"Ya udah, kalau kamu nggak mau teriak. Jongkok!" Perintah Jasmin.
"Jongkok?" Pria itu merasa salah dengar. Matanya berkerut menatap Jasmin.
"Iya jongkok. Kamu jongkok di sini. Aku mau naik ke gerbang pakai pundakmu. Setelah aku berhasil masuk, nanti kucariin satpamnya biar bisa buka gerbang ini. Gimana sih Pak Budi, ngunci gerbang sembarangan aja. Inikan belum jam sebelas malam. Cepetan jongkok, Mas. Lelet banget sih." Jasmin menarik-narik kemeja pria itu. Memaksanya agar berjongkok di depan gerbang. Untunglah Jasmin selalu memakai celana, jadi bisa naik ke pintu gerbang tanpa ribet.
Pria itu akhirnya terpaksa berjongkok. Menuruti kemauan Jasmin yang keras kepala.
Jasmin melepas sepatu flatnya, lalu menaruh kakinya pada bahu kokoh pria itu. Ia tidak menyangka, pria jangkung itu ternyata panjang juga punggungnya. Membuat Jasmin kesulitan menaiki punggung pria itu. "Aw...." Pekik Jasmin tertahan. Dadanya berdetak kencang ketika kedua kakinya terjatuh di belakang kepala si pria. Kaki Jasmin tanpa sengaja mengangkangi leher pria itu. Dan dengan cepat, Jasmin segera berdiri, menapakkan kakinya di bahu pria rupawan itu. Seumur-umur baru kali ini Jasmin seberani ini pada pria. Namun Ia tidak peduli, keadaan lah yang mendesaknya, lagipula pria itu tidak protes, atau jangan-jangan pria itu menikmatinya? Ah, siala*n!
"Berdiri, Mas" Pinta Jasmin. Pria itu pun berdiri perlahan, agar Jasmin tidak jatuh dari bahunya. Setelah mencapai tinggi gerbang. Jasmin segera mengayunkan kakinya pada pintu, perlahan tapi pasti dia bisa melangkahi pintu, lalu turun hati-hati di balik pintu. "Mas, ambilin sepatu ku" pinta Jasmin pada pria itu. Tanpa banyak berkata pria itu pun mengambilkan sepatu Jasmin. "Mas, tolong jagain motorku ya? Aku panggilkan pak Budi dulu." Ucap Jasmin setelah berhasil memakai sepatunya. Tanpa menunggu jawaban pria itu, Jasmin sudah melesat pergi.
Jasmin berlarian masuk ke dalam Asrama yang berbentuk rumah besar. Ia terkejut saat hendak membuka pintu. Pintu sudah dibuka duluan oleh Bu Yuki dari dalam. Wanita sepuh itu sama terkejutnya dengan Jasmin. “Jasmin? Kaget aku.” ucap wanita itu sembari memegangi dadanya. Setelah itu ia menatap jengah ke arah Jasmin, semakin tidak suka mendengar nafas Jasmin yang memburu. “Bukannya kamu izin pulang? Biasanya kan kamu selalu kembali besok pagi? Kamu sudah bosan menginap di rumah orang yang sekarang?” Jasmin tahu, wanita itu punya dua makna dalam ucapannya.
Hati Jasmin sakit. Selama ini ternyata Bu Yuki menganggap izin pulangnya bukan ke rumahnya, tapi pergi ke rumah pria. Pantaslah kalau wanita itu membencinya. Kepala wanita itu lalu menoleh ke dalam asrama, lalu kembali melihat Jasmin. “Bukannya pintu gerbang di kunci? Bagaimana kamu bisa masuk?” Tanya wanita itu.
“Saya…, melompati pintu gerbang” Jasmin tidak punya penjelasan lain selain itu.
“Melompati pintu?” Wanita itu terkejut, lalu meggelengkan kepala. “Jasmin-jasmin, kamu ini sudah dewasa, jaga sikapmu, di pakai akhlakmu. Percuma punya wajah cantik, tapi attitude nol. Aku sudah nggak heran sama tingkah mu yang buruk” Setelah mengatakan itu, wanita itu pergi meninggalkan Jasmin.
Jasmin berdecak kesal. Jengkel pada dirinya sendiri. Lagi-lagi Bu Yuki memandang tak senang dirinya, salah paham padanya. “Ah sial, aku semakin jelek di matanya.” Gerutu Jasmin sembari masuk ke asrama. Ia terkejut, ternyata ruang utama asrama sedang di jadikan tempat makan-makan mendadak. Semua penghuni asrama tumpah dalam ruang itu. Ada juga ustadzah yang ikut dalam acara makan-makan itu. Sepertinya baru saja ada acara di asrama, dan ia melewatkannya. Satpam yang sejak tadi dia cari, ternyata juga ada di dalam asrama. Dia satu-satunya makhluk paling tampan di ruangan itu, karena memang dia lah satu-satunya pria di tempat itu.
Dengan santainya. Pak Budi sedang menikmati suapan terakhir makanannya. Setelahnya, pria itu justru kembali ke meja yang berisi banyak makanan. Mengisi piring kosongnya dengan nasi yang menjulang tinggi. Menaruh beberapa tusuk sate di atasnya, menyiramnya dengan bumbu sate yang melimpah, pria itu bahkan mempersilahkan Jasmin agar segera ikut menyendok nasi, mengambil lauk tanpa sungkan-sungkan, karena Bu Yuki, pemilik acara malam itu sudah pergi.
“Jasmin, ku kira kamu nggak balik sekarang. Pas banget nih. Acara baru aja kelar. Ambil makan sana. Gratis, Bu Yuki yang ngasih ini semua” Keke menghampiri Jasmin. Wajah nya semangat menyapa Jasmin.
“Acara apaan? Wah kayaknya aku telat. Kok nggak ngasih kabar apa-apa sih? Aku kan bisa datang lebih cepat” ungkap Jasmin.
“Nggak tahu acara apa ini, ini juga mendadak, anak-anak nggak ada yang tahu soal acara ini. Yang jelas beliau syukuran aja, katanya sih gitu. Mungkin Ustadzah yang diundang ke sini buat pimpin doa tahu sesuatu” jawab Keke.
“Oh gitu. Maaf ya, Ke. Aku tinggal bentar. Mau nyamperin Pak Budi. Gerbangnya sama dia di kunci. Padahal ada tamu yang udah dari tadi nungguin di depan gerbang. Dia nggak bisa masuk, soalnya gerbang nya di kunci sama Pak Budi. Dari tadi aku nyariin dia di depan gerbang, sampai teriak-teriak kayak orang gila, tetep aja nggak ada yang bukain gerbang. Eh ternyata yang jaga gerbang lagi enak-enakan makan di sini. Makanya dia nggak dengar ada orang yang lagi teriak-teriak.” Jasmin berjalan menghampiri Pak Budi yang baru saja menghabiskan makanannya dengan sangat cepat. Seolah dia belum pernah makan sate. Keke ikut berjalan di samping Jasmin. Mengikuti gadis itu.
“Sekarang tamu itu ada di mana?” Tanya Keke, merasa kasihan dengan tamu itu.
“Dia masih ada di luar gerbang. Kasihan, dia jadi korbannya Pak Budi.” Kaki Jasmin berhenti tepat di depan Pak Budi yang sedang menjilati tangannya. Menikmati bumbu sate yang tertinggal di jari-jarinya. “Udah selesai kan, Pak. Makannya?” Tanya Jasmin.
“Sebenarnya belum selesai sih. Masih pengen nyobain Bakso jumbonya. Tadi udah puas sama pecel lele, dan sate. tinggal Bakso nya yang belum di coba. Mumpung gratis semua. Jadi aku harus menikmati semuanya dengan maksimal. Kamu tahu kan. Pecel lele itu paling murah lima belas ribu, sate paling murah tiga puluh ribu. Bakso paling murah juga masih lima belas ribu.”
“Itu perut apa tempat pembuangan sampah? Kenapa semua bisa masuk?” Timpal Keke.
“Tempat pembuangan makanan, hehe…. Nanti kalau kalian punya makanan bisa di buang ke tempat satpam juga. Aku pasti akan menerimanya. Hehe….” Pak Budi berdiri. Tubuh tinggi besarnya terlihat sangat berat. Jalan pria itu menjadi lambat. Menaruh piring kotornya pada tempatnya. Tidak disangka, pria itu mengambil mangkuk bersih, hendak menuju meja makan lagi. “Makannya nanti lagi, Pak. Perut bapak udah mau meletus ini. Di depan ada tamu. Dia nggak bisa masuk. Soalnya bapak ngunci pintu.” Jasmin mengambil mangkuk di tangan Pak Budi.
“Hah? Ada tamu? Kenapa nggak bilang dari tadi tho, Mbak Jasmin yang cantik?” Pak Budi lalu berbalik. Keluar rumah. Jasmin dan dan Keke mengikuti Pak Budi.
“Tapi, Jas. kamu tadi, terkunci di luar kan? Kok kamu bisa masuk?” Tanya Keke.
“Aku tadi lompat. Hehehe…,” Jasmin tidak menceritakan bagaimana cara dia melompati gerbang itu.
“Gila ini cewek, udah tua masih main lompat gerbang kayak anak SD aja. Terus Siapa tamu itu, Jas?” Tanya Keke.
“Aku nggak tahu, aku nggak pernah lihat orang itu.” Jasmin mengangkat bahunya sekilas.
“Masa sih? Dia laki-laki atau perempuan? Kalau udah tua kan kasihan. Malam-malam gini nunggu di luar. Gimana kalau dia masuk angin?” Keke bersimpati.
“Tamu ini pria ganteng, dia masih muda, jadi dia nggak bakalan masuk angin” tukas Jasmin.
“Pria ganteng? Yang benar kamu, Jas? Kamu kan nggak tahu cowok ganteng.” Keke antusias. Semakin tidak sabar ingin segera melihat tamu itu. Tidak yakin sahabatnya bisa mengenali pria tampan. Emir yang super tampan aja nggak kelihatan tampan di mata Jasmin.
“Aku tahu dong, mana cowok yang ganteng dan yang biasa-biasa aja. Hanya saja, mau ganteng atau jelek, bagiku sama aja.”
“Terus, aku ini ganteng apa jelek, Mbak Jasmin?” Tanya Pak Budi tiba-tiba. Kepalanya menoleh ke belakang sejenak, bibirnya cengar-cengir. Rupanya pria itu sejak tadi menyimak pembicaraan Keke dan Jasmin.
“Bapak nggak ganteng” Sahut Jasmin.
“Mbak Jasmin jahat ih. Masak saya di bilang jelek?” Pak Budi berjalan tidak semangat.
“Nggak gitu maksud saya, Pak. Bapak itu ganteng, tapi itu dulu, sekarang kan bapak udah tua. Jadi udah waktunya Bapak menyerahkan ketampanan anda sama anak-anak. Loh mana pria tadi?” Jasmin celingukan. Tidak melihat pria tampan itu di luar gerbang. Mobilnya pun sudah tidak ada di tempat. Tinggal motornya sendirian di depan gerbang.
“Mana tamu yang kamu bilang tadi, mbak Jasmin?” Tanya Pak Budi seraya membuka kunci gerbang.
“Iya, Jas? Mana pria ganteng yang kamu lihat tadi?” Keke penasaran.
“Aku nggak tahu. Tadi dia di sini kok. Pakai kemeja putih dan mobil putih” Jasmin berdiri tepat di tempat mobil tadi berada.
“Kulit orang itu juga putih kan?” Tebak Pak Rudi.
“Kok bapak tahu?” Tanya Jasmin. Ia berdiri di samping motornya. Sesekali matanya melirik kesana kemari. Mencari jejak, sesuatu yang ditinggalkan pria itu. Tapi ia tidak menemukan apapun.
“Kamu nggak pernah dengar? Akhir-akhir ini, sering ada penampakan hantu pria tampan keliaran di jalanan. Ada yang bilang, itu adalah hantu pria yang meninggal dalam kecelakaan yang terjadi di perempatan sana itu loh” Pak Budi menunjuk perempatan jalan yang terdapat lampu trafficnya.
“Nggak lucu ah, Pak. Jangan bohong” Pekik Jasmin. Tengkuknya tiba-tiba terasa merinding.
“Aku nggak bohong, Mbak. Tanya saja sama orang-orang di sini. Satu bulan yang lalu ada pria tampan pakai kemeja putih dan mobil putih mengalami kecelakaan di perempatan itu. Dia meninggal seketika. Pergelangan tangannya kejepit mobil sampai putus. Orang-orang nggak ada yang bisa nemuin tangan pria itu. Akhirnya pria itu dikubur tanpa tangannya. Tapi setelah tujuh hari pria itu meninggal. Sering ada penampakan pria tampan turun dari mobil putihnya. Awalnya pria itu memang tampan. Tapi lama-lama dia berubah jadi mengerikan. kepalanya penuh darah dan tangan yang satunya yang hilang ia angkat tinggi-tinggi. Seolah dai mau bertanya, di mana tangan ku yang sebelah….”
“Enggak….!!!” Tiba-tiba Jasmin berteriak histeris. Kedua tangannya menutup telinga “Pak Budi bohong. Aku nggak dengar! Nggak dengar….! Aaa….!!!” Tiba-tiba Jasmin berlari kencang meninggalkan Keke dan motornya begitu saja. Berlari kembali menuju asrama sambil berteriak-teriak histeris. Jasmin syok, ketakutan. Ia ingat, pria tadi selalu menyembunyikan tangan kirinya di dalam saku.
“Jas, motormu ketinggalan!” Teriak Keke. Tapi sahabatnya itu tidak peduli. Jasmin sudah menghilang. Berteriak-teriak sambil berlari ketakutan.
“Pak Budi gimana sih? Udah tahu Jasmin penakut. tapi malah di takut-takutin”
“Hahaha.... Aku pengen lihat aja. Seberapa penakutnya dia” Pak Budi tertawa terpingkal-pingkal. Kedua bahunya selalu ikut naik turun ketika pria itu tertawa.
“Jangan-jangan carita tadi bohong ya?” Tebak Keke.
“Menurutmu?” Pak Budi justru balik bertanya. Bibirnya menyimpan senyum. Ia lalu tertawa geli, ketika mendengar teriakan Jasmin yang masih terdengar. “Memangnya kamu pernah dengar pria tampan mengalami kecelakaan di perempatan sana?”
“Ih, Pak Budi usil banget sih. Pakai ngerjain Jasmin Jasmin segala. ” gerutu Keke. Ia lalu menuntun motor Jasmin menuju asrama. Tidak bisa mengendarainya, karena kunci motor ada pada Jasmin. Dan Keke tidak tahu, jika Bu Yuki sedang memandang ke arah luar dari rumahnya. Menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jasmin yang berlari sambil berteriak.
***
“Jas, agak ke sanaan dikit, sempit nih.” Keke mendorong pelan tubuh Jasmin yang merapat padanya. Mereka hendak tidur. Berada dalam satu selimut.
“Aku takut, Ke” Jasmin tidak peduli dengan permintaan Keke, memintanya agar menjauh. Jasmin memang senang sekali tidur seranjang dengan temannya yang satu ini. Tubuhnya yang lumayan gendut. nyaman untuk di jadikan guling atau sekedar tidur merapat di sampingnya. Terasa hangat dan empuk.
“Ke, besok pagi mandi bareng ya? Aku takut sendirian di kamar mandi” Pinta Jasmin. Jangankan ke kamar mandi. Di ranjangnya sendiri saja ia ketakutan. Apalagi di tempat sepi. Cerita Pak Budi membuat Jasmin selalu teringat dengan pria tampan tadi yang selalu menyembunyikan sebelah tangannya di saku celana. Untunglah tadi dia segera pergi meninggalkan pria itu. Jika tidak, sebentar lagi, pria itu pasti segera menunjukkan wajah nya yang mengerikan karena kecelakaan dan tangannya yang putus pada dirinya.
"Ke…," Panggil Jasmin, karena gadis itu tak kunjung menjawab permintaan nya. Jasmin lalu mengintip wajah Keke. Bibir Jasmin seketika mengerucut. Ternyata sahabatnya itu sudah mendengkur duluan. Di asrama Jasmin memang satu kamar dengan Keke, sehingga ia lebih dekat dengan Keke sewaktu di asrama. Dan kebiasaan Keke sewaktu Jasmin nempel pada dirinya di malam hari. Pagi harinya Jasmin melihat Keke pindah ke ranjangnya.
Dulu Jasmin pernah melihat kecelakaan di depan matanya. Keadaan korban saat itu sangat tidak baik. Korban itu mengalami kejang-kejang di depan Jasmin sesaat sebelum dia meninggal. Tubuh korban yang berdarah darah di sekujur kepala dan tubuhnya, selalu di ingat oleh Jasmin. Setelah kejadian itu, Jasmin sakit selama seminggu. Dan ia kesulitan tidur selama satu bulan lamanya. Jika ia tidur. Ia pasti selalu mimpi buruk. Memimpikan kecelakaan itu. Ibu dan ayahnya sampai mencari hutang kemana-mana demi mengobati Jasmin. Ekonomi keluarganya sejak dulu memang selalu di bawah garis kemiskinan, selalu mencari hutang ketika terdesak kebutuhan mendadak. Dan sejak ayahnya meninggal. Ibunya jadi sakit-sakitan. Tubuhnya lemah, seolah ia tidak lagi bersemangat untuk hidup. Belahan jiwanya telah pergi meninggalkannya. Melihat ibunya yang sakit-sakitan, tidak memungkinkan untuk mencari uang. Otomatis kakaknya yang mencari uang untuk mencukupi kehidupan mereka.
Sekarang kakak nya memang berhak hidup bahagia. Setelah kesedihan yang berkepanjangan yang ia alami, bekerja di masa remajanya. Tidak pernah menikmati masa-masa remajanya yang manis, karena ia harus bekerja setelah pulang sekolah. Membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Jasmin bahagia melihat kakaknya yang kini bisa hidup bahagia bersama suaminya. Selain tampan suami kakanya juga selalu melimpahi Clarissa dengan cinta. .
Karena Jasmin tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia pun memainkan ponselnya. Melihat status orang-orang di ponselnya. Dan Jasmin terkejut, saat melihat ada status sahabatnya yang masih tinggal di Belanda. Sahabatnya sesama pertukaran mahasiswa di Belanda namanya Rindu.
‘Alhamdulillah… Otw pulang ke tanah air tercinta’ begitulah isi status Rindu. Tanpa pikir panjang Jasmin langsung membalas status Rindu.
“Rindu… Aku rindu kamu…” Tulis Jasmin.
Bersambung….