4. Perpustakaan Raksasa

2525 Words
Teriakan Ray semakin menjadi ketika sekumpulan angin yang nampak besar di matanya itu melintas tepat di depannya, kemudian pergi begitu saja. Bahkan pohon tanpa nama yang tinggi menjulang pun diterjang tanpa ampun. Sayangnya, hanya Rey yang bersuara. Vay masih tenang dengan mata terbuka lebar tanpa berkedip sedikitpun. Debu dari badai itu seolah menyegel matanya. Badai itu melintas cepat. Terjadi sangat singkat. Nasib baik menyertai Rey yang masih ketakutan setengah mati. Angin besarnya tidak menerjang toko yang dia tempati, hanya melintasi jalannya saja dan pergi ke tempat lain. Seketika pohon-pohon yang bergoyang hebat mulai mereda. Sisa angin badai pun perlahan-lahan menghilang. Meskipun udara masih sejuk hingga menerobos tulang. Setidaknya tidak jauh lebih parah dari sebelumnya.  Vay mengerjap menyadari pedih di matanya. Segera membersihkan debu-debu itu dengan pakaiannya yang panjang sembari mengoceh memaki badai dan debu. Hanya beberapa detik saja kegiatannya sudah dihentikan karena melihat Rey yang ternganga dan tak bergerak sedikitpun. Kemudian, Vay menyeringai. Mengabaikan matanya yang masih terdapat sedikit debu.  "Haha, apa kubilang? Tutup mulutmu! Badai sudah berlalu. Tidak perlu secemas itu, 'kan?" kata Vay dengan mudah. Dia lanjut membersihkan matanya.  Lalu, Rey mengerjap beberapa kali. Dia sampai mendengkus dan menggeleng mencermati apa yang telah terjadi. Menoleh ke kanan-kiri, semuanya terlihat aneh. Hanya beberapa cabang jalan saja yang pelarangannya rusak, sedangkan jalan yang lainnya baik-baik saja. Rey bingung sembari melepaskan diri dari tiang.  "Apa? Badainya hanya badai kecil, tidak akan berani mengacaukan seluruh pulau. Kurasa hingga tiba di perbatasan gapura badai itu akan lenyap. Jangan memasang wajah bingung begitu! Aku sudah muak mendengar teriakanmu, jangan ditambah dengan wajah lugumu itu. Hahh, mataku pedih sekali! Dasar angin kecil sialan!"  Vay kembali bicara membuat Rey menatapnya masih dengan raut kebingungan. Gadis itu sangat santai membersihkan diri dan karena itu Rey pun menggeleng lagi agar kesadarannya kembali sepenuhnya.  "Astaga! Apa itu tadi?" kata Rey sudah berani bicara meskipun bibirnya masih bergetar. Dia melihat kedua telapak tangannya dan seluruh pakaiannya menjadi sedikit kotor. Ditambah lagi rambutnya yang tersibak tak rapi membuatnya segera merapikan rambutnya dan kembali menutupi separuh wajahnya.  Tingkah Rey membuat Vay tersenyum. Dia berkacak pinggang menghadap Rey, "Kau masih mencemaskan wajahmu? Kusarankan kau cemaskan jantungmu yang hampir mau lepas."  Rey berdecak dengan sorot mata tak terima melirik Vay. Dia tahu Vay sengaja mengejeknya dan Vay hanya tertawa ringan. Rey menepuk-nepuk pakaiannya dan buku itu perlahan agar debunya sedikit hilang.  "Kau sudah terbiasa, tapi aku tidak. Syukurlah badai telah berlalu. Ini cukup aneh." Rey menghela napas lega di akhir ucapannya.  "Hmm, benar juga." Vay mengangguk dan ikut menghela napas panjang. Kemudian, dia duduk bersila dan memeluk tiang membuat Rey menunduk melihatnya, "Apa rencanamu sekarang? Masih mau istirahat atau lanjut berjalan?"  Rey diam sebentar. Dia kembali menatap jalanan. Semua bangunan yang masih berdiri kokoh termasuk rumah hiburan yang bahkan pelita di dalamnya tetap menyala. Semua lentera di tepi jalan padam, bahkan ada yang rusak, ada juga yang hilang terbawa badai. Tiba-tiba udara dingin kembali melanda, hanya sedikit bertambah. Hal itu membuat darah Rey berdesir. Dia memikirkan semuanya. Tidak baik berjalan di saat cuaca tidak stabil, terlebih lagi dalam kegelapan. Namun, dia tidak bisa menunggu lama lagi. Kebimbangan kecil itu membuatnya imut duduk di dekat tiang.  "Aku tidak tahu," jujurnya lemas. Pandangannya pun meredup. Kembali tertuju pada buku Leazova yang masih terdapat sedikit debu. Dia mengusap debu itu dan Vay terus memperhatikannya. "Rasa penasaranku membuat darahku mengalir deras. Sayang sekali kondisi tidak memungkinkan untuk berjalan. Meskipun tiba di perpustakaan itu, belum tentu jawabannya akan ditemukan," sambungnya.  Karena ucapan Rey, Vay pun menghela napas panjang lagi. Rey tahu bahwa situasi yang dia alami tidak akan selesai dengan mudah. Dia terus menatap judul buku itu.  "Kenapa tidak kau buka saja? Siapa tau ada petunjuk," kata Vay memutus lamunan Rey.  Rey menggeleng, "Tidak ada apa-apa di dalamnya."  Dahi Vay mengkerut, "Apa? Tidak ada apa-apa? Aneh sekali!"  Rey menyetujuinya dengan anggukan, "Itu sebabnya ... semua ini penuh misteri."  "Dari kau datang juga sudah penuh misteri. Eh, aku tidak keberatan kalau kita melanjutkan perjalanan. Paling tidak kita yang mengejar badai itu, bukan badai yang mengejar kita lagi. Tidak ada cara lain selain ke perpustakaan, 'kan?" jawab Vay sekaligus memberi solusi.  Rey memandangnya, "Kau yakin? Sedingin ini?"  "Lagi pula ini bukan dingin seperti di pegunungan es, jadi jangan berlebihan!" Vay mengibaskan tangannya seperti seorang lelaki.  "Aku tau, tapi ... bagaimana jika tidak seperti prediksimu? Lihat, cuaca tidak stabil!" Rey merapikan rambut yang menutupi wajahnya lagi.  Vay pun menatap sekeliling, "Ck, kau tidak percaya padaku? Badainya tidak akan kembali lagi, Rey Sann!"  Nada kesal dari Vay pun keluar. Tidak ada jawaban dari Rey dan hanya wajah bingung lagi yang Rey perlihatkan membuat Vay berdecak tiga kali.  "Baiklah, kalau begitu aku yang memutuskan! Kita pergi sekarang juga! Ayo!" Vay berdiri dan menarik tangan Rey paksa, tetapi Rey ragu untuk beranjak.  "Bagaimana jika...," belum selesai Rey bicara, Vay telah memutusnya.  "Astaga, kau ini penakut sekali! Ayo, Rey Sann! Percayalah padaku! Kalau tidak kita tidak akan sampai di pusat pulau besok! Akan memakan waktu lebih lama lagi!" Vay sudah kesal dengan rasa takut Rey. Dia terus menarik-narik tangan Rey.  "Tapi aku...," lagi dan lagi ucapan keraguan Rey diputus oleh Vay yang berdecak sambil menggeleng berkali-kali. Rey tidak bisa membantah.  Akhirnya Rey berdiri terpaksa dan rasa ragu itu masih ada jauh di lubuk hatinya. Meskipun begitu dia membenarkan perkataan Vay. Jika tidak berjalan maka mereka tidak akan sampai di perpustakaan besok. Dengan langkah gontai penuh waspada menjadi satu, Rey mengikuti Vay secara berdampingan. Biarkan udara dingin menerpa, dia masih sanggup bertahan meskipun kulitnya terasa setebal kulit gajah. Sembari berjalan, mereka bisa melihat semuanya jalanan yang dilintasi badai itu.  'Orang-orang di sini bisa bertahan dengan cuaca aneh seperti ini? Mereka bahkan tenang seperti Vay,' batin Rey.  Sedikit teriris hatinya melihat jalan yang rusak dan pepohonan yang tumbang, akan tetapi kehidupan inilah yang selalu menghampiri pulau ini. Kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas jiwa untuk bersikap biasa saja. Lain dengan dunia Rey yang pasti akan panik setiap kali terjadi cuaca ekstrim. Memikirkannya membuat senyum Rey terulas manis. Matanya tak jauh-jauh memandang sekitar. Lalu, satu suara saja tak dia keluarkan. Vay pun diam, hanya fokus pada tujuannya mengantar Rey ke ruang penuh ilmu. 'Pemahaman ini tidak pernah kudapatkan di kota Vier. Aku mengerti,' pikir Rey.  Setelah berjalan berjam-jam lamanya, tidak terasa tengah malam telah terlewatkan. Setelah badai yang datang lebih awal dari praduga, kini kaki tidak lagi terasa lelah. Apapun jalan yang diambil, terus diterjang tanpa henti. Beruntung mereka bisa melewati beberapa pembatas daerah dengan cepat seperti tidak dirasakan. Kini tinggal beberapa daerah lagi untuk tiba di pusat pulau. Fajar pun akan menyingsing sebentar lagi. Napas telah terengah sedari tadi juga tidak dihiraukan. Pandangan dan seisi benak tidak pernah terlepas dari situasi dan buku yang digenggam. Jantung derdetak lebih cepat secara mendadak dirasakan oleh Rey Sann. Kemudian, dia bertanya-tanya dalam hati, apakah dia sudah lebih dekat dari sumber jawaban? Apakah dia bisa pulang? Pemikiran itu membuat Rey sedikit gugup.  "Masih ada dua batas gapura kembar lagi, Rey. Bersabarlah," kata Vay dengan napas yang seadanya. Dia pun juga sudah lelah. Namun, tidak tergambar dalam wajahnya.  Rey menoleh. Pandangan gadis itu menajam ke hadapan. Dia serius memimbing jalan.  "Iya," jawab Rey tanpa berhenti melangkah.  Tandanya masih cukup lama untuk bepergian. Kurang-lebih mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mengitari jalanan dua perbatasan gapura kembar. Lebih tepatnya mereka berjalan berdampingan bersama matahari yang akan terbit. Tiba-tiba langkah Vay semakin cepat. Rey juga mempercepat jalannya. Ternyata penduduk pulau sudah memulai aktivitas mereka. Meskipun hanya sebagian sama seperti masyarakat biasa pada dunia modern. Minat keadaan yang berubah, dahi Rey berkerut. Banyak dari mereka yang membawa kotak kayu berbagai macam ukuran dan memindahkan mereka. Ada juga yang membawa buku serta benda tajam. Kemudian, bau amis mulai tercium dari berbagai sisi. Sepertinya orang-orang sedang mempersiapkan pekerjaan mereka. Meskipun ini berada di daratan tengah pulau, mereka masih berhubungan dengan ikan, terbukti dengan bau amis yang tersebar meskipun hanya sedikit. Indera penciuman Rey mulai tajam. Dia menghirup harum kertas yang masih baru, serat-serat kayu dari kertas pun tercium dan juga daun kering yang dijemur di pekarangan rumah warga. Sempat berpikir daun-daun kering itu adalah bahan herbal untuk pembuatan obat, akan tetapi Rey tidak mau menduga-duga. Dia harus fokus pada tujuannya.  Satu gapura kembar berhasil dilewati lagi dan jam pun terkikis kembali. Pukul lima pagi, matahari sudah bersinar menyertai Rey yang masih penuh tekad. Indahnya mentari pagi diabaikan begitu saja. Orang-orang yang sudah beraktivitas pun memandangi Rey, tapi tidak dihiraukan oleh Rey dan Vay. Bagai orang tergesa-gesa, membuat semua orang memberi jalan. Ada pula yang bergumam membicarakannya. Lantas, gapura kembar terakhir telah terlihat. Senyum Rey pun terangkat. Tandanya perjalanan tidak sia-sia. Tepat setelah melintasi gapura terakhir, kaki mereka berhenti. Rey bagai tak bisa bergerak. Bola matanya melebar sempurna, mulutnya ternganga masih dalam tahap wajar. Di depan sana menunjukkan pemandangan yang luar biasa. Vay berkacak pinggang penuh semangat menaikkan celananya dan senyuman percaya diri memandang ke depan. Lalu-lalang yang ramai.  "Yahhh, akhirnya kita sampai juga! Selamat pagi, Dunia!!" Vay merentangkan tangan sekadar merenggangkan ototnya sembari menyapa seluruh warga.  Rey mengerjap sadar, lalu menoleh pada Vay. Begitu juga dengan orang-orang yang memandangi Vay aneh karena teriakan Vay.  "Ki-kita sudah sampai?" tanya Rey masih tak percaya.  Vay tertawa sambil mengangguk mantap, "Hahaha, ya, kita sudah sampai, Kawan! Lihatlah seluruh sudut yang kau mau! Semua dipenuhi oleh ilmu pengetahuan! Jangan lupa dengan pohon besar dan yang paling besar di sana. Itu adalah perpustakaannya." Vay menunjuk tepat di jalan depannya yang hanya beberapa langkah sudah mendekati pohon raksasa itu.  Rey menganga lagi. Dia mengikuti arah telunjuk Vay. Matanya jauh lebih melebar. Napasnya tercekat. Sontak menutupi mulutnya dengan tangan. Dirasa kurang cukup, dia tambah membungkam mulutnya dengan buku Leazova. Masih tak berkutik melihat pohon raksasa, pohon terbesar di pulau yang dia pijak.  Vay tertawa lagi sambil berkacak pinggang. "Inilah perpustakaan terbesar yang memuat segala macam informasi di dunia ini. Semua sihir juga tak luput dari kejelian tulisan tinta hitam. Kau mau cari apa pun pasti ditemukan! Sungguh menakjubkan, bukan?"  Rasa semangat Vay yang membuncah menceritakan pohon ilmu itu tiba-tiba menjadi redup. Tangannya terlepas dari pinggang dan pandangan beralih pada Rey yang masih tak percaya.  "Kami menyebutnya pohon suci. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari pohon itu. Mulai dari sejarah hingga rencana masa depan, semua diketahui di sana. Sayangnya ... itu terjadi di masa lalu. Artinya tidak pada sekarang."  Ucapan lirih Vay menarik perhatian Rey. Gadis tegas itu kembali menatap pohon yang disebut pohon suci. Kerutan di dahi Rey mulai muncul. Perlahan tangan yang membungkam mulutnya sendiri pun diturunkan.  "Sesuatu telah dirampas dari kami. Semua informasi ... sebagian tidak bisa dicari," lanjut Vay menimbulkan teka-teki bagi Rey.  'Apa maksudnya?' batin Rey.  Terlebih lagi Vay mengatakannya dengan nada lembut. Tidak ada yang bisa mendengarnya meskipun banyak orang yang melintas. Dalam kerumunan itu, hanya Rey yang bisa mendengar suara Vay. Seketika raut wajah Vay berubah lagi membuat Rey mengerjap sekali. Gadis itu tersenyum singkat dan mempermainkan ekspresinya. "Meskipun begitu kau jangan meragukan semua data di dalamnya. Semuanya akurat tanpa celah. Itu wajar saja kalau ada hal yang kurang. Semuanya tidak ada yang sempurna, 'kan? Kegagalan bukan berarti lenyap semuanya. Kau tahu? Pohon itu adalah pohon terbesar yang bahkan tingginya melebihi kastil kerajaan. Dia tidak berbuah, hanya berbunga setiap kali musim semi. Ketika musim gugur, akan terlihat sangat cantik. Daun-daunnya yang sudah menguning dan cokelat akan jatuh berserakan di sepanjang jalan. Biasanya akan ada festival! Tentu saja akan ramai orang dari berbagai pulau, termasuk pulau ikan, haha. Besarnya saja memenuhi jalanan pusat pulau. Karena itu ada banyak jalan lainnya yang memutari pohon itu agar terhubung dengan arah lain. Batang pohon suci dilapisi kayu-kayu berkualitas dan dibangun seperti bangunan pada umumnya. Dilihat secara sekilas lebih mirip rumah pohon, tetapi pada dasarnya pohon itulah yang ditutup rumah pada batangnya. Namun, di dalam pohon ada ruangan sendiri yang dirancang oleh gabungan ahli botani serta tukang kayu. Kami mengenal ini semua juga karena ilmu pengetahuan. Bisa dibilang, pulau ini adalah tempatnya orang-orang pintar yang bahkan bisa menjadi ancaman bagi keluarga kerajaan. Sihir mengubah segalanya, begitu juga dengan ilmu pengetahuan," tanpa sadar Vay mengatakan itu semua. Terkadang dia menjelaskan dengan semangat, terkadang langsung berubah menjadi terhanyut suasana. Sorotan matanya pun berubah-ubah.  Menyadari hal itu Rey menjadi mengerti sebagian permasalahan dari cerita pohon suci. Jika pohon itu juga menyangkut tentang masalah kerajaan aneh ini. Rey hanya berdeham dalam hati. Lalu, memandang pohon suci itu. Dari apa yang dikatakan Vay, Rey paham jika kehidupan di sini tidaklah sederhana. Mereka mengenal sistem kayu yang serius dan juga kecerdasan yang memanfaatkan sumber daya alam. Terlebih lagi ketika Vay mengatakan adanya ahli botani yang ikut serta merubah pohon itu menjadi tempat yang ajaib. Rey berpikir jika di dalam pohon itu telah direnovasi menjadi sebuah ruangan tanpa membuat pohon mati.  Pandangan Rey turun ke tanah yang rata. Meskipun itu adalah pohon raksasa, tetapi akarnya tidak terlihat. Seharusnya akar itu akan timbul meskipun hanya sedikit dan pastinya akar tersebut adalah akar yang besar. Dari sini pikiran Rey bermain.  'Aku semakin penasaran dengan kehidupan di sini,' pikir Rey.  "Vay?" panggil Rey setelah mencerna semuanya. Anehnya Vay terlonjak kaget dengan panggilan itu.  "Ha? Apa?" kata Vay linglung.  Rey memiringkan kepalanya heran, "Ini sangat unik! Aku ingin melihat ke dalam!" Sikap antusias dari Rey merubah ekspresi Vay lagi.  "Ya, tetu saja! Ayo masuk!" Vay memberi jalan, tetapi dia yang berjalan terlebih dahulu.  Rey masih mempertahankan senyumnya bahkan ketika kembali mengikuti Vay dari belakang. Pintu masuk pohon suci itu memiliki ukiran yang cukup unik. Terlihat dari kejauhan seperti terbuat dari akar yang kuat.  'Jika benar seperti apa yang kau katakan, maka kalian sedang melalui perkembangan zaman. Kurasa ini bukan seperti dunia kuno yang sangat jauh dari kehidupan modern, tapi ... ini memang kehidupan kuno. Aku pusing jadinya,' batin Rey.  Padat bagaikan berada di pusat kota. Abaikan rumah-rumah kecil dan rubah bayangan itu menjadi gedung-gedung tinggi di perkotaan. Juga pohon suci itu anggaplah sebagai gedung kantor pemimpin kota yang paling besar. Semua bayangan itu ada di benak Rey. Setelah masuk ke dalam pohon, dia dikejutkan lagi oleh beberapa rak yang sama persis seperti yang ada di toko buku tempat dia bekerja. Sontak langkahnya terhenti di depan pintu. Membiarkan Vay berjalan sendirian sambil bicara panjang tanpa dia tanggapi. Semua rak itu seperti pernah disentuhnya. Banyak buku, banyak orang, banyak benda-benda aneh, banyak pula tinta dan kuas dan harumnya menyeruak ke seisi ruangan. Ada pula meja dan kursi yang terbuat dari kayu asli. Semuanya terbuat dari kayu dan bernuansa pohon. Kemudian, batang pohon itu berada di tengah-tengah ruangan. Tidak ada pintu, tetapi berlubang di tengahnya. Lubang yang sangat besar bahkan setinggi dua kali tingginya orang dewasa. Bisa langsung terlihat jika ada banyak jendela kecil berbentuk bulat di batang pohon. Ada anak tangga dan juga buku dari daun-daun kering. Sudut mata Rey menyipit. Dia mengabaikan seluruh rak dan buku yang ada di sekelilingnya. Langsung melangkah menuju lubang pohon sembari mencengkeram buku di tangannya lebih erat.  "Jadi begini lah pohon suci kami menjadi perpustakaan raksasa, Rey. Bagaimana? Mencuci matamu, 'kan?! Loh, Rey? Rey, kau di mana?"  Sedari tadi Vay bicara sendiri dan melangkah ke sana-kemari tanpa diperhatikan, kemudian sadar jika Rey tidak mengikutinya. Dia berbalik badan dan bingung mencari Rey. Ternyata Rey menuju langsung ke tempat intinya. Diperhatikan semua orang yang sibuk di perpustakaan itu tidak menjadi penghalang. Vay justru berteriak memanggil Rey dan mengejar Rey. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD