34

1308 Words

Shasa duduk dengan kepala yang menunduk dalam di pinggir ranjang, di temani lampu yang temaram. Lampu utama kamar sudah matikan oleh Shasa di gantikan dengan lampu temaram yang berdiri cantik di atas nakas samping kanan ranjang, padahal Isya saja belum. Shasa nggak mau lihat wajah suamimya. Menyebalkan, dan membuat sakit hatinya saja. Shasa mendengar Pian memanggil-manggilnya dari luar, dan menggedor lembut pintu kamar, berharap Shasa akan membukan pintu, dan menyahuti panggilannya. Nggak akan, Shasa nggak akan membukakan pintu kamar suaminya. Mengingat sifat, dan kelakuan Pian yang membuat keputusan tanpa seijin darinya tadi. Sakit bangat, Shasa menganggap dirinya bukan'lah seorang isteri, karena suaminya mengambil keputusan besar tanpa persetujuan darinya. "Ya, udah. Kalau nggak mau

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD