Perpustakaan itu tenang, juga di atas kebebasan dan indahnya kepulauan negeri ini, tercatat sejarah yang memilukan. Semua itu terkisah di lima lembar buku Leazova yang berhasil dimunculkan. Misteri yang bahkan tidak bisa diceritakan secara keseluruhan oleh Vay Ijri. Sebagai pedagang ikan biasa di dermaga, dia merasa tidak mempunyai hak atas menyebut penguasa kerajaan sekaligus penyebab sejarah itu. Namun, semuanya telah jelas tertulis di buku Leazova. Rey membaca semuanya. Bahkan matanya yang tertutup rambut masih bisa melihatnya dengan jelas. Kisah ini terlalu nyata.
Terkejut bukan lagi hal baru bagi Rey. Semua yang ada padanya kini hanya keajaiban, tidak ada yang normal. Lantas menurutnya apa yang dikisahkan buku itu memang benar, meskipun terdapat sedikit keraguan tentang nama yang tertera. Vay Ijri, namanya masuk dalam cerita.
Deg!
Rey membaca nama orang didepannya itu berkali-kali. Tidak berubah, tidak juga salah ejaan. Jangankan nama Vay Ijri, semua kejadian di pulau sebelumnya tertulis jelas di setiap paragraf. Buku itu menceritakan kehidupan pulau dan menyinggung sebuah penguasa kerajaan yang namanya belum tertera. Rey tidak bisa mengucapkan apapun untuk hal ini. Sedangkan Vay yang jelas-jelas telah ikut membaca buku pun tersentak mundur sampai punggungnya sakit terbentur kayu penyangga. Dia tidak berani menatap buku itu lagi. Lain dengan Rey yang terus menajamkan pandangan pada buku itu terutama bagian di mana Vay Ijri melintasi laut untuk sampai ke pulau yang rindang ini.
"Mustahil!" satu kata dari Rey keluar. Vay masih tak kuasa dan membiarkan dirinya masih terbentur kayu penyangga. "Nama ... Vay tertulis di buku," sambungnya.
Rey mengerjap, memukul kepalanya pelan. Mencoba mengerti dan menganggap semuanya masuk akal.
'Pulau dan negeri ini dikisahkan begitu jelas sampai tidak terlewat satu pun. Suasana, orang-orang yang aneh, warna-warni kehidupan di pulau sebelumnya, bahkan ikan runcing di dermaga yang belum pernah aku lihat juga disinggung. Itu artinya buku ini memang bercerita tentang Leazova. Lebih tepatnya pada kerajaan Leazova,' pikir Rey setelah cukup tenang.
Dia menghela napas panjang. Kemudian, kembali tersenyum dan menyuruh Vay mendekat. "Hei, kemarilah. Namamu ada di sini, lihatlah!"
Senyuman dan suara yang tetap halus itu mampu membuat Vay mendongak dan perlahan-lahan merangkak mendekat. Raut wajah Vay sedikit takut. Rey mengerti bagaimana perasaan itu, karena dia juga takut sebelumnya.
"Coba lihat, karaktermu ada di buku, haha. Kau seorang penjual ikan di dermaga yang banyak bicara meskipun tegas dan pandai bela diri. Buku ini bahkan menyebutmu seperti laki-laki. Penulisnya sangat mengerti dirimu, ya, haha." Rey tersenyum tenang seolah mengatakan itu adalah bagian dari sihir sehingga seharusnya tidak masalah bagi Vay.
"I-iya, itu memang aku. Wah, apa yang terjadi denganmu, Rey? Kau seolah pembawa pesan dari langit yang membawa misteri buku berisi kerajaan ini. Kenapa juga ada namaku di sana sedangkan namamu tidak?!" awalnya Vay bicara tenang, tetapi berubah keras ketika protes.
Rey meringis, "Aku juga tidak tau."
"Kau jangan tersenyum seperti itu! Mengerikan tau!" Vay mundur satu langkah lagi.
Rey kebingungan, "Aku yang lebih terkejut di sini, kenapa kau ikut terkejut?"
"Apa? Kau masih tidak mengerti juga? Aku sangat terkejut sampai mataku ingin lepas. Rey, apa yang ada di buku ini adalah nyata. Pulang di mana aku tinggal, siapa aku, siapa penghuni pulau itu, dan aktivitas kami tertulis jelas. Penulisnya pasti bukan orang biasa atau mungkin bukan berasal dari kerajaan ini. Terlebih lagi dia menceritakan setiap detail apa yang kualami bersamamu hingga sampai ke pulau ini meskipun tidak mencantumkan namamu. Kau mungkin tidak dianggap dan kau tau apa artinya itu? Ini tentang kami dan bukan kau. Aku rasa kau ditakdirkan untuk melihat kehidupan kami," penjelasan Vay yang tidak masuk akal kini menjadi kemungkinan besar.
Rey mengangguk, "Aku pun berpikir begitu."
Vay memukul meja keras, "Hanya itu?"
Rey sedikit kaget dan menjawabnya ragu, "Iya."
Vay menghela napas berat, "Lihat! Baca baik-baik bagian awal dan terakhir ini. Apa tidak ada yang mengganggu dirimu?" menunjuk kalimat yang berada di awal paragraf halaman pertama dan halaman terakhir.
Rey meneleng dan mulai membaca ulang, "Itu tertulis kerajaan ini dipimpin oleh penguasa yang sangat sakti. Ahli sihir tertinggi. Kenapa?" begitu mudahnya bertanya tanpa mengerti apapun.
Vay menepuk dahinya, "Itulah alasan mengapa aku tidak terbiasa dengan sihir selama ini, Rey Sann! Kau lihat sendiri tingkahku aneh, 'kan?!" memukul meja lagi lantaran gemas.
Rey mendesis sambil meringis, "Kau ini, cobalah jangan bersikap kasar. Tanganmu tidak sakit memukul meja?" meneliti tangan Vay tanpa menyentuhnya.
"Tidak!" Vay membentak kemudian berdecak, "Kau ini kenapa bisa sesantai itu? Bukankah awalnya kau pengecut?"
Rey menunjukkan lesung pipinya, "Aku mencoba membiasakan diriku dengan kondisi yang ada. Sadar telah masuk ke dunia yang berbeda membuatku harus bertahan dan menerima kenyataan. Jika tidak aku bisa terkena penyakit jantung. Itu tidak baik."
Vay mengerutkan dahinya, "Jawabanmu masuk akal juga. Jadi bagaimana? Sudah tidak penasaran? Sudah dapat jawabannya?" menjauhkan tangan dari meja dan bersikap lebih santai.
Rey memandang dedaunan sebentar, "Hmm, sepertinya begitu. Aku telah masuk ke sebuah cerita dan menjalani kisahnya. Kemudian, buku ini menyimpan misteri selanjutnya yaitu setiap tokoh yang akan kutemui dan bagaimana kisah selanjutnya. Lalu, kurasa aku harus menyelesaikan hingga akhir cerita agar aku bisa kembali. Jika ada perubahan di tengah jalan yang bisa menuntunku untuk pulang, kurasa aku akan menggunakan jalan itu. Itu yang aku pikirkan."
Vay bertepuk tangan, "Wah! Kau cepat mengerti!"
Rey mengibaskan tangannya dia kali, "Tidak, bukan begitu. Aku hanya sering membaca buku sehingga sering menyimpulkan isinya, itu saja."
"Ah, tidak perlu malu, Kawan! Aku tau kau bukan orang biasa. Kalau tidak mengapa kau dikirim kemari?" Vay ikut mengibaskan tangan dan menambah senyum jahil.
"Benarkah? Aku sedikit malu." Rey menutupi wajahnya lagi dengan rambutnya. Sedikit merah di pipi pun timbul membuat Vay tertawa.
"Sudahlah, sekarang apa rencana selanjutnya?" Vay membereskan buku-buku yang berserakan selagi Rey berpikir.
"Karena cerita tentang penguasa kerajaan belum disebutkan secara lengkap, aku akan mencari tau tentang asal mula kerajaan ini dan penguasanya. Semakin mengetahui seluk-beluk negeri kalian semakin aku bisa mengerti, 'kan? Lagipula kau bilang itu alasanmu kau takut dengan sihir. Ini juga misteri." Rey mengangguk-angguk sambil mengusap rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.
Sontak pergerakan Vay terhenti. Menarik perhatian Rey dengan penuh heran.
"Ke-kenapa?" Rey mengangkat alisnya.
Vay mengerutkan dahinya lagi. Itu keseriusan yang membuat Rey tersentak dalam hati. Lalu, Rey tergerak untuk menutup buku Leazova. Dia merasa Vay sangat serius sekarang.
'Apa yang gadis ini sembunyikan?' pikir Rey.
Vay menghembuskan napas panjang seolah lelah dari beban pikirannya keluar. Pandangannya sedikit menunduk ke tumpukan buku di tangannya, "Raja yang memimpin negeri ini sangatlah adil dan bijaksana. Dia pemegang sihir paling kuat bahkan musuh dari negeri lain tidak berani mendekati kepulauan meskipun hanya berjarak beberapa meter dari laut. Namun, semua itu sirna ketika penyihir jahat datang menyerang. Dia jauh lebih kuat. Namanya Heng Louyan. Raja terdahulu kalah telak. Kami tidak percaya sekaligus tidak berdaya. Sihir yang dimiliki Heng Louyan adalah sihir hitam yang dirasuki kekuatan jahat. Setelah dia berhasil merebut tahta, dia merampas sihir semua orang. Karena sihir yang melimpah itu membuatnya awet muda di usia lima puluh tahun. Kau akan terkejut ketika melihatnya secara langsung. Dia tidak terlihat seperti manusia paruh baya. Hasilnya, sekarang kerajaan Leazova kehilangan kekuatan dan bertahan akan tindakan keji Raja Heng Louyan meskipun kelihatannya kami hidup damai tanpa gangguan apapun seperti kerajaan biasa. Keseimbangan negeri ini hilang. Kami hanya bisa bertahan di atas kekuasaan Raja Heng Louyan yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan kepulauan ini dengan kuasanya. Dia memeras rakyat, bertindak seenaknya, menghancurkan dan merampas apa yang dia mau, memimpin negeri secara tidak teratur, perdagangan tidak berjalan lancar, kemiskinan ada di setiap pulau dan yang lebih parah kerajaan ini tidak akan bertahan lama karena sihirnya telah musnah. Penompang sihir tanah sihir ini juga dirampas dan semuanya terletak pada Raja Heng Louyan. Kami harus menuruti semua kebijakan yang dia buat agar kerajaan ini tidak lenyap. Itulah mengapa aku heran dengan sihir yang kau bawa, Rey. Aku sudah lama tidak melihat sihir dan keajaiban apapun. Jika saja aku lebih kuat, aku ingin menghancurkan penyihir jelek itu dengan tanganku sendiri. Aku akan mencincangnya seperti aku memotong ikan. Sayangnya, aku hanya pedagang ikan yang bahkan menyebut namanya saja tidak berhak. Kau tau? Setiap jalan yang kita lewati bisa saja ada mata-mata Raja Heng Louyan yang bahkan tidak kami ketahui wujudnya. Mungkin manusia bahkan hewan dan tumbuhan. Jadi, kau harus lebih hati-hati setelah ini. Lebih baik terus bersikap biasa seperti warga lainnya dan tetaplah bersamaku. Aku jamin kau akan aman. Sekarang kau tau keadaan yang sebenarnya. Buku itu mungkin akan menceritakan kisah lengkapnya di halaman berikutnya."
Mata Rey melebar dan mulutnya tertutup tangan. Benar di dalam buku tertulis jika penguasa kerajaan ini sedang bermasalah sehingga meneror warga dengan ketakutan di dalam kedamaian, akan tetapi Vay menceritakannya lebih jelas. Heng Louyan adalah nama penyihir itu yang belum disebutkan dalam buku. Rey rasa nama Raja itu akan tertulis nanti karena Vay telah mengatakannya.
"Jika setiap perbuatan yang kita alami ada di buku, maka kita akan terus berjalan demi memecahkan misteri buku ini. Sebenarnya ke mana buku ini akan menuntunku?" jawaban Rey yang dirasa cukup bijak. Vay pun setuju dan mengangguk.
Keduanya terlarut dalam pikiran masing-masing. Rey serius menatap buku Leazova. Sedangkan, Vay kembali menata buku meskipun pandangannya tidak dialihkan dari Rey.
'Apa Rey datang sebagai cahaya? Si pemalu ini adalah penyelamat kerajaan? Aku tidak tau, tapi instingku mengatakan akan terjadi sebuah peristiwa yang besar dan itu karena pemuda ini,' pikir Vay.
"Baiklah, semuanya sudah bersih. Aku lumayan lega." Vay berdiri setelah keheningan mereka. Merenggangkan tangan dan tiba-tiba perutnya berbunyi. Segera menutupi perutnya dan memukul pelan, "Memalukan! Rey, aku lapar! Ayo cari makan!"
Rey mendongak, "Makan?"
"Ck, berjalan dari semalam dan menembus badai hingga tiba di sini. Kau tidak lapar?" Vay berkacak pinggang.
Rey berdiri, tidak lupa buku itu dipegangnya erat, "Bukan itu maksudku, tapi kau bilang tidak punya cukup uang."
Vay mengibaskan tangannya cepat, "Lupakan itu dan hilangkan wajah polosmu! Masalah uang kita bisa kerja nanti. Sekarang ayo cari makan! Aku tau di mana ada makanan enak yang murah. Haha, makanan, aku datang!"
Segera turun dengan gembira tanpa takut jatuh. Rey ingin menghentikannya, tetapi Vay sudah turun jauh. Dia hanya bisa menghela napas.
"Kerja apa?" gumamnya bingung.
Kembali pada posisi di mana dia berada di tengah pulau. Keluar dari perpustakaan besar. Senyum cerah terus menyapa. Memandang perpustakaan pohon yang dihujani dedaunan kecil dari pohon lain yang tertiup angin. Rey membiarkan Vay berkeliaran mencari makanan sedangkan dia hanya berdiri berjarak tiga meter dari perpustakaan itu. Pekikan para gadis yang menyadari aura ketampanan manis Rey mulai terdengar. Mereka memuji Rey yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Namun, semua itu tidak mengganggu Rey.
'Sungguh pemandangan yang indah. Aku akan merindukan perpustakaan pohon ini jika sudah kembali ke kota," batinnya.
"Wah, tampan sekali! Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Apa dia saudagar kaya?"
"Dilihat dari penampilannya, sih, tidak, tapi dari wajahnya sepertinya iya. Aku ingin berkenalan dengannya!"
"Kenapa wajahnya ditutupi rambut? Apa itu menimbulkan kesan misterius? Ah, bagiku itu kesan yang manis! Aaa, aku ingin melihatnya dari dekat!"
Begitulah pekikan para gadis belia yang memuja Rey dari jauh. Puas memandangi pemandangan tenang di depannya, Rey mulai terusik dengan pekikan yang menyerupai teriakan itu. Dia menoleh ke kanan-kiri yang membuat pekikan para gadis bertambah banyak.
"Kenapa mereka berteriak?" gumam Rey polos.
"Ke mana Vay? Dia meninggalkanku?" Rey menutupi wajahnya lebih rapi.
Celingukan bimbang ingin mencari Vay hingga akhirnya Vay ditemukan berada tidak jauh darinya. Di samping perpustakaan tempat pedagang kecil berkumpul di sepanjang jalan. Tentunya berada cukup jauh dari kawasan perpustakaan.
Rey segera menghampiri Vay yang memperhatikan toko makanan ringan yang terbuka. Ada sedikit asap mencuat dan aroma daging yang hampir matang. Rey bisa menciumnya ketika sudah dekat.
'Seperti makanan jalanan. Mereka juga punya yang seperti ini?' batin Rey sambil tersenyum.
Jeritan para gadis itu masih menyertai bahkan ada yang mengikuti Rey. Ketika Rey melirik mereka semakin tak kuasa. Akhirnya ada yang memberanikan diri mendekati Rey sampai Rey tersentak mundur satu langkah. Segera merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Padahal Rey sudah dekat dengan tempat Vay.
"Hai, Tuan muda! Bolehkah kita berkenalan? Aku lihat kau seperti kebingungan. Kalau kau mau aku bisa mengajakmu berkeliling pulau ini!" salah satu seorang gadis sangat antusias hingga tangannya terkepal. Matanya berbinar, mempertahankan Rey tajam.
"Eee ..." Rey tidak tahu harus berbuat apa. Dia sedikit gugup, tetapi para gadis yang menghadangnya ini hanya ingin berkenalan. Setidaknya tidak jahil seperti perempuan yang membeli buku di toko tempatnya bekerja.
Rey tersenyum sopan dan mereka menjerit lagi.
'Apa aku setampan itu?' heran Rey dalam hati.
"Ah, Maaf. Aku hanya ingin lewat. Permisi," kata Rey.
"Aaa! Suaramu merdu sekali! Apa kau bisa bernyanyi? Sungguh rasanya sudah lama tidak ada orang tampan sepertimu!" satu gadis yang lain mulai bertingkah dengan mencolek dagu Rey. Sontak Rey mundur selangkah.
"Permisi, aku harus pergi." Rey masih tetap tersenyum.
'Tahan, Rey. Mereka sama seperti perempuan pada umumnya,' sabar Rey dalam hati meskipun dirinya sangat terganggu.
"Hei, kenapa malu-malu? Apa ada sesuatu di wajahmu? Bisakah kau menyibak rambutmu?" tanya salah satunya lagi dengan ramah.
"A-aku punya alasan sendiri. Tolong, biarkan aku lewat," jawab Rey. Kerutan di dahinya terlihat jelas jika dia cukup tidak nyaman.
"Apa? Kau bukan pria jantan, ya? Caramu bicara sangat sopan!" tunjuk gadis yang mencolek dagunya.
"Memangnya apa salahnya? Dia baik! Bagai arus sungai yang tenang dan hening. Sungguh pemuda yang cantik!" gadis ramah tadi membela dengan menggambarkan perawakan Rey di udara.
"Bagaimana bisa laki-laki dikatakan cantik? Dia memang tampan, tapi tidak tangguh!" kata gadis yang bertingkah.
"Kalau begitu mengapa kau datang? Pria seperti Tuan muda ini sangat langka. Berhati lembut dan cukup pemalu. Pengetahuannya pasti juga tinggi." gadis ramah itu melirik buku yang Rey bawa.
Rey memperhatikan mereka heran. Menyembunyikan buku itu di belakang punggung. Lalu, menggeleng pasrah. Mereka masih berdebat sedangkan yang lain asik menatap wajahnya. Rey sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya sabar menunggu mereka ingin berdamai dan memberinya jalan.
Namun, suara pertengkaran yang aneh itu didengar oleh Vay. Vay menoleh dan matanya membulat seketika.
"Kenapa Rey dikerumuni gadis-gadis jelek? Bukannya kemari, tapi diam saja. Dasar pengecut satu itu!" Vay menepuk dahinya dua kali merasa gemas.
"Bibi, beri aku sepuh tusuk di dua piring. Aku akan kembali," kata Vay pada penjual daging bakar itu. Lalu, menyingsingkan lengan bajunya dan segera menghampiri Rey.
Tanpa basa-basi dia menyibak kerumunan para gadis bahkan memisahkan kedua gadis yang bertengkar. Rey sempat terkejut, tetapi senang melihatnya.
"Vay?" gumam Rey.
Vay berdecak melihat Rey yang tersenyum naif. Kemudian, mengedarkan pandangan pada semua gadis itu.
"Kalian pergi sana! Dia ini sudah kujinakkan! Jadi jangan ganggu dia!" nada Vay sedikit tinggi menimbulkan desakan di hati.
"Galak sekali! Tuan muda ini juga tidak mengenalmu! Jangan mengada-ada!" kata gadis yang bertingkah.
Vay justru melotot dan berkacak pinggang, "Masih tidak mau pergi juga? Apa mau aku pukul dulu baru pergi, Hah?!"
"Eee, jangan marah-marah, Vay," bisik Rey merasa tak enak hati di belakang Vay.
Semua nyali gadis itu menjadi menciut. Melihat ada belati di sabuk pinggang Vay membuat mereka mengalah dan pergi.
"Sebagai perempuan kau kasar sekali! Bagaimana bisa Tuan muda setampan ini berteman denganmu? Kau pasti melakukan sesuatu!" gadis bertingkah kasar itu tetap tidak mau mengalah meskipun setelah itu tetap pergi.
"Kasar katamu?! Hei, kemari kau jelek! Akan kuajari bagaimana bertindak kasar sebagai perempuan!" Vay marah mengacungkan jarinya pada gadis itu yang bahkan sudah pergi membelakanginya.
Rey memegangi tangan Vay, "Sudahlah, biarkan saja. Kenapa kau marah?"
Vay menoleh kasar, "Astaga, hentikan sikap polosmu itu, Rey Sann! Aku tidak tahan! Bagaimana cara mengajarimu menjadi laki-laki, Hah?" dia frustasi.
"A-aku laki-laki. Memangnya harus menjadi bagaimana?" heran Rey yang bisa dibilang bodoh.
Vay meremas udara sambil bergumam tidak jelas. Lalu, mengatur napasnya agar tenang. "Huft, lupakan saja, tapi dengarkan aku! Kalau kau dikerumuni gadis-gadis seperti mereka lagi, kau harus bersikap tegas mengusir mereka. Jangan lemah lembut seperti tadi. Karena mereka hanya akan terus menggodamu, kau tau?"
Rey memukul bukunya, "Oh, seperti itu! Temanku juga menyarankan hal yang sama. Aku harus bersikap tegas." mengangguk paham.
Vay menggeleng tidak mengerti, "Baiklah, ayo makan. Di sana ada daging asap yang lumayan murah. Harumnya tercium sampai sini, 'kan? Ayo cepat!"
Ekspresi Vay berubah lagi dengan mudah. Dia menarik tangan Rey untuk tiba di kedai kecil itu. Dua piring daging asap pesanan Vay sudah siap. Mereka duduk di kursi kayu kecil dengan meja bundar yang sudah disiapkan. Rey hanya menurut dan terus memperhatikan lingkungannya. Sangat ramai dan damai. Tanpa sadar senyumnya terus terukir sejak duduk di kedai daging asap.