11. Sinar Senjata Di Persinggahan

2519 Words
Berjalan bersama tidak membuat lelah, bahkan tanpa adanya keluhan setelah semua ikan Vay terjual. Vay terheran-heran dan terus menatap Rey dan uang di tangannya sambil berpikir. Mungkinkah Rey membawa takdir keberuntungan sungguhan atau memang nasibnya yang mujur akhir-akhir ini. Hanya dalam beberapa detik ikan-ikannya telah habis terjual. Padahal banyak pedagang ikan yang menjual jenis ikan yang sama. Vay sampai menggaruk kepala berulang-ulang. Rey meneleng, "Apa ada sesuatu di wajahku? Kau melihatku terus dari tadi." Keheranan Rey menyadarkan Vay. Gadis itu bergidik dan berdeham, "Tidak ada." Kal memicing, "Kau merasa semua ini begitu mudah, iya, 'kan?" bisiknya pada Vay. Mata Vay membulat. Dia menatap Kal segera, "Kau menyadarinya? Wah, benar, 'kan?!" bisiknya hampir memekik. Rey mengawasi mereka tanpa ingin tahu meskipun sedikit penasaran. Kal mengangguk kuat, "Aku rasa aura positif Rey menyebar kemana-mana. Bayangkan saja, dalam sekejap kita mendapat banyak uang! Ini tidak pernah terjadi meskipun kita berusaha seharian penuh. Orang-orang yang mendengar laguku juga sangat antusias kemarin. Luar biasa!" Vay mengangguk dua kali, "Sstt, nanti Rey dengar." menaruh telunjuknya di bibir. Seketika Kal membungkam mulutnya. Tidak sengaja Rey melihat sebuah bangunan unik yang terbuat dari batu. Terdapat tanaman aneh di sekitar bangunan tersebut. Tanpa sadar jarinya menunjuk ke arah pandangannya. "Kalian, coba lihat di sana. Tempat apa itu?" kata Rey polos. Vay dan Kal membuat jarak di antara mereka dan celingukan mencari tempat yang ditunjuk Rey. "Oh, itu lokasi penyimpanan senjata. Aku sering datang kemari sekadar untuk cuci mata. Kabarnya senjata-senjata yang ada di sana adalah milik kerajaan, tapi sudah terbuang. Terkadang ada pertunjukkan dan aku ikut mewarnainya, hehe." terang Kal sambil meringis. Vay melipat tangannya dan bergaya ala laki-laki. Pandangannya masih mengarah ke tempat yang sama, "Kau tau banyak." "Tentu saja! Aku asli dari sini!" seru Kal bangga. Rey mengangguk-angguk pelan, "Senjata? Seperti gudang?" "Semacamnya." Kal menjentikkan jarinya. Senyum Kal membuat Vay ingin meledek. "Oh, ya? Aku tidak percaya. Untuk apa senjata kerajaan yang tidak dipakai ada di sini? Bisa disimpan di gudang istana, 'kan?" Rey dan Kal menoleh, "Iya juga. Kenapa?" mereka berseru kompak kemudian saling pandang. Vay pun tidak tahu, jadi dia menepuk dahinya. Lantas tidak ada jalan lain selain menuju ke gudang berbatu itu. Rey bertanya-tanya bagaimana bangunannya dibuat. Batu-batu yang saling berkaitan terlihat sudah lama dan kuat. "Aku heran, Rey. Kau selalu tertarik pada hal yang biasa," kata Vay seiring melangkah. Rey tersenyum singkat, "Bagiku itu menarik." "Hah? Hanya bangunan batu dan senjata lama saja menarik?" alis Kal sampai terangkat. "Iya," jawab Rey singkat tanpa beban. Vay menghela napas berat, "Kakiku tidak sanggup berjalan lagi." Dia menjadi letih tiba-tiba. Wajahnya pun dibuat murung, sangat tidak mencerminkan sifat Vay seperti biasanya. "Kau lelah? Masih sanggup berjalan, 'kan? Sebentar lagi sampai, kita bisa istirahat di sana," kata Rey khawatir. Namun, Kal justru tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, lemah! Mau bagaimana pun tingkahmu kau itu tetap gadis yang lemah. Kenapa? Berharap aku membantumu? Maaf, ya, tapi tidak akan." Rey hendak menegur, akan tetapi Vay sudah beraksi menarik tangan Kal dan memutarnya ke belakang sehingga Kal berteriak kesakitan. Perjalanan mereka pun dihentikan sejenak. "Aaaa, aduh! Sakit!" teriak Kal. Rey panik, "Vay, kau apa-apaan? Lepaskan Kal!" Pintanya halus. "Diam kau, Rey! Orang ini harus diberi pelajaran agar mulutnya jadi manis! Hina aku lagi akan kulakukan yang lebih dari ini!" sewot Vay dan menekan lebih dalam tangan Kal membuat Kal semakin memekik. "Aduh-aduh, sakit tau! Iya-iya, aku minta maaf. Padahal itu fakta, tapi malah marah," gerutu Kal keras. Vay melepaskannya kasar kemudian berpaling acuh. Dia merangkul lengan Rey meskipun Rey memekik dan melawan. Kal ditinggal begitu saja dengan sakit di tangan yang lumayan. "Ayo, Rey! Tinggalkan saja penyanyi jalanan itu! Sendi lututku sudah terasa pegal," gumam Vay di kalimat terakhir. Rey berdecak sambil menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Vay, "Kau jangan sekasar itu, kasihan Kal." "Kau terlalu baik sampai tidak bisa melihat betapa menyebabkannya dia. Biarkan saja, nanti juga menyusul," balas Vay masih kesal. Rey menggaruk kepalanya bingung, Apa yang salah di sini?" Kal ternganga melihat kedua temannya dengan tega membiarkannya mendesis kesakitan. "Hei, tunggu! Teganya kalian meninggalkanku begitu saja! Hei, Rey, tunggu aku!" pontang-panting mengejar mereka dan masih menghiraukan rasa sakitnya. Mereka kembali berjalan beriringan. Setelah dilihat dari dekat, ada keramaian di depan tempat penyimpanan senjata itu. Melihat Vay yang cukup menahan lelah, Rey tidak bisa menyembunyikan rasa lelahnya juga. Mendesah berulang kali pun tiada gunanya. Sorak Sorai yang lebih meriah dari kemarin sore semakin terdengar. Lumayan mengganggu suasana hati, tetapi mereka tidak punya hak untuk menegur. "Kenapa banyak orang berkumpul di sana? Apa ada pertunjukkan lagi?" ujar Rey mulai menunjukkan rasa lelahnya. Matanya menyipit mencoba memandang lebih jauh. Langkahnya pun menjadi lunglai. Membiarkan tangan Vay yang masih berpegangan di lengannya tanpa protes. "Ah, aku baru ingat. Di depan sana ada tempat penginapan. Bagaimana kalau kita singgah sampai siang?" Kal menjentikkan jarinya lagi. Rey menoleh, "Benarkah? Syukurlah!" "Hmm, aku harap ada kamar yang bagus," gumam Vay berat. Ketika kaki mereka tiba di keramaian itu, nampak hadapan depan gedung tersebut. Pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Ada dua orang dan tumpukan senjata. Bersih, rapi, tanpa kesalahan dan luka sedikitpun. Perempuan itu sangat lihai bermain besi tajam yang panjang nan tipis di kedua tangannya. Pedang cemeti yang tajam di kedua sisinya, dia bisa mengoyak kulit gadis itu kapan saja. Namun, dia bermain sangat cantik. Senjata itu bagaikan selendang permainan yang menari seiring gerak tubuhnya. Sementara itu, laki-laki di samping perempuan itu memegang pedang yang besar dan menunjukkan beberapa teknik bela diri. Mereka mendapat tepuk tangan sangat meriah. Rey menutup wajahnya hampir keseluruhan karena tak kuasa melihat pertunjukan aneh tersebut. Rahangnya bahkan bergetar. Di balik anak rambut yang menutupi wajahnya, Rey sangat takjub sekaligus ketakutan. Pikirnya itu akan berbahaya jika mereka terluka. Gerakan yang sangat cepat, bahkan matanya tak bisa mengikuti keseluruhan pergerakan mereka berdua. Di saat Vay dan Kal bertepuk tangan menikmati pertunjukan bela diri menggunakan senjata, Rey hanya diam dan tidak berkedip. Manik matanya yang berwarna cokelat justru memantulkan cerminan mereka. Ada cahaya di sana. Cahaya yang terpapar sinar matahari. Berasal dari tumpukan dan jajaran senjata dengan berbagai jenis. Panah, tombak, pedang, belati, dan masih banyak lagi. Rey meringis kesakitan. Membayangkan betapa hebatnya mereka sekaligus rasa sakit dihantui rasa takut jika tergores senjata tajam. Mereka terlalu lincah, apalagi perempuan itu. Tidak sama dengan permainannya yang menakutkan. Dia memakai pakaian merah muda dengan banyak selendang, bahkan menggunakan riasan bunga di rambut dan kedua pergelangan tangannya. Kini pandangan Rey seutuhnya tertuju pada perempuan itu. Dia seorang gadis yang sangat cantik dan bermata sayu. Sepertinya juga pemalu. Namun, dia terus tersenyum seiring melakukan pertunjukan. Rey sampai ternganga tanpa sadar. 'Wah! Luar biasa!' takjubnya dalam hati. Ada keramaian yang mengusir keheningan pagi, tetapi hal itu tidak mempengaruhi Rey yang fokus pada gadis itu. Berputar dan menyerang tanpa melukai siapapun. Bagi Rey itu cukup jauh di luar keahlian perempuan. Kasarnya Vay saja dia anggap kalah dengan gadis itu, padahal mereka memiliki karakter yang berbeda. Tidak ada jenis bela diri seperti itu di kota Vier. Rey terlalu penasaran hingga kakinya melangkah menyibak kerumunan itu tanpa dia sadari. Membuat teluk tangan dan perhatian dua temannya terganggu. Mereka melihat Rey yang seolah tidak menunjukkan sifat malunya. "Kenapa dengannya? Ayo ikuti, nanti dia hilang!" kata Vay pada Kal. "Aneh! Tiba-tiba masuk begitu saja? Kenapa tidak mengajak kita?" Kal mengendikkan bahu. Lalu, mereka ikut masuk ke sela-sela kerumunan hingga berhasil menyusul Rey yang sudah berada di barisan depan. Mereka ternganga. Lantaran Rey berdiri tepat di depan gadis itu tanpa berkutik sedikit pun. Vay dan Kal menyenggolnya dan mengajak Rey berbicara, tetapi Rey seakan asik dengan dunianya sendiri. Kal berkacak pinggang, "Apa dia ada di dimensi lain sampai tidak memperhatikan kita?" Vay menggaruk kepalanya bingung, "Rey, kau sedang apa? Jangan melamun!" Percuma saja, usaha mereka sia-sia dan mereka tertegun ketika Rey menggunakan sesuatu. "Cantik sekali!" Mereka hampir jatuh karena terkejut. Tidak percaya jika kata-kata itu keluar dari mulut Rey meskipun hanya sekadar gumaman. "Ca-cantik?! Apa yang cantik?! Siapa yang cantik?!" Vay memekik membuat beberapa orang memandangnya. Namun, dia justru celingukan dan mendapati arah pandangan Rey tertuju pada sang pembuat pertunjukan, "Oh, kau tidak salah bicara?! Kau menyukai perempuan itu?! Astaga, keajaiban dunia!" Vay menutup mulutnya setelah berteriak. Dilanjut Kal yang masih ternganga, "Wah, pilihan yang bagus! Dia memang cantik! Eh, tapi kenapa aku merasa familiar dengan mereka? Sshh, si wajah dingin itu sepertinya aku juga pernah melihatnya. Apa aku salah mengira?" Setelah Kal mengerjap, dia mengusap dagu dan memperhatikan dua orang itu lekat-lekat dan memfokuskan pandangannya pada laki-laki yang terus bertaruh tanpa lawan. Mendengar pekikan dua temannya, barulah Rey sadar. Sontak yang dia lakukan adalah menutupi wajahnya lagi. "Aku tidak bisa melihatnya. Kenapa kalian berteriak?" bingung Rey dengan suara sedikit gemetar. Vay berdecak tidak menyangka. Memukul pelan pundak Rey berkali-kali lantaran heran, "Payah! Sudah kau lihat dari tadi dan kau bilang tidak sanggup melihatnya?! Lagipula apa yang kau pikirkan, Hah?!" Rey meringis ngilu, sedikit menjauh dari Vay. "A-aku memuji permainan mereka yang cantik. Memangnya salah?" Kalimat polos itu berhasil membuat Vay dan Kal berhenti terkejut. "Permainan? Bukan perempuan itu yang cantik?" kata Kal. Rey melihat gadis itu sekilas, "Dia juga cantik, tapi permainannya jauh lebih bagus, bukan?" "Ck, hanya mengelak. Dari mana kau belajar kata-kata itu?" Vay melipat tangan kesal. "Hahaha, tapi dia punya penilaian yang bagus! Dia memang sangat cantik!" desis Kal di kalimat akhir. Dia sedikit mendekat pada Vay. "Hah! Kalau seperti itu aku juga bisa. Iya, 'kan, Rey?" Vay tak terima. Rey tersenyum tipis, "Iya, kau juga sangat pandai bela diri. Aku jadi malu pada diriku sendiri," ujarnya sungkan. "Lalu, jadi singgah apa tidak? Lelah kalian sudah hilang?" tanya Kal mengingatkan. "Oh, iya! Ayo kita sewa tempat! Untung saja kau bilang, kalau tidak aku akan pusing karena orang ini!" Vay menunjuk Rey gemas ingin menjambak rambut Rey. Rey segera menyilangkan tangannya agar Vay tidak menyibak rambutnya. Kal tertawa dan dia mengajak Vay pergi sebelum membuat keributan kecil yang menarik perhatian orang-orang. Seruan para penonton menggema lagi. Setelah mereka pergi untuk memesan tempat, Rey pun kembali melihat pertunjukan untuk beberapa menit. Kemudian memberi beberapa koin di wadah yang sudah disediakan. Sebelum dia pergi, dia menatap gadis itu lagi. 'Ilmu seperti ini tidak bisa dimiliki orang biasa, 'kan? Siapa mereka?' pikirnya. Ketika kakinya sudah melangkah, kembali terhenti karena dua orang hebat di depannya berhenti dan menjunjung tinggi senjata mereka serta mengucapkan sebuah slogan bersamaan. "Kebebasan adalah segalanya. Akan ada cahaya yang melintasi seluruh pulau dan lautan. Di ujung senjata legenda, kobaran api dan air menjadi satu. Saat itulah seluruh dunia tau bahwa kekuatan yang sesungguhnya adalah tekad sepenuh jiwa! Hari itu pasti akan datang!" Rey tersentak mendengarnya. Seolah ada batu yang mengetuk hatinya hingga berdetak lebih cepat. Slogan itu terdengar seperti harapan. Semua orang bersorak lebih keras dan ikut menjunjung tinggi tangan mereka. Lalu, mereka bertepuk tangan jauh lebih meriah. Senyum pun di dapat semua orang. Benar, itu adalah sebuah kalimat yang mencerminkan hati mereka. Perasaan yang sangat dalam itu seolah menyimpan misteri. Mereka menginginkan kebebasan. Jelas menimbulkan pertanyaan bagi Rey. 'Mereka meminta kebebasan. Apa ada hubungannya dengan tragedi di kerajaan ini?' pikir Rey. Bangunan berbatu itu menjadi lebih hidup dengan sorakan semangat seperti dalam pertempuran. Semua orang meninggalkan tempat itu. Rey masih berdiri untuk beberapa saat membiarkan lalu-lalang orang melintasinya. Dia melihat kekompakan dua orang itu yang sedang memberi sugesti penuh semangat. Kemudian, membereskan senjata-senjata yang ada. Sepertinya semua senjata itu telah digunakan dan Rey datang di waktu-waktu terakhir pertunjukan. Gema suara semua orang masih terngiang di telinga Rey. Jantungnya seakan tidak mau kembali untuk berpacu sewajarnya. Bahkan buku yang ada di balik pakaian Rey mulai terasa hangat. Ada apa di balik semua ini? Apakah sebuah pertanda kembali muncul? Apakah dua orang itu adalah tokoh dalam buku? Semua pertanyaan itu berputar di kepala Rey. Kemudian, dalam diamnya Rey memilih pergi meninggalkan mereka tanpa berbalik untuk memandangnya lagi. Bersama orang-orang, Rey hilang di tengah-tengah jalanan yang dipenuhi banyak orang. "Hah, manusia memang tak lepas dari rasa semangat dan putus asa. Lihat, semua orang terinspirasi dan dia justru murung. Apa yang harus kulakukan padanya?" Vay bicara pada Kal dengan melirik Rey yang menuju ke arah mereka. Kepala menunduk, berjalan tidak terlalu lurus, dan alisnya sedikit bertaut. Benar-benar terlihat sedang memikirkan sesuatu. Rey tahu keberadaan Vay dan Kal karena mereka duduk di teras rumah persinggahan yang berada tepat di depan bangunan batu itu. Ada banyak orang di sana yang juga sedang singgah. Harum aroma makanan yang hangat tercium membuat perut Vay berbunyi. Kal menertawakannya, tetapi Rey tidak. Dia langsung duduk di samping mereka tanpa mengalihkan pandangan dari tanah. "Rey? Apa kau mau makan? Mereka ada menu istimewa dari pulau lain," kata Vay baik-baik sambil meneleng untuk melihat wajah Rey. Namun, Rey memalingkan wajahnya. Itu tandanya dia sadar dan tidak melamun. "Benar! Mereka juga punya minuman hangat! Aku akan memesannya, ya," sahut Kal dengan senyum gembira. Sayangnya Rey tidak berkutik. Vay dan Kal saling pandang. Bertukar pertanyaan dari mata ke mata. Satu menit kemudian mereka terjingkat mendengar suara Rey yang pelan dan dalam. "Kalian makanlah dulu, aku ingin bicara dengan mereka." Rey mendongak penuh dengan keseriusan. Vay dan Kal sedikit bingung. 'Ada apa dengan Rey?' kata Kal dalam hati. 'Dia serius?' Vay pun bergumam di hatinya. Cukup diam beberapa detik, Vay dan Kal tertawa kaku bersamaan. "Ahaha, iya, tentu saja. Kal, kau yang bayar, ya!" Vay segera menarik Kal untuk berdiri. Kal berdiri susah payah karena tarikan Vay, "Iya-iya, boleh aja. Kau juga harus makan, Rey. Susul kami secepatnya, ya." Mereka begitu ramah meskipun sangat terlihat dibuat sengaja. Rey tersenyum, setelah itu mereka masuk ke persinggahan untuk memesan makanan. Rey kembali memasang ke hadapan. "Persinggahan sementara, ya? Ramai dan dipenuhi kebingungan. Kurasa, banyak orang di sini sedang melakukan perjalanan," gumam Rey. Pintu di depannya menjadi pusat perhatian. Rey memegang dadanya untuk memastikan buku itu dalam keadaan baik, tidak hangat seperti sebelumnya. Dia pun memantapkan niat untuk menemui dua orang itu meskipun Rey tidak yakin akan bisa berbicara dengan lancar nantinya. Dia cukup gugup. Sebentar lagi matahari berada tepat di atas kepala. Tandanya hari hampir siang. Kilauan cahaya dari senjata tadi membuat Rey mengingat slogan harapan yang begitu panjang. Setibanya di sana, Rey tidak berani meneguk pintu. Kakinya bergetar. Keberaniannya yang telah dikumpulkan hilang seketika. Tak ada sisa. Rey terdiam seperti patung di sana. Bangunan batu itu membelenggu niatnya. "Aduh, apa yang aku lakukan di sini? Aku harus mengetuk pintunya, itu saja. Kenapa aku setakut ini?" gumamnya lagi merasa payah. Di saat Rey sibuk dengan kegelisahannya, rantai di kasus sisi pintu itu tertarik ke atas. Rey terkejut sampai mundur beberapa langkah. Lebih mengejutkan lagi saat tiba-tiba pintu itu berderit dan terbuka. Semakin rantai itu bergerak, semakin pintu itu terbuka lebar. Saat pintu itu terbuka sepenuhnya, cahaya terang berwarna jingga menyambut menyilaukan Rey sampai tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di ruangan tersebut. Namun, kaki Rey melangkah begitu saja. Mengusir rasa takut di hatinya, jauh menekankan pada rasa penasarannya. Dia berhenti di tengah ruangan itu membelakangi pintu. Mengerjap mencoba membiasakan diri. Setelah Rey mengerjap dan melihat cukup jelas, ternyata tempat itu dipenuhi oleh senjata. Seluruh tubuh Rey bergemuruh seketika. Cahaya itu berasal dari sinar yang terpantul melewati senjata. Tempat itu dikelilingi lentera api. Setiap sudut dan setiap dinding terpajang senjata yang tajam dan bersih. Rey berdiri kaku mendadak. Lalu, pintu itu tertutup sepenuhnya membuat Rey hampir pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD