Hana mematut wajahnya di cermin sudah hampir sepuluh menit ia lakukan itu. Kemarin malam setelah pulang dari rumah Derris. Hana langsung menghubungi Sarah dan memintanya untuk bertemu di taman kota hari ini. Hana sengaja menyimpan nomor Sarah dari ponsel Derris untuk berjaga-jaga.
Sejujurnya Hana sangat malu membuka isi ponsel Derris tanpa seizin pemiliknya. Karena mengingatkannya pada masa lalu yang pernah memutuskan Derris karena telah membuka ponselnya tanpa izin.
Meski tujuan Hana baik, namun tetap saja alasan apapun tidak benarkan jika membuka isi ponsel orang lain tanpa izin. Meskipun begitu, semuanya telah terjadi. Mungkin setelah semua masalah selesai Hana bisa meminta maaf pada Derris yang telah meminjam ponselnya tanpa izin.
Hana menghembuskan nafas berat. Ia ingin semuanya segera berakhir hari ini. Meskipun mempetaruhkan hubungannya bersama dengan Derris. Hana melirik jam tangan yang sedang di pakainya. Ia langsung meraih tas selempang yang di letakannya di atas tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Hana menyusuri trotoar yang menuju ke arah taman kota. Sepanjang perjalanan banyak pasangan yang sedang bersantai duduk di bangku taman. Cuaca yang cerah di sore hari ini membuat akhir pekan menjadi semakin ramai.
Hana berjalan memasuki taman sambil mencari bangku yang kosong. Ia mengedarkan pandangannya sambil mencari keberadaan Sarah. Akhrinya Hana memutuskan untuk duduk di dekat pohon besar yang cukup rindang dan juga sepi. Ia pun langsung mengirim pesan pada Sarah memberi tahukan letak posisinya saat ini.
Tak lama orang yang Hana tunggu telah datang. Hana memegang erat ponselnya lalu bangkit berdiri ketika Sarah berjalan mendekatinya.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Sarah langsung tanpa basa-nasi dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Jadi apakah kau sudah sembuh dari pura-pura sakitmu itu?" Hana balas bertanya.
Sarah tersenyum simpul lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Seperti yang kau lihat aku sangat sehat." kata Sarah. "ternyata Niken tidak berbakat untuk menjadi mata-mata. Padahal hanya tinggal sedikit lagi aku berhasil mendapatkan Derris."
Ternyata benar dugaan Hana selama ini. Tujuan Niken mendekati Hana ketika tidak ada Sera dan Arin adalah untuk memata-matainya dan juga untuk memanasi Hana.
"Sudahlah sebaiknya kau mundur, jujur saja kau juga tahu bahwa Derris lebih bahagia saat bersamaku." kata Sarah. "lagipula dari dulu sampai sekarang nyatanya Derris belum bisa melupakanku. Dia masih saja bodoh seperti dulu." tambah Sarah dengan tersenyum mengejek.
Sarah melipat kedua tangannya di depan d**a. "Dan omong-omong aku tau kau bekas Ricky bukan?" Sarah menyeringai.
Hana menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Sepertinya kau sudah susah payah mencari tahu informasi tentangku. Padahal itu adalah cerita lama." ejek Hana. "aku memang mantan Ricky, tapi asal kau tahu. Aku tidak serendah dirimu sampai berpura-pura sakit dan terus mengemis cinta pada lelaki yang sudah memiliki pacar." tambah Hana.
"Br*****k. Dasar wanita j****g." maki Sarah.
Hana tersenyum simpul. "Harusnya kau bercermin. Dasar sampah." Hana menekankan kata sampah tepat di wajah Sarah.
Sarah naik pitam dengan omongan Hana, ia mendekat pada Hana lalu menampar pipi Hana dengan sangat kencang. Hana memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Sarah. Hana langsung menatap tajam pada Sarah dan langsung membalas menamparnya.
"S****n." pekik Sarah sambil mengusap pipinya.
Sarah menjambak rambut Hana yang tergerai. Hana lalu membalas menjambak rambut Sarah yang hari ini di ikat kuncir kuda. Ponsel yang di pegang Hana jatuh tepat di bawah Sarah. Sarah yang posisinya sedang menunduk langsung dapat melihat layar ponsel Hana yang sedang menyala. Sarah kaget melihat ponsel Hana ternyata sedang merekam semua percakapan mereka sejak awal.
"Kau sangat menyeramkan. Merekam semua percakapan yang kita bicarakan." kata Sarah sambil terus menarik rambut Hana. "cepat lepaskan tanganmu." perintah Sarah.
Hana tertawa mengejek lalu menambah tarikan tangannya pada rambut Sarah. "Kau yang lepaskan duluan. Atau aku akan mencabut kepalamu." ancam Hana.
Sarah melepaskan lengannya dari rambut Hana. Hana pun mulai melepaskan lengannya dari rambut Sarah dan mendorongnya sampai terjatuh ke tanah. Hana langsung memungut ponselnya sebelum Sarah mendahuluinya.
Hana menunduk dan menatap tajam pada Sarah. "Dasar sampah. Wanita tidak tahu malu."
"Kau.."
"Hana." Derris berjalan cepat lalu menarik Hana ke dalam pelukannya. Hana hanya diam dalam pelukan Derris dan juga merasa lega.
Sarah terlonjak kaget melihat Derris yang tiba-tiba datang memeluk Hana. Sarah langsung memasang wajah memelas pada Derris dan berkata. "Derris tolong aku. Lihat pacarmu sangat jahat padaku."
Derris melepaskan pelukannya pada Hana. "Aku sudah mendengar semuanya." sahut Derris tanpa membalikan badannya. "aku bersyukur, kamu tidak benar-benar meyukaiku. Jadi aku tidak akan merasa bersalah lagi padamu."
"Tunggu Derris aku bisa jelaskan semuanya." Sarah langsung berdiri dan mendekat pada Derris.
Derris menghembuskan nafas. "Cukup Sarah, kau tidak usah berpura-pura lagi di depanku." bentak Derris. "kau benar-benar wanita tidak tahu malu."
Sarah mengusap wajahnya sambil tertawa. "S**l. Dasar b******k." maki Sarah dan melayangkan tangannya siap untuk memukul Derris.
Rian menahan pergelangan tangan Sarah dari belakang. "Kau harusnya berubah ketika aku mengancammu dulu."
"Lepaskan tanganku." Sarah menggeliat mencoba melepaskan pengelangan tangannya dari Rian.
Rian memberi isyarat pada Derris agar segera pergi meninggalkan mereka berdua. Derris mengangguk lalu menatap pada Sarah sekilas. Derris lalu menarik tangan Hana untuk segera menjauh dari Sarah
"Hei. Urusan kita belun selesai." pekik Sarah sambil terus menggeliat melepaskan tangan Rian.
Rian mengeratkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Sarah. "Urusanmu sekarang denganku." kata Rian tajam. Sarah hanya menunduk dan berhenti mencoba melepaskan tangannya dari Rian.
***
Derris dan Hana berjalan sambil berpegangan tangan. Derris terus melirik Hana yang terus menutup rapat mulutnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Derris khawatir.
Hana menghentikan langkahnya dan melepaskan pegangan tangan Derris. "Kenapa kamu bisa tiba-tiba muncul?" Hana balik bertanya. Derris membalikan badannya menghadap Hana dan mulai menceritakan semuanya dari awal.
Pagi hari Rian menghubungi Derris untuk mengantarnya membeli baju. Letak tempat toko baju yang Rian tuju berdekatan dengan taman kota. Setelah turun dari bis dan berjalan menyusuri trotoar, Derris tidak sengaja melihat Hana yang berjalan tidak jauh dari mereka.
Derris langsung mengajak Rian untuk mengikuti Hana dari belakang secara diam-diam. Rian hanya menurut dan mengekor di belakang Derris.
Setelah memasuki taman, Hana terlihat seperti sedang mencari seseorang. Derris yang melihat Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling, refleks langsung mengikuti arah pandangan Hana. Namun tidak ada seorangpun yang Derris kenali di dalam taman.
Hana berhenti berjalan dan duduk di dekat pohon yang rindang. Derris dan Rian memilih bersembunyi di balik pohon kecil yang tidak jauh dari Hana.
Tak lama datang Sarah yang berjalan mendekati Hana. Percakapan mereka pun dimulai. Derris tertegun ketika namanya sudah di sebut. Sarah menampar Hana dengan sangat kencang, Derris yang bersiap untuk melerai mereka berdua sebelum berkelahi lebih jauh di tahan oleh Rian.
Rian mengatakan bahwa Hana sangat marah pada Sarah jadi biarkan dia melampiaskan kemarahannya pada Sarah. Benar saja dugaan Rian, tak lama Hana langsung membalas tamparan Sarah.
Sarah pun langsung menjambak rambut Hana. Hana yang tak terima membalas menjambak rambut Sarah. Mereka berdua saling menjambak rambut cukup lama. Derris menarik tangannya yang sejak awal di tahan oleh Rian. Ia tidak sanggup melihat Hana yang di sakiti oleh Sarah. Setelah Hana mendorong Sarah, Derris langsung berjalan cepat dan memeluk Hana dengan erat.
"Jadi sejak awal kamu sudah mengikutiku?" tanya Hana saat Derris mengakhiri ceritanya.
Derris mengangguk. "Karena kamu sangat mencurigakan, jadi aku mengikutimu." Derris membalikkan badannya dan mulai berjalan pelan. "ayo kita pulang." ajak Derris
Hana melihat punggung Derris dari belakang. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Hana khawatir.
Derris membalikan badannya. "Aku baik-baik saja Hana." jawab Derris. Hana berjalan cepat pada Derris dan memeluknya dengan erat. "Kenapa kamu seperti ini. Membuat aku malu saja." Derris terkekeh pelan.
Hana hanya diam dan mulai terisak. "Hana kamu menangis?" tanya Derris. Derris memegang bahu Hana untuk mencoba melihat wajah Hana. Namun Hana semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku tau kamu terluka." isak Hana.
Derris menggeleng lalu membalas pelukan Hana dengan erat. "Aku baik-baik saja." sahut Derris. "aku minta maaf karena selama ini telah berubah menjadi menyebalkan. Aku janji tidak akan membuatmu terluka lagi."
"Kau memang menyebalkan dari dulu." Hana tersenyum kecil lalu mengusap air matanya.
Derris terkekeh geli mendengar jawaban Hana. "Ah kau benar." Hana melepaskan pelukannya setelah memasikan air matanya sudah di tidak terlihat. "Saat menangis pun kamu terlihat cantik." goda Derris.
"Berisik." Hana lalu mencubit pinggang Derris dengan kencang.
Derris tersenyum lebar. "Aku cinta kamu." kata Derris.
"Aku tau."
"Harusnya bilang aku juga." protes Derris.
"Jangan memanfaatkan situasi." jawab Hana.
Derris terkekeh. "Coba ulangi. Aku cinta kamu."
"Kau cinta aku." jawab Hana santai lalu berjalan meninggalkan Derris yang sedang cemberut.