Kebisingan di tempat makan sudah menjadi hal biasa terlebih lagi di tempat persinggahan yang sangat ramai seperti sekarang. Vay dan Kal sudah malas untuk makan. Perut mereka penuh. Bahkan untuk menerima seteguk air sudah tak sanggup. Kecemasan melanda dari beberapa menit yang lalu. Sudah hampir satu jam, tetapi Rey tak kunjung kembali. Pintu bangunan batu itu tertutup menambah beban pikiran yang bukan-bukan. Mereka duduk di meja dan kursi bundar yang terbuat dari kayu. Sambil melamun dan mengaduk makanan. Mereka memesan makanan terlalu banyak.
"Hei, berapa lama lagi kita harus menunggu?" gumam Vay malas. Menyangga kepala, mengaduk mie tanpa kuah dengan sumpit dan memandang orang-orang yang tertawa terbahak-bahak di meja dekat kasir.
Kal menghela napas panjang. Dia pun sedang menyangga kepala. Pandangannya berpindah-pindah, "Mana aku tau?"
"Ck, aku bosan! Kau hibur aku!" pinta Vay mirip merengek.
Kal mendelik, lalu menggeleng, "Untuk gadis sepertimu tidak ada lagu yang bisa kau bayar dengan harga apapun."
"Ayolah, sedikit saja. Hanya petikan alat musikmu yang aneh apa tidak bisa?" Vay membujuk.
"Ck, jangankan karena tingkahmu yang aneh, untuk menggerakkan jariku saja aku tak bisa. Aku sudah lelah." Kal menidurkan kepalanya di meja.
"Hah, kau benar." Vay juga ikut menidurkan kepalanya. Mereka memandang sekeliling, "Kenapa semua orang bisa bergembira?" lanjut Vay.
"Sepertinya hanya kita yang lusuh seperti pakaian bau," sambung Kal dan diangguki oleh Vay.
Di saat seperti ini mereka bisa kompak. Rey sudah terlewat batas meninggalkan mereka, tetapi mereka tidak punya cukup keberanian untuk mendekat ke rumah itu karena rumahnya terlihat suram. Bahkan Vay yang sangat percaya diri dengan keahlian bela dirinya menjadi menyerah karena melihat berbagai senjata saat pertunjukan.
"Hei, apa yang kau pikirkan sama denganku?" tanya Vay lagi.
Kal mengangguk lemas, "Pembunuh bayaran."
"Apa Rey baik-baik saja di sana? Aku takut nyawanya akan tinggal setengah nanti," gumam Vay gelisah. Mereka berpikir dua pelaku pertunjukan bela diri tadi adalah pembunuh bayaran.
"Tidak-tidak, tidak mungkin nyawanya tinggal setengah. Kurasa akan habis kali ini." Kal menggeleng berkali-kali.
"Kalau itu terjadi aku akan menghabisimu di sini," kata Vay segera.
"Kenapa begitu?" Kal menatap Vay malas.
"Karena mulutmu berbisa! Bisa-bisanya kau mengatakan Rey akan mati. Kau yang akan mati!" Vay menjadi tak terima.
Kal mengibaskan tangannya santai, "Jangan terlalu tegang begitu, Penjual ikan bau! Dia tidak akan mati semudah itu. Kau tau sendiri, 'kan?"
"Bau katamu?!" Vay memekik. Memukul meja pelan dan bangkit dari rasa malas.
Mendadak mereka sedikit bersemangat karena berdebat. Sebuah langkah kaki yang mengarah pada mereka membuat pendengaran mereka semakin tajam. Kal sangat tahu suara sepatu pada langkah kaki itu. Sontak mereka tersenyum dan terdapat sedikit binar di mata mereka.
"Rey?!" pekik mereka bersamaan.
Mereka menoleh ke pintu masuk, seketika orang yang dibicarakan ada di sana.
"Rey!" heboh mereka lagi sampai berdiri. Senyum ceria tak lepas dari wajah, seolah sudah seharian penuh menunggu.
Rey terkejut, tetapi tetap melangkahkan kakinya hingga menghampiri mereka. Memandang Vay dan Kal bergantian. "Aku baru masuk, kalian sudah mengenaliku?"
"Akhirnya kau kembali juga! Aku kira kau lenyap diterpa angin!" Vay memukul pundak Rey dua kali sampai Rey mengaduh dan memegang pundaknya.
"Aduh! Sakit, Vay." Rey meringis bodoh.
"Tentu saja kami tau. Suara sepatuku yang kau pakai tentu aku jelas mengenalnya." Kal mengendikkan bahu.
"Wah, benarkah? Kau hebat sekali!" Rey justru kagum pada Kal.
"Benar, 'kan? Aku memang hebat!" Kal tersenyum puas berbangga diri.
Rey menatap sepatunya dan beralih ke meja mereka yang penuh dengan piring kotor serta sisa makanan, "Kalian makan itu semua?"
"Jangan heran, Rey. Menunggumu membuat kami terpaksa memakan jatahmu. Kami sudah tidak sanggup makan lagi." Kal mengangkat tangan mendesah pasrah.
Rey menggaruk tengkuknya merasa bersalah, "Baiklah, aku minta maaf. Kalian, ayo ikut aku ke rumah batu itu! Kita punya teman baru!" mendadak memekik menunjuk pintu yang langsung terhubung ke bangunan besar berbatu.
"Hah?! Teman baru?!" Vay melotot.
Kal menatap bayangan rumah batu dan Rey bergantian, "Jangan bilang mereka?" menunjuk pintu terkejut.
Rey mengangguk lugu, "Aku sudah berkenalan dengan mereka dan sesuai dugaanku, mereka ada di jalan yang sama dengan kita. Selain itu juga bukan orang biasa."
"Kau ... kau yang benar saja? Jangan menganggapnya santai seperti itu, Rey! Mereka berbahaya! Lihat saja caranya bermain senjata, seperti mengamuk demi mendapat uang. Yah, meskipun mereka sangat menghibur." Kal masih menunjuk pintu tak santai.
"Tidak, mereka orang baik. Walaupun memang mengerikan." Rey meringis ngilu memikirkan apa yang telah terjadi padanya di sana.
"Tunggu!" Vay menunjukkan kelima jarinya di depan wajah Rey. Mata Rey sampai menjuling. Ternyata Vay memperhatikan sekujur tubuh Rey sambil mengerutkan dahi. Sontak dia berdiri dan memegang lengan Rey. Seketika Rey mendesis kecil dan Vay langsung melepaskannya. "Kau terluka, 'kan?! Apa yang mereka lakukan padamu?! Apa yang terjadi padamu di sana?!" nada marah serta khawatir Vay bercampur menjadi satu.
"Benarkah?" Kal melotot dan ikut memperhatikan Rey. Dia ternganga, "Wajahmu sedikit pucat! Aku bisa mencium bau anyir dan besi yang berkarat. Kau diapakan, Rey?!" Kal berdiri tak terima bersama Vay.
Rey bingung menjawabnya, "Eee, aku sempat pingsan dan dirantai. Nanti aku ceritakan, sekarang kita harus ke sana karena bukuku masih ada di sana. Kalian pasti akan terkejut mengetahui siapa mereka. Mereka pelopor kerajaan sejati!"
"Mendadak bersemangat menceritakannya. Memangnya siapa mereka? Aku tetap tidak terima karena kau diperlakukan tidak wajar. Aku akan balas dendam!" Vay menyingsingkan lengan bajunya dan hendak pergi, tetapi Rey mencekal tangan Vay. "Kau bahkan memegangku, Rey?" Vay terbelalak tak percaya.
Rey segera melepaskan Vay, "Ah, maaf, tapi dengarkan aku dulu. Jangan berkelahi! Mereka bukan lawanmu karena mereka adalah pelindung utama istana kerajaan." dengan dahi berkerut yang menunjukkan keseriusannya mampu membuat geram dan pergerakan Vay terhenti.
"Apa?!" bukan hanya Vay, melainkan Kal pun berteriak.
Rey mengangguk cepat, "Gadis yang bermain cemeti besi tadi bernama Zee Rui dan laki-laki tegas dalam ilmu pedang tadi bernama Fang Xizan. Mereka dinding pertahanan utama kerajaan kalian."
Rey menjelaskannya tergesa-gesa agar Vay dan Kal tidak buru-buru kabur untuk menyerang Zee dan Fang.
"Apa katamu?!" mereka memekik lagi. Bola matanya seakan ingin lepas kendali dan akhirnya mulutnya yang terbuka lebar itu ditutup paksa oleh tangan mereka kasar.
"Pelindung utama istana kerajaan?! Mereka?! Sungguh?! Jangan bercanda!" lanjut Vay dan Kal bersamaan.
Rey berdecak mengiyakan. Lalu, Vay dan Kal saling pandang. Mencoba menimang apakah itu benar. Karena mereka diam akhirnya Rey melanjutkan ucapannya.
"Gadis itu pelindung senjata pusaka kerajaan. Kekuatannya sungguh luar biasa. Sedangkan laki-laki berwajah dingin adalah seorang yang ahli menggunakan senjata apapun. Dia seperti panglima perang yang ada di tangan kanan Raja secara langsung. Keren, bukan?!" Rey bersemangat.
"Mereka bukan rakyat biasa!" teriak Vay dan Kal lebih keras dari sebelumnya sambil memukul meja. Aksi mereka menimbulkan orang-orang di ruangan itu menoleh dengan berbagai ekspresi.
Rey menaruh telunjuk di bibirnya, "Ssttt! Diam! Mereka menyembunyikan identitasnya. Jika sampai ketahuan mata-mata Raja, mereka bisa ditangkap."
Seketika Vay dan Kal menutup mulutnya dengan tangan rapat-rapat. Tidak peduli keluhan orang-orang atas teriakan mereka, Vay dan Kal masih membicarakannya sambil berbisik.
"Ternyata begitu. Pantas saja aku seperti pernah melihat yang laki-laki. Dialah Fang Xizan, orang yang ditakuti seluruh musuh kerajaan. Aku pernah melihatnya saat aku sedang membuat pertunjukan di jalanan dekat istana, tapi aku tidak tau jika dia dekat dengan gadis berkekuatan besar seperti Zee Rui. Konon, gadis itu bisa mengendalikan pusaka yang tak terkendali bahkan terkena pengaruh jahat sekalipun. Sihir yang dia miliki memang unik. Tidak kusangka aku bisa melihat dua pelindung setia istana kerajaan di tempat seperti ini. Aku sulit menelannya," bisik Kal tergesa-gesa. Dia sampai tidak melepaskan tangannya yang menutup mulutnya.
Rey tersentak ringan, "Kau pernah melihatnya?"
"Iya, tapi hanya yang laki-laki. Mereka bagai sayap kanan dan kiri. Luar biasa!" kata Kal melebih-lebihkan. Dia mengangguk dan menggeleng masih tidak mengerti dengan situasi yang menimpa.
Vay mendesah, "Lalu, sekarang mereka dalam satu jalur bersama kita. Bagaimana menurutmu?" menaikkan dagunya bertanya pada Kal.
Kal menatap Vay, "Apa lagi? Pintu keluar ada di depan mata. Kita lanjutkan saja."
"Apa semudah itu? Maksudku, kita hanya rakyat biasa, sedangkan mereka prajurit dengan tingkat tertinggi yang disegani. Akan sangat canggung di perjalanan nanti. Aku takut jika kita tidak akan bisa bekerja sama." sebelah alis Vay terangkat.
"Tenang saja, mereka teman. Lagipula buku Leazova kembali memunculkan kisah selanjutnya dan itu tentang mereka. Berhenti di halaman yang mendekati pertengahan buku," kata Rey sungguh-sungguh. Senyumnya tak kunjung pudar membuat wajahnya terlihat naif.
"Apa?!" Vay dan Kal memukul meja lagi sampai Rey mendelik dan memejamkan mata.
"Mereka juga sudah mengetahui asal-usul diriku." lanjut Rey membuka sebelah matanya.
Baik Vay maupun Kak seperti tersedak ludah sendiri. Kabar ini terlalu mendadak dan sangat sulit diterima. Namun, mereka sadar telah mendapat rekan yang hebat.
"Sejauh ini aku tidak pernah bertemu orang-orang dari istana. Aku hanya berurusan dengan petinggi kecil yang semena-mena di dermaga. Sekarang tanpa sengaja kita masuk dalam lingkaran dua dinding pertahanan kerajaan? Aku mulai sesak napas!" Vay mengipasi wajahnya dengan tangan.
"Jangan panik dulu, Vay! Minum, cepat minum!" Kal memberikan secangkir air pada Vay dan Vay segera meminumnya.
Rey mengerjap lalu menghela napas panjang, "Aku juga tidak menyangka, tapi kita tetap harus berjalan bukan? Jalan cerita sudah tertulis. Kita harus mencari sambungannya."
"Kau benar, tapi bukan berarti aku harus menurut dengan mereka, Rey. Aku hanya akan menurutimu dan mengikuti jalanmu." kata Vay sambil menatap Rey.
Kal pun mengangguk, "Iya, aku juga! Aku tidak mau menjadi bawahan dua orang kerajaan itu. Meskipun mereka baik, aku masih merasa mereka pasti akan mempermainkan kita karena kita hanya rakyat biasa."
"Kalian terlalu pesimis. Jika ingin tau bagaimana mereka lebih baik ikut saja, ayo!" Rey terpaksa menarik lengan Vay dan Kal karena wajah mereka sudah mulai suram.
"Eh, tunggu-tunggu! Aku belum menghabiskan sisa makanannya!" elak Vay berusaha menghindar.
"Kalian sudah tidak sanggup makan lagi." Rey tetap memaksa Vay dan Kal secara halus.
Mau tidak mau mereka menurut. Langkahnya cukup malas untuk mendekati bangunan batu yang terasa lembab tersebut. Pintunya terbuka sendiri ketika mereka tiba di depan pintu membuat Vay dan Kal sedikit memekik dan menjauh terlebih lagi saat pintunya tertutup dengan sendirinya. Rey langsung menyapa pemilik rumah dan membawa kedua temannya ke dapur.
Sambutan yang hangat dari Fang dan Zee karena ada banyak minuman dan makanan lebih dari apa yang disuguhkan untuk Rey membuat Rey, Vay, dan Kal terbelalak tak percaya. Rey menggaruk rambutnya pelan tanda bingung. Zee cukup sopan untuk mengucapkan selamat datang dan mengajak mereka duduk. Bahkan Fang sampai tersenyum meskipun tidak bicara.
Sudut bibir Kal berkedut, "Ada apa di sini?" gumamnya seraya duduk dan mendengarkan ocehan Zee.
"Mereka terlalu ramah," sambung Vay berbisik.
'Apa yang terjadi dengan mereka?' pikir Rey terhadap Fang dan Zee.
Mereka duduk dalam meja dan kursi yang melingkar. Bukan hanya Zee yang bicara dan memperkenalkan diri, tetapi Fang pun ikut andil. Dia menyerahkan buku Leazova pada Rey dan berkata sudah membaca semuanya. Setelah itu, mereka minum dan menjadi teman baik. Tak segan-segan tawa Vay dan Kal menggema di dapur hingga ke lorong-lorong. Hilanglah sudah asumsi buruk Vay dan Kal di persinggahan.
'Akhirnya seperti ini, ya?' heran Rey dalam hati.
Acara makan dan minum itu berlangsung sampai sore. Rey sudah malas dan lelah menanggapi. Diam menjadi satu-satunya pilihan baginya. Namun, mereka berempat masih dalam kondisi prima, meskipun Rey yakin Kal sudah tak sanggup untuk minum lagi. Wajah penyanyi jalanan itu memerah sambil memegang gelas yang penuh isi.
"Hahaha, aku tidak tau jika kalian juga terpilih dalam cerita," kata Kal yang mungkin setengah sadar.
"Iya-iya, aku juga tidak menyangka akan dapat teman yang lucu, haha!" Vay menunjuk Zee yang juga tertawa anggun.
"Aku terkejut kalau kau yang menyelamatkan Rey! Kau benar-benar menakjubkan! Bagaimana bisa kau mengenal Rey sebagai pembawa cahaya kami? Ayo katakan!" Zee antusias pada Vay.
"Hmm, mungkin takdir. Ahaha, apa aku benar, Rey?" Vay melirik Rey membuat Rey hanya berdeham ringan. Kemudian, mereka tertawa lagi.
'Ck, Zee yang terlihat manis itu mengapa bisa sangat akrab dengan Vay yang seperti laki-laki?' heran Rey dalam hati.
Dalam sekejap mereka menjadi teman dekat. Tidak ada keraguan sedikit pun kali ini. Tidak ada ketakutan seperti yang terlintas dalam benak. Semua itu mengalir begitu saja.
"Kau hebat, Rey Sann. Bisa mengumpulkan kami dalam waktu dekat." Fang meneguk segelas air sambil menutup mata. Ada semburat kebahagiaan yang tak bisa dijelaskan diwajahnya.
Seketika Rey tersentak dan menatap Fang. Dia bertanya-tanya apakah benar Fang yang berbicara demikian.
"Selanjutnya rute mana yang akan kau pilih? Semua tergantung padamu." Fang meletakkan gelasnya di meja dan tersenyum seutuhnya pada Rey.
Mata Rey membulat tak percaya. Orang yang mencurigainya terlalu besar itu memberi kepercayaan tinggi padanya. Rey sampai tidak bisa menggerakkan bibirnya untuk bicara.
"A-aku pikir akan keluar dari pulau ini jika tidak ada lagi yang bisa kucari di sini," jawab Rey terbata-bata.
Fang mengambil minuman lagi, "Pulau selanjutnya adalah pulau ketenangan yaitu pulau Biru Laut. Apa yang akan kau dapatkan di sana?"
"Hah?" Rey tergagap. Dia menunduk dan memikirkan sesuatu, "Aku tidak tau. Selama ini hanya mengikuti instingku. Sama seperti saat ini, keberanian itu muncul sendiri. Kurasa karena dorongan dari buku Leazova."
"Jadi, kau menunggu sampai buku itu memberi petunjuk?" Fang minum lagi.
"Tidak juga, aku berusaha sejauh ini. Itu cukup berat bagiku." Elak Rey seraya menatap Fang lagi.
Fang tidak melanjutkan ucapannya. Rey baru sadar jika laki-laki itu sudah kembali bertanya. Ini awal yang bagus.
"Aku mengerti. Jadi, kita akan pergi ke pulau itu?" tanya Fang lagi.
Rey mengangguk setelah diam tiga detik, "Kenapa disebut pulau ketenangan?"
Fang menyeka bibirnya yang basah karena minum, "Pulau itu dihuni oleh orang-orang yang tidak suka keributan. Mereka sangat harmonis dan jauh dari masalah. Jangan salah, semua orang di sana kuat seperti petarung. Keunikan lainnya, itulah pulau terindah di negeri ini, pulau Biru Laut. Lautnya lebih biru dan jernih dari laut manapun. Bahkan tanah dan tumbuhan hampir menyerupai biru. Seluruh bangunan di sana mayoritas berwarna biru laut. Seperti langit dan laut menyatu di pulau itu. Kau tidak akan bisa tidur di sana. Sangat disayangkan jika melewatkan pulau itu meskipun hanya satu detik."
"Wah!" Rey mendengarnya takjub. Segera membuka peta di halaman buku dan mencari gambaran pulau itu, "Emm, yang mana pulau Biru Laut?"
Fang tersenyum miring, "Jangan terburu-buru. Di sini." menunjuk sebuah pulau yang berbentuk tak beraturan dengan warna biru laut lebih mencolok dari yang lain.
Seperti terpantul cahaya, mata Rey berbinar, "Wah, luar biasa! Aku ingin ke sana!"
"Tidak semudah itu, Rey Sann. Kau harus melewati beberapa jalur untuk tiba di pelabuhan. Itu memakan waktu sekitar tiga hari," jelas Fang.
"Apa? Tiga hari?" senyum terpesona Rey menjadi hilang. "Itu lama sekali," gumamnya.
Zee menoleh, "Kita bisa menghemat waktu dengan naik kuda tercepat. Tidak ada pulau lain yang bisa didatangi selain pulau Biru Laut dari pelabuhan ini." menggeleng pelan.
Zee menyita perhatian semua orang. Tawa terhenti secara perlahan dan mendadak terkait dalam diskusi.
"Hmm, perjalanan kedepannya memang harus direncanakan. Tidak tau jika akan ada penghalang nantinya." Kal berpikir sambil mengelus dagu.
Mereka memandang meja untuk memutuskan sesuatu di benak masing-masing, terutama Rey yang sampai membuka peta dalam buku lagi. Ada pusaran aneh di laut yang berada pada pulau penuh pengetahuan sekarang dan hanya ada satu pulau yang bisa menjadi pijakan selanjutnya. Itu adalah pulau Biru Laut. Hal itu membuat Rey menatapnya cukup lama.
"Vay, bagaimana dengan cuacanya?" tiba-tiba Rey bertanya melenceng dari pembicaraan.
"Kenapa bertanya cuaca?" Vay mengerjap.
"Lihat, apa ini?" Rey menunjuk pusaran-pusaran kecil yang berada di pertengahan laut penghubung pulau. Semua orang melihatnya.
"Ah, aku lupa! Ada gunung aktif di dasar laut. Dilihat dari sejarah letusannya, belum saatnya ia meletus lagi. Akan terjadi sedikit gempa jika itu terjadi." jelas Vay sambil menepuk dahi.
"Ada gunung di dasar laut?!" pekik Rey.
Zee, Fang, Vay dan Kal mengangguk bersamaan. Rey mendesah tak menyangka, "Ternyata juga ada yang seperti ini. Cukup mengejutkan!"
"Iya, kurasa bukan ancaman untuk besok. Kalau cuaca sampai dua hari kedepan cerah, maka kita bisa berlayar dengan mudah. Jangan khawatirkan pusaran air itu. Mungkin hanya tanda untuk adanya gunung berapi di bawah laut," lanjut Vay.
"Wow! Kau hebat sekali! Padahal kau penjual ikan, tapi bisa memprediksi cuaca!" Zee bertepuk tangan.
"Haha, biasa saja. Aku menyentuh laut sejak kecil, hanya itu, haha." Vay mengibaskan tangannya malu.
"Hebat sekali? Ck, aku jauh lebih hebat." Kal memasang ekspresi iri membuat Fang tersenyum sampai giginya terlihat.
"Kurasa kau sering berada di dekat istana. Aku merasa sering melihatmu," ujarnya.
"Tentu saja! Aku ini terkenal baik di kalangan gadis muda sampai tua, haha! Kau juga cukup terkenal, Tuan Fang. Akan ada banyak peluang untuk menggoda gadis bersama nanti." Kal menaik-turunkan alisnya.
Fang berdecih, "Aku tidak terlalu tertarik pada perempuan."
"Ayolah, jangan jadi seperti Rey," bujuk Kal.
"Kalian bicara apa?" Vay mengatakannya dengan wajah datar.
"Ahaha, lupakan saja. Sekarang lebih baik kita pikirkan rencananya lagi," kata Zee ramah mencoba melerai Vay dan Kal yang akan berdebat.
Rey merasa harus mengambil keputusan sendiri. Teman-temannya hanya bergantung padanya saat ini meskipun dia yang paling lemah. Namun, setelah melihat pusaran itu lagi, tidak ada tanda gunung ataupun hal yang perlu diabaikan, justru terlihat seperti ancaman yang harus dihindari.
'Buku Leazova, kenapa tidak menceritakan sampai adegan peralihan satu pulau ke pulau lain? Berikan aku petunjuk sedikit saja seperti keberanian tadi pagi yang sekarang sudah hilang. Tunggu, kenapa aku tidak merasa takut? Biasanya aku selalu takut, tapi setelah mendadak berani kenapa tidak ada takut sama sekali? Apa karena bertemu Zee dan Fang? Apa mungkin karena buku Leazova yang mendadak hangat sebelumnya? Tidak-tidak, pasti ini adalah insting yang digerakkan oleh buku. Apa itu artinya aku telah dikendalikan buku?!' Rey berasumsi terlalu banyak dalam hati.
Prediksi tidak bisa dijadikan jaminan keamanan. Tidak tahu mengapa, tetapi Rey mempunyai firasat buruk untuk pergi. Sayangnya, dia harus tetap pergi dari pulau ini. Sebenarnya ada satu lagi yang membuat Rey curiga dan memutuskan untuk pindah, yaitu mata-mata Raja Heng Louyan lebih banyak bergerak di pulau tempatnya tinggal karena pengetahuan di tempat ini sangat dijaga ketat. Terlebih lagi, bangunan batu yang besar ini tidak pernah dimasuki tamu dan sekarang ada tiga pemuda yang dibiarkan masuk. Pastinya menimbulkan kecurigaan kecil. Rey harus segera pergi agar identitasnya dapat disembunyikan lebih lama.