10. Waktu Senggang Satu Malam

2749 Words
Rekan Rey mengatakan jika sebentar lagi acara akan ditutup. Para pelukis juga sudah bersiap untuk pulang. Mereka tinggal menunggu pemilik toko datang. Senyum lelah yang menawan pun terpancar. Sinar matahari yang masuk di jendela barat menambah kesan pada senyuman itu. Semua orang juga mulai berhamburan keluar. Toko itu mulai memiliki ruang yang luas. Napas pun menjadi lebih tenang. Rey menyeka keringatnya di dahi. Seketika dia didatangi oleh semua rekan pelayannya. Perempuan yang sedari tadi bekerja di sampingnya pun ikut mendekat. Rey menjadi bingung dan gelagapan. Dia menjadi pusat perhatian. Rey sampai tidak tahu harus memandang ke sudut mana. "Hei, orang baru. Kenapa kau bekerja di sini?" "Kulihat kau sangat kesulitan tadi, hahaha." "Apa besok akan bekerja lagi?" "Siapa namamu? Aku tidak pernah melihatmu." "Rambutmu, suaramu, bahkan kulitmu serasa halus. Aku curiga kau orang kaya yang menyamar jadi pelayan." Mereka mengintrogasi Rey tanpa memberi Rey kesempatan bicara. Hanya mulutnya saja yang tertutup dan terbuka di waktu yang sama. "Haha, kalian juga berpikir begitu, 'kan? Sekarang jawab kami! Kau ini memang pelayan atau tuan muda yang kaya raya?" perempuan kasir itu menyangga kepalanya di atas meja dan menatap Rey sungguh-sungguh. Semua rekannya pun begitu. Rey menjadi sedikit gugup. Namun, segera mungkin dia dapat mengontrol kondisi. Senyum yang sama dengan lesung pipi yang sedikit terlihat, "Terima kasih atas keramahannya. Aku Rey, sedang mengembara bersama teman-temanku. Kami berpencar untuk mencari uang sampai petang. Aku hanya bekerja sementara, tidak kembali lagi. Beruntung bisa bertemu kalian. Terima kasih untuk bantuannya." "Hah? Hanya sebentar? Kenapa? Jangan sementara, bekerja saja di sini. Lihat tadi! Toko menjadi lebih ramai karena kau. Kita mendapat banyak keuntungan. Pasti nanti akan diberi bonus lebih!" kata salah satunya antara sedih dan senang. "Iya, kau seperti koin keberuntungan! Tinggal saja di sini. Kalau perlu ajak teman-temanmu. Mereka pasti juga tampan dan ramah sepertimu," kata salah satunya lagi dengan nada pelan. "Hmm? Jadi kau pengembara?" heran perempuan di sebelah Rey. Rey menatap mereka satu per-satu. "Iya, aku tidak bisa terus bekerja di sini. Lagipula salah satu dari kami perempuan," jawabnya ramah. "Apa?! Perempuan?!" pekik mereka kompak kecuali rekan kasir Rey. "Pengembara dari mana?" perempuan penjaga kasir itu justru menaikkan sebelah alisnya. Senyum Rey sedikit kaku sekarang. Dia tidak berani jika menjawab dari Pulau Ikan Runcing, takut mereka salah paham dengan adanya rumor saat ini. "Kau ini jangan tanya yang tidak-tidak. Pengembara biasanya menyembunyikan identitasnya, iya, 'kan?" jawab salah satu temannya membuat Rey menghela napas lega dalam hati. "Ck, yasudah. Kalau begitu bagaimana kau bisa bertemu pemilik toko ini dan bekerja di sini?" lanjut perempuan kasir itu. Kali ini dia lebih dekat dengan Rey sampai Rey sedikit memundurkan kepalanya. "Ahaha, aku tidak sengaja bertemu di perpustakaan." Rey menggaruk kepalanya merasa bodoh. "Oh, ternyata begitu." semua pelayan itu mengangguk bersamaan. Rey terkekeh sedikit terhibur. Mereka bukan seperti para pelanggan yang hendak memangsanya. "Wah, sepertinya sudah selesai, ya?" Rey memperhatikan para pelukis itu sudah selesai berkemas. Mereka berbalik dan menyapa para pelukis itu, sekadar bicara selagi menunggu pemilik toko datang. "Huft, hari yang melelahkan. Kuharap dapat uang banyak nanti." perempuan kasir itu merenggangkan otot tangan dan kepalanya dan Rey menoleh. "Apa sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan?" Perempuan itu melirik Rey sekilas, "Tidak ada. Jangan menambah pekerjaan, ini sudah senja. Hoaam, aku mengantuk." Rey terkekeh lagi, "Kalian sangat ramah." "Tidak seramah kau yang tersenyum dan berterima kasih sedari tadi. Dari mana kau dapatkan kesabaran tingkat tinggi seperti itu? Para gadis itu ingin memakanmu, tapi kau melayani lukisannya sepenuh hati. Kalau aku jadi kau, aku pasti marah tanpa henti," kata perempuan itu malas. Dia kembali menyangga kepala sambil memandang pintu berharap pemilik toko segera sampai. Rey juga ikut memandang pintu. Juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling, toko itu benar-benar sudah sepi. Perasaan yang hinggap kini begitu hangat. Memang berbeda dari toko buku, tetapi inilah suasana di lingkungan pekerjaannya yang dia rindukan. Senja membawa kembali semua kenangan. Ketenangan itu terhenti oleh adanya pelukis yang menolak menunjukkan sesuatu pada salah satu pelayan. Rey menoleh penasaran tanpa menghampirinya. Pelukis itu mengatakan sesuatu tentang lukisan yang tidak boleh diperjualbelikan bahkan diperlihatkan. Lukisan yang sangat terlarang. Rasa penasaran Rey membuatnya bertanya pada perempuan di sampingnya yang sudah hampir tertidur. "Hei, apa itu lukisan yang sangat dilarang bahkan tidak boleh dilihat?" tanya Rey pelan. "Hmm? Lukisan apa? Aku mau tidur, jangan ganggu aku!" jawab perempuan itu malas. Rey pun diam tidak mau mengganggu. Beberapa menit kemudian pemilik toko itu datang. Dia disambut dengan senyum ceria. Dia berbagi cerita dengan para pelayannya tentang hari ini dan keuntungan yang didapat jauh dari dugaan. Seakan tokonya hampir meledak dengan pendatang baru yang gila lukisan. Lebih tepatnya para gadis itu menyerbu toko hanya untuk melihat Rey dan terpaksa membeli lukisan. Meskipun begitu itu adalah trik yang cukup bagus untuk meningkatkan keuntungan. Rey yang dibuat bahan candaan pun tertawa. Dia ditawari bekerja lagi, tetapi menolak dengan sopan dengan alasan teman-temannya sudah menunggu. Saat pembagian bonus, Rey diberi dua kantung koin dengan isi lebih dari yang lain. Itu pun diberikan ketika para pelayannya pergi setelah menerima gaji dan bonus mereka, begitu juga dengan para pelukis yang sudah bekerja keras. Senyum menghiasi langit jingga dari toko lukisan sekarang. Saat ini hanya ada Rey dan pemilik toko di dalam. "Ini terlalu banyak. Apa kau yakin aku bisa menerimanya?" kata Rey dengan kedua tangan memegang kantong uang. "Ah, itu sudah sepadan. Lagipula kau memang keberuntunganku kali ini, haha. Tidak kusangka akan sukses besar. Wah, kalau acara berikutnya berjalan lancar seperti tadi pasti aku bisa kaya mendadak, hahaha." tawa pemilik toko cukup keras. "Benarkah? Aku bisa membawanya?" Rey juga tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Dia bisa mengganti uang Vay dan bahkan masih memiliki sisa uang. Tidak tahu ini takdir yang bermain, yang jelas Rey sangat beruntung hari ini. "Iya, bawalah! Kuharap kita bisa bertemu lagi. Semoga selamat di sepanjang perjalananmu," ujar pemilik toko. "Terima kasih banyak! Aku senang ada di sini. Kalian orang baik. Kalau begitu aku pergi dulu!" Rey memberi salam dan segera pergi. Pemilik toko itu memandang Rey yang sedikit demi sedikit menghilang dari pandangannya. Kemudian, mencoba menata rambutnya seperti Rey. Dia pun bergumam, "Apa aku akan setampan dia jika gaya rambutku begini?" Pertanyaan itu bersamaan dengan hilangnya Rey dari pandangannya. Sudah jauh Rey berjalan hingga tiba di jalanan dekat perpustakaan, wajah bahagianya seakan terpancar oleh sinar matahari. Dia harus mencari Kal terlebih dahulu karena Kal berada di jalanan itu sekarang. Namun, Rey tidak melihat kerumunan atau senandung yang Kal nyanyikan sepanjang jalan. Sebentar lagi langit akan gelap. Rey harus segera menemukan Kal, jika tidak dia tidak akan bisa kembali ke gubuk besar yang hampir rubuh. Tidak tahu pula bagaimana kabar Vay membuatnya sedikit khawatir. Jalanan itu juga lumayan sepi, hanya beberapa orang yang berada di luar rumah tengah berkemas. Ternyata mereka berhenti berniaga ketika senja datang. "Ke mana Kal?" gumam Rey seiring kakinya melangkah. Sudah berada di ujung jalanan itu tepatnya di tempat dia bertemu dengan Kal, tetapi belum juga bertemu dengan Kal. Menuju pukul tujuh malam masih lumayan lama, tidak mungkin baginya untuk menunggu di panggung rahasia. Sehingga Rey memutuskan untuk berjalan mengitari pemukiman sambil mencoba menemukan sungai di mana Vay berada. Bersyukur jika dapat bertemu salah satu dari mereka. Semua pintu rumah sudah ditutup. Beberapa cahaya jingga seperti berasal dari api muncul di celah-celah rumah. Mereka yang memiliki halaman luas pun mulai menyalakan lentera kuno yang membuka mata Rey lebih lebar. "Benar, tidak ada listrik di sini. Aku sampai lupa," gumam Rey. Dia terus berjalan hingga tidak sadar menabrak sesuatu. Dia mendesis kesakitan. Bersamaan dengan itu, semua lentera di halaman rumah mulai menyala dan matahari sepenuhnya terbenam. Rey mengelus lengan dan dahinya, "Aduh! Sakit sekali!" Tidak memperhatikan siapa yang dia tabrak, tetapi orang yang ditabraknya berdeham dan melipat tangan di d**a membuat Rey harus memandangnya. "Oh, ternyata kau di sini? Aku mencarinya dari tadi. Kalau sampai kau hilang, aku bisa dimakan oleh Vay. Dasar, menghilang tanpa bilang. Kenapa kau ada di sini?" Pertanyaan sekaligus ungkapan kesal dari orang yang Rey cari menyebabkan Rey meringis tak menduga. "Kal? Syukurlah aku menemukanmu. Kupikir kau sudah ada di gubuk besarmu," kata Rey tanpa merasa bersalah. Kal berdecak, "Aku berkeliling, tapi kau tidak kesulitan karena aku, 'kan?" Rey menggeleng, "Tidak." "Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Sudah gelap, ayo kembali. Vay mungkin sudah menunggu sambil marah-marah." Kal bergidik membayangkan betapa kasarnya Vay. Rey tertawa pelan, "Aku ... hanya menikmati matahari terbenam sambil mencarimu." Kal merasa ada yang aneh dengan Rey dari terakhir kali mereka berhadapan. Dia meneliti wajah Rey serius, "Hmm? Sepertinya kau cukup senang. Suasana hatimu cepat berubah dari gundah menjadi bahagia. Apa terjadi sesuatu?" mengusap dagunya penasaran. Rey menggeleng sambil tertawa kecil, "Sudahlah, ayo kembali. Apa ada yang menjual makanan? Aku lapar." ujarnya sedikit malu. "Hahaha, kau lapar? Aku juga." Kal meringis bodoh. Keduanya tertawa dan pergi mencari toko makanan yang masih buka. Namun, di sekitar pemukiman tersebut sudah tidak ada toko yang buka ketika malam tiba. Mereka akan kembali buka beberapa jam kemudian. Akhirnya mereka memilih kembali ke panggung rahasia milik Kal meskipun belum genap pukul tujuh malam. Sayangnya Vay belum tiba di sana. Membuat keduanya risau. "Bagaimana ini? Apa kita sungguh tidak perlu mencarinya?" tanya Rey gusar. Jemarinya saling bertautan sedari tadi. Memandang ke kanan-kiri berharap Vay muncul dari salah satunya. "Tidak apa-apa, Rey. Sebentar lagi juga sampai. Mungkin dia sedang dalam perjalanan, santai saja." kata Kal sambil membenahi alat musiknya. Dia terlihat tidak resah sedikitpun, padahal dalam hati juga mencemaskan Vay. 'Astaga! Ke mana gadis itu? Dia yang membuat keputusan, tapi dia sendiri yang belum tiba. Kalau terjadi sesuatu aku tidak mau tau!' geram Kal dalam hati. "Ayo kita cari dia!" bujuk Rey untuk kesekian kalinya. "Jangan, Rey! Sebentar lagi pukul tujuh. Dia pasti datang tepat waktu. Kau jangan takut kehilangan dia. Gadis jelek seperti Vay siapa yang ingin menculiknya?" terang Kal agar Rey tenang. "Benar, siapa yang berani melawan Vay?" kata Rey berpikir diangguki oleh Kal. Lalu, dia menghela napas panjang, "Tetap saja aku khawatir." Kal berdecak ingin membalas lagi, akan tetapi seruan gadis yang cukup keras dari arah kanan menghentikannya. Cukup keras sehingga dapat di dengar Rey sekalipun. Mereka terkejut. "Hei, kalian! Tolong aku, jangan diam saja! Cepat kemari!" "Vay? Itu suara Vay!" Rey menatap Kal semangat. "Iya! Kenapa dengan suaranya? Seperti kesulitan akan sesuatu," heran Kal. Rey segera berdiri dan mengejar sumber suara Vay. Kal menyusul dengan sedikit decakan. "Menyusahkan saja! Apa yang dia lakukan?" gerutu Kal untuk Vay. Rey sampai berlari mencari Vay dan ketika sudah mendapatinya, dia terperangah. Begitu juga Kal yang menyusul di belakangnya. Dia membuka mulutnya lebar. "Vay, apa yang kau bawa?" Rey masih berdiri diam memperhatikan Vay yang susah payah mengatur ulang barang bawaannya yang jatuh dari keranjang. "Wah, haha! Keren sekali kau! Kerja bagus! Kalau begini kita tidak kelaparan malam ini." Kal tersenyum lebar. Vay membawa dua keranjang kayu yang besar bahkan melebihi besar tubuhnya. Dia sangat kesulitan untuk membawanya. Satu keranjang berisi ikan hasil tangkapannya dan satunya lagi berisi air serta makanan, bahkan ada beberapa buah. Semuanya penuh, hanya dilihat saja pasti sangat berat. Rey menggaruk kepalanya berpikir bagaimana cara Vay membawa semua itu. Vay yang meringis sambil mengutip semua barangnya yang jatuh pun mendongak sedikit kesal, "Sudah tau berat kenapa diam saja? Capat bantu aku! Nasib baik aku mau mencarikan kalian makanan, kalau tidak akan kelaparan sampai pagi. Sudah kuduga kalau kalian para laki-laki bodoh tidak akan memikirkan makanan, 'kan?" gerutu Vay marah. Rey dan Kal mendesis ngilu mendengar suara Vay. Mereka segera membantu dan membawa dua keranjang itu bersama-sama hingga ke panggung rahasia. "Hah, lelahnya!" keluh Vay yang berjalan di belakang Rey dan Kal. Dia memutar kepala pelan dan jemarinya. Rey menoleh, "Kau membawanya dari sungai? Hebat sekali! Apa tidak ada yang sakit?" Vay berdecak menatap Rey, "Menurutmu?" Rey tidak berani menjawab, hanya menyertakan senyuman. "Dari mana kau dapat semua makanan ini? Kau mencuri, ya?" tuduh Kal bercanda. "Ck, tentu saja hasil dari menjual ikan! Air sungai sepertinya diganggu oleh beberapa orang jahil, sehingga ikannya banyak yang timbul. Bukan hanya aku, tapi banyak orang yang mencari ikan di sana. Itu setengah ikan yang aku dapat, sisanya aku jual dan jadi makanan. Aku pintar, 'kan? Tidak seperti kalian!" balas Vay cepat. "Iya-iya, tidak perlu marah-marah juga," jawab Kal sabar. "Siapa yang marah? Aku hanya kesal," elak Vay. Rey mendesah pusing mendengar pertengkaran mereka lagi. Setelah tiba di panggung rahasia, gubuk besar itu ditutup kembali dan mereka menghitung perolehan sore ini sembari makan malam. Sesuai janji, mereka tiba di sana tepat pukul tujuh malam. Mendengar cerita Rey yang berhasil mendapatkan banyak uang bahkan lebih banyak dari uang yang dikeluarkan Vay untuknya membuat Vay tidak percaya. Dia sampai menghitung berkali-kali uang Rey. Matanya pun berbinar. Dia pikir takdir keberuntungan memang selalu berpihak pada Rey. Sedangkan Kal hanya berkeliling seperti biasa dan menghibur orang yang ingin dihibur. Beberapa koin uang sudah cukup baginya. Mendengar pekikan histeris Vay yang selalu menghitung uang membuatnya semakin lapar sehingga dia hanya makan dan terus makan. Rey mengambil satu bungkus makanan yang dibalut daun pisang karena penasaran. Ternyata isinya adalah nasi berwarna-warni dengan lauk yang tidak dia mengerti. Rasanya cukup enak meskipun aneh. Malam itu mereka berbincang sangat panjang. Bercerita semua yang ingin diceritakan. Rey selalu tertawa ketika Vay bertengkar dengan Kal hanya karena hal sepele. Lalu, dia juga menceritakan apa yang ada di dunia aslinya yang sangat berbanding terbalik dengan sekarang. Dari semua itu tidak ada satu pun strategi yang dibicarakan, mereka cukup puas untuk sekarang. Terlalu banyak yang di dapat, terlalu besar hal baru yang diketahui, terlalu panjang pula dari pagi hingga malam. Sehingga rasa lelah tidak bisa dibendung baik dari fisik maupun mental. Pikiran dan perasaan Rey melayang jauh ke angkasa. Di saat Vay dan Kal tertidur lelap, dia masih terjaga. Bersandar tiang utama panggung tanpa roda dan memandang celah gubuk yang menampilkan langit malam. Gelap dan tenang. Hanya suara hewan malam yang menemaninya. Begitu lelahnya Rey sampai tidak bisa memejamkan mata. 'Semua ini terjadi begitu saja. Teman-teman dengan sifat yang berbeda. Yah, aku yakin semuanya akan baik-baik saja,' kata Rey dalam hati. Mendapat teman adalah hal yang terbaik. Tidak pernah dia pikirkan jika akan ada teman yang menemaninya dan percaya padanya di negeri sihir ini. Perjalanan seperti apa selanjutnya, Rey sangat penasaran. Sayang sekali fisiknya tidak bisa diajak istirahat. ~~~ Selamat tinggal untuk gubuk besar yang hampir rubuh milik Kal, mereka harus melanjutkan perjalanan tanpa menggunakan panggung perahu atau semacamnya. Tapak kaki mereka harus tercetak jelas di sepanjang jalan kerajaan. Sedikit merisaukan bagi Kal, akan tetapi dia telah merelakannya demi tujuan bersama yaitu hancurnya tahta Raja Heng Louyan beserta kembalinya sihir kerajaan. Dari pukul enam pagi baik Rey maupun Kak telah terganggu oleh Vay yang sibuk mengajak mereka untuk menjual ikan tangkapannya kemarin. Mau tidak mau mereka mengikuti keinginan Vay sebelum gadis itu kembali bersikap kasar. Rey yang hanya mendapat waktu sekitar tiga jam untuk tidur pun masih mengantuk. Matanya baru bisa terpejam pada pukul tiga pagi. Ketika mencium amisnya ikan yang berbaur dengan sejuknya pepohonan menjelang pagi membuat kesadaran Rey kembali utuh. Segera mencari buku Leazova dalam tubuhnya setelah bangun. Dia mendesah lega karena buku itu tidak hilang. Lain dengan Kal yang terus menggerutu pada Vay meskipun mereka telah keluar jauh dari tempat tersebut. Hampir keluar dari pusat pulau untuk mencari pasar yang buka dan juga menikmati pemandangan pagi. Bukan hanya kesal karena waktu tidurnya diganggu, melainkan Vay menyuruhnya membawa keranjang ikan sampai tiba di pasar nanti. Rey juga heran mengapa Vay hanya mengganggu Kal dan tidak mengganggunya lagi. Namun, tiba-tiba di tengah perjalanan Rey mengingat sesuatu yang lupa dia katakan pada mereka. "Oh, iya, lukisan yang dilarang itu apa? Aku tau dari toko lukisan kemarin. Lupa untu bertanya pada kalian." kata Rey tanpa basa-basi. Dia melirik Vay dan Kal yang ekspresi mereka berubah seketika. "Lukisan terlarang di negeri ini maksudmu?" Vay memperjelasnya bahkan memandang Rey lekat tanpa berhenti berjalan dan Rey mengangguk mantap. "Huft, sebenarnya untuk dibicarakan saja tidak boleh, karena kami takut." mendadak Vay menurunkan pandangannya. "Apa?" Rey semakin penasaran. "Itu lukisan penguasa terdahulu kerajaan ini. Raja Heng Louyan melarang peredaran lukisan Raja terdahulu agar penduduk kerajaan melupakannya dan menganggap Raja Heng Louyan sebagai penguasa satu-satunya. Dia juga beranggapan bahkan lukisan itu dapat memunculkan sihir dari Raja terdahulu, karena semua benda yang bersangkutan dengan Raja terdahulu dinyatakan mendatangkan peluang sihir kembali. Itu ancaman bagi Raja Heng Louyan," terang Vay yang diangguki oleh Kal. Bibir bawah Kal sampai digigit. Rey membulatkan mulutnya, "Oh, ternyata seperti itu. Apakah sihirnya bisa kembali padahal orangnya sudah tidak ada? Ada-ada saja Raja baru kalian." Dia tidak percaya dengan asumsi Raja Heng Louyan yang terlalu takut jika musuhnya datang kembali setelah dia musnahkan. Setelah pertanyaan tersebut, Vay dan Kal menjadi sedikit lebih diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD