Rey membaca buku yang berada di rak dekat pintu. Disampingnya terdapat meja panjang dengan buku kosong dan juga peralatan menyerupai alat tulis. Tinta, kuas, dan kertas-kertas yang tertata rapi. Mungkin itu adalah meja untuk penjaga perpustakaan. Rey duduk di kursi yang berdekatan dengan meja tersebut.
"Sumber cahaya? Menghilangkan kegelapan?" Rey membaca kalimat yang tertera dalam buku.
Suara kertas dibalik begitu mendominasi di ruangan besar itu. Dia begitu menikmati waktu santainya tanpa lupa niatnya. Rey juga tidak tahu apa yang harus dia kerjakan agar mendapatkan uang.
"Kalimat itu ada di setiap buku yang bersangkutan dengan sejarah kerajaan, Nak."
Sontak Rey terperangah. Menutup bukunya segera dan menatap sumber suara yang tiba-tiba muncul di depannya. Senyum lelah seorang lelaki tua dengan janggut panjang berwarna putih tengah berdiri tepat di hadapan. Mulut Rey terbuka dan tertutup hendak bicara. Dia bingung sekaligus takut. Seperti pencuri yang tertangkap basah di tempat persembunyian.
"Hahaha, jangan takut, Anak muda. Aku pengurus pohon suci ini. Seharusnya bersama beberapa temanku yang tukang kebun, tetapi mereka tidak bisa datang. Jadi, aku datang sendirian," ujar laki-laki tua itu dengan nada ramah yang sama.
"Tu-tukang kebun?" kedua alis Rey terangkat. Laki-laki tua itu sangat mengerti jika Rey ketakutan.
"Iya, kami bertugas mengurus pohon suci. Memeriksa keadaannya setiap hari. Tugas kami berbeda dengan penjaga perpustakaan, hahaha. Kau tidak tau, ya?" laki-laki tua itu sangat sederhana. Dia tertawa sampai matanya terpejam. "Yahh, lupakan saja. Apa yang kau lakukan di sini?"
Rey yang diam masih terperangah pun tersadar. Segera memberi salam dengan menundukkan kepala, "Aku sedang mencari pekerjaan, tetapi diarahkan ke sini oleh kakiku."
"Apa? Kau anak muda yang lucu!" laki-laki tua itu tertawa lagi. Rey melamun tidak mengerti dengan sikap santai itu. Namun, dia bisa merasakan tidak adanya masalah dan akhirnya tersenyum.
"Pekerjaan yang bisa dilakukan di sini hanya membersihkan perpustakaan dan merawat pohon suci. Apa kau bisa melakukannya?" laki-laki tua itu berjalan melewati Rey menuju tangga dengan langkah pelan. Kedua tangannya menyatu di belakang.
'Apa dia benar-benar ahli merawat pohon suci?' pikir Rey tidak yakin. Pasalnya orang itu terlalu tua untuk pekerjaannya.
"Aku terbiasa merawat buku, tapi tidak dengan pohon, Paman." pandangan Rey mengikuti laki-laki tua itu.
"Hmm? Kalau begitu kebetulan. Kenapa kau tidak menemaniku hari ini? Bersihkan perpustakaan ini selagi matahari belum terbenam. Aku akan memeriksa keadaan pohon suci. Penjaga perpustakaan sedang pergi sebentar, jadi kau bisa membantu sementara. Itu pun jika kau mau. Aku tidak memaksa, hahaha," laki-laki tua itu tertawa ringan lagi. Tidak sebanding dengan bicaranya yang halus dan pelan.
Rey tersenyum, "Baiklah. Terima kasih, Paman."
"Ah, aku tidak yakin kau akan dapat imbalan." laki-laki tua itu menoleh sambil menunjukkan deretan giginya dan masih dengan mata sipit.
Rey pun ikut menambah senyumannya, "Aku senang bisa membantu. Kalau boleh tau, kapan penjaga perpustakaan akan datang?" sedikit menelengkan kepalanya.
Laki-laki tua itu berpikir sejenak, "Mungkin beberapa menit lagi. Aku akan memeriksa bagian atas, kau lakukan saja apa yang ingin kau lakukan."
"Baiklah, Paman," kata Rey senang di saat orang itu sudah berbalik dan pergi menaiki tangga. Rey pun mengembalikan buku yang dia baca.
"Harus aku mulai dari mana?" gumam Rey setelah menghela napas panjang.
Perasaan yang sedang baik menimbulkan percaya diri yang tinggi. Dari ujung lantai itu dia mulai mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Seperti berada di dalam toko dan melakukan pekerjaan sehari-hari, rasanya Rey kembali ke kota aslinya. Senyum itu juga tidak dia hilangkan meskipun tangan tengah bekerja. Soal uang yang dia janjikan untuk Vay masih belum terpikirkan. Menyingkirkan beban sementara untuk kesenangan pribadi terkadang boleh saja dilakukan. Namun, belum sampai setengah dari ruangan itu, setengah jam telah berlalu dan beberapa orang datang memperhatikannya di ambang pintu. Ketika Rey menyadarinya, dia segera berhenti dan panik.
'Apa mereka penjaga perpustakaan? Aku harus bagaimana?' bingungnya dalam hati.
Mereka mendekat memperhatikan Rey. Rey segera menutupi wajahnya dengan rambut dan tidak berani menatap mata mereka secara langsung. Keringat dingin sudah mulai bermunculan. Rey tidak menginginkan kondisi ini.
"Hei, kau siapa? Kenapa takut? Jangan takut! Kami tidak jahat." kata salah satu dari mereka yang seorang wanita dengan nada lembut khas seorang ibu. Dia memperhatikan Rey lekat meskipun Rey hanya berani mencuri pandang sedikit.
"Wah, kau membersihkan tempat ini? Buku-buku itu tertata rapi," sahut seorang laki-laki muda yang sedang memperhatikan sekeliling.
"Oh, benarkah? Terima kasih! Seharusnya tidak perlu repot-repot, itu tugas kami. Apa kau ingin membaca?" ujar satunya lagi yang merupakan seorang laki-laki paruh baya. Dia membawa kotak kayu berukuran sedang yang terlihat cukup berat. Rey memperhatikan tiga orang itu sambil berpikir.
"Apa kalian pengurus perpustakaan ini?" tanya Rey. Mereka mengangguk bersama membuat Rey menghela napas lega sembari mengelus d**a.
"Maaf, aku hanya sedikit membantu. Aku sedang mencari pekerjaan sementara. Kalau begitu, aku permisi dulu," kata Rey terburu-buru. Dia langsung menunduk memberi salam dan pergi dengan cepat.
"Tunggu!" kata wanita penjaga tersebut.
Mau tidak mau Rey berhenti meskipun merinding. Dia berbalik kembali menatap mereka. Menunjukkan senyum seramah mungkin meskipun masih terlihat kaku. Dia pun mengalihkan pandangannya ke segala arah untuk menutupi rasa gugupnya.
Wanita itu tersenyum, "Terima kasih, Anak muda. Pekerjaan apa yang kau inginkan? Apa terlalu terburu-buru? Kau terlihat gugup." meneleng risau dengan keadaan Rey.
Seketika Rey menggeleng dan menyilangkan tangannya, "Tidak, aku tidak apa-apa."
"Kalau begitu sebagai ucapan terima kasih biarkan aku membantumu. Kau bisa kerja apa? Hanya butuh untuk hari ini, 'kan?" pemuda itu maju selangkah dengan berani menawarkan diri.
Rey tersentak. Dia ingin menolak, tetapi tawaran itu begitu menguntungkan walau terlalu mendadak dan kebetulan. Akhirnya dia menerimanya.
"Eee, aku hanya berpengalaman dalam hal melayani toko dan pembeli," jawab Rey tanpa basa-basi.
"Oh, itu mudah! Ayo ikut aku!" pemuda itu mengayunkan tangannya mengajak Rey untuk keluar perpustakaan.
"Eh?" Rey kebingungan.
"Ikut saja, Nak. Dia punya toko lukisan yang cukup ramai. Aku dengar beberapa pelukis mengadakan pertunjukan langsung di sana. Mungkin kau akan diajak ke sana," ujar laki-laki paruh baya.
Rey kembali menatap dua orang itu selagi pemuda tersebut pergi. "Begitu, ya? Baiklah, terima kasih atas bantuannya. Permisi," dia pamit cukup sopan. Kemudian, menyusul pemuda itu segera.
"Aku tidak pernah melihatnya. Apa mungkin dari pulau lain?" heran wanita itu sambil meneleng memperhatikan punggung Rey yang tengah pergi.
"Pemuda yang aneh. Tidak bisa menata rambutnya." laki-laki paruh baya itu menggaruk kepalanya.
"Hahaha, kurasa dia dari Dermaga Ikan Runcing. Kudengar ada pemuda yang jatuh dari langit dengan penampilan aneh. Kurasa dia lah orangnya," tiba-tiba pengurus pohon suci datang dari tangga mengejutkan dua orang itu.
"Jatuh dari langit?!" mereka berseru bersamaan dan saling pandang.
Berita tersebut menyebar dengan cepat. Rey tidak tahu jika keberadaannya sekarang menjadi bahan pembicaraan. Namun, hal itu tidak menjadi masalah selama orang-orang tidak mengetahui wajahnya, hanya mereka yang menangkap Rey di dermaga lah yang mengetahui penampilan Rey. Setidaknya dia aman dan tidak akan mudah ditangkap oleh mata-mata kerajaan.
Ternyata perjalanan keluar dari perpustakaan mengikuti pemuda pengurus perpustakaan itu cukup jauh. Hingga akhirnya Rey dapat berhenti setelah menemukan sebuah pameran besar di salah satu rumah kayu yang besar. Mata Rey melebar dan mulutnya terbuka tak percaya.
"Ini dia toko lukisanku! Selamat datang! Yahh, lumayan ramai hari ini, haha. Beberapa pelukis yang aku undang mengadakan demo melukis dan menjualnya langsung. Jadi, menyebabkan banyak peminat. Kalau kau memang sangat butuh pekerjaan sementara dan berpengalaman dalam hal melayani, kurasa kau bisa berguna di sini. Itu pun kalau kau mau. Tenang, aku yang akan menggajimu." pemuda itu menjelaskan keramaian di rumah besar itu dengan senang hati.
Sudut mata Rey berkedut. Dia masih tak percaya. Rumah sebesar itu disebut toko dan di dalamnya berisi lukisan. Terkejutnya Rey sampai tidak bisa berkata-kata.
"Se-sebuah toko?" gumamnya hampir dengan mulut bergetar. Rey mengira orang yang lebih muda di sampingnya itu sangat kaya.
"Haha, hanya toko keluarga yang sudah turun-temurun. Sekarang aku yang mengelolanya. Bagaimana, kau mau tidak?" tawar pemuda itu lagi.
Rey segera mengangguk dan berhenti terkejut. Dia memandang pemuda itu penuh harap, "Apa aku bisa bekerja sampai pukul enam sore? Aku harus kembali di pukul tujuh malam."
"Hmm? Tidak masalah. Lagipula sebentar lagi acara ini akan berakhir," jawab pemuda itu santai.
"Ah, kau baik sekali! Lalu, bagaimana caramu menggajiku jika hanya bekerja di waktu singkat?" dahi Rey mulai berkerut.
Pemuda itu tersenyum miring, "Bukan hanya kau yang bekerja sementara di sini, di dalam sana masih ada pelayan yang sama sepertimu, tapi semuanya perempuan. Soal gaji tergantung hasil penjualan nantinya."
Rey mengangguk-angguk, "Ternyata ada tempat semacam ini."
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" pemuda itu heran karena Rey bergumam dan tidak memandangnya.
Rey menggeleng ramah, "Tidak, aku menerima pekerjaannya. Terima kasih!"
"Bagus! Kita sepakat! Silahkan masuk dan layani pembeli. Dapatkan banyak uang untukku, haha. Aku kembali ke perpustakaan dulu." pemuda itu menepuk pundak Rey dua kali kemudian pergi.
Rey hanya menjawab sekadarnya sangat berterima kasih. Tidak menunggu lama dia segera masuk ke toko itu dan betapa dia dikejutkan oleh segala keramaian yang ada hingga dirinya hanya bisa berdiri mematung sejenak di ambang pintu. Bagian kanan dan kiri memiliki fungsinya masing-masing. Kemudian kasir ada di ujung dalam tepatnya lurus di depan Rey. Sehingga Rey hanya perlu berjalan lurus untuk menuju ke kasir. Benar jika ada beberapa pelayan seperti dirinya dan semuanya perempuan. Di kasir itu berdiri satu perempuan yang kualahan melayani pembeli. Tidak hanya itu, harum tinta dan kertas baru begitu menyengat dan memenuhi ruangan. Ini harum sekaligus memabukkan. Hati Rey dipenuhi segala emosi sekarang.
Dia menyapa ramah menunjukkan deretan giginya kepada penjaga kasir itu setelah berhasil menyibak orang-orang yang mengerumuni meja kasir sambil membawa gulungan kertas berisi lukisan.
"Permisi, Nona. Aku pelayan baru di sini. Ada yang bisa aku lakukan?" tanya Rey sedikit keras karena suara orang-orang yang mendominasi.
Pelayan perempuan yang sangat kerepotan itu menoleh dengan wajah gusarnya. Seketika tersenyum cerah seperti mendapat cahaya, "Kau pelayan baru? Benarkah?! Ah, terima kasih sudah datang! Ayo kemari dan bantu aku melayani semua ini. Aduh, aku kerepotan sekali! Daftar harga ada di sana. Kau lihat betul-betul jangan sampai keliru, karena lebih banyak lukisan mahal dan sulit didapat di sini. Kalau kau salah menjualnya, tuan muda bisa marah dan rugi. Cepat, bantu aku!" jelasnya begitu cepat dan tanpa ragu menarik lengan Rey hingga masuk dan hampir menabrak ujung meja.
Rey tak kuasa menahan diri untuk tidak berpegangan erat pada meja. "Ba-baiklah!"
Hanya itu yang bisa Rey katakan meskipun wajahnya menunjukkan raut bingung begitu jelas. Perempuan yang kini berada disebelahnya sangat sibuk dan cerewet. Dia mengomentari setiap lukisan yang akan dibayar. Rey sudah dikerumuni beberapa orang dan banyak dari mereka adalah perempuan muda nan berpakaian mewah. Sepertinya sangat mengerti tentang dunia lukisan. Rey memperhatikan sekilas tentang kondisinya sekarang. Dia harus bisa cepat menguasai segala hal mengenai lukisan.
'Aku tidak bisa apa-apa,' pekik Rey dari hati yang paling sedih.
Ekspresi tenangnya kali ini tidak membantu. Dia merasa telah melakukan kesalahan besar dengan masuk ke toko ini. Jika dia salah langkah dalam melayani, habislah nasibnya kali ini. Menepuk dahinya keras hingga menarik perhatian rekan kerjanya sebentar.
"Ada apa? Cepat bekerja!"
Setelah itu dia tidak dihiraukan lagi. Rey mendesah panjang dan mengatur napasnya sebentar. Lalu, memberanikan diri untuk menghadap ke kerumunan pembeli. Dia mengukir senyum seramah mungkin menganggap semua itu hanyalah buku dari berbagai jenis dan kesehariannya yang kembali dalam wajah baru.
"Aaaa! Ketampanan apa ini?! Kau siapa? Kau pelayan di sini? Tolong layani aku! Aku dulu, aku membeli banyak lukisan mahal! Akan kuberi kau bonus nanti!"
Rey tersentak hingga mundur karena baru menoleh sebentar sudah ada pekikan keras tepat di depannya. Perempuan yang memekik itu memang terlihat sangat kaya dari penampilannya yang mewah. Rey pun mengangguk dan tersenyum lebih manis. Tidak di sangka jika perempuan itu didorong oleh pelanggan lain yang juga perempuan kaya. Rey terbelalak.
"Wah, kau memang tampan! Apa kau model yang akan dilukis? Boleh aku meminta lukisanmu?!" pekik perempuan itu tidak bisa dikontrol.
"Eee, aku hanya pelayan kasir. Lukisan apa yang akan kau beli?" tanya Rey memberanikan diri untuk bicara.
"Aaaa! Bahkan suaranya sangat merdu!" perempuan itu kembali memekik. Rey sampai memejamkan matanya tak tahan.
'Ya Tuhan, tempat apa ini? Apa bedanya dengan toko buku di hari libur? Aku tidak akan sanggup,' keluhnya dalam hati.
Kegaduhan kecil di meja kasir banyak mengundang perhatian. Termasuk rekan baru Rey. Dia yang menghitung uang dari pelanggannya pun terhenti menjadi menatap Rey lekat-lekat. Rey tidak sadar jika diperhatikan. Mendadak rambutnya tersingkap dan akhirnya Rey kaget sepenuhnya. Segera dia menepis tangan rekannya yang menyingkap rambutnya.
"Apa maksudmu?!" bentak Rey spontan.
Perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan, "Kau tampan sekali! Bukan seperti pelayan, tapi seperti tuan muda saja!"
Rey berdecak dan kembali menata rambutnya, "Jangan menyentuhku, aku mohon."
Rey bicara yang lirih meskipun menautkan alisnya tanda tak terima. Para gadis itu justru berbisik dan pelayan kasir tersebut menangkupkan tangannya.
"Baiklah, aku minta maaf. Sepertinya kau sangat tertutup. Tidak bisa diajak bercanda, ya?" pelayan kasir itu berdecak dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Rey pun memalingkan pandangannya. "Ngomong-ngomong setelah memperhatikanmu, aku jadi ingat rumor yang beredar akhir-akhir ini. Seorang pemuda tampan yang penakut telah jatuh dari langit di Dermaga Ikan Runcing. Kabar itu seperti burung yang hanya hinggap ke segala arah. Tidak ada yang tahu bagaimana rupa pastinya, tapi dia berpenampilan aneh. Bahkan orang-orang di sana hampir membawanya ke penguasa dermaga. Dia lolos begitu saja. Ck, siapa yang percaya kabar itu? Mana ada orang turun dari langit? Yah, meskipun aku juga sedikit percaya, haha," sambungnya sambil terus menghitung uang.
Detak jantungnya berpacu cepat. Sesuatu seakan menghantamnya. Dia kembali menatap rekan kerjanya tanpa bicara. Sedangkan para pelanggannya sibuk menyuruh Rey melayaninya.
'Rumor? Maksudnya kabar itu adalah aku? Bagaimana bisa?' batin Rey.
"Dari mana kau dapat kabar itu?" tanya Rey mencoba sesantai mungkin sambil tangannya mengambil salah satu lukisan yang disodorkan paksa padanya sehingga gadis pemilik lukisan itu menjerit senang. Rey tidak peduli dengan teriakan di depannya. Dia terus memandang rekannya.
"Dari seseorang di jalan. Jangan bilang kau juga percaya?" jawab perempuan itu.
Rey berpikir sedikit sambil membuka gulungan lukisan, "Apa semua orang membicarakannya? Kenapa aku tidak tau?"
Pura-pura seperti rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa, Rey mempraktikkan hal itu sesuai pesan Vay.
"Ck, bodoh! Berita yang tidak pasti sangat mudah menyebar. Tentu saja semua orang membicarakannya. Kemana saja kau?" decak rekannya lagi. Dia tidak seperti perempuan lain yang mengagumi Rey. Bahkan terlihat sedikit mirip dengan Vay.
"Oh, begitu. Eee, apa kau bisa membantuku. Ini harganya berapa?" tanya Rey setelah mengerjap sok paham dan menunjukkan lukisan di tangannya.
Meskipun perempuan itu menghela napas panjang, dia tetap mengajari Rey cara menetapkan harga yang sudah jelas tertera di daftar harga. Setelah Rey mengerti dia mulai menjalankan tugasnya dengan cermat. Sesekali tangan jahil ingin menyentuhnya, tetapi Rey sedikit menjauh ke belakang meja sehingga mereka tidak dapat menggapai Rey. Dia tidak mau lagi wajahnya ditampilkan secara keseluruhan.
Tangan sedang bekerja, tetapi pikiran melayang ke rumor yang baru saja diketahuinya. Kabar tentan dirinya menyebar dengan cepat.
'Kurasa tidak akan menjadi masalah besar. Selama mereka tidak mengetahui jika itu aku. Iya, jadi aku tidak perlu panik,' pikir Rey menenangkan diri sendiri.
Tidak terasa Rey begitu menikmati acara tersebut. Lelah, bisingnya komentar orang-orang tentang lukisan, harum menyengat yang telah memenuhi kepala, serta dentingan uang perak berbentuk bundar yang juga dia pegang telah membuat pusing. Namun, semua itu setara dengan senyum yang dia keluarkan untuk semua orang. Tiba-tiba toko besar itu menjadi penuh dengan para gadis tepat setelah Rey menjadi pelayan kasir di sana. Dia menjalankan pekerjaannya dengan senang hati dan cukup sulit karena menghitung nilai uang secara tiba-tiba. Setidaknya hal itu tidak terlalu menyusahkan. Hingga matahari sudah berada di ujung barat.