Angin segar pagi mesra bersahabat. Menyapa ramah pengendara motor dengan kesejukannya. Namun segera pergi saat pengendara itu menuju jalan raya yang padat. Asap-asap menyesakkan d*ada berganti menyambutnya.
Syukurlah, pengendara motor itu sudah melindungi dirinya, memakai masker, memakai kacamata, dan sebuah helm terpasang aman di kepalanya. Juga terpasang pada penumpang di belakangnya. Dan bibir wanita yang berada di tempat penumpang sering kali berdecak kesal, rambut lembut nan panjang sang pengemudi acap kali menampar wajahnya.
“Jas, pelanin dikit motornya, bahaya tahu!” Seru melani, sembari menepuk pelan bahu Jasmin.
“Tenang aja, Mel. Aku udah ahli mengemudi. Aku kan udah punya SIM. Jam terbang ku udah tinggi.” Teriak Jasmin dari arah depan. Bibirnya tertawa lepas, saat matanya melirik speedometer motornya, 70 km/jam. Seandainya bisa, ingin sekali melakukan selfie dengan speedometer nya yang aktif.
“Nggak usah ketawa-ketawa, bahaya tahu!” Ucap Melani serius.
“Nyantai aja, Mel. Mumpung lagi sepi, kita bisa ngebut, hahaha…, “ jawab Jasmin enteng.
“Awas, Jas. Hati-hati!” Teriak Melani. Jantungnya hampir copot, tiba-tiba sebuah truk nyelonong mendahului mpv di depannya, melaju cepat ke arah mereka. Tapi untunglah, Jasmin segera menghindar. “Bandel banget sih. Udah dibilangin pelan-pelan, tetep aja ngebut. Kita hampir kecelakaan tahu!” Melani Mencubit pelan pinggang Jasmin. Membuat gadis itu tertawa cekikikan. Cubitan Melani terasa menggelitikinya.
“Iya-iya, maaf. Aku akan lebih hati-hati pelangga*n” ucap jasmin di sela tawanya. Memelankan motornya. Melajukannya lebih hati-hati ke arah kampus. Ini adalah hari pertama dirinya dan Melani kembali berkuliah setelah sebulan lamanya melakukan PKL.
Motor Jasmin akhirnya sampai juga di area Kampus. Baru saja motor terparkir. Ponsel Melani langsung berdering.
"Maaf ya, Jas. Aku duluan, mama ku telpon. Aku cari sinyal dulu, di sini jelek banget" ucap Melani. Jasmin pun mengangguk maklum.
Ponsel Jasmin yang terus berbunyi dalam tas. Membuat Jasmin mengangkatnya. Ia pun terlena. Berjalan sambil memperhatikan ponselnya.
Bruk….!
Tiba-tiba tubuh Jasmin menabrak tubuh tinggi keras. Menyebabkan ponselnya jatuh seketika. Terasa cukup keras d**a bidang itu menabrak kepalanya. “Hp ku…,” erang Jasmin sembari cepat membungkuk, mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Kembali berdiri, sambil menghidupkan ponselnya yang langsung mati akibat jatuh. “Jalannya hati-hati dong. Kalau Hp ku rusak, kamu harus…,” Kata-kata Jasmin menggantung. Matanya seketika terbuka lebar. Melotot ke arah pria yang tadi menubruknya. Lebih tepatnya Jasmin lah yang menubruknya. ‘Hantu pria tadi malam!’ Pekik Jasmin dalam hati, syok. Mata Jasmin semakin melebar ketika berpindah, memperhatikan tangan pria itu. Sama seperti semalam. Tangan kirinya sembunyi di dalam saku. ‘Hantu!’ Teriak Jasmin dalam hati. Dia pasti di anggap gila jika berlarian sambil mengucapkan kata hantu di hari yang cerah seperti itu. Wajah cantik Jasmin seketika memucat saat mata itu juga melotot ke arahnya. Sama terkejutnya dengan Jasmin. Sebelum wajah hantu itu berubah mengerikan, sebelum dia mengeluarkan tangannya yang putus, Jasmin buru-buru berlari, tanpa mengatakan apa-apa, gadis itu sudah melarikan diri.
Di depan kantin kampus. Jasmin akhirnya menghentikan pelarian kakinya. Nafasnya terengah, memburu, cepat-cepat ia mencari tempat duduk. Mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan akibat berlari bagai seorang atlet profesional.
Jasmin senang. Kantin kampus hari ini lumayan ramai. Cukup untuk menyingkirkan rasa takutnya yang tidak masuk akal. Jasmin memang membutuhkan tempat yang ramai seperti kantin, bukannya menunggu di kelas atau di perpustakaan yang sepi. Ia akui dirinya memang sangat penakut. Karena cerita dari Pak Budi, sifat penakutnya muncul. Saking takutnya, pagi tadi, ia sampai takut ke kamar mandi sendirian. Tidak peduli ketika Keke protes agar Jasmin keluar dari kamar mandi. Namun Jasmin tidak peduli, ia justru melepas satu persatu pakaiannya, ikut mandi tanpa bersuara. Setelah itu segera mennyelesaikan mandinya. Itu Adalah bukan yang pertama kali bagi Jasmin dan Keke mandi bersama.
Di kantin, Jasmin memesan es teh. Memesan pula Batagor, memberinya banyak saus. Ia hanya tersenyum ketika para mahasiswa menypa atau menggodanya. ‘ Bodoh banget sih aku tadi. Lari gitu aja waktu lihat hantu itu. Ini kan udah pagi, mana ada hantu keliaran jam segini? Jangan-jangan Pak Budi tadi malam ngerjain aku? Tapi kenapa dia tahu hantu pria itu punya kulit putih? Kenapa juga dia tahu hantu pria itu nggak punya tangan? Jangan-jangan pria tadi beneran hantu? Tapi kenapa dia masih keliaran saat hari sudah terang?
“Di temukan gadis dua puluh tahunan meninggal dalam keadaan tidak wajar, meninggal di sebuah tanki air di rumahnya sendiri” Televisi kantin yang terletak tidak jauh dari Jasmin menyiarkan sebuah berita. “Sudah dua hari keluarganya mencari gadis ini ke berbagai tempat namun tidak pernah menemukannya. Hingga hari ke tiga. Air di rumah itu tiba-tiba berubah warna kecoklatan. baunya pun sangat menyengat. Betapa terkejutnya keluarga ini saat melihat tanki air mereka yang berada di luar rumah, terletak di sebuah menara yang khusus untuk tanki, tingginya setinggi bangunan rumah mereka yang berlantai tiga. Keluarganya syok, Gadis yang mereka cari ternyata ada di dalam tanki air yang berukuran besar. Mayatnya sudah membusuk. Polisi hingga sekarang masih bingung dengan kasus ini. Awalnya mereka mengira gadis ini meninggal karena ada yang sengaja memasukkan tubuhnyan ke dalam tanki. Namun fakta jika tidak ada rekaman cctv yang menunjukkan bahwa gadis itu di bawa ke atas menara membuat polisi bingung. Menurut hasil otopsi, tidak di temukan tanda-tanda kekerasan di tubuh gadis itu. Hingga sekarang sudah satu bulan lebih polisi menyelidiki kasus kematian ini. Namun masih belum menemukan titik terang. Sedangkan masyarakat mendesak agar segera menemukan pelakunya. Polisi di buat pusing dengan kasus ini.”
“Ini kasus yang mudah. orang awam seperti ku saja bisa menebaknya” DIka, sahabat Emir tiba-tiba duduk di depan Jasmin. Dan Emir duduk di sebelah Jasmin, tidak mepet, namun cukup dekat. Jasmin memperhatikan dua anak manusia itu yang berbeda jauh. Tubuh Emir yang tinggi tegap, berpadu dengan wajahnya yang tampan sangat mencolok, berbeda jauh dengan Dika yang tidak tinggi-tinggi amat, dengan ketampnan yang seadanya membuat ia bagai tak terlihat, karena semua mata hanya tertuju pada Emir seorang.
“Menurutmu siapa pelaku nya?” Tanya Emir. Pria itu memang bertanya pada Dika tapi mata nya menatap Jasmin lekat. “Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu ada di sini? Aku kan bisa menemanimu” Ucap Emir seraya menyangga wajah nya dengan tangan. Matanya fokus menatap Jasmin.
“Pelaku pembunuhan itu tentu saja hantu. Mana ada manusia bisa membawa gadis itu ke atas? Tempat menaruh tanki rumah itu seperti menara yang berada di luar bangunan. Sangat sulit membawa manusia menaiki tangga yang terbuat dari bambu, maksudku tangganya terbuat dari besi ”
“Mungkin saja keluarganya yang membunuhnya kan? Atau mungkin bunuh diri?” Timpal Emir.
“Tidak mungkin, keluarga gadis itu semua sangat sibuk. Yang ada tinggal neneknya saja yang sudah renta, jalan kemana-mana pakai kruk. Dan semua pembantu di rumah itu hanya kerja setengah hari saja. Lagi pula Gadis itu hilang waktu dia keluar rumah. Liburan ke bandung. Nggak ada yang bisa ngelakuin selain hantu. Apalgi di rumah itu kamera cctv ada dimana-mana.”
“Hebat kamu, Dika. hanya menyimak berita viral dari tv saja, kamu udah tahu hantu pelakunya. Hantu itu pasti punya dendam pada gadis itu, sampai-sampai dia membunuhnya. Aku bangga punya sahabat sepeka dirimu. Naluri detektif mu sangat luar biasa.” Emir dan Dika lalu tertawa keras-keras.
“Di-dibunuh hantu?” Wajah Jasmin memucat. Batagor di mulutnya tiba-tiba terasa sangat tidak enak. Entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa di aduk-aduk.
“Iya lah di bunuh hantu. Hantu itu pasti punya dendam yang belum terselesaikan dengan gadis itu. Biasanya hantu seperti itu tidak akan pernah melepas korbannya. menerornya kemanapun dia pergi. Selalu mengikutinya kemanapun dia berada. Dan pada saat yang tepat. Hantu itu langsung membu…,”
“Maaf, aku mau ke toilet” sela Jasmin, tubuhnya berdiri dengan cepat.
“Kamu sakit, Jas? Wajah mu pucat.” Emir hendak menyentuh wajah cantik Jasmin yang sepucat mayat. Jasmin menggelengkan kepalanya. Buru-buru ia meninggalkan kantin, mencari toilet terdekat. Dalam pelariannya, tubuhnya bergetar takut. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuh.
Namun ketika berada di depan toilet, Jasmin justru berhenti, tidak berani masuk sendirian. Jasmin akhirnya memuntahkan isi perutnya di tanah depan toilet.
“Hoek….”
Berkali-kali Jasmin muntah. Tubuhnya membungkuk ke depan, mengeluarkan seluruh makanan di perutnya. Tubuh gemetarnya berangsur membaik setelah makanan di perutnya keluar. Tidak peduli beberapa mahasiswa melewatinya sambil berbisik-bisik. Ada juga yang terang-terangan bicara dengan keras, mengatakan jika ada orang yang sedang hamil muda. Jasmin tidak peduli, ia terus saja muntah sambil membugkukkan badan. Perutnya hingga sakit karena sudah memuntahkan seluruh isi perutnya.
“Sial banget sih Dika sama Emir. Bahas-bahas hantu di depanku.” Gerutu jasmin sambil menyeka mulutnya. Menyeka keringatnya yang sebesar biji jagung. Ia lalu duduk berjongkok. Menyandar di dinding. Tubuhnya sekarang terasa lebih enteng tapi juga lemas.
"Awas aja kalau mereka nanti bahas-bahas hantu itu di depanku." Bibir Jasmin bergemerutuk menahan emosi.
Setelah merasa tubuhnya mulai membaik. Jasmin berdiri. Menutup kotorannya dengan tanah. Ia lalu berjalan menuju kelasnya. Tubuhnya kini terasa lebih enteng. Saking entengnya, Jasmin yakin jika ada angin yang lewat, tubuhnya pasti terbawa oleh angin itu. Terbang melayang bersama layang-layang anak-anak.
Jasmin berjalan lamban, tubuhnya yang habis mengeluarkan banyak makanan dan cairan membuat setiap langkahnya mengayun pelan. Bahkan pandangan matanya sedikit kabur. ‘ Sebaiknya aku istirahat di kelas aja. Setidaknya tidak ada Dika dan Emir yang selalu bercerita tentang hantu.'
Kaki Jasmin melangkah pelan menuju kelasnya, berkali-kali tangannya menggosok matanya yang terasa mengabur. Tiba-tiba matanya melotot, menatap lebar-lebar ke arah depannya. Jasmin yakin sekelebat bayangan hantu pria tampan itu sedang berjalan ke arah dirinya. Tidak, bayangan itu semakin lama semakin nyata. Tubuh tegapnya yang cukup atletis mencangkluk tas yang tersembunyi di balik tubuhnya. Jasmin yakin, hantu itu juga menatapnya, berjalan semakin mendekati dirinnya.
Tanpa pikir panjang. Jasmin pun membalikkan tubuhnya. Ia harus lari. ‘Uh, kenapa dia ngikutin aku terus sih? Aku punya salah apa sama dia coba? Apa jangan-jangan karena semalam aku nginjak bahunya? Oh tidak….’
Grep….
Sebuah tangan kekar tiba-tiba menguasi pergelangan tangan Jasmin.
“Mau kemana kamu?” Suara Bass itu, terdengar rendah ditelinga Jasmin. Ia masih ingat milik siapa suara itu, hantu tampan!
“Lepasin aku. A-aku nggak salah sama kamu, se-semalam aku khilaf, udah berani nginjak bahummu.” Suara Jasmin bergetar ketakutan. Ia bahkan tidak berani menoleh pada hantu itu yang sekarang memakai celana panjang warna putih. “K-ku mohon, ampuni aku. Jangan bunuh aku, hu….” Jasmin menangis ketakutan. Tangannya sedingin es dalam genggaman pria itu. Ketakutan setengah mati, karena cengkrkaman itu begitu kuat melingkari pergelangan tangannya. Benar-benar melarang Jasmin pergi.
Pria itu memutar tubuhnya, menghadap Jasmin. Kening nya berkerut bingung menatap Jasmin yang memejamkan matanya erat. “Aku tidak tahu maksud ucapanmu. Untuk apa aku membunuhmu?” Suara tenang pria itu membuat Jasmin perlahan membuka matanya. “Kenapa kamu ketakutan melihatku? Memangnya aku hantu?” Pria itu menatap mata Jasmin. Jasmin jadi teringat cara mata itu menatapnya, tajam menembus hingga hatinya. Dan Jasmin tidak suka cara pria itu memandangnya.
“Kamu…, bukan hantu?” Tanya Jasmin, memberanikan diri menatap pria itu. Hantu itu terlihat dewasa dengan kemeja hitam di tubuhnya dan celana putih menempel indah di kaki panjangnya.
Pria itu membuang muka sambil tertawa. “ Yang benar saja aku di katai hantu? Apa tampangku seperti hantu?” Pria itu menatap Jasmin. Tangan kirinya semakin ia masukkan ke dalam saku, sewaktu jasmin menatap tangan nya. Buru-buru ia lepas pergelangan tangan Jasmin saat beberapa mahasiswa menatap dirinya dan Jasmin.
"Kenapa semalam kamu tiba-tiba tidak ada? Maksud kamu apa, datang ke asrama?"
"Oh itu…, sebenarnya semalam aku ingin menemui seseorang. Setelah ku pertimbangkan, aku berubah pikiran" pria itu mengangkat bahunya sekilas. "Hp mu tadi gimana? Rusak?"
Jasmin menggelengkan kepala. "Syukurlah masih bisa nyala lagi. Tangan mu…, kenapa sembunyi terus di dalam saku?" Biar di kira keren? Keren apaan, lebih mirip seperti hantu. Jika di pikir-pikir, rasanya tidak mungkin pria setampan ini adalah hantu. “Ciri-ciri hantu itu ada di tangan kirimu. Kalau kamu menutupinya terus, itu pertanda kalau kamu hantu." Lanjut Jasmin.
Lagi-lagi pria itu tertawa. Merasa lucu dengan ucapan nyeleneh Jasmin. “Segitu ingin tahunya kamu pada tangan hantu ini?” Wajah itu sedikit memucat, tangan kirinya bergerak gelisah dalam saku celananya.
“Keluarin” Pinta Jasmin. Tubuhnya kini terlihat tidak setegang tadi. Bahu rampingnya yang sedari tadi kaku, kini terlihat melorot lega.
Pria itu pun akhirnya mengeluarkan tangannya perlahan. Dan mata Jasmin seketika berubah sendu saat mendapati ujung jari kelingking pria itu tidak ada, rupanya ia menyembunyikan jari kelingkingnya yang tidak utuh.
“Kenapa jari mu bisa begitu?” tanya Jasmin.
“Ini bukan urusan anak-anak” Lanjut pria itu, Buru-buru ia menyembunyikan tangannya kembali ke saku celananya. “Kelas mu mana? Apa belum masuk?” Tanya pria itu.
Mata Jasmin lalu memindai jamnya. “Ini udah waktunya masuk, kalau gitu aku permisi dulu” Jasmin berbalik. Namun belum juga kakinya melangkah, pria itu memegang pergelangan tangan Jasmin lagi.
“Tunggu!” ucap pria itu, tangannya menahan tangan Jasmin.
Gadis itu pun berbalik. Lama-lama ia tidak nyaman juga dengan pria itu, seenaknya saja pegang-pegang tangannya. Jasmin menarik tangannya cepat. ‘Walau kamu tampan jangan harap aku gampang di sentuh sembarangan ya.”Apa?” Apalagi sih hantu jadi-jadian ini? gerutu Jasmin dalam hati.
Mata Jasmin seketika melebar saat tiba-tiba tangan pria itu terulur pada wajahnya. Tanpa permisi membelai lembut pipi Jasmin yang halus dan bersih. “A-apa yang kamu lakukan?” Jasmin menepis kasar tangan pria itu yang membelali seenaknya wajahnya.
Plak….
Sebuah tamparan keras mendarat kencang di pipi pria itu. “Jaga sikap mu. Aku paling nggak suka cowok yang nggak punya aturan kayak kamu. Jangan sentuh aku sembarangan!” Mata Jasmin melotot pada pria itu, Bahkan jari telunjuknya menunjuk tak sopan wajah tampannya. Wajah cantik Jasmin terlihat jengkel dengan tindakan tak sopan pria itu. Ia paling tidak suka pria tanpa etika, menganggap semua perempuan itu sama di matanya. Sepertinya pria itu terbiasa hidup bebas. Bebas menyentuh wanita manapun yang ia sukai.
Alih-alih tersinggung atau marah, Pria itu justru tersenyum. “Siapa yang berusaha menyentuhmu sembarangan? Aku hanya membersihkan noda saus kacang ini di pipimu” Pria itu menunjukkan tangannya yang terdapat noda saus kacang dari pipi Jasmin, lumayan banyak. Pria itu lalu mengambil sapu tangan dari sakunya. Menyeka kotoran di tangannya.
Rona merah perlahan menjalar di wajah cantik jasmin yang putih bersih. Ia malu setengah mati, sudah menghina habis-habisan pria itu. Ternyata dia menolong dirinya “Tetap aja itu tadi namanya menyentuh” Jasmin tetap menyalahkan pria itu. Malu menatap wajah nya, ia malu bukan kepalang. “A-aku mau ke kelas dulu. Makasih!” ucap Jasmin cepat.
“Tunggu!” Lagi-lagi pria itu memegang tangan Jasmin. Namun kali ini ia melepasnya dengan cepat.
Nafas Jasmin menghembus cepat, tidak sabar. Kenapa tidak tanya sekaligus sih? Eh tapi, kayaknya yang salah aku deh, buru-buru pergi. Jasmin kembali menghadap pria itu.
Pria itu kembali berucap. “Nama mu…,”
Bersambung….