Tidak tahu berada di tempat yang disebut sumber pengetahuan. Bahkan kata sihir itu benar-benar ada. Sejarah membuktikan bahwa sihir lahir dan menyatu di negeri ini.
Deg!!!
Napas Rey tercekat. Buku bersampul kerang setebal lima centimeter mengejutkan dirinya. Buku yang menjelaskan segalanya. Bola mata Rey tak bisa tenang. Seluruh tubuhnya gemetar. Tepat setelah Vay mengetahui keberadaannya. Gadis itu pun segera menghampiri Rey dan bertanya apa yang terjadi sampai Rey berdiri kaku dengan dua buku di tangan.
"Rey, kau kenapa? Kupikir kau tersesat."
Sedikit menggoyangkan lengan Rey, kemudian segera berhenti. Rasa khawatirnya hilang ketika melihat buku perpustakaan di tangan Rey.
"Buku apa yang itu?" dengan dahi berkerut dan telunjuk mengarah pada buku bersampul cangkang kerang yang dipegang Rey.
Seketika Rey tersentak. Dia segera berbalik badan menatap Vay. Kemudian, menunjukkan buku itu.
"Aku tidak mengerti, semua isinya tentang sihir. Membuatku tidak bisa berpikir." Rey menggeleng kuat.
Vay berdecak sambil mengambil buku kerang itu, "Ah, ini mengenai sejarah negeri ini. Kenapa kau mengambil buku sejarah bukannya mencari jawabanmu? Apa sudah ketemu?" Vay menaikkan kedua alisnya. Mengembalikan buku itu ke sembarang rak di dekatnya.
Rey menggeleng lemas, "Belum."
"Ck, kau tidak mencarinya betul-betul. Emm, di tangga itu banyak buku yang berisi penelitian orang-orang terdahulu. Siapa tau ada jawaban di sana." Vay menunjuk tangga kayu yang semakin mengarah ke atas pohon.
"Tangga kayu?" gumam Rey ketika Vay menaiki tangga itu.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Rey lagi dan lagi. Berusaha menghilangkan rasa terkejutnya dari kebenaran sihir dari buku. Setelah membaca sekilas buku bersampul kerang itu, dia mengerti akan adanya sihir meskipun sulit untuk mempercayainya. Bagaimanapun juga Rey harus percaya dan berbaur santai layaknya penghuni pulau.
'Tangga itu menuju ke atas,' batin Rey ketika melihat Vay yang tak terlihat lagi seolah tenggelam dalam tingkatan tangga yang sangat panjang dan menjulang tinggi.
Getaran di tangannya dapat diredam dengan mudah setelah Rey menghela napas panjang sekali lagi. Lalu, dia mengikuti Vay menyusuri tangga sembari melihat buku yang dia bawa. Tepat ketika Rey menginjak anak tangga pertama, dia berhenti sejenak. Ujung sepatunya ditekan perlahan pada anak tangga itu. Dia merasakan sensasi kayu murni yang kuat.
'Tidak ada kerapuhan sama sekali. Tangga kayu ini masih bagian dari batang pohon. Keahlian mereka membangun tempat ini sebanding dengan para tukang di dunia modern. Bahkan mungkin ini lebih baik,' pikir Rey.
Tidak ada salahnya menilai keterampilan orang-orang di dunia sihir ini. Harus Rey akui kalau mereka melebihi kepintaran tukang dan arsitek biasa.
Kakinya kembali melangkah. Setiap anak tangga meninggalkan suara tapak kakinya. Pandangan Rey tertuju pada deretan buku yang disuguhkan membentuk pusaran mengelilingi dinding pohon. Beberapa orang juga ada di sana. Mereka sibuk dengan buku masing-masing. Lalu, sebuah meja mulai terlihat. Tanpa sadar Rey sudah melangkah terlalu jauh hingga berada di pintu menuju tingkat teratas perpustakaan. Sinar matahari mulai menyeruak masuk lebih banyak. Rey menyilangkan tangannya merasa silau. Senyumnya mulai terangkat. Sinar matahari itu bagai memberi petunjuk keajaiban lainnya. Dia merasa tenang. Apakah jawabannya akan terlihat dalam waktu dekat?
Rey segera menuju lantai teratas dan mendapati Vay seorang diri di sana. Senyum Rey tidak bisa berhenti. Hawa sejuk dan cerah bisa dinikmati. Dia berada di atas pohon sungguhan. Dahan dan ranting serta daun-daun hijau segar itu membuat dirinya seakan mandi udara. Angin bertiup tipis di sana. Ini seperti hutan buatan. Bahkan kaki Rey melangkah perlahan ke setiap pijakan kayu sambil terus memandangi daun-daun pohon itu. Padahal pijakan kayu dibuat datar seperti berada di dalam ruangan. Rey merasa dia berada di puncak pohon yang seakan-akan bisa jatuh, hingga dia harus ekstra hati-hati.
Vay yang menyadari kedatangan Rey menjadi heran. Banyak buku di depannya yang hanya terbuka tanpa dibaca. Dia berdecak dan menepuk dahinya.
"Dasar bodoh! Kemarilah! Kau tidak akan jatuh." Vay mengayunkan tangan menyuruh Rey bergabung dengannya.
Rey seperti orang bodoh yang mencari keberadaan Vay meskipun dia tahu di mana Vay. Matanya masih asik dengan situasi yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Oh, Vay! Tempat apa ini? Indah sekali!" Rey mengekspresikan rasa terpukaunya sambil perlahan mendekati Vay.
"Hmm, aku tidak terkejut kalau kau kagum," Vay acuh. Matanya hanya terarah pada Rey yang sudah duduk di depannya.
'Ekspresi Rey menyebalkan sekali! Dia tersenyum seperti anak kecil yang diberi manisan,' batin Vay.
"Wah! Ini seperti rumah pohon terbuka. Bagaimana kalau terjadi hujan?" Rey mulai bergumam. Dia memandang semua buku yang ada di sekitarnya.
"Emm, dengar-dengar ada penutup otomatis yang akan melindungi bagian atas ini jika terjadi masalah seperti hujan. Mereka akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang menarik tuasnya. Mengerti?" jelas Vay masih cuek.
Rey mengangguk dua kali. Duduk memperhatikan buku-buku yang terbuka berserakan di meja dengan bingung. Kemudian, mengambil satu untuk dilihat lebih teliti.
"Ini bukan tentang sejarah," gumam Rey. Bibirnya sedikit ditekuk ke bawah.
"Memang bukan," jawab Vay.
Rey mengambil satu buku lagi dan membacanya, "Ini juga bukan."
"Itu juga memang bukan." jawab Vay sambil mengendikkan bahu. Dia tersenyum simpul dan menepuk pundak Rey sampai membuat Rey terkejut menatapnya, "Ini semua adalah buku yang diciptakan oleh warga sekitar. Mereka pandai berimajinasi. Entah mengapa apa yang terjadi padamu membuatku berpikir jika ini sedikit mirip dengan cerita imajinasi orang-orang yang bahkan tidak ada di negeri kami. Bagaimana bisa terjadi? Ssshhh, tidak ada salahnya membaca ini satu per-satu. Bagaimana? Ideku tidak buruk, 'kan?"
Rey mendengarnya serius, sedetik kemudian matanya melebar membenarkan ide Vay. Melepaskan tangan Vay dari pundaknya membuat Vay berdecak.
"Ide bagus, tapi lain kali jangan sentuh aku lagi." Rey meringis canggung.
"Ck, pemalu! Tidak bisakah kau menjadi tegas sepertiku?!" Vay membentak. Menyingsingkan lengan bajunya seolah memperlihatkan betapa gagahnya dia menjadi seorang perempuan tegas.
Rey hanya mengerjap dan memperlihatkan deretan giginya lagi. Sebelum Vay mengejeknya lagi, Rey segera membaca buku itu tanpa peduli dengan judulnya bahkan sampul yang sudah rusak. Semua isi buku di depannya adalah kisah lama. Rey bisa mengetahuinya dari kertas dan ketajaman tulisan. Semuanya tertulis tangan. Rey pun membacanya sangat cepat tanpa terlewat satu kata pun. Baru menghabiskan satu menit, Rey sudah selesai membaca dua buku. Vay sampai melotot tidak percaya. Dia tidak jadi ikut membaca buku. Melihat Rey membacanya saja sudah cukup. Waktu terus berjalan dan itu membuat Vay menguap. Memandang Rey dengan wajah serius itu membuatnya bosan. Sedangkan Rey masih mendalami setiap kata yang dia baca.
'Bahkan ada legenda pelangi dan dunia bawah. Orang-orang di sini mempunya imajinasi yang tinggi. Apa mungkin karya mereka ada yang nyata? Sama sepertiku?' pikir Rey.
Tangan kiri masih memegang buku Leazova. Tangan kanannya sibuk menyimak setiap lembaran kertas. Lalu, beberapa detik kemudian akhirnya semua buku itu terselesaikan. Rey telah mengingat semuanya.
"Hmm, tidak ada yang sepertiku. Aku sudah mengingat semua isinya," kata Rey membangunkan Vay yang tanpa sadar tertidur dengan menyangga kepala sambil mulut terbuka.
Vay segera bangun dan mengerjap cepat. Mengusap air liurnya yang mungkin terjatuh di meja dan berada di ujung bibirnya. Rey hanya diam polos.
"Hmm? Kau sudah selesai? Cepat sekali! Hei, kau punya jurus apa membaca sangat cepat seperti itu?" Vay menaikkan dagunya menuntut penjelasan meskipun wajahnya masih bingung sehabis bangun.
Rey tersenyum kecil, "Aku bekerja di toko buku, jadi aku sudah terbiasa membaca buku."
"Hmm? Oh, benar juga. Kau pernah menceritakannya padaku, haha. Jadi bagaimana? Ada cara tidak?" Vay menggaruk rambutnya yang sedikit gatal.
Rey menggeleng, "Tidak ada. Semua ini hasil imajinasi, tapi tidak ada yang sepertiku. Jika disangkutkan dengan masalah yang kuhadapi, kurasa semua ini juga tidak mungkin akan terjadi." melihat semua buku yang selesai dibacanya.
Vay berhenti bertingkah bodoh, "Benarkah? Kenapa begitu?!" segera membuka beberapa buku secara bersamaan dan mencoba membacanya.
Rey menggeleng lagi, "Kurasa memang tidak terjadi." menunduk dan menghela napas.
Vay melihat Rey yang gelisah. Dia melepaskan bukunya, "Aduh, jangan patah semangat begitu." mencebikkan bibirnya sekali.
Vay ikut bingung dengan nasib Rey. Dia terus berpikir sampai tidak tahu apa yang harus dipikirkan. Kini Rey mengalihkan perhatiannya dari Vay. Dia memandang ke luar di mana pemandangan halaman besar dengan orang-orang yang berlalu-lalang terlihat jelas meskipun dedaunan menutupinya. Dia menghela napas panjang lagi. Setidaknya ketenangan harus selalu dia dapatkan.
'Sudah berusaha sampai di titik ini, tapi tidak menjumpai jawaban apapun. Apa aku memang telah dibuah dari dunia nyata?' pikir Rey mulai takut.
"Kehidupan memang unik. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi. Seperti pusaran air di tengah lautan. Menarik segalanya termasuk harapan. Namun, tidak menduga jika bahaya pusaran air terdapat sebuah harapan yang lebih besar. Hanya waktu yang akan menjawab semua hal yang tidak memiliki jawaban sementara. Kehidupan selalu indah. Pahit dan manisnya akan selalu indah," Vay membaca dengan serius sampai matanya menjuling.
Rey terkejut, mendelik memandang Vay, "Kau sedang apa?"
Vay mendongak, "Aku membaca buku ini. Penulisnya menuliskan hal aneh dan panjang di halaman paling belakang."
Seketika otot kepala Rey mengejang. Dia teringat sesuatu dan membuat buku Leazova sebagai pusat perhatiannya lagi.
"Ke-kenapa, Rey? Ada apa?" Vay terheran-heran.
"Kau bilang pusaran air? Di lautan?" tiba-tiba Rey bertanya hal yang tidak masuk akal bagi Vay.
"I-iya, itu yang tertulis di buku. Kenapa?" Vay sedikit mengernyit.
"Halaman paling belakang buku?" Rey bertanya lagi masih dengan mata melebar memandang buku.
"Eee, iya." Vay meringis agak merinding.
"Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi, benar, 'kan?" tanya Rey lagi. Lebih tepatnya mengulang ucapan Vay.
Vay semakin tidak mengerti, "Se-sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kenapa bertanya begitu?"
"Aku tau!" Rey menaikkan nada suaranya.
Vay terbelalak.
"Lembaran terakhir dan pusaran air laut. Entah kebetulan atau tidak, tulisan yang kau baca cukup sama dengan apa yang kualami sebelum datang," sambung Rey dalam selang waktu tiga detik.
"Apa?" mata Vay melebar.
Seketika Rey mencoba membuka buku itu dengan tangan yang gemetaran. Untuk langsung membuka halaman terakhir saja terasa begitu sulit. Sampai dia terhalang oleh lembaran-lembaran kosong menuju akhir halaman dan itu membulatkan mata Vay sampai serasa ingin lepas.
"Ko-kosong! Kertas-kertas itu kosong! Ti-tidak ada tulisannya! Ba-bagaimana bisa?!" Vay menunjuk buku Leazova tidak santai. Mulutnya menganga tanpa ingin tertutup. Dia tidak percaya meskipun nyata di depannya.
Lain dengan Rey yang sibuk membuka setiap lembaran kertas di buku. Napasnya bahkan ikut memburu. Ada beberapa hal yang berkelit di benaknya. Tentang pusaran air laut di sebuah peta yang telah membawanya ke zaman aneh ini. Peta kepulauan yang terletak tepat di halaman belakang bahkan sempat menghipnotisnya dalam keindahan pulau yang serasa nyata. Hingga tiba saatnya halaman terakhir itu terbuka. Tepat saat itu juga napas Rey tercekat.
"Petanya!" seru Rey membuat Vay terjingkat tidak menduga.
"Ha! Ada peta! Tidak ada tulisan! Buku apa itu?!" Vay sampai mundur.
Rey hanya melihat ke arah peta itu. Lebih tepatnya di mana dirinya dibawa masuk. Napasnya kembali tersengal-sengal. Tangannya yang sedikit gemetar mulai bisa dikondisikan. Vay kembali mendekat dan memperhatikan buku itu dalam-dalam.
"Bu-buku ini aneh! Aku tidak menduga jika ada peta yang ... wow, bagus sekali! Ini seperti kepulauan dan aku sepertinya pernah melihat peta ini! Hei, jelaskan padaku, Kawan! Apa ini?"
Vay bertanya menuntut. Namun, Rey tidak menjawab. Dia memikirkan sesuatu yang tiba-tiba terlintas begitu saja. Mengaitkan segala sesuatu hingga bisa dicerna dengan logika. Vay memperhatikan buku dan Rey berkali-kali, tetapi dia tetap diacuhkan. Kerutan di dahi Rey sampai bertambah dan kian bertambah memperlihatkan keseriusannya.
'Sudah terbuka! Akhirnya Rey membuka bukunya! Jadi isinya adalah kosong? Apa pengarangnya hanya membuat sampul dan peta tanpa tau Leazova itu apa? Sshh, sepertinya memang begitu,' batin Vay.
Jawaban yang dia inginkan. Ketika buku sudah terbuka pasti akan ada solusinya. Itulah yang tersemat di kepala Rey.
"Aku masuk ke dalam buku dan...," Rey tidak menyambung kalimatnya, justru kembali berpikir jauh lebih mendalam.
"Lalu apa?" Vay meneliti wajah Rey baik-baik sampai kepalanya hampir terbentur meja.
Pusaran air di peta itu seolah muncul lagi, sama persis dengan waktu itu. Namun, sepertinya pusaran air laut itu tidak bisa dimunculkan kembali meskipun Rey telah memintanya dalam hati. Dia berpikir jika ada peluang untuk pusaran itu kembali maka dirinya bisa menerobos masuk ke buku lagi dan kembali ke kehidupan semula.
"Aku jatuh di dermaga. Di sebuah buku berjudul Leazova," sambung Rey sedikit lirih tanpa memalingkan wajahnya bahkan tanpa berkedip.
Seketika sepercik cahaya muncul dari peta tersebut menyembur menyambar wajah Rey hingga Rey memejamkan mata merasa silau dan seolah-olah cahaya kecil itu menusuk dirinya. Namun, cahaya itu terpantul kembali ke dalam buku dan membuat buku itu tertutup dengan sendirinya.
"HAH!" Rey dan Vay berteriak bersamaan. Mereka mundur hampir terjungkal.
Buku itu jatuh dan mulai bercahaya. Dipenuhi cahaya yang sama dengan begitu terangnya. Tiba-tiba angin asing datang bersamaan dengan terbukanya sampul buku secara ajaib. Keajaiban terjadi lagi.
"Aaaa! Silau sekali! Apa yang terjadi?!" Vay memekik hebat. Menyilangkan kedua tangannya di depan mata. Mencoba menghindari, tetapi penasaran dengan ulah buku itu.
Rey pun sama, akan tetapi dia bersikeras tetap membuka mata dan menyaksikan keajaiban itu sekali lagi. Tidak, mungkin akan terjadi keajaiban-keajaiban lainnya setelah ini. Setidaknya itu yang dipikirkan Rey dalam kondisi yang mendadak ini. Dia hanya menyilangkan satu tangannya, membiarkan rambutnya tertepa angin. Kini wajahnya terlihat sempurna. Meskipun sulit menyaksikan, tetapi Rey sangat jelas melihat buku itu terbuka lembar demi lembar karena angin yang meniupnya dengan rapi. Seakan hendak menunjukkan sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk.
Cahaya itu berhenti bersinar dan angin berhenti berhembus secara bersamaan. Lembaran buku pun berhenti terbalik dan diam di halaman yang kecil. Hanya ada lima lembar yang terbuka dan Rey segera mendekat saat itu juga. Berbeda dengan Vay yang justru terjungkal setelah semuanya selesai.
"Astaga!" Rey tersentak dan menutup mulutnya. Napasnya tidak sadar tertahan lagi dan lagi.
Ternyata buku itu belum selesai menunjukkan aksinya. Tulisan kata demi kata mulai muncul berbaris rapi di kertas kosong hingga memenuhi lembar terakhir yang terbuka. Sangat banyak sampai tulisan tersebut seakan tertancap di mata Rey hingga tulisan titik di mana berhentinya kalimat terakhir di lembar tersebut.
"Tidak mungkin!" Rey tergoyah. Tidak bisa mengendalikan nada bicaranya, "Buku itu muncul tulisannya sendiri!"
"Apa?! Aaaaa, aku tidak tahan melihatnya!" Vay terjingkat dari terjungkalnya. Dia memandang buku itu lekat-lekat, "Wah! Bagaimana bisa muncul tulisan?!"
Rey yang terheran-heran pun mendongak. Keterkejutannya kembali diambil alih dirinya sendiri untuk lebih tenang.
"Bukunya! Bukunya mengejutkan! Hah!" Vay menunjuk tidak santai pada buku itu. Dia jauh lebih takjub daripada Rey.
Rey mengerutkan dahi, "Bukankah kau bilang ini negeri sihir? Kenapa kau terkejut?"
Daripada menjawab, Vay memilih sibuk dengan mulut terbuka dan mata melebar seakan hampir lepas.
"Seharusnya sudah terbiasa, 'kan?" lanjut Rey menyadarkan Vay.
Napas Vay seketika terhenti di tenggorokan. Dia hampir tersedak, "Ah! Haha, sihir, haha. Ehm, aku harus bisa mengendalikan diriku. Huft, terlalu mendadak. Astaga, jantungku serasa mau lepas!" menggeleng berkali-kali sambil mengelus d**a. Menghembuskan napasnya santai mencoba tenang.
Rey semakin tidak mengerti. "Kau kenapa?"
Tatapan heran dari Rey membuat Vay gelagapan.
"Eee, nanti saja kuceritakan. Sekarang lihat apa yang tertulis di buku itu! Aku sampai hampir kehilangan napas rasanya." tangan Vay merangkak pelan ke meja.
Rey tersadar segera, "Kau benar!"
Tidak ada yang tidak mungkin untuk sebuah misteri yang belum terpecahkan. Rey mengambil buku itu dengan tangan setengah gemetar.
"Lima lembar, sepuluh halaman pertama. Tulisan ini ... benar-benar nyata!"
Bukan Rey yang mengatakannya, tetapi Vay. Dia menggangu Rey yang hening.
"Ini kuno," kata Rey membuat Vay mendongak.
Suara lembut itu disertai dengan balikan kertas yang terdengar halus. Tanpa sadar membuat bulu di sekitar leher Rey merinding, padahal suaranya sendiri.
Pelan nan pasti Rey membalik halaman hingga kembali ke halaman pertama. Dia tersentak. Di sana jelas tertulis sebuah judul yang sangat besar dengan pembuka paragraf pertama. Tulisannya sangat unik. Memiliki ukiran seni. Bahkan warna hitamnya pun seakan pudar dan bercampur dengan cokelat. Menandakan buku ini memang sudah lama dan Rey tidak pernah melihat gaya tulisan seperti ini sebelumnya.
"Leazova," Rey membaca judul di halaman pertama itu.
'Aku tidak menduga ini akan terjadi. Leazova, sebenarnya ada apa denganmu? Kau membuatku takut,' batin Rey.
Namun, keterkejutan lainnya datang melanda sampai napas seakan terhenti saat itu juga. Ini diluar nalar Rey.