13. Identitas Dua Petarung Hebat

2564 Words
Satu kata itu masih terngiang di telinga Zee hingga merasuk ke syaraf otaknya. Sebelumnya tidak pernah terjadi. Senyum itu dan kata teman yang terlontar begitu saja dari mulut orang tak dikenal menggerakkan beberapa batu di hati Zee. Dia salah satu pendekar perempuan yang dibalik senyum ramah dan sifat malunya terdapat keganasan sang pembunuh berdarah dingin. Tidak ada yang mau berteman dengannya meskipun dia berparas rapi. Merah muda di bibir dan pakaian tidak menghilangkan jati diri gadis itu. Hanya Fang yang selama ini menjadi sosok seorang teman. Lalu, kedatangan Rey adalah keajaiban di hatinya. Terlebih lagi senyum yang tulus seperti itu hanya Fang yang pernah memberikannya pada Zee. Mengapa Rey melakukannya? Mungkin bagi Rey itu normal, tetapi tidak untuk Zee. "Teman?" Zee meneleng polos. Rey mengerjap dua kali, "Iya, teman. Kau tidak mau berteman denganku? Maaf, kalau begitu aku akan sedih." menunjukkan deretan giginya dan menggaruk tengkuk. Bola mata Zee semakin melebar. Sikap yang sering dia jumpai ketika berada dalam arena adalah takut dan kagum, tetapi laki-laki di depannya menunjukkan sifat lugu. Zee kesulitan mencerna semua itu. Rey menaikkan alisnya tanda bertanya. "Kau sungguh tidak mau berteman denganku?" dia bertanya dengan sangat hati-hati. Zee tersentak dan segera mengangguk, "Iya-iya, tentu saja aku mau. Mari berteman, haha. Terima kasih sudah mengajakku." tertawa kaku untuk membuktikan betapa sederhananya dia menerimanya. Lalu, sedikit penasaran, "Emm, apa kau tidak takut padaku?" Rey yang terus menyunggingkan senyum pun menjadi heran, "Kenapa harus takut? Hanya karena kau lihai bela diri tidak akan membuatku takut." "Benarkah?" Zee seperti takjub. Rey menahan tawanya, "Kenapa wajahmu lucu sekali?" "Eh?" Zee menepuk kedua pipinya. Rey pun terkekeh, "Ayo, sebelum Fang memarahiku lagi." meringis sekilas dan segera berbalik untuk mendekati Fang. Zee masih tertinggal di sana. Tanpa adanya petunjuk dari Zee tidak mungkin bagi Rey untuk memasuki lorong yang bercabang. Tidak sopan untuk menjelajahi rumah orang tanpa izin dari pemiliknya. Sehingga dia menunggu Zee yang masih mengatur getaran aneh di dadanya. "Pipiku ... memerah," gumam Zee. Lorong-lorong unik seperti gua yang diberi pintu kayu. Ruangannya sedikit bergema meskipun terdapat ventilasi udara termasuk dapur. Meja, kursi, dan peralatan memasak yang tertata rapi. Semuanya terbuat dari batu, kayu, dan besi. Tidak ada kaca kecuali cermin milik Zee. Ada beberapa tanaman kering di nampan dari anyaman bambu. Mungkin itu sejenis tanaman obat atau bahan bumbu yang digunakan untuk memasak. Sebelumnya Rey juga bisa melihat kandang ayam yang dipasang rantai di ujung pintunya dari lorong yang bersebelahan dengan dapur. Mereka memiliki banyak ayam. Ternyata ayam-ayam itu bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri, melainkan mereka menjual telurnya dan ayam yang sudah besar. Rey baru tahu jika ada pendekar yang bisa berternak ayam. Selain itu rumput alami ditanam di sekitar kandang. Rey tidak berani bertanya, tetapi rumput itu ditata sedemikian rupa seolah memiliki fungsi lain. Saat ini mereka sedang duduk di tikar dan makan bersama. Rey akui Zee sangat pandai memasak. Di sela menikmati makanan itu mereka saling melempar pertanyaan kecuali Fang yang tidak akan bertanya lagi hari ini. Dia membiarkan Zee mengintrogasi Rey sepuasnya. Rey mengatakan awal mula kedatangannya di kerajaan Leazova, tetapi tidak mengatakan dari mana dia berasal. Keanehan asal-usul Rey semakin membuat Fang dan Zee gemas. Rey akan mengatakannya ketika Fang dan Zee memberitahu tentang identitas mereka. Lalu, mereka tidak punya pilihan selain bicara jujur. "Sepertinya kau memang tidak memiliki tipu muslihat," kata Fang sebelum memulainya. Dia menggigit daging ayam kasar sambil memandang Rey. Rey meringis ngilu. Tersenyum kecil bisa membuatnya selamat dari tatapan tajam Fang. "Rey, orang baik saja tidak cukup untuk membuat kami percaya, tapi kau istimewa. Jadi, kami akan mengatakannya. Di saat kekacauan di tengah kedamaian kerajaan, kami jauh lebih berhati-hati," kata Zee membuat Rey menoleh heran. "Kenapa? Apa kalian ada kaitannya dengan masalah kerajaan?" Pertanyaan spontan dari Rey mengundang Fang dan Zee untuk saling pandang beberapa detik. Lalu, Zee menunduk. "Fang, kau saja yang bicara," pintanya dengan nada lembut. Hal itu menaikkan rasa penasaran Rey. Fang mendengkus dan meletakkan daging ayam yang dia pegang, "Kami bukan penghibur jalanan dengan aksi bela diri. Kami adalah pelindung utama istana kerajaan Leazova." Penekanan kata Fang menunjukkan betapa seriusnya dia. Bahkan Zee tidak tersenyum. Rey terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. "A-apa?" Identitas mereka jauh dibandingkan dugaan Rey. "Zee Rui penjaga senjata pusaka legendaris. Sedangkan aku adalah orang yang bisa menggunakan senjata-senjata itu di bawah wewenang langsung sang Raja. Zee bisa mengendalikan semua energi kekuatan dari pusaka, sayangnya kuasanya telah hilang. Bersamaan dengan Raja terdahulu, kami dikalahkan oleh penyihir jahat Heng Louyan. Tahta kerajaan seharusnya tidak boleh berada di tangan penyihir itu! Semua kuasa senjata dan pusaka kerajaan musnah. Mengingat kau pandai, kau pastinya tau apa yang terjadi di negeri sihir ini. Selanjutnya kau bisa memikirkannya sendiri," jelas Fang lagi. Rey tak bisa berkutik apalagi berkedip. Dia menjadi tontonan Fang dan Zee yang menunggu reaksinya dari pernyataan itu. Seakan tersedak ludah sendiri, Rey berusaha mencerna semuanya. Dia mendesis dan tertawa kaku. "Ahaha, tunggu sebentar. Ini terlalu terburu-buru. Intinya ... kalian ini petinggi kerajaan seperti ketua militer dan semacamnya? Apalah itu aku tak tau, yang jelas Fang adalah petarung terhebat di penjuru kerajaan Leazova sekaligus pelindung utama dari kerajaan. Lalu, Zee adalah penakluk serta pelindung pusaka legendaris? Kalian prajurit nomor satu?" Rey mengatakannya masih dengan mata yang melebar. Fang dan Zee sedikit berpikir. "Yah, anggap saja seperti itu," kata Zee. "Itu artinya sihir Zee hilang bersamaan dengan kekuatan pusaka kalian, benar? Lalu, pusaka apa yang kau jaga? Pusaka apa juga yang hanya kau yang bisa menguasainya?" tanya Rey lagi. "Ada banyak pusaka yang kami lindungi. Semua itu senjata turun-temurun kerajaan yang bahkan asal-usulnya masih misteri. Mereka adalah kekuatan utama kerajaan. Dari semua senjata itu aku bisa menggunakannya, tetapi hanya satu yang tidak bisa kugunakan yaitu pusaka terhebat dalam setiap sejarah kerajaan. Hanya Raja lah yang bisa menggunakannya. Aku hanya tahu tekniknya saja. Zee juga hanya tau cara mengendalikannya saja agar tidak berbahaya bagi semua orang. Pelindung yang telah kalah seperti kami harus menyamar menjadi penduduk agar bisa bertahan hidup dan menggulingkan tahta Raja Heng Louyan." Fang menjelaskan semuanya. Tangannya sampai terkepal kuat. Rey menunduk setelah mendengarnya, "Penjelasan yang rumit. Intinya kalian tangan kanan Raja. Bagaimana dengan rumah batu ini?" "Ini gudang persenjataan di mana hanya kami yang bisa membukanya. Bahkan pasukan perang khusus pun tidak berhak membukanya. Karena kami kalah, jadi tinggal di sini. Tentu saja ada banyak jebakan. Itu sebabnya kami merantaimu dan membuatmu pingsan karena kami curiga padamu." Fang kembali makan. Ekspresinya sudah tak setajam sebelumnya. Zee pun mendongak dan menunjuk atap rumah, "Kau lihat itu, Rey?" Rey ikut melihat langit-langit bangunan. Seketika dia membungkam mulutnya, "Astaga! Apa itu?!" Terdapat banyak besi setajam pedang yang memenuhi langit-langit tepat di atas mereka. Bola mata Rey bergerak-gerak takut. Jika semua senjata itu jatuh maka tamatlah dia. Zee tersenyum manis seolah bukan hal yang berbahaya, "Itu salah satu jebakan kami. Kalau kau macam-macam jangan salahkan mereka jatuh di atas kepalamu." "Aaaa!!! Tidak-tidak! Jangan lakukan itu, aku mohon!" Rey menutup wajahnya dan berteriak. Zee justru tertawa dan Fang hanya tersenyum tipis, "Kau ini penakut sekali! Itu hanya besi tajam biasa. Kami tidak akan melakukannya padamu." Napas Rey berubah terengah. Dia menata rambutnya lagi sambil mengerutkan dahi, "Itu berbahaya! Bisa membunuh orang!" Zee meneleng, "Kenapa kau menutup separuh wajahmu dengan rambut?" tanya Zee dengan wajah lugu. Rey bingung menjelaskannya. Dia memandang sekeliling, "Aku ... tidak mau dikejar lebih banyak gadis jika wajahku terbuka keseluruhan." "Pecundang yang pemalu," kata Fang santai. Rey tidak memperdulikan hinaan Fang. Dia terus menata rambutnya hingga matanya yang sebelah tertutup sempurna. Namun, dengan sangat cepat Fang menyibak rambut Rey membuat jantung Rey ingin lepas. "Hei, apa yang kau lakukan?!" kata Rey separuh takut separuh tak terima, "Le-lepaskan aku!" Baik Zee maupun Fang terkejut. Bahkan lebih dari itu, mereka terpesona sampai tak bisa berkata-kata dalam beberapa detik. "Oh, kau tampan juga ternyata." dengan kasar Fang melepaskan Rey dan Rey segera menata rambutnya lagi. "Jangan ganggu aku, aku mohon," lirih Rey. Zee mengerjap berkali-kali. Fang menyenggolnya membuat Zee kembali sadar. "Kau terlalu dipenuhi warna merah muda," kata Fang pada Zee. "Eh? Tidak!" elak Zee sambil menutupi kedua pipinya. Fang hanya berdecak dan menahan senyuman. Rey yang tidak mengerti maksud mereka hanya bisa menghela napas panjang. Sayangnya ketika hendak meneguk air, Zee melontarkan pertanyaan untuk kembali ke topik semula. "Sekarang katakan siapa kau yang sebenarnya. Kedatangan dari langit bukan lah hal yang biasa saat ini," paksa Zee. Rey meringis pelan lalu menceritakan dirinya yang berada di dimensi waktu yang berbeda. Dibawa berkelana dengan buku Leazova hingga pada hari ini dan mencari jalan keluar. Rey menunjukkan bukunya lagi dan membuka buku tersebut dengan mudah sedangkan sebelumnya Zee dan Fang tak bis membuka buku itu. Kemudian, Rey menjelaskan bagaimana buku itu kosong dan terdapat tulisan secara mendadak serta peta kerajaan yang membawanya masuk ke negeri sihir. Semuanya jelas, tetapi Zee dan Fang tak percaya. Mereka memperhatikan peta itu lekat-lekat dan memang benar itu adalah pulau-pulau kerajaan mereka. "Kota Vier?!" pekik Zee dan Fang bersamaan. Rey mengangguk sambil tersenyum, "Kota tua yang penuh bangunan tinggi. Lebih besar dari rumah kalian. Jika kujelaskan secara rinci akan memakan waktu. Jadi, bagaimana? Bisakah kita bekerja sama?" Harapan muncul lebih dekat. Tujuan yang mulanya nampak jauh kini berubah seolah hanya tinggal satu langkah. Zee dan Fang masih membuka mulutnya tak percaya. Identitas Rey jauh dari bayangan mereka. Setelah mereka memikirkannya, maka jawaban dari pertanyaan Rey adalah iya. Mereka akan bekerja sama dan tokoh utama dalam tujuan mereka kini adalah Rey, orang yang membawa cahaya harapan bagi Zee dan Fang. Namun, sesuatu terjadi. Keajaiban yang membuat dua pelindung utama kerajaan mundur sampai terjungkal. Buku itu yang mulanya mereka pegang menjadi bercahaya dan terlempar ke meja. Rey berdiri tak percaya. "Mulai lagi! Sungguh sangat cepat! Kalian, kemarilah! Inilah keajaiban seperti yang kukatakan. Buku ini akan menceritakan tentang kalian!" Rey melambaikan tangan menyuruh mereka untuk kembi mendekat. Dia sangat antusias melihat buku itu yang cahayanya terus bertambah dan bertambah sampai menerangi ruangan dapur serta lorong-lorong yang terhubung. "A-apa itu?!" Zee berdiri perlahan dan mendekat. "Kau jangan bermain-main!" Fang pun melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit. "Tidak, lihatlah! Nanti kalian tau sendiri," Rey masih semangat. "Ck, kenapa kau tidak merasa silau?" Zee tak percaya karena Rey menatap buku itu dengan mata terbuka. Tidak seperti dirinya dan Fang yang sibuk menutupi matanya agar tidak terkenal pantulan cahaya. Rey tidak menjawab agar mereka terus berjalan maju. Rey merasa aneh karena buku itu bersinar jauh lebih lama daripada sebelumnya. "Kenapa lama sekali? Aku jadi merasa silau." barulah Rey menutup matanya dengan tangan. "YANG BENAR SAJA! CAHAYANYA SUDAH HAMPIR SETENGAH JAM!" pekik Zee dan Fang heran dengan Rey. "Aku juga tidak tau mengapa, tapi aku tidak merasa sangat silau. Hanya sedikit silau," jujur Rey. "KAU BUKAN MANUSIA!" teriak mereka lagi. Kini mereka saling berhadapan dan menunggu buku itu menyelesaikan aksinya. Rey cemberut, "Jangan memarahiku, aku tidak salah." "Ck, orang macam apa dia?" Fang masih geram. Dia bicara pada Zee. Zee mendesis karena tak tahan dengan cahayanya, "Mungkin orang-orang di dunianya juga aneh seperti dia." "Aku tidak seperti itu, sungguh. Aku juga bingung kenapa." Rey mendengarnya dan dia justru menggaruk kepala heran. "Apa?!" pekik Zee dan Fang tak percaya lagi. Setelah itu, cahayanya perlahan memudar. Rey mengerjap senang dan tak sabar menunggu kisah selanjutnya. Dia melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya, tetapi dia lupa jika benda itu dia lepas dan berada di tas pakaian Kal. "Kurang-lebih buku ini telah bersinar selama tiga puluh lima menit. Luar biasa! Apa yang akan terjadi jika bersinar terlalu lama?" gumam Rey yang masih bisa didengar Zee dan Fang. Kemudian, cahaya buku itu hilang seluruhnya. Mereka menghela napas lega dan melihat lebih dekat. Lalu, satu demi satu tulisan mulai muncul dan lebih cepat dari sebelumnya. Rey sampai tak bisa mengikutinya. Ketika sampai di ujung kertas, halaman itu terbalik dengan sendirinya dan lanjut memunculkan tulisan yang menyambung kata sebelumnya. Rey tersenyum karena kisah yang muncul kali ini membuat banyak halaman terisi. "Jadi itu sebabnya buku ini bercahaya jauh lebih lama. Ternyata ceritanya bersambung ke halaman yang lebih jauh!" binar mata Rey takjub. "Hah?!" Zee dan Fang kembali memekik. Mereka terlalu dikejutkan dengan semua ini. Napas mereka masih terengah. Rey paham dengan sikap mereka karena Vay dan Kal juga bersikap seperti itu, sehingga dia hanya membiarkannya saja. "Lihat! Fang, bukunya menulis sendiri! Dia bergerak sendiri!" Zee menunjuk buku itu tidak santai. "Zee, ini keajaiban!" jawab Fang yang kembali memandang serius buku itu. "Sungguh pertanda kemenangan ada di depan mata. Rey benar-benar pembawa cahaya!" Zee menggeleng dan mengingat slogan yang selalu dia katakan. Fang mengangguk setuju, "Cahaya itu ... Buku itu ... hanya Rey yang bisa melakukannya." Kemudian, mereka saling pandang dan mengangguk bersamaan. "Kita akan ikut dalam perjalannya," ujar mereka bersamaan dengan penuh tekad. Rey menatap mereka sekilas, "Apa? Kalian bicara apa?" Wajah lugunya benar-benar tidak bisa ditolak membuat Fang menepuk dahinya keras sedangkan Zee hanya tersenyum dan terharu seolah dia melihat pintu kebebasan ada di depannya. Padahal Rey hanya tidak bisa mendengar perkataan mereka karena terlalu fokus pada buku Leazova. Hingga buku itu selesai memunculkan tulisannya dan halaman yang terisi cukup banyak hampir berada di pertengahan buku. Rey segera membuka lembar ketika tulisan pertama muncul. Ternyata itu adalah bab baru di mana dia bertemu dengan dua orang yang sangat penting di istana kerajaan yang nantinya akan membantu Rey dalam perjalanan berikutnya. Nama mereka disebutkan. Zee dan Fang terkejut tak berkesudahan sampai mereka ingin pingsan. Mereka ikut membaca buku itu hingga halaman terakhir yang terisi. Ternyata kisah itu menceritakan tentang Zee dan Fang. Peran serta segala sesuatu yang mereka lakukan demi mengembalikan kerajaan. Termasuk pertunjukan bela diri dan slogan mereka, tertulis di sana. Sampai pada tekad sempurna pelindung utama istana kerajaan yang akan meninggalkan tempat persembunyiannya untuk melanjutkan perjalanan satu langkah lebih maju. Sayangnya, nama Rey masih tak disebutkan. Dari cerita tersebut, Rey benar-benar mengerti jika dua orang yang dijumpainya adalah kekuatan utama militer bahkan melawan Raja Heng Louyan habis-habisan setelah sang Raja dikalahkan. Sungguh pelindung kerajaan yang setia. Mereka akan bisa menuntun Rey kedepannya. Rey menutup buku itu sambil menghembuskan napas panjang. Zee dan Fang mengerjap. Mereka saling pandang dan tak bisa berkata apapun. "Segala hal yang terjadi saling berkaitan. Kisah kalian bahkan diceritakan lebih panjang daripada Vay dan Kal. Mungkin kalian akan menjadi peran penting dalam kisah selanjutnya. Kedepannya, aku mohon bantuannya." Rey memeluk buku itu sambil menundukkan kepala memohon pada mereka. Zee dan Fang tak habis-habisnya tersentak, "Ki-kita ada dalam cerita. Bagaimana bisa buku ini menceritakan tentang kita?" kata Zee. "Ayo bekerja sama." Fang mengangguk berusaha lebih tenang dari Zee. Rey kembali menatap mereka dengan senang hati. "Vay dan Kal? Siapa mereka?" tanya Zee lagi. Rey menyerahkan bukunya yang telah dia buka, "Kalian baca saja mulai dari awal. Kalian akan tau bagaimana aku dipertemukan dengan mereka dan perjalananku hingga sekarang. Mereka ada di persinggahan sedang makan. Apa boleh aku membawa mereka kemari? Kasihan menungguku terlalu lama." Zee langsung merebut bukunya dan mengangguk cepat, "Iya-iya! Panggil saja mereka kesini. Aku akan membaca bukunya. Terima kasih, Rey!" Fang mendelik, "Kau mendadak bersemangat." "Wah, ini luar biasa! Jadi benar kau hampir dibawa ke penguasa dermaga dan gadis bernama Vay si penjual ikan menyelamatkanmu. Hebat sekali dia!" Zee tak menghiraukan Fang dan Rey hanya tertawa ringan. Dia memiliki membaca dari halaman pertama. Rey pamit untuk menjemput Vay dan Kal. Karena Rey sudah pergi, Fang segera ikut membaca buku itu. Tiap kata dan tiap halaman mereka cermati dan mematenkannya dalam kepala. Kisah nyata itu tak bisa dielakkan. Mereka membuat keputusan bahwa masa depan kerajaan sihir Leazova akan muncul dalam buku Leazova dan menjadi sejarah. Cahaya kebebasan benar-benar nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD