Senin paginya Hana berjalan pelan menyusuri koridor menuju kelasnya. Ketika Hana sampai di ambang pintu, tatapannya langsung tertuju pada kedua sahabatnya yang sedang berbincang. Mereka berdua menyunggingkan senyuman lebar melihat Hana. Hana berjalan mendekati kedua sahabatnya lalu menjatuhkan pantatnya di kursi sebelah Sera.
"Sepertinya kau habis berperang sengit." sindir Sera. Hana hanya tersenyum kecil sementara Arin tertawa lebar.
Setelah kejadian pertengkaran antara Hana dan Sarah saat akhir pekan kemarin. Malamnya Hana langsung menghubungi Sera dan Arin secara bergantian, lalu menceritakan semua kejadian yang menimpa Hana.
"Kukunya sangat panjang, lihat ini." Hana lalu menunjukan luka cakar yang terdapat di pelipisnya dan di tangan kanannya.
Hana melihat ke arah meja depan tempat Niken duduk masih kosong. Sera yang mengikuti arah pandangan Hana lalu berkata. "Sepertinya dia tidak akan masuk sekolah." Hana beralih menatap Sera. "Niken takut nasibnya seperti Sarah. Apalagi ada Arin, bisa saja Arin akan membanting tubuh Niken ke tanah." ledek Sera.
Arin tertawa lebar. "Aku ingin sekali mencobanya."
Bel tanda masuk telah berbunyi semua siswa berjalan keluar kelas menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera.
Hana melihat Derris yang berjalan di depannya bersama Rian dan Romi. Derris tersenyum lebar dan memberikan tanda hati dengan tangannya pada Hana. Hana hanya memutar kedua bola matanya dengan kesal pada Derris.
Sera yang berada di samping Hana berbisik pelan. "Dia sudah kembali menjadi Derris yang menyebalkan seperti dulu." ledek Sera sambil tergelak. Hana hanya mengangguk, mereka berdua lalu berjalan memasuki barisan kelasnya.
***
Setelah mendapat kabar dari Sera bahwa Hana pingsan dan di bawa ke uks. Derris langsung berjalan dengan tergesa-gesa menuju uks untuk melihat kondisi Hana.
Derris yang telah berdiri di ambang pintu uks, langsung mengedarkan pandangannya mencari Hana. Ia lalu berjalan masuk dan menghampiri ibu yang bertugas hari ini. Setelah di tunjukan keberadaan Hana, Derris lalu berterima kasih dan menghampiri Hana yang di tempatkan di ranjang paling ujung.
Derris menghembuskan nafas lega ketika melihat Hana sedang tertidur dengan posisi membelakanginya. Derris lalu duduk di pinggir ranjang Hana, lalu mengusap rambut panjang Hana dengan lembut.
Hana yang merasakan usapan lembut pada rambutnya langsung membalikan badannya pada Derris yang sedang menatapnya dengan raut wajah khawatir. Hana mencoba untuk duduk, Derris lalu berdiri dan membantu Hana untuk duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Kau tidak usah khawatir. Aku masih hidup ko." gurau Hana lemah.
Derris membulatkan kedua matanya pada Hana. "Aku sangat khawatir sekali saat mendengar kabar bahwa kamu pingsan. Kau lihat ini, aku berlari kemari sambil membawa pulpen. Untung saja bukan tas yang aku bawa." Derris terkekeh geli sambil mengacungkan pulpennya. "Kamu sakit apa?" tanya Derris.
Hana mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya demam dan tadi pagi aku tidak sarapan."
"Padahal kamu sudah kurus, untuk apa kamu menurunkan berat badanmu." kata Derris.
Hana memukul lengan Derris dengan lemah. "Aku tidak sempat sarapan. Bukan karena aku sedang diet." protes Hana.
Derris tersenyum lalu mengusap lembut rambut Hana. "Aku akan membelikanmu makanan." kata Derris.
Hana menggeleng. "Tidak usah. Aku tadi sudah meminum teh manis hangat."
Derris mengangguk. "Sepetinya aku harus kembali ke kelas." Derris terkekeh geli. "tadi aku izin pada guru yang tengah sibuk menjelaskan untuk ke toilet. Mungkin dia akan curiga jika aku tidak kembali."
Hana tersenyum kecil. "Dasar bodoh. Cepat kembali ke kelasmu sana." usir Hana. Derris tersenyum lebar dan berkata ia akan kembali lagi setelah bel istirahat pertama.
Beberapa hari kemudian saat jam istirahat pertama. Romi memarahi Derris karena Hana telah memfitnah Niken yang bersekongkol dengan Sarah. Niken pun mengatakan bahwa Hana dan Sera telah memarahi Niken di toilet saat mereka sedang mengganti baju olahraga.
Hana yang mendengar kabar bahwa Derris dan Romi sedang adu mulut, Akhirnya Hana dan Sera memutuskan untuk menghampiri Derris ke kelasnya. Pada saat Hana sampai di kelas Derris. Romi sedang di tahan oleh dua orang teman sekelas Derris yang tidak Hana ketahui siapa namanya. Sedangkan Rian menahan tangan Derris agar tidak tersulut emosinya. Hanya Romi yang terus membentak dan menunjuk-nunjuk pada wajah Derris.
Niken yang berada di samping Romi tersenyum licik saat melihat kedatangan Hana dan Sera. "Sudah sayang kita bisa bicarakan ini di tempat lain, jangan di kelas seperti ini. Jika ada guru yang melihat kamu dan Derris bertengkar masalahnya akan semakin panjang."
"Tapi."
"Kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin." sela Niken cepat.
"Romi, sebaiknya kita bicarakan ini setelah pulang sekolah. Aku bisa membuktikan bahwa apa yang di adukan Niken kepadamu tidak benar." kata Hana.
"Hei." bentak Niken pada Hana.
Rian menganggukan kepala setuju dengan usulan Hana. "Romi tenangkan dirimu dulu. Kita bertemu setelah pulang sekolah di lapangan belakang." kata Rian.
Akhirnya orang-orang yang berkumpul di kelas Derris satu per satu pergi. Derris pun mengajak Hana dan Sera untuk keluar dari dalam kelas.
"Kamu yakin mempunyai bukti untuk di tunjukan pada Romi?" tanya Derris penasaran ketika mereka telah duduk di kantin. Hana mengangguk lalu menyedot jus mangganya.
"Tenang saja, aku punya banyak bukti untuk membuat Niken di putuskan oleh Romi." kata Sera sombong. "aku sangat kasihan pada Romi yang hanya di manfaatkan oleh Niken. Kini setelah membongkar kebusukan Sarah, Niken pasti ikut terbawa karena dia yang menjadi sumber informasi untuk Sarah."
"Pertengkaran wanita sangat menyeramkan." kata Arin sambil tersenyum lebar.
Sera menyeringai. "Memang yang lebih berbahaya adalah pertengkaran wanita." tambah Sera. Hana hanya menggelengkan kepalannya.
Setelah pulang sekolah Derris, Hana, Sera dan Arin berjalan ke arah lapangan belakang. Sera dan Arin merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Hana. Mereka berdua berbisik dan terus tertawa membuat Hana menatap curiga pada mereka.
Romi, Rian dan Niken telah datang terlebih dahulu. Niken yang sedang duduk di bangku panjang bangkit berdiri ketika melihat kedatangan Derris.
Mereka semua telah berkumpul. Hana lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya dan memutar hasil rekaman percakapannya bersama Sarah saat di taman kota. Romi melirik Niken yang terdiam saat namanya di sebut oleh Sarah.
Setelah rekaman selesai Romi melihat bergantian pada Derris dan Hana dengan tatapan tidak percaya. Sera akhirnya menyerahkan ponselnya pada Romi yang sejak awal di genggam olehnya. Meskipun tidak mengerti dengan maksud Sera, Romi tetap menerima ponsel Sera. Romi melihat foto Niken yang sedang merangkul lengan Derris dengan sangat erat.
"Ini bukan hanya sekali aku memergoki Niken mendekati Derris. Lihat foto selanjutnya, aku memiliki beberapa foto Niken lagi." kata Sera lalu menggeser layar ponselnya.
Romi menatap Derris dengan tatapan menuduh, namun Derris langsung mengangkat bahunya. "Kau tau bukan aku sangat menyukai Hana. Jadi mana mungkin aku berpaling pada Niken." Derris berdehem. "soal masalah Sarah pengecualian. Karena jelas aku yang salah karena telah percaya pada perkataannya."
Romi mengembalikan ponsel Sera lalu menatap tajam pada Niken yang berada di sampingnya.
Niken menggaruk pelipisnya. "Aku bisa jelaskan, semua itu salah paham." Niken memegang siku Romi dengan manja.
"Asal kamu tahu saja, dia selalu datang mengunjungi Derris ke tempat kost-nya. Dia juga selalu menjelek-jelekanmu dari belakang." kata Sera berapi-api.
"Dia mengatakan bahwa kau adalah lelaki payah dan juga bodoh. Karena mau saja di manfaatkan oleh Niken dengan mudah." tambah Arin yang sedari tadi menahan senyumnya. "dia juga mengatakan bahwa jalan dan cara bicaramu sangat aneh."
Niken ternganga, tak percaya Sera dan Arin dapat mengatakan hal bohong seperti itu pada Romi. "Sungguh aku tidak pernah mengatakan itu." kata Niken panik.
Romi langsung menarik tangannya yang di pegang oleh Niken, lalu berjalan pergi meninggalkan Niken.
"Kau, lihat saja pembalasanku." Niken menunjuk Sera dengan marah lalu berlari menyusul Romi.
Sera dan Arin langsung tertawa kencang setelah Niken pergi menyusul Romi. Hana yang berada di samping Sera lalu menengok ke arah kedua sahabatnya dengan bingung.
"Apa benar Niken mengatakan hal seperti itu tentang Romi?" tanya Hana. Rian dan Derris yang penasaran pun ikut melihat Sera.
Sera menggelengkan kepalanya. "Tidak." Arin mengulum senyum. "kami hanya mengarangnya untuk mempermalukan Niken." Sera kembali tertawa kencang sambil memegangi perutnya.
"Kau benar-benar sudah gila." kata Hana. Mereka pun berjalan pulang bersama sambil menertawakan nasib Niken selanjutnya.