Dipikir sejauh apapun juga tidak akan ada gunanya. Lebih baik Rey duduk di salah satu kursi kayu mengamati pertengkaran dua teman barunya. Rey merasa aneh jika terlibat di dalam pertemanan mereka sehingga dia memilih diam dan terus mengukir senyum. Namun, diamnya Rey tertangkap oleh Kal sehingga Kal berhenti berkelahi dengan Vay.
Tangan Kal masih berada di dagu Vay untuk menjauhkan Vay darinya. Sedangkan Vay sibuk berusaha mencari celah untuk memukul Kal habis-habisan.
"Ck, berhenti sebantar! Tingkah Tuan Rey bukankah sedikit aneh? Apa dia tidak bisa bersenang-senang? Apa tidak pandai bergaul?" bisik Kal.
Seketika Vay berhenti memukul, tetapi mereka masih saling mengunci pergerakan. Vay pun ikut memandang Rey. Dia menghela napas panjang, "Memang sifatnya seperti itu. Sehalus dan selembut gadis yang pemalu, tapi dia baik dan pintar. Selain itu juga jauh lebih tampan darimu!"
"Yah, sepertinya aku tidak bisa menyangkalnya. Bisa dibilang dia pria tertampan yang pernah kutemui. Apa dunia modern penuh dengan orang seperti dia?" Kal menggeleng pelan.
"Kau tidak mengerti. Aku juga tidak mengerti sampai sekarang," Vay ikut menggeleng sambil mengerutkan bibirnya.
"Lihat caranya menata rambut, benar-benar unik." Kal mengangguk-angguk seolah memperhatikan setiap detail dari Rey.
"Benar! Dia memang pemalu! Saat bertemu denganku saja malu-malu. Padahal aku menyelamatkan nyawanya," sahut Vay setuju.
"Eh, ceritakan padaku bagaimana kau bertemu dengannya," pinta Kal masih berbisik.
"Tenang saja, akan kuceritakan nanti. Kusarankan kau ajari dia cara menjadi laki-laki. Sungguh aku tidak tau harus memarahinya bagaimana lagi. Dia berbeda jauh denganku dan kau," Vay mendesis hampir memekik.
"Benarkah? Apa dia juga tidak tertarik dengan gadis cantik?" mata Kal melebar.
Vay mengangguk kuat, "Dikerumuni sekumpulan gadis pun dia tidak berminat. Aku heran!"
"Lalu, apa kau juga tidak ada niatan dengannya?" Kal menatap Vay polos.
"Bodoh! Aku temannya. Mana mungkin aku suka padanya?!" Vay memukul kepala Kal tanpa ragu.
"Aduh, sakit! Sstt, diam! Nanti Tuan Rey dengar!" Kal mengelus kepalanya sambil melirik Rey.
"Jangan panggil dia dengan sebutan tuan. Rey masih muda. Usianya sekitar dua puluh dua tahun." Vay sedikit mendongak mengingat-ingat usia Rey.
"Apa? Sebaya denganku! Wah, memang ditakdirkan! Kalau usiamu berapa?" Kal senang.
"Dua tahun lebih muda darinya, tapi kau jangan asal menindasku meskipun kau lebih tua dariku, ya! Kalau tidak kuambil sungguhan pita suaramu!" Vay sudah menggertak dan mengepalkan tangan siap memukul Kal lagi, akan tetapi Kal berhasil menangkap tangan Vay dan melepaskan Vay dalam sekali dorongan.
"Haha, dasar anak kecil! Beraninya melawanku! Ayo sini kalau bisa!" Kal justru menantang.
Vay terbakar amarah, "Apa?!"
Hendak maju menyerang, tiba-tiba terhenti karena suara Rey.
"Kalian membicarakanku?"
Baik Vay maupun Kak terbelalak. Menoleh pada Rey bersamaan, lalu menunjukkan senyum kaku.
"Tidak, kami hanya bermain, haha. Iya, 'kan, Kal?" Vay menyenggol lengan Kal.
"Ha? Ah, iya-iya. Kami hanya bercanda. Siapa yang membicarakanmu, haha," tawa Kal kaku.
"Kalian melihatku dari tadi. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa." Rey tetap tersenyum.
Hal itu membuat Vay menggertakkan giginya. "Sudah kubilang, bukan? Sikapnya lembut," bisiknya pada Kal lagi.
"Hmm, memang perlu diatasi." Kal juga berbisik setuju. Mereka turun dari panggung.
"Kal, kau ceria sekali. Sama seperti Vay," puji Rey membuat gerakan Kal terhenti sejenak.
"Haha, itu biasa bagi penyanyi penghibur sepertiku. Setidaknya aku tidak seperti Vay yang galak," desis Kal ketika menyebut nama Vay.
"Aku dengar, Penyanyi jelek!" Vay mendesis tajam.
Rey terkekeh sampai matanya terpejam sesaat. Mereka menghampiri Rey segera.
"Sepertinya kau suka tenang, Rey," kata Kal setelah berada di depan Rey. Melipat tangannya di d**a. Begitu pun Vay.
Rey memalingkan pandangan ke segala arah, "Apa kau tinggal di sini setiap hari?"
Kal tidak mempermasalahkan pertanyaannya tidak dijawab, "Iya, terkadang. Karena selalu bepergian jadi aku tinggal di mana-mana."
"Kalau begitu maukah kau membantuku bersama Vay?" tanya Rey antusias.
Kal berkedip sekali, "Maksudmu aku ..."
"Bersama melakukan perjalanan di kisah Leazova. Kau bisa dapat banyak hal nantinya. Salah satunya mungkin sihir kita kembali." Vay merangkul Kal hingga Kal menoleh.
"Bahkan Raja Heng Louyan bisa dikalahkan?" Kal pun antusias dan Vay mengangguk.
"Lalu, aku akan menemukan jalan pulang," sahut Rey menyambung ucapannya.
Kal menatap Vay dan Rey yang terdapat binar penuh harap padanya.
'Mereka mengajakku?' batin Kal sedikit tersentuh.
Kal mencoba memandang segala hal, "A-aku pikir itu baik. Baiklah, aku akan bergabung, mengikuti kemanapun kalian pergi, tapi jangan percaya diri dulu. Aku hanya tertarik dengan petualangan, bukan berarti membantumu keluar dari sini, Tuan Rey. Hahaha, aku suka ini!"
"Dasar tidak terus terang! Ayo!" Vay memukul kepala belakang Kal.
"Aduh! Kenapa memukulku?" Kal mengusap kepalanya tidak terima.
"Hahaha!" Vay tertawa keras.
Rey pun tertawa pelan membuat pipi Kal sedikit memerah. Namun, pernyataan tersebut mengukir cahaya di buku Rey sehingga mereka diam. Sontak Rey menaruh bukunya di kursi dan dia menyingkir. Cahaya itu semakin banyak dan semakin menyilaukan. Reaksi Kal sama seperti Rey dan Vay ketika melihat keajaiban buku tersebut. Tidak mereka sangka akan terjadi dua kali dalam waktu dekat. Hanya Rey dan Vay yang memperhatikan cahaya buku itu lekat-lekat. Berbeda dengan Kal yang panik sambil menutupi matanya.
"A-apa itu? Kenapa bisa begitu? Dia bercahaya!" pekik Kal.
Rey mendekat sampai cahayanya sedikit memudar dan buku itu terbuka dengan sendirinya. Mereka sedikit tersentak. Lalu, halaman demi halaman tersibak hingga tiba di halaman selanjutnya yang kosong. Setelah itu cahayanya menghilang secara keseluruhan. Rey dan Vay semakin mendekat.
Kal mengerjap panik. "Sihir? Tidak, buku itu memang membawa kuasanya," mencoba menguasai situasi dan dirinya sendiri dalam ketakjuban.
Rey menantikan sesuatu muncul lagi di kertas itu dan ternyata benar. Kata demi kata dengan coretan tinta yang sama mulai terukir di sana. Kal tak kuasa menahan keterkejutannya sehingga mundur beberapa langkah. Lain dengan Rey dan Vay yang sudah mengetahui jika hal itu akan terjadi. Namun, tulisan yang muncul itu hanya memenuhi satu halaman. Rey menghela napas lega mengetahuinya. Dia bisa sedikit senang karena petunjuk telah datang lagi. Segera mengambil buku itu dan kembali duduk. Sontak Vay dan Kal mendekat menghimpit Rey yang membaca buku itu.
Deg!
Nama lain telah tertera. Pemilik nama itu semakin tercekat tak bisa berkata-kata. Namun, Rey justru tersenyum dan memeluk Kal setelah selesai membaca. Vay meringis imut senang. Nama Kal Liem menjadi salah satu tokoh di buku itu. Karakter yang membawa musik bersenandung di setiap perjalanan.
"Akhirnya satu halaman terisi lagi. Terima kasih, Kal. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan tuan. Panggil aku Rey. Kedepannya aku mohon bantuannya. Aku senang sekali!" Rey masih memeluk Kal yang tak berdaya.
Mulut Kal terbuka, matanya melebar. Vay semakin menunjukkan buku itu pada Kal dan Kal membacanya sekali lagi. Semuanya memang sama seperti karakternya. Tiga panggung rahasia dan kondisi lingkungan di jalanan tengah pulau adalah miliknya dalam cerita.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Hah? Katakan padaku, apa yang terjadi, Rey?" Kal sedikit gemetar ketika memanggil nama Rey. Kemudian, Rey melepas pelukannya. "Akhirnya aku punya teman laki-laki," ucapnya.
Mata Kal semakin melebar, "Itu bukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku!"
Rey justru tersenyum dan itu membuat Vay tertawa terbahak-bahak. Kemudian, Vay menjelaskan alasannya hingga Kal mengerti. Vay tahu jika Rey dalam keadaan baik sekarang. Laki-laki itu sudah senang sampai bersedia memeluk Kal, tandanya Rey sangat terbantu dengan adanya Kal. Bahkan dipegang Vay sedikit saja Rey pasti enggan dan protes. Namun, kali ini senyum Rey berbeda. Bahkan ada setitik air mata di ujung mata Rey. Vay tidak ingin mengetahui apa yang ada di pikiran Rey saat ini.
"Oh, ternyata begitu. Kalau begitu ayo kita mengukir kisah lagi! Perjalanan panjang menanti! Silahkan gunakan panggung perahuku untuk berlayar kapan saja. Aku siap menerjang segala rintangan, haha!" tiba-tiba Kal bersemangat setelah cerita Vay.
"Hah? Bersemangat sekali, ya?" goda Vay dengan seringaian kecil dan Kal tertawa.
Rey menghela napas panjang. Senyumnya sedikit diredamkan. Mengambil buku itu dan mengusap halaman yang baru tertulis.
'Kisah yang sama dengan kenyataan ini akan terus tertulis. Entah sampai ke titik mana, akan kulakukan,' kata Rey dalam hati.
Lalu, buku itu ditutup. Seakan ada kunci yang menguncinya, buku itu tertutup rapat. Semua isinya berada di ingatan Rey. Semangat yang dirasakan Kal kini mengalir pada diri Rey. Namun, Rey bukan ingin melanjutkan perjalanan, melainkan mencari uang untuk mengganti uang Vay. Membuat kedua temannya heran karena tidak ada yang bisa Rey lakukan di pulau mereka. Sayangnya keputusan Rey bulat sehingga Vay dan Kal tidak bisa menyangkal.
"Yahh, tidak perlu buru-buru juga bagus. Dalam hal ini kita bisa memanfaatkan kondisi untuk mencari bekal perjalanan sebanyak mungkin. Aku akan menyanyi di sepanjang jalan dan dapatkan banyak keuntungan, tapi kau dan Vay bisa apa?" bingung Kal.
"Jangan meremehkanku! Aku bisa memotong setiap bagian ikan dan memasukkan ke dalam mulutmu sekaligus!" Vay menunjuk Kal tajam meskipun dia sedang bercanda.
Kal bergidik, "Menakutkan! Bisakah kau bicara baik padaku? Dasar gadis kasar!"
Vay hendak membalas, tetapi Rey mendahuluinya. "Benar, Vay bisa melakukan apapun yang dia mau. Dia sangat ahli dalam segala hal. Bahkan meramal cuaca. Aku akan mencari cara nanti," ujarnya.
Kal dan Vay saling pandang sejenak, "Apa itu artinya kita akan berpencar?" tanya Vay sedikit tak rela.
"Benar." Rey mengangguk. Menutup sebagian wajahnya lagi dengan rambut yang sedikit terbuka, "Aku akan mengganti semua uangmu yang kupakai," sambungnya.
Vay mendesah, "Kurasa sampai malam nanti cuacanya tidak akan berubah. Udara di tepi laut kurang terasa karena ini di tengah pulau. Kita akan aman."
"Ada apa dengan suaramu yang berubah pelan?" Kal tidak mengerti dengan perubahan Vay. Gadis itu bahkan sedikit menunduk.
"Aku tidak mau berpisah dengan Rey. Dia ini tidak tau apapun tentang pulau ini. Bagaimana jika terjadi masalah dengannya? Akan jadi masalah besar juga untuk kita," Vay berterus terang.
"Tidak akan. Aku baik-baik saja," Rey mengatakannya cukup tenang dan itu berhasil menyihir ketakutan Vay.
"Huft, aku harap begitu. Dengar, kalau kau menemukan sesuatu yang mengganggumu segera temui aku. Kurasa aku akan mencari beberapa ikan di sungai. Ada sungai yang tidak jauh dari sini," kata Vay pasrah.
Kal mengerti maksud Vay. "Begitu besar pengaruh Rey padamu," tanpa sadar dia mengatakannya membuat Vay mendongak, "Tentu saja. Jika tidak aku tidak akan rela sampai ke titik ini."
Kal tersenyum pahit, "Dia bukan anak kecil, kau tau."
"Memang bukan, tapi dia sangat payah. Aku tidak yakin dia bisa bertahan jika bahaya datang," balas Vay.
"Kau terlalu mencemaskannya. Bukankah Rey sudah terbiasa dengan sisa keajaiban yang ada? Tandanya dia akan baik-baik saja. Seperti dalam masalah bertahan hidup," keluh Kal. Tangannya terlipat malas.
"Ck, kau tidak tau seberapa payahnya dia. Kalau terjadi sesuatu pada Rey, harapan negeri ini akan hilang." Vay menunduk lagi.
Hal itu mengejutkan Rey dan Kal. Gadis sekasar Vay merasa cemas dan berpikir jauh dari yang seharusnya seperti gadis pada umumnya, itu terlalu mengejutkan.
"Eee, aku tidak sebodoh itu. Percayalah," Rey mencoba menghibur dengan senyuman kaku.
"Dengar! Rey juga bukan sepayah yang kau bilang. Tidak masalah jika berpencar sampai malam." Kal mengibaskan jari-jarinya.
'Apa yang gadis ini pikirkan? Apa dia menyukai Rey? Kurasa tidak, dia hanya aneh,' batin Kal.
Vay menghela napas panjang, "Kalau begitu berjanjilah padaku kita akan berkumpul di sini pukul tujuh malam. Sebentar lagi sore, setidaknya waktu yang tersisa sudah cukup."
"Tenang saja." Rey menyunggingkan senyum membuat hati Vay sedikit tenang. Lalu, tatapannya berubah tajam ketika menatap Kal.
"Apa?" Kal mendelik bingung.
Vay menunjuk Kal tepat di hidungnya sampai membuat mata Kal juling, "Dengar ini baik-baik, Kal! Kau kutugaskan untuk berada di sekitar Rey dan pastikan tidak akan ada bahaya yang mendekati Rey. Jika kau kehilangan jejak Rey, aku akan menghabisimu!" desisnya tajam di setiap ucapannya.
Kal menelan ludahnya susah payah, "Kalau begitu bagaimana aku bisa bebas? Dasar pengatur! Aku juga akan mencari uang yang banyak! Perjalanan panjang ini artinya kita akan meninggalkan pulau ini, 'kan? Butuh uang untuk itu! Aku mau menyanyi!" melengos acuh setelah menurunkan tangan Vay paksa.
"Oh, jadi kau tidak mau?!" Vay kembali mengancam dengan meremas udara.
Kal mendesis mengetatkan deretan giginya. "Aaa! Tidak-tidak, jangan meremas wajahku! Nanti ketampananku berkurang. Kau jahat sekali dan pengatur! Aku tidak suka padamu!"
Rey pusing menatap mereka berdua, "Sudahlah, aku akan pergi sendiri. Kita akan berpencar dan mencari bekal. Berkumpul di sini tepat pada pukul tujuh malam."
Kali ini tidak ada keramahan di nada bicara Rey. Lebih tepatnya Rey seolah memerintah tanpa bisa dibantah.
"Kau dengar?!" Kal meledek Vay sehingga Vay pasrah menjauh darinya.
"Setuju!" kata Vay meskipun masih ada kekhawatiran di hatinya. "Tunggu, tapi di mana kau akan mencari uang?" sambungan dan memandang Rey.
"Di jalanan tadi," jawab Rey tanpa ekspresi.
Vay berpikir sebentar, "Emm, tidak ada tanda bahaya di sana. Baik, pastikan kau tetap di sana."
"Ck, pura-pura peramal. Kau hanya penjual ikan, jangan jadi sok tau!" malas Kal memutar bola matanya.
"Hebat kau, Kal! Akan aku urus kau nanti!" Vay meremas tangannya gemas sedangkan Kal memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Rey segera berbalik, tetapi Kal menahan pundaknya sehingga Rey kembali menatapnya.
"Tunggu dulu, Kawan. Sebelum itu pakailah pakaianku. Punyamu sudah kotor. Mau mandi juga tidak apa-apa. Di belakang gubuk ini ada sumur kecil. Aku tau kau tidak bisa membiarkan dirimu kotor sedangkan penampilanmu sangat tertutup." kata Kal santai dengan senyuman.
Kedua alis Rey terangkat begitu saja, "Benarkah? Terima kasih banyak."
"Ah, jangan sungkan." Kal mengibaskan tangannya dan membawa Rey ke belakang panggung.
Vay berkacak pinggang, "Dasar laki-laki! Aku tidak mengerti jalan berpikir mereka. Untuk apa mementingkan penampilan? Aku tidak mandi dua hari saja tidak masalah."
Dari meminjam pakaian membuat Kal melihat setelan kemeja putih dengan celana hitam panjang milik Rey yang disebut dengan pakaian kerja. Dia sangat terkejut bahkan menyentuh pakaian itu berulang kali. Rey tidak heran dengan reaksi Kal. Mereka berbincang banyak hal. Sama seperti Vay saat pertama kali mereka bertemu, Kal juga meminta Rey untuk menceritakan kehidupannya yang berbeda.
Setelah mereka selesai berbenah, Vay sudah tidak ada di depan. Akhirnya mereka berpencar sungguhan. Teriknya matahari sudah sedikit berpindah ke arah barat. Hari menunjukkan pukul tiga sore. Rey lebih berani keluar dengan model yang berbeda dan lebih baik. Rey akui jika pakaian Kal cukup nyaman daripada pakaian yang dibelikan Vay. Meskipun demikian Rey masih menutup wajahnya dengan rambut. Kal pergi ke arah lain yang tidak diketahui Rey. Keceriaannya bersenandung di sepanjang jalan membuat hati Rey geli. Rey juga ingin tahu di mana sungai tempat Vay pergi.
Langkah kakinya membawa ke jalan yang sebelumnya dilewati. Tidak ada senyum yang ramah, tidak ada satu kata pun yang keluar, hanya ada analisis serius di otaknya untuk menentukan cara agar mendapat uang sesuai dengan ketentuan di lingkungannya sekarang. Berapa nilai mata uangnya saja Rey tidak mengerti. Sehingga dia hanya berjalan saja di sepanjang jalan.
"Mereka tidak lelah? Sampai kapan jalanan ini akan seperti pasar?" gumam Rey seraya melirik kanan-kiri.
Ada beberapa penjual makanan ringan menawarinya, tetapi Rey menolak dengan senyuman malu-malu. Para gadis yang mendapatinya pun mulai mengganggu Rey, tetapi Rey berhasil melarikan diri hingga tidak sadar kakinya berhenti tepat di depan pintu perpustakaan raksasa. Pohon suci itu digoyangkan angin secara perlahan. Rey menatap ujung pohon itu yang tinggi. Senyumnya pun terukir. Dari segala macam pekerjaan yang bisa dia jalankan sementara, hanyalah perpustakaan itu yang mampu menarik hatinya. Itu membuatnya tenang.
Buku Leazova tidak ada di tangannya, melainkan dimasukkan ke dalam pakaian yang aman dan tidak akan hilang atau diketahui siapapun.
"Udaranya lebih bagus dari tadi pagi," gumamnya.
Tanpa berpikir dua kali, Rey membuka pintu itu dan menemukan perpustakaan sepi tanpa satu orang pun.
"Ke mana semua orang pergi?" lirihnya yang tak begitu berarti. Senyap dalam ribuan cahaya yang masuk ke celah-celah kecil sebagai ventilasi udara, suasana ini seperti toko buku di sore hari di hari kerja. Di mana tidak akan ada orang yang mengunjunginya.
Rey memberanikan diri untuk masuk. Pintu itu ditutup walau Rey tidak memandangnya. Melakukan sedikit petualangan menyusuri rak-rak di lantai dasar yang luas berharap menemukan seseorang. Pikirnya pasti ada satu atau dua orang sebagai penjaga perpustakaan ini. Namun, dia tidak menemukannya.