Rasanya sudah lama tidak makan, Rey memakan daging asap begitu lahap. Vay bukannya heran justru menambah daging asap lagi dan berlomba memakannya dengan Rey. Mereka seperti teman yang gila. Vay tertawa tanpa malu meskipun Rey hanya diam dan makan. Rey bahkan tidak tahu apa yang ditertawakan Vay. Bagi Vay, cara makan Rey sangat lucu tidak seperti dirinya yang apa adanya dan tidak tahu malu.
Hingga habis seratus tusuk dan menguras kantong uang Vay hanya untuk sekali makan barulah mereka berhenti. Setelah ini mereka akan mencari cara untuk mendapatkan uang. Di jalanan yang meriah ini, banyak hal bisa terjadi. Pedagang, pembeli, permainan, bahkan pertunjukan kecil pun ditunjukkan. Hampir tidak menyangka akan ada tempat seperti ini di siang hari. Rey sangat menikmatinya. Dia terus mengikuti Vay tanpa tahu rencana gadis itu.
"Kemana, ya? Ck, penjual ikan di mana, ya? Kalau saja ada pasar di sini bisa lebih mudah. Apa tidak ada yang jual bahan mentah?" kata Vay yang telah mengotak-atik kata-kata yang sama sejak tadi.
Rey melenguh, "Sudah siang. Matahari juga terik. Maaf sudah menyusahkanmu."
Vay segera menoleh ke belakang, "Diam kau! Seperti aku mempermasalahkannya saja."
Rey mengerjap bodoh dan kembali melenguh, "Tapi kau kehabisan uangmu."
"Tunggu sampai pekerjaan datang, nanti juga dapat uang," jawab Vay santai. Lanjut mengawasi persekitaran.
"Mana ada pekerjaan datang dengan sendirinya?" gumam Rey dengan bibir mengerucut.
Menunduk menendang beberapa batu kecil yang menghalangi jalan. Tidak terasa sudah berada di ujung jalan jajaran para pedagang. Ada sebuah kerumunan yang meriah di sana, membuat Rey kembali menatap ke depan. Teriknya matahari saat ini bisa dibilang menyengat ke dalam tubuh. Pakaian tebal Rey sangat mengganggu. Dia ingin melepasnya, tetapi berpikir dua kali. Jika pakaian kerjanya terlihat maka akan menjadi masalah dan dia tidak ingin melibatkan Vay dalam masalah lagi. Tiba-tiba pundak Vay ditepuk berkali-kali oleh Vay hampir seperti memukul.
Rey berdesis sedikit kesakitan. "Ada apa?"
Vay heboh menunjuk kerumunan itu, "Lihat, ada penyanyi jalanan! Ayo ke sana!" hendak menarik kerah pakaian Rey, tetapi Rey berhasil menghentikannya.
"Lalu kenapa? Bukankah kita sedang mencari pekerjaan?" bingung Rey.
Bukannya menjelaskan dengan santai, Vay justru menguatkan cengkeramannya pada kerah Rey sehingga Rey sedikit mendekat pada Vay. Rey menelan ludahnya susah payah. Posisinya sekarang membuatnya takut. Terlalu sulit untuk beradaptasi dengan tingkah Vay yang berubah-ubah sewaktu-waktu.
"Kau tidak lihat dengan jelas. Itulah sumber uang kita sekarang! Ayo kita promosikan atau ikut menyanyi, nanti dapat uang. Walaupun hasilnya tidak terlalu banyak, tapi tidak apa-apa. Ayo!" jelas Vay.
"Bi-bisa lepaskan aku dulu?" pinta Rey sabar.
Vay menatap kerah pakaian Rey yang dia remas, lalu melepaskannya begitu saja. Rey sedikit batuk dan mengatur napasnya. Dia melihat ke tengah-tengah kerumunan itu. "Memang terlihat sangat ramai. Kau yakin mau bergabung? Aaaa, jangan tarik aku!"
Belum selesai Rey bertanya sudah ditarik Vay secara paksa. Alhasil kini Rey ikut menyibak orang-orang yang bersuka-cita. Mengeluh pun percuma. Untuk melihat jalan saja tidak bisa.
"Permisi-permisi, beri jalan!" Vay berteriak sambil menyenggol semua orang agar mereka bisa masuk.
'Apa ini sama dengan mengamen?' pikir Rey.
Tidak nyaman berdesakan, Rey menahannya hingga sampai di pusat kerumunan itu. Dia bernapas lega walau hampir tersungkur. Sontak nyanyian dihentikan. Vay meringis dan memegang pundak sang penyanyi tanpa ragu. Sedangkan Rey sibuk mengatur napas. Semua orang yang berkerumun bergumam kebingungan. Penyanyi itu menatap Vay dan Rey bergantian dengan sebuah alat musik memiliki senar yang berhenti dipetik di tangannya.
"Apa-apaan ini?" kata penyanyi itu sambil mengerutkan dahi. Laki-laki gagah yang bahkan tidak terlihat seperti penyanyi jalanan, memakai kain berwarna cokelat sebagai ikat kepala dan rambut yang sedikit panjang memikat gadis-gadis di barisan depan. Dialah penyanyi terkenal di jalanan perpustakaan bernama Kal Liem.
Vay semakin tersenyum percaya diri. "Hei, Tuan! Biarkan aku bergabung bersamamu. Aku butuh uang," tanpa basa-basi Vay mengutarakan maksudnya.
"Hah?!" sudut bibir penyanyi yang kerap disapa Kal itu berkedut. Terheran-heran menatap Vay yang tidak mengenal malu.
"Omong kosong apa ini? Kalian berdua pengganggu, turun! Merusak pertunjukan saja!"
"Sedang asik menikmati, tapi dikacaukan sama orang asing. Menyebalkan!"
"Tuan Kal yang tampan! Ayo lanjutkan! Bersenandung juga boleh!"
Seruan para penonton mulai terdengar. Kal kebingungan harus menghadapi yang mana. Di saat dia memandang sana-sini, tidak sengaja sorot matanya menajam ketika mendapati sebuah buku di tangan Rey. Dia pun memicing tajam. Napasnya mulai tercekat.
'Leazova?!' Kal terkejut dalam hati.
Rey menyadari dirinya menjadi perhatian sang penyanyi, dia menjadi berdiri tegak. Mengedarkan pandangannya pada penonton.
'Mengabaikan penggemarnya? Justru melihat buku ini. Kenapa?' batin Rey.
"Eee, sepertinya dia tidak dengar. Ayo pergi saja," bisik Rey pada Vay.
"Sstt, diam!" Vay mengendikkan bahunya membuat Rey berdecak pelan. Lalu, dia tersenyum lagi, "Tuan, ayo bernyanyi lagi! Ayo kita cari uang yang banyak. Aku ikut!"
Suara Vay yang menggelegar di sampingnya itu berhasil menyadarkan Kal. Kemudian, mata tajam Kal berubah bersahabat dan sedikit bingung melihat wajah Rey. Dia mengabiskan beberapa detik hanya untuk melihat Rey. Rey sendiri tidak tahu harus bertingkah bagaimana. Dia hanya melakukan kebiasaannya saja yaitu menutup wajahnya malu dengan rambut.
'Pria ini aneh!' pikir Kal dalam hati.
"Tunggu sebentar, kenapa kau diam?" Vay meneleng heran.
Seketika penyanyi itu mengangkat tangannya dan otomatis tangan Vay turun dari pundak Kal, "Yah, sepertinya ada sedikit masalah. Aku tidak bisa menghibur kalian lebih lama hari ini, Para sayangku yang manis! Kita akan melakukannya lain kali. Jangan lupa di mana ada senandung merdu itulah aku! Sampai jumpa di lain waktu, Kawan!"
Kal berseru lantang dan ramah. Mengedipkan sebelah matanya di terakhir ucapannya. Lalu, segera menarik Vay dan Vay menarik Rey untuk lari ke belakang di mana tempat yang bebas dari kerumunan orang-orang.
"Eh-eh, apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku?" Vay berteriak panik meskipun kakinya ikut berlari.
Lain dengan Rey yang diam dengan ekspresi yang sama, "Jangan bilang kau mau menculik kami!"
Vay memutar bola matanya jengah, "Ayolah, tidak ada untungnya dia menculikmu."
Gerutu Vay tidak ada artinya. Kal justru tertawa menimbulkan kebingungan yang lain di sela larian mereka.
"Tenang saja. Aku tau sesuatu tentang buku itu. Ikutlah, akan kubawa kalian ke tempat yang aman. Di jalan depan tadi ada mata-mata kerajaan yang tidak bisa dihindari. Perhatikan orang yang membawa serpihan besi berukir yang dijadikan perhiasan bajunya, dia adalah mata-mata," jelas Kal.
Sungguh mengejutkan Rey dan Vay.
"Bagaimana kau bisa bicara seperti itu? Apa yang kau tau?" kali ini Rey berani membantah. Dia tidak mau bertemu orang yang salah.
Kal membawa mereka berbelok-belok ke pekarangan rumah yang bahkan pemandangannya tidak bisa dinikmati Rey karena Rey terfokus pada Kal.
"Nanti kau akan tau. Ikuti aku!" senyum Kal pudar dan berubah menjadi serius.
"Dasar, benar-benar penyanyi jalanan yang merepotkan. Kalau kau macam-macam akan kuhancurkan pita suaramu!" ancam Vay. Dahinya sudah berkerut tidak tenang.
Namun, Kal tidak menjawabnya. Dia terus membawa mereka berkeliling tanpa tahu ujungnya. Hingga setelah menghabiskan waktu setengah jam, mereka berhenti di sebuah gubuk yang besar dan hampir roboh. Napas mereka terengah kecuali Kal. Senyum Kal mulai menyeringai. Menempelkan alat musiknya di pintu dan menggesernya hingga terdengar bunyi seperti benturan ringan. Seketika pintu itu terbuka. Napas Rey dan Vay tertahan di tenggorokan.
"Sihir?!" pekik mereka berdua.
Kal menoleh, "Hmm? Bukan-bukan, ini bukan sihir. Semua sihir sudah dirampas."
Rey memasang raut curiga, "Lalu, apa yang kau lakukan?"
"Eh, jangan terburu-buru, Tuan muda. Wajahmu membuatku takut. Aku bukan orang jahat. Aku justru akan membantu kalian. Beruntung kalian datang menemuiku di saat aku sedang menyanyi. Jika kalian terus berjalan lurus, maka kalian sudah ditangkap oleh mata-mata. Jangan tanya kenapa aku bisa mengetahuinya, karena aku adalah penyanyi jalanan. Aku bernyanyi dan berjalan di seluruh tanah serta perairan kerajaan ini. Perkenalkan, namaku Kal Liem. Senang bertemu kalian." Kal menundukkan kepalanya dan tetap bersikap ramah.
Rey masih diam dan Vay menganga.
"Katakan saja bagaimana caramu membuka pintu!" Vay berteriak kembali ke pertanyaan Rey yang tak terjawab.
Kal tertawa sembari menegakkan badannya. Bahkan dia merenggangkan otot kedua tangannya, "Hahaha, cukup mudah. Ada magnet khusus di alat musikku dan belakang pintu ini. Jika mereka ditempelkan dan digeser hingga menabrak kunci maka pintunya akan terbuka. Aku sengaja membuatnya agar tidak ada orang yang bisa membukanya selain aku. Ini adalah tempat rahasia. Meskipun aku berjaga-jaga jika ada orang yang mengetahuinya. Baiklah, sekarang masuklah! Selamat datang di panggung rahasia Kal Liem yang megah!" Kal membuka pintu lebar dan nampaklah tiga panggung kayu besar nan kokoh dengan model yang berbeda. Ada yang berjenis seperti perahu besar agar bisa menjadi panggung di lautan, ada pula yang memiliki roda kayu sehingga bisa dipindahkan begitu saja, ada juga yang menyerupai bangunan rumah.
Senyum bangga dari Kal terpancar. Mulut Rey dan Vay tak bisa berhenti ternganga. Mata mereka melebar selebar-lebarnya. Tidak heran gubuk yang hampir roboh ini sangat besar, ternyata isinya adalah tiga panggung yang luar biasa.
"Ba-bagaimana bisa kau mempunyai hal seperti ini? Wow, menakjubkan!" pekik Vay tak bisa ditahan.
"Ka-kapal di dalam rumah?" dari begitu banyak kemungkinan hanya panggung kapal yang tidak mungkin berada di sebuah gubuk itulah yang dipikirkan Rey. Bahkan giginya sampai bergetar.
"Haha, jangan terlalu sungkan. Terima kasih atas sinar yang terpancar di mata kalian. Ayo masuk, kita bahas di dalam tentang buku itu." Kal menggaruk kepala belakangnya sambil meringis dan melambaikan tangan seraya masuk.
Tentu saja Rey dan Vay harus masuk jika ingin mengetahui segalanya. Ketika pintu telah ditutup, sebuah lampu temaram dinyalakan untuk menambah cahaya, meskipun cahaya mentari masih bisa memasuki ruangan.
"Maaf, karena tempatku sedikit kotor. Kuharap kalian tidak keberatan. Jadi, siapa kalian? Dari mana kalian datang? Terutama tuan muda itu." Kal seakan berpikir panjang ketika menatap Rey.
Mendengar pertanyaan itu terpaksa Vay dan Rey harus berhenti terpukau.
"Aku Vay Ijri dari Dermaga Ikan Runcing. Hanya pedagang ikan yang berkelana menemani orang ini. Jika kau tau sedikit tentang kami, maka kau pasti tau kalau orang ini bukan orang biasa." Vay menunjuk Rey dan Rey mengangguk.
"Salam kenal, aku Rey Sann seorang karyawan di toko buku. Aku ... bukan berasal dari kerajaan ini."
Kal terkejut, "Apa? Apa itu karyawan? Apa maksudmu bukan dari kerajaan ini? Kau dari kerajaan lain?"
Rey menggeleng, "Sepertinya kau bisa diajak kerjasama. Katakan dulu apa alasanmu membawa kami ke panggung rahasiamu. Setelah itu akan kukatakan identitasku."
Kal meneguk ludahnya susah payah, "Hah, kau cukup waspada, ya. Cukup bagus untuk orang sepertimu."
Perkataan Kal membuat kening Rey semakin berkerut. Namun, Rey tidak merasa orang baru di depannya layak dicurigai.
Pandangan kal turun lagi ke buku Rey sehingga Rey harus menggenggam buku itu lebih erat, "Sudah lama aku tidak melihat nama Leazova terukir di manapun. Sudah lama aku berkelana dari satu pulau ke pulau lain. Sudah lama pula aku melambungkan namaku sebagai penyanyi jalanan. Tragedi itu merampas segalanya. Ketika aku melihat buku yang kau bawa, terasa menyentuh sekaligus sakit di hati. Ada nama kerajaan ini di sana. Dikarenakan nama itu seakan terlarang di negeri sendiri, maka aku berusaha menjauhkanmu dari mata-mata kerajaan agar kau tidak ditangkap. Setiap tanah di sini memiliki sihir, bahkan sekadar namanya pun memiliki sihir. Jika nama itu masih tertinggal maka kau dalam bahaya, Tuan Rey Sann. Dari sana aku berpikir jika kau bukan orang biasa. Setiap nama kerajaan yang tertulis di buku maupun papan nama hanyalah ukiran dan tulisan biasa, tetapi yang kau bawa tidak. Aku bisa melihat sinar terang di sana. Sangat menyilaukan sampai mataku terasa sakit. Aku bisa merasakannya. Itu adalah energi yang kuat. Aku memang tidak bisa ilmu bela diri atau semacamnya, tetapi aku pandai menyiasati segala hal dan menyimpulkan sesuatu. Selanjutnya terserah padamu, apa aku bisa diajak kerjasama atau tidak, tapi yang jelas identitasmu sedikit sudah diketahui olehku dan kau tidak bisa lari dariku."
Rey tertawa pelan ketika Kal bicara kalimat terakhirnya, "Itu bukan ancaman, tetapi untuk berjaga-jaga. Sebelumnya seorang penjual pakaian juga penasaran dengan buku ini, tetapi aku tidak memberitahu apapun padanya. Sekarang kau yang bahkan sudah sejauh ini membawaku. Kurasa kau bukan hanya sekadar tertarik. Terima kasih atas bantuanmu. Kau orang yang baik." senyum ramah menyapa.
"Ha, manisnya! Aku juga tidak kalah manis darimu. Benar, 'kan?" Kal menepuk kedua pipinya dan tersenyum seperti Rey.
Sudut mata Vay berkedut, "Di mana keseriusan tadi? Bodoh!"
Rey dan Kal kompak menatap Vay.
"Jangan terlalu tegang, Nona. Apa kau mau satu lagu cinta dariku? Aku adalah pengembara cinta hari ini!" Kal mendekati Vay sehingga Vay tersentak mundur. Lalu, berputar dengan alat musiknya merasakan kebahagiaan yang tiba-tiba.
Vay bergidik, "Aku bukan perempuan yang gila cinta! Dengar! Aku penjaganya Rey! Kalau kau macam-macam akan kuhabisi kau!" melotot mencengkeram pundak Kal sehingga Kal memekik kesakitan.
"Aaa! Kasar sekali, haha! Aku suka!" Kal meringis.
Rey mendesah, "Vay, dia teman, bukan lawan."
Vay melepaskan Kal kasar dan melengos acuh, "Huh! Aku tidak jadi kerjasama denganmu dalam mencari uang!"
Rey menggeleng pasrah, "Aku dari kota Vier. Tempat yang tidak akan bisa kau temui. Anggap saja kalian berada di masa kuno dan aku telah dibawa untuk mengarungi waktu dari zaman modern ke masa lampau. Buku ini kudapat dari toko buku tempatku bekerja dan aku diserap masuk ke dalamnya. Tidak tahu kalau buku ini masih menyimpan energi seperti yang kau bilang, akan tetapi buku ini terus memunculkan keajaibannya."
Penjelasan Rey membuat Kal mendekat dan menganga. Merampas buku itu langsung tanpa persetujuan Rey.
"Hei, kembalikan!" kata Rey dengan tangan ingin merebut kembali, tetapi diurungkan.
"Wah! Sungguh nyata! Hmm? Kenapa tidak ada tulisan yang lain? Banyak yang kosong!" tanpa ragu Kal membuka buku itu sambil terheran-heran.
"Kau tidak merasa aneh denganku?" Rey sedikit khawatir.
Kal masih asik meneliti buku itu, "Tidak. Semua yang terjadi di sini adalah ajaib. Kau juga ajaib bisa melintasi waktu. Jika ada hal yang serupa aku juga ingin datang ke duniamu, tapi apa bisa? Hahaha!"
Rey menghela napas lega dan tersenyum, "Syukurlah. Kau sama seperti Vay. Mempercayaiku di pertama kali bertemu. Terima kasih banyak."
"Jangan sungkan! Wah, apa ini? Peta kerajaan ini? Aku pernah melihatnya di perpustakaan! Memang seperti ini bentuknya!" Kal terperangah ketika sampai di halaman terakhir yaitu peta kepulauan kerajaan Leazova.
"Aku terserap masuk ke sana, haha," Rey tersenyum renyah.
Kal menatap Rey dan peta itu bersamaan. "Apa? Mustahil!"
"Ck, kembalikan!" Vay merebut kembali buku itu dengan kasar.
"Hei, aku belum membacanya!" protes Kal.
Vay memberikan buku itu pada Rey tanpa mengalihkan perhatian dari Kal, "Percuma kau membacanya. Hanya muncul satu bagian di mana Rey bertemu denganku saja. Mungkin akan muncul lagi setelah ini. Eee, iya, 'kan, Rey?" menatap Rey penuh tanya.
"Aku sendiri tidak yakin." Rey memandang buku yang sudah ada di tangannya.
"Hah, terlepas dari itu. Apa semua ini kau yang membuatnya? Besar sekali! Sampai gubuknya hampir roboh! Kalau diterjang badai kemarin pasti sudah hancur berkeping-keping." Vay mengedarkan pandangannya.
"Benar! Aku merancangnya, bukan membuatnya. Itulah mengapa aku bersyukur karena badai kecil semalam tidak sampai di sini." Kal tersenyum puas.
"Wah, cukup mengesankan!" Vay berjalan-jalan melihat panggung.
"Kau suka yang mana? Suatu saat nanti bisa ikut denganku bernyanyi menghibur orang ramai. Bukankah kau tadi menawarkan diri?" goda Kal menaikkan alisnya seraya mengikuti Vay.
"Tawarannya tidak berlaku! Aku lebih suka menjual ikan. Eh, tapi panggung yang satu ini lebih besar dari yang lain. Apa tidak bisa dipindahkan? Tidak ada roda dan bantalan perahu." Vay mencoba menaiki panggung.
"Iya, karena ini panggung tetap. Aku tinggal di sini. Hati-hati kalau naik. Ngomong-ngomong kau tidak sekadar yang kukira. Meskipun wajahmu mengerikan." Kal membantu Vay naik dengan memegangi tangan Vay.
"Apa kau bilang?!" Vay berbalik dan marah.
"Aku hanya berkata yang sebenarnya. Jangan memukulku!" Kal membela diri dan naik ke panggung.
Mereka bertengkar di atas panggung dan melewatkan kisah Rey dengan buku Leazova begitu saja. Sementara itu, Rey tengah berpikir untuk apa yang akan dia lakukan. Di tengah keributan yang dua temannya buat, tidak mempengaruhi Rey untuk memandang dalam sebuah peta yang membawanya terjerumus masuk.