Tembok berbatu telah membelenggu. Sama dengan senjata-senjata itu, Rey ditahan terikat rantai yang berbau anyir. Darah kering dari bekas sebuah senjata yang membelah seekor hewan mampu menyadarkan Rey yang pingsan beberapa saat. Sepasang mata lelaki lemah lembut itu terbuka perlahan-lahan. Kesadarannya menghilang untuk waktu yang singkat, dia sadar akan hal itu. Terkejut dengan keadaan terikat tidak membuat Rey berteriak panik seperti biasanya. Dia menahan bulat-bulat. Takut masih ada. Ada kesalahan di tempat besar ini. Namun, Rey memantapkan hati untuk tidak menyalahkan pilihannya sendiri telah datang ke lokasi mereka.
'Aku pingsan sungguhan,' batin Rey.
Tidak tahu mengapa napasnya menjadi terengah. Kepalanya pun terasa berat dan pusing. Menoleh sekeliling membuat jantungnya ingin loncat dari tempat. Seolah kini Rey hendak dieksekusi oleh orang yang tak dikenal. Senjata di kanan-kiri terlihat mengerikan. Rey ingat, setelah pintu tertutup dengan sendirinya, ada yang memukul tengkuknya dari belakang. Sebuah tongkat kayu yang cukup keras. Karena itu lah Rey pingsan.
Dia mendesis tidak tahu lagi harus bagaimana. Bicara meminta tolong atau sekadar menyapa pemilik rumah, rasanya tidak mungkin dia lakukan. Sekarang yang bisa Rey nalar adalah pemilik rumah mengira dia adalah orang jahat, jika tidak Rey pasti dibiarkan bertamu tanpa harus dilumpuhkan terlebih dahulu. Kemudian, samar-samar suara ayam kesakitan terdengar. Itu juga tidak baik bagi jantung Rey. Dia menoleh ke sumber suara dengan mata melotot.
'Astaga, suara ayam? Bau darah dari mana ini? Baunya bercampur dengan rantai,' batin Rey.
Menelan ludahnya pahit. Menutup mata bersabar sambil mengatur napas. Berharap dirinya tidak mati di sana. Sesuatu semacam barang jatuh dengan amat keras pun terdengar. Terpaksa jantung Rey menjadi lebih tidak stabil. Dirinya teranjak sampai rantai yang mengikatnya berbunyi.
"Astaga!" mulutnya pun tak sadar memekik. Sontak Rey menggigit bibir bawahnya, "Aku bersuara! Tidak, jangan mengundang mereka datang, Rey!" pekiknya menyambung.
Rey ingin menangis. Mengapa dirinya dibuat takut seperti ini sedangkan hatinya memiliki niat baik untuk bertanya.
"Oh, sepertinya ada yang sudah sadar."
Rey terbelalak. Dia celingukan mencari sumber suara. Itu suara laki-laki dengan nada yang dalam. Keringat dingin pun mulai bermunculan di kening Rey.
'Si-siapa? Gawat! Bunyi rantai ini terdengar oleh mereka sungguhan. Bagaimana ini?' gelisah Rey dalam hati.
"Benarkah? Wah, kebetulan sekali. Aku sudah lapar."
Itu suara gadis manis yang menarik perhatian Rey. Napas Rey tercekat.
"Lapar? Apa mereka mau memakanku?" gumam Rey dengan sisa keberaniannya.
Kemudian, langkah kaki pun terdengar. Rey mengalami senam jantung yang tak berkesudahan. Langkah itu mulai dekat dan semakin mendekat. Namun, ada suara lain yang mengganggu telinga Rey. Suara seperti pisau yang diasah dengan pisau lain beriringan dengan langkah mereka. Anehnya, telinga Rey menjadi lebih waspada dan instingnya bekerja cepat. Rey pikir karena efek dari bangunan batu ini yang begitu besar bahkan suaranya pun sedikit menggema. Rey bisa menduga jika dua orang sedang menuju padanya dengan ekspresi yang berbeda.
Rey harus menelan ludahnya yang pahit kembali sebelum menghadapi berbagai ujian selanjutnya. Matanya terpejam kuat. Tangannya bahkan ikut terkepal. Tidak berani melihat sosok yang menghampirinya meskipun mereka telah berhenti membuat suara langkah kaki. Tepatnya napas mereka saling berhadapan sekarang. Mereka berada tepat di depan Rey.
"Siapa kau?"
Satu pertanyaan yang mampu bergemuruh di hati Rey. Laki-laki yang bertanya padanya seakan mendominasi ruangan. Rey tidak mampu menjawabnya. Lidahnya kelu dan bibirnya tidak mau terbuka.
'Benar, pelakunya memang dua orang itu. Apa mereka orang jahat? Permainan ini membuatku ingin pingsan lagi,' keluh Rey yang merengek dalam hati.
Suara nyaring dari pisau yang diasah terdengar lagi dan menyakiti telinga Rey, seakan hatinya ikut teriris ngilu.
"Aku lapar, ayo kita sudahi saja," ujar seorang perempuan dengan nada memohon.
Kerutan di dahi Rey menjadi berubah lurus. Dia merasa nada bicara tersebut bukanlah hal yang seharusnya keluar dari mulut orang jahat. Tangan dan kaki Rey bergetar dan ditangkap mereka.
"Dia ketakutan." kata perempuan itu lagi tanpa berhenti memainkan pisau.
Laki-laki itu menoleh dan kembali memperhatikan Rey dari atas sampai bawah. "Pertanyaan terakhirku, siapa kau?"
Mengulang kata yang sama membuat perempuan itu berhenti bermain pisau. Sayangnya Rey masih takut untuk menampakkan diri.
"Le-lepaskan aku, aku mohon," lirih Rey. Suaranya terdengar hampir menangis.
"Ck, memalukan bagi laki-laki untuk menangis. Zee, lepaskan dia! Lagipula dia terlihat lemah!" kata-kata itu sangat menghina. Rey sangat yakin orang yang menunjukkan gaya bela diri menggunakan pedang itu lah yang berbicara.
Perempuan yang dipanggil Zee itu mengangguk dan melepaskan rantai Rey menggunakan pisau yang dia pegang. Dia memukul rantai itu dengan punggung pisau dan seketika semua rantai yang mengikat Rey terlepas. Rey luruh tak kuasa berdiri. Dia terus menunduk, tetapi matanya kini telah terbuka.
"Sepatu yang bagus," kata Rey lemah.
"Hmm?" dua orang itu bertanya-tanya.
Rey mengerjap dan terus memandang sepatu mereka.
"Permainan bagus dan penyergapan yang bagus. Kalian bukan orang biasa. Siapa kalian?" tanya Rey menyambung ucapannya dengan berani.
'Tidak-tidak! Itu keluar begitu saja! Bagaimana bisa aku punya keberanian sebesar itu?! Mereka pasti akan memakanku sekarang! Dasar Rey, apa yang kau lakukan?!' pekik Rey dalam hati.
Dia menyesal, tetapi bisa dikatakan tidak menyesal. Bagaimana pun juga dia harus menyelesaikan tujuannya, jika tidak sia-sia saja dia memantapkan diri untuk datang.
"Oh, pandai menganalisa rupanya," balas laki-laki itu.
Napas Rey tetap terengah. Hal itu membuat perempuan bernama Zee bingung.
"Kami tidak melakukan apapun padamu, kenapa kau terlihat lelah?" tanya perempuan itu cukup penasaran.
Dahi Rey berkerut, "Bau anyir dari rantai dan pisau. Apa kalian pembunuh yang menyamar sebagai penghibur jalanan yang sangat lihai bela diri? Sugesti yang kalian berikan mampu menyihir semua orang. Itu membawaku datang kemari. Cahaya apa yang kalian maksud? Aku ingin tau semuanya."
"Lancang sekali!" laki-laki itu berseru marah.
Rey semakin mengerutkan dahinya dan terpejam sebentar sampai akhirnya laki-laki itu tidak menjawab lagi. Sesungguhnya Rey juga bingung mengapa dia bisa mengatakan pertanyaan itu dengan mudah. Apa dirinya telah dituntun? Apa mungkin buku Leazova pelakunya? Hanya itu yang bisa Rey curigai.
'Tidak, jangan menyesalinya, Rey. Ini juga baik, meskipun kau terancam. Mereka menakutkan sekali! Gadis itu terlihat lugu dan baik, tapi sebenarnya dia mengerikan, 'kan?' pikir Rey.
"Ahaha. Maaf, karena aku sedang menyembelih ayam dan sekarang sudah direbus. Rantai yang kupakai untuk mengikatmu adalah bekas rantai kandang ayam jadi masih ada bekas darah di sana. Pisau ini juga kugunakan untuk memotong ayam, jadi wajar saja kalau kau mencium darah," terang perempuan itu perlahan.
"Apa?" Rey mendongak. Seketika pandangannya beradu dengan perempuan itu. Mereka berdua tersentak bersamaan terlebih lagi gadis itu. Beberapa detik kemudian Rey menghela napas panjang.
'Pantas saja, darah dan suara ayam. Berarti mereka tidak akan memakanku, 'kan?' pikir Rey lega.
Namun, gadis itu masih tidak berkedip, "Tampan sekali!"
Tidak sadar dia bergumam dan mengundang perhatian Rey serta temannya. Lalu, dia menepuk pipinya dan sadar. Segera berlindung di balik laki-laki itu yang terus memasang ekspresi tidak bersahabat.
"Eee, aku hanya asal bicara. Kau jangan memasukkannya ke hati, ya," pinta gadis itu malu.
Rey mengerjap dua kali dan memberanikan diri untuk berdiri. Sekarang situasi sudah lumayan baik bagi Rey, kecuali sikap dari laki-laki itu. Kewaspadaannya terlalu besar.
'Dari mana datangnya semua keberanian ini?' Rey masih memikirkannya.
Gadis itu malu, bukan takut sehingga harus bersembunyi. Tangan kasar dari laki-laki itu menarik pisau yang dipegang sang gadis dan menodongkannya tepat di depan Rey.
"Aaaa, aku mohon jangan bunuh aku! Aku datang baik-baik!" Rey memejamkan mata lagi seraya mengangkat tangan.
Tidak ada suara membuat Rey membuka matanya lagi. Dua orang itu masih ada di hadapannya. Hening seolah pikirannya sedang dibaca. Rey mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lentera yang awet dan cukup memberi kesan Rey di hati yang paling dalam.
'Ini lebih menakutkan dari pada film horor,' batin Rey.
"Kau bukan dari kerajaan ini." laki-laki itu tiba-tiba hendak menusuk Rey. Rey hanya bisa melebarkan matanya.
"Jangan!" gadis itu menahannya.
"Ada apa, Zee? Dia bisa jadi mata-mata dari kerajaan lain yang memanfaatkan kondisi kerajaan ini! Aku akan membunuhnya!" bentak laki-laki itu.
Rey terkejut luar biasa. Nyawanya seakan berkumpul di ubun-ubun dan hampir melayang sebelum pisau itu mengenainya. Untunglah gadis itu menahan dan berdiri di depannya.
"Kita sudah berjanji untuk tidak melukai rakyat biasa. Merantainya saja aku tidak tega. Lihat, apa dia terlihat seperti mata-mata? Kurasa dia hanya orang yang kehilangan arah. Meskipun aku juga sedikit curiga padanya. Apalagi separuh wajahnya tertutup rambut. Cukup misterius." gadis itu melirik Rey.
Rey kembali membaik setelah mendengar gadis itu membelanya.
"Bagiku dia seperti orang bodoh," kata laki-laki itu.
'Jahat sekali!' pekik Rey dalam hati.
"Benar! Maka jangan memukulnya lagi." perempuan itu menggeleng.
"Oh, kau yang membuatku pingsan?" kata-kata itu keluar lagi begitu saja. Rey segera membekap mulutnya.
Laki-laki itu mungkin mengartikan hal lain tentang maksud Rey, sehingga gadis itu kembali mencegahnya berbicara.
"Lebih baik kau katakan siapa dirimu sebelum aku juga semakin tidak mempercayaimu. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani masuk ke rumah ini meskipun kami selalu membuat pertunjukan di depan rumah. Kau orang pertama yang bertamu, terlebih lagi sedang menanyakan identitas kami. Jangan salahkan kami kalau kami sedikit kasar padamu," kata gadis itu.
Rey mengangguk mengerti. "Maafkan aku yang lancang, tapi aku sungguh penasaran. Aku seorang pengembara, bersama dua temanku yang istirahat di persinggahan. Namaku Rey Sann. Kalian boleh memanggilku Rey. Maaf, sebenarnya aku sedikit gugup dan takut dengan kalian," katanya jujur.
"Pengembara? Berasal dari mana?" gadis itu bertanya lagi. Dia tahu jika temannya tidak akan bertanya lagi.
"Dari Dermaga Ikan Runcing." jawab Rey sambil sedikit menunduk.
Ekspresi mereka berubah seketika.
"Tempat di mana rumor baru yang beredar," kata laki-laki itu pelan. Namun, rasa terkejutnya begitu jelas.
Rey menaikkan kedua alisnya, "Apa kalian mengetahui sesuatu tentang rumor itu?"
"Tidak, tapi sebenarnya kami sedang mencari orang yang dirumorkan. Meskipun kami belum melakukan perjalanan." laki-laki itu sambil melipat tangan di d**a. "Kami tidak ingin kabar itu menyebar lebih luas hingga ke istana kerajaan," sambungnya.
"Apa? Kenapa kalian melakukannya? Bukankah hanya rumor?" Rey terbelalak.
Mereka mendesah dan gadis itu tidak lagi berada di depan Rey. Dia justru ikut serius. Tidak sengaja situasinya berubah menjadi pembicaraan yang dalam.
Gadis itu kembali bertanya, "Kami punya alasan tersendiri. Sebaliknya bagaimana dengan dirimu? Kenapa mencurigai kami dengan analisa yang sedikit?"
Rey memegang kepalanya yang masih terasa berat. Lalu, mencoba menutupi wajahnya lagi dengan mengurai rambut depannya. Dia diam beberapa saat. Jika Rey menjawab sedang mencari petunjuk untuk mengisi halaman buku, maka mereka tidak akan percaya dan semakin menganggapnya aneh. Hal itu membuat Rey berpikir untuk mengatakan identitasnya. Sedangkan pikirannya melayang ke mana-mana, khawatir dengan reaksi mereka. Di sisi hatinya, Rey percaya untuk mengatakannya. Dia menghela napas berat sebelum bicara. Lalu, membuat senyum yang terlihat cukup meyakinkan.
"Akulah orang yang dirumorkan itu. Percaya atau tidak, aku memang jatuh dari langit dan tiba di dermaga," kata Rey mantap.
Dua orang di depannya kembali tercengang, "Apa?!" seru mereka bersamaan.
Rey semakin tersenyum manis dan itu mampu menyihir mereka.
"Jangan bohong pada kami! Jika tidak aku akan melawanmu dengan sekuat tenagaku!"
Bukan laki-laki itu yang berbicara, tetapi perempuan yang tadinya membela Rey.
"Pernyataan yang terlalu terbuka. Aku bisa langsung mengetahuinya jika kalian akan melakukan apa saja demi mendapatkan orang yang ada dalam rumor. Untuk apa? Kerajaan? Kalian seperti polisi yang sangat setia. Siapakah kalian? Tolong, beritahu identitas kalian," Rey mengatakannya perlahan.
Napas mereka turun-naik tanpa sebab. Kecurigaan telah terukir di kening mereka.
"Katakan sekali lagi! Apakah kau bohong atau jujur?!" perempuan itu menodongkan pisau ya siap untuk menyerang.
"Aku mengatakan yang sebenarnya!" Rey mengangkat tangan dan menaikkan nada bicaranya.
"Sungguh?!" pisau itu dijatuhkan begitu saja, "Buktinya?"
Rey mendesah dan menunjukkan buku itu. Sudah banyak orang yang melihatnya membawa buku, jadi tidak masalah jika dia menunjukkannya. Lagipula Rey tidak menduga jika mereka begitu mempermasalahkan rumor tentang dirinya, sedangkan mayoritas orang hanya membiarkan kabar itu lewat seperti angin.
Buku itu tidak menunjukkan reaksi apapun. Tepat seperti dugaan Rey, ketika buku itu ditunjukkan, mereka segera merebutnya dan melihat dengan teliti. Anehnya ketika hendak dibuka, mereka tidak bisa membukanya. Rey juga tersentak. Lebih tepatnya buku itu tidak mau dibuka oleh mereka. Lalu, mereka memperhatikan Rey lekat sambil mengembalikan buku itu. Rey salah tingkah dan kembali memasukkan bukunya ke dalam pakaian.
"Rambut yang menutupi sebagian wajah, senyum manis, berkulit bersih, dan memiliki rasa takut yang tinggi seperti pengecut. Dia juga membawa sebuah buku yang tidak pernah dilepasnya. Semua karakteristik itu ada padanya," kata perempuan itu. Matanya melebar memandang Rey.
"Buku yang tidak bisa terbuka. Nama kerajaan ini terukir di sana. Kau ... apa yang kau rencanakan? Meskipun memang kau orang yang dikabarkan, tetapi tidak menghilangkan kecurigaan bahwa kau orang jahat! Katakan siapa kau sebenarnya secara lengkap!" tuntut laki-laki itu. Dia seolah tidak terpengaruh dengan karakteristik yang dikatakan temannya.
"Sebaliknya, kalian katakan jati diri kalian yang sebenarnya, maka aku akan menceritakan semuanya," jawab Rey tenang.
'Sungguh, aku tidak tau dapat keberanian dari mana. Seseorang katakan padaku, tolong!' pekik Rey dalam hati meskipun dia berbicara sangat tenang.
Mereka berdecak dan Rey berhenti tersenyum. Diam hanya berpikir di renungan masing-masing hingga lupa akan sesuatu di dapur. Kemudian, suara barang berjatuhan pun terdengar lagi membuat dua orang itu sadar.
"Oh, tidak! Ayamnya terlepas lagi! Pasti mengacaukan dapur!" gadis itu segera berlari ke pintu yang telah terbuka di salah satu lorong. Lorong itu terlihat sangat gelap.
"Dapur?" Rey meneleng menatap kepergian gadis itu.
"Ayam-ayam itu pasti mengamuk lagi membuat perabotan di dapur berantakan," jelas laki-laki di depan Rey.
"Ternyata itu sumber suara yang keras tadi. Menakutkan saja," gumam Rey.
"Kau bilang kami seperti polisi. Meskipun aku tidak mengerti yang kau maksud, tetapi aku tau kau memang orang yang sama seperti yang digambarkan. Cara bicaramu sedikit aneh dengan kami. Kalau benar begitu, maka terpaksa kami harus menahanmu. Sekarang kau dalam pengawasan kami, Tuan Rey Sann."
Rey meringis merinding. Suara berat orang di depannya memang mampu mengintimidasi. Rey menggeleng sambil menyilangkan tangannya, "Tolong jangan panggil aku tuan. Aku masih muda."
Laki-laki itu memutar bola matanya malas. Rey mencoba bersikap ramah, "Eee, bagaimana aku memanggil kalian? Tuan dan Nyonya?"
"Kami teman dalam satu persaudaraan. Namaku Fang Xizan. Cukup panggil aku Fang," kata laki-laki itu.
Rey tertawa kaku, "Ahaha, aku kira kalian berpasangan. Maaf, karena aku tidak tau." menggaruk tengkuknya merasa bodoh.
"Kalau aku Zee Rui. Panggil aku Zee. Ngomong-ngomong sikapmu ramah sekali!" gadis itu kembali muncul, tetapi hanya berdiri di samping pintu. Setelah itu pergi ke dapur.
"Fang dan Zee? Teman yang tinggal di satu atap dengan beragam senjata yang mematikan. Kalian unik sekali," kata Rey sambil melihat-lihat ruangan lagi.
"Dia sudah seperti adik bagiku. Kuharap kau bersikap baik, jika tidak aku tidak akan segan padamu," kata Fang.
"Kuharap kalian juga akan baik pada teman-temanku. Jika tidak aku tidak akan mengatakan siapa aku sebenarnya," kata Rey tanpa berhenti memutar bola matanya untuk melihat setiap detail ruangan. Fang hanya berdecak menanggapi.
"Wah, rumah yang hebat! Batu-batu ini kokoh dan asli!" Rey menyentuh dinding di belakangnya.
Fang tersenyum miring, "Nanti kau akan tau sebenarnya tempat ini."
"Artinya rumah ini juga memiliki rahasia?" tanya Rey tanpa sungkan.
"Seperti yang kau pikirkan," jawab Fang.
Rey menatap Fang ragu, "Kalian unik! Apa senjata-senjata ini asli?"
Fang mengangguk dingin, "Masih banyak di dalam."
Bulu kuduk Rey merinding, "Jadi ini belum semuanya?"
Fang tersenyum miring, "Kau pecundang."
"A-aku tidak pernah memegang senjata selain pisau dapur. Tidak masalah kau mau menyebutku apa," kata Rey masih merinding.
Fang menghela napas malas, "Kau punya dua kepribadian."
Rey memundurkan kepalanya dan menggeleng, "Bukan, aku juga tidak tau mengapa bisa berasumsi demikian pada kalian."
Rey mengerti jika Fang memperhatikan gerak-geriknya dari tadi. Sifat pengecut dan berani bercampur menjadi satu, ekspresi yang berubah-ubah, semua itu jelas tertangkap Fang. Ketika Rey dibiarkan diam karena Fang hanya terus melihatnya, Zee keluar dari lorong berpintu dengan membawa nampan besar berisi makanan yang baru matang. Hal itu menarik perhatian Rey dan Fang. Harumnya begitu menggoda selera. Hangat dan penuh di nampan. Senyum Zee tak kunjung hilang sampai dia membawanya ke hadapan Rey dan Fang.
"Ayam asin pedasnya sudah matang! Ayo makan, Fang! Kau juga ikut, ya, Rey. Perutku tidak bisa menahannya lagi," kata Zee senang. Tangannya tidak terasa kepanasan memegang nampan itu.
Fang mendesah dan mengambil alih nampannya, "Aku saja yang bawa. Ayo!"
Rey mengerjap bodoh karena Fang tersenyum. Laki-laki dingin itu langsung kembali ke lorong setelah Zee mengangguk. Gadis itu meneleng menatap Rey yang terus memandang kepergian Fang. Segera Zee mengerti isi pikiran Rey.
"Kau tidak perlu cemas. Itu ayam yang baru saja kami sembelih. Karena kau dalam lingkaran kami jadi kau harus makan bersama kami. Aku sengaja membuatnya untukmu karena tidak terlalu tega mengikatmu dengan rantai tadi. Maafkan kami, ya," jelas Zee membuat Rey menoleh dan tersenyum kaku. Senyum itu membuat semu merah di pipi Zee sampai gadis itu mundur dua langkah. "Kalau kau tersenyum terasa lebih manis dari Fang," jujur Zee.
"Eh?" Rey berkedip satu kali.
Zee kebingungan dan mencari pembahasan lain sehingga dia menyuruh Rey untuk berjalan terlebih dulu untuk menyusul Fang.
"Zee Rui, itu namamu, 'kan?" tanya Rey pelan ketika hendak masuk lorong.
Gadis itu segera mengangguk. Dia berada di belakang Rey, "Iya, senang bertemu denganmu."
"Aku lebih senang bertemu denganmu." Rey tersenyum manis sampai lesung pipinya terlihat dan matanya sedikit menyipit.
Zee menepuk kedua pipinya. Mulutnya pun membulat, "Tidak-tidak, kenapa begitu?"
"Karena saat melihatmu di pertunjukan bela diri aku langsung masuk ke barisan depan hanya untuk menyaksikanmu. Kau sangat hebat! Sulit dipercaya untuk gadis cantik sepertimu bermain cemeti besi yang mengerikan," jelas Rey tanpa menoleh ke belakang.
Zee menggeser posisinya demi dapat melihat Rey. Mereka terus berjalan hingga menemukan Fang sesuai dengan arahan Zee.
"Kalian jauh berbeda," ujar Rey karena Zee lama untuk menjawab, akhirnya Rey kembali bicara.
"Hah?" Zee tidak mengerti.
"Kau ramah dan terlihat seperti gadis baik pada umumnya, tetapi Fang dia sebaliknya," jelas Rey.
Zee tertawa pelan, "Dia memang seperti itu, tapi dia baik. Sangat baik untuk bertahun-tahun dengannya."
Rey mengangguk, "Aku tau. Aku bisa melihatnya."
"Instingmu bekerja jauh lebih baik dari pada ..."
"Sifatku?" sambung Rey memotong ucapan Zee.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung," Zee buru-buru menunduk.
Rey justru terkekeh, "Tidak apa-apa, Nona. Aku juga heran mengapa ini terjadi."
"Apa?" Zee tidak bisa mengerti jalan pikiran Rey.
"Kalau begitu, mari berteman." Rey berbalik dan berhenti. Memberi senyum hangat yang mampu melebarkan mata Zee. Gadis itu tak berkedip. Kata teman dan ajakan itu mempengaruhi setiap darah yang mengalir di tubuhnya. Tidak ada orang lain yang bisa berteman dengan Zee.