itu juga telah bangun. Memakan rumput yang ada di sekitarnya. Kal dan Vay masih sibuk mendengkur halus. Kemudian, dua pelindung utama istana kerajaan yang tidur di bawah gubuk juga mulai terbangun.
'Mereka membuat api?' batin Rey.
Rasa dingin tidak lagi menempel pada dirinya membuat Rey melepaskan jubahnya. Dia mencium udara dalam-dalam. Sejuk bercampur aroma menyengat dari sisa api unggun kecil. Lumayan segar meskipun kabut ikut masuk dalam rongga hidung. Dia memandang sekeliling.
"Kabutnya cukup tebal. Pasti siang nanti akan sangat panas," gumamnya.
Zee dan Fang bangun, menyadari Rey yang terduduk diam menikmati suasana pagi. Mereka mendongak bersamaan ketika mendengar kicauan sekumpulan burung sedang terbang ke arah yang berlawanan dengan tujuan mereka.
"Lentera sudah padam. Sebentar lagi warga akan melakukan aktivitasnya. Sebaiknya kita segera pergi," kata Rey pelan.
Zee dan Fang menatap Rey dan mengangguk. Tidak ada waktu untuk sekadar menyapa memberi kata selamat pagi. Mereka membangunkan Vay dan Kal serta membersihkan sisa-sisa api unggun. Meskipun protes, Vay dan Kal tetap menurut. Mereka berjalan dengan mata mengantuk.
Demi meringkas waktu, mereka menyewa kendaraan kayu yang ditarik dengan kuda. Namun, hanya bisa menempuh separuh jarak dan mereka harus kembali berjalan kaki. Kabut tadi pagi sungguhan menimbulkan panas yang luas biasa. Siang ini masih belum berada di pertengahan siang. Teriknya matahari tanpa ampun menguras tenaga Rey dan teman-temannya. Tidak cukup satu kantung air untuk satu orang. Mereka membeli banyak air dan terkadang istirahat untuk kudanya minum. Sampai lupa makan sesuatu, perut mereka hanya penuh dengan air. Mereka melakukan perjalanan seperti itu sampai malam kembali tiba. Bahkan keesokan harinya pun masih berada di kondisi yang sama. Hingga akhirnya mereka tiba di daerah pelabuhan tepat ketika matahari akan terbenam.
Memesan satu kapal yang digunakan untuk melintasi pulau, tetapi para pemilik kapal mengatakan akan terjadi hujan lebat sehingga tidak bisa berlayar malam hari. Semua kapal pun sama, mereka diamankan dan para penghuni pelabuhan mulai pergi. Dermaga yang penuh perahu kecil pun sama. Para saudagar yang memenuhi kapalnya dengan ikan juga tidak mau membantu mereka.
Rey dan lainnya menghela napas lelah. Kaki mereka sudah tak sanggup untuk berjalan mengelilingi pelabuhan mencari kapal. Semuanya tidak bisa berlayar. Air sudah habis. Kal yang kehausan tak bisa menahan keluhan sejak tadi. Dia mengoceh sementara Rey fokus mencari cara agar dapat menyeberang laut malam ini juga. Fang dan Zee juga masih mencari kapal yang bisa diajak bekerjasama. Berbeda dengan Vay yang mengerutkan dahinya sambil mengawasi langit dan laut. Dia mendongak dan menghirup udara dalam-dalam.
"Mereka benar, hujan lebat akan datang. Sangat tidak memungkinkan untuk berlayar." Vay memandang jauh ke laut. Semua orang menoleh pada Vay.
"Apa seburuk itu? Aku bisa melihat pulaunya dari sini." Kal yang mencebikkan bibirnya mulai ikut serius.
Vay menatap Rey, "Anginnya perlahan akan semakin kencang. Lihat, awan mendung juga mulai mendekat. Sepertinya hujannya berjalan dari arah pulau Biru Laut menuju kemari." menunjuk semua yang dia jelaskan.
Rey memegangi anak rambutnya yang menutupi sebagian wajah karena tertepa angin, "Kau benar. Jadi, bagaimana? Apa kita sungguh tidak bisa pergi?"
"Hah, melelahkan sekali. Sudah tiba di sini dengan penuh perjuangan dan sekarang terhalang oleh hujan? Bagaimana kalau kita curi kapalnya?" desah Kal lemas.
"Ide bagus!" Vay menepuk tangannya keras membuat Kal terjingkat dan mereka tertawa.
"Ide buruk!" kata Zee sambil menggeleng.
Vay dan Kal menoleh, "Hah?"
"Maksudku lihat itu! Ombaknya menjadi sedikit besar. Jika kita berlayar bukankah lebih berbahaya?" Zee menunjuk tengah-tengah laut yang mengarah ke pulau selanjutnya.
"Wah, benar! Rey, bagaimana?" Kal menaruh tangannya di dahi untuk melihat ombak lebih jelas.
Rey berdecak pelan. Semua temannya mengarah padanya, sedangkan dia terus mengamati keadaan. Memandang langit meskipun segarnya udara laut menerpa.
'Kenapa mendadak akan hujan? Padahal kemarin dan tadi siang panas,' pikir Rey.
Dia takut jika keberadaannya dilacak oleh mata-mata kerajaan dengan mudah, sehingga sesegera mungkin harus meninggalkan pulau. Namun, cuaca mendadak tidak bersahabat.
Menoleh ke arah dermaga tempat keluar-masuk ikan dan kapal para saudagar. Rey berlari ke sana tanpa mengajak teman-temannya.
"Eh? Rey, kau mau ke mana? Tunggu kami!" Vay bingung dan mengejar Rey.
"Orang itu tidak mengatakan apapun!" Kal menepuk dahinya.
Zee dan Fang saling pandang dan ikut menyusul. Setelah tiba di sana dan satu per-satu temannya datang, Rey mencari sebuah kapal yang bisa tahan dalam keadaan apapun saat berlayar. Dia melihat sebuah kapal yang cukup kokoh dan berisi puluhan tong ikan. Bau amis menyebar. Semua merasa bau, tetapi Vay justru tersenyum.
"Wah, banyak sekali ikannya! Tidak kusangka di sini juga pusatnya ikan, haha!" Vay menggosok tangannya tak sabar untuk bergabung dengan para pedagang ikan.
Sebagian dari mereka masih berbenah. Semangat untuk menaikkan ikan ke dalam kapal dan diamankan. Tinggal beberapa menit lagi untuk matahari terbenam sempurna. Sehingga semua orang yang ada di dermaga harus segera pulang.
"Paman, tunggu!" tiba-tiba Rey mengehentikan salah satu orang yang hendak menaikkan tong ikan di kapal yang dia lihat. Vay dan yang lainnya heran.
Orang yang dipanggil Rey menoleh. Memperhatikan penampilan Rey dari rambut sampai kaki, "Ada apa? Kami tidak punya ikan lagi hari ini. Kalau kau orang kaya, datanglah besok. Kami punya yang lebih segar," kata orang itu dengan wajah lelah.
Rey tersenyum ramah, "Bukan begitu, Paman. Aku ingin menyeberang, tapi tidak ada kapal yang mampu memberi tumpangan. Apa kau akan mengarah ke pulau berikutnya?"
Pertanyaan penuh harap itu dibalas dengan pelototan tajam. Rey sedikit kikuk, tetapi tetap menunggu. Lalu, orang itu menaikkan tong ikan yang dibantu oleh rekannya.
"Kami akan kembali ke pos, bukan keluar pulau. Kalau kau mau keluar, cari saja kapal yang ada di sana. Itu kapal transportasi, 'kan? Ada-ada saja." orang itu menggeleng dan melanjutkan pekerjaannya.
"Oh, aku pikir paman dapat membantuku." pandangan Rey tertunduk.
Orang itu memperhatikan Rey lagi, "Sepertinya kau orang asing. Apa mereka temanmu?"
Rey segera mendongak dan mengangguk, "Iya, kami ingin pergi."
"Kalau begitu besok pagi aja. Cuaca sedang tidak baik. Kalau pun kalian memaksa berlayar, tetap akan percuma. Kapal kalian akan tenggelam dalam sekejap," orang itu bicara dengan santai.
"Apa? Apa maksudnya, Paman?" Rey meneleng serius.
"Kau lihat ombaknya? Sudah tau berbahaya, jadi jangan coba-coba berlayar." orang itu menunjuk laut dengan dagu. Lalu, menaiki kapal karena tidak ada tong ikan yang harus dinaikkan.
Vay dan lainnya mendekati Rey. Mereka mendengar pembicaraannya. Rey memperhatikan daerah laut yang ditunjukkan orang tersebut. Dia perhatian terus sampai sesuatu muncul di dibenaknya.