Bab 31

1284 Words
Hana mulai mengikuti intruksi yang telah Rian katakan. Setelah bel istirahat kedua Hana mulai memperhatikan tingkah laku Niken yang merupakan kaki tangan Sarah. Hana mulai mengikuti Niken yang sedang berjalan bersama teman-temannya menuju kantin. Hana pun sampai mengikuti Niken dengan berpura-pura pergi ke toilet. Satu hari memata-matai Niken ternyata belum cukup dilakukan Hana. Hari selanjutnya ia mulai memata-matai Niken kembali. Namun setelah beberapa hari mengikuti Niken pun nyatanya tidak membuahkan hasil. Akhirnya Hana menyerah dan memilih kembali pada kehidupannya seperti semula. Jam pelajaran kedua adalah olahraga, setelah pelajaran olahraga yang telah menguras banyak keringat selesai. Hana dan Sera memilih untuk langsung mengganti baju olahraga. Mereka berdua berjalan menyusuri koridor menuju toilet. Namun tak di sangka dari luar toilet, mereka berdua mendengar suara seseorang yang sudah sangat di kenalnya, Niken. Sera memberi isyarat pada Hana untuk mendengarkan pembicaraan Niken di dalam toilet. Mereka langsung merapatkan tubuhnya ke tembok sambil menajamkan indera pendengarannya. "Harusnya Derris terus kamu paksa agar segera putus dengan Hana. Aku sudah sangat muak melihat mereka yang setiap hari membuat drama di dalam kelas." kata Niken. Hening beberapa saat. "Menurutku ide yang sangat cemerlang berpura-pura sakit di hadapan Derris. Haha baiklah aku akan membantumu. Oke sampai nanti." "Sepertinya dia sudah mengakhiri teleponnya." bisik Sera pelan. Hana mengangguk pelan. Hana memberi isyarat pada Sera untuk segera masuk ke dalam toilet. Sera mengangguk, mereka berdua lalu berjalan ke dalam toilet. Niken yang sedang bercermin dan merapikan baju seragamnya langsung terlonjak kaget melihat Hana dan Sera yang berjalan masuk ke dalam toilet. Sesaat setelah ia memutuskan panggilan dengan Sarah. Melihat Hana dan Sera yang berjalan mendekati mereka membuat Niken terdiam membeku di tempatnya berdiri. "Bagaimana kelanjutan nasib temanmu yang sedang berpura-pura sakit itu?" tanya Sera dengan nada mengejek. Hana menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Sepertinya rencana dia sudah berhasil membuat aku dan Derris saling menjauh." tambah Hana dan langsung menatap tajam pada Niken. "Apa maksud kalian?" Niken langsung tersenyum polos ke arah Hana dan Sera. "aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan." Sera melirik ponsel Niken yang berada di dekat wastafel. Sera tersenyum sinis pada Niken dan tanpa menunggu lama, ia langsung meraih ponsel Niken. Ponsel yang masih menyala itu Sera manfaatkan untuk melihat nama yang terakhir di hubungi oleh Niken. Niken yang kaget melihat Sera yang mengambil ponselnya, hanya bisa diam melihat Sera mengotak-atik ponselnya. Sera langsung menyerahkan ponsel Niken pada Hana yang berada di sampingnya. "Jadi temanmu yang sedang berpura-pura sakit itu adalah Sarah?" Hana mengangguk-anggukan kepalanya. Niken langsung merebut ponselnya yang berada ditangan Hana dengan kasar. "Br*****k. Apa kalian tidak tau yang namanya etika?" geram Niken. Sera tertawa kencang. "Astaga. Ternyata bicaramu bisa kasar juga." ejek Sera. "tapi membicarakan masalah etika. Apakah menempelkan d**a pada lengan pacar orang lain itu memiliki etika?" Niken melotot tajam pada Sera. "Dasar wanita j****g." pekik Niken, ia langsung berjalan keluar dari toilet meninggalkan Hana dan Sera yang sedang menertawakannya. "Kau sangat keterlaluan." kata Hana di sela-sela tawanya. Sera mengangkat bahu acuh. "Aku hanya berbicara fakta. Manusia seperti Niken sekali-kali harus di beri pelajaran." jawab Sera. "kau terlalu baik padanya, makanya dia terus menempelkan dadanya yang besar itu pada Derris." Sera memajukan dadanya sambil menggoyang-goyangkan badannya menirukan Niken. Hana hanya tergelak melihat tingkah laku sepupunya yang sudah menjadi gila. Setelah mengganti baju, Hana dan Sera langsung bergegas menemui Arin yang sudah menunggu mereka di kantin. Mereka bertiga mendiskusikan langkah selanjutnya untuk melabrak Sarah. Namun Hana tidak bisa langsung melakukan hal tersebut karena minimnya bukti yang di milikinya. Hana lalu memutar otak agar bisa mendapatkan bukti lain yang dapat memberatkan Sarah. Malam harinya Hana nekat mencoba untuk menemui Derris di tempat kostnya. Setelah memastikan kedua orang tuanya pergi ke rumah neneknya. Hana langsung bergegas keluar rumah agar bisa bertemu dengan Derris. Hana mengetuk pelan pintu kost Derris. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Hana mencoba untuk menelpon Derris. Meskipun mengetahui panggilannya tidak akan di angkat oleh Derris, namun Hana tetap mencobanya. Hana mendekatkan telinganya ke arah pintu sambil mendengarkan suara sekecil apapun yang berasal dari dalam. "Hana, apa yang kamu lakukan disini?" suara dari belakang Hana, mengagetkannya hingga hampir membuat ponselnya terjatuh. "Astaga kau membuat aku kaget." Hana langsung mengusap dadanya dan mematikan panggilannya pada Derris. Derris terkekeh geli melihat wajah Hana yang pucat seperti seorang maling yang sedang ketahuan mencuri. "Sedang apa kamu disini?" "Oh aku mengantarkan ini." Hana mengangkat kresek putih berukuran sedang yang di bawanya dari rumah. "aku khawatir kamu kelaparan." "Ayo masuk." ajak Derris pada Hana. Derris langsung membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Hana masuk terlebih dahulu. Hana lalu memberikan kresek putih yang di bawanya pada Derris. Hana langsung duduk di bawah tempat tidur Derris, sementara Derris berjalan ke arah dapur untuk membawakan Hana minuman dari kulkas. Hana melirik ponsel Derris yang tergeletak di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Hana memperhatikan Derris yang kini masuk ke dalam kamar mandinya. Setelah Derris tidak terlihat Hana langsung meraih ponsel Derris dan membuka password yang sudah Hana hafal di luar kepalanya. Ia membuka pesan yang di kirim oleh Sarah. Semua pesan yang Hana di rasa penting langsung di fotonya untuk di jadikan bukti. Kurang dari lima menit Hana telah menemukan sedikitnya petunjuk mengenai perubahan yang terjadi pada Derris. Hana langsung menyimpan kembali ponsel Derris ke tempat semula. Tak lama Derris keluar dari kamar mandi. Ia lalu mengambil minuman kaleng yang di simpannya di atas kulkas lalu berjalan ke arah Hana. "Kamu sudah makan?" tanya Derris setelah ia duduk di sebelah Hana. "Hmmm." gumam Hana. "kamu habis dari mana?" "Tadi aku mengambil uang ke depan." Hana hanya mengangguk. Kemudian hening lama diantara mereka berdua, hanya suara tv yang meramaikan kamar Derris. Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hana yang sebelumnya tidak pernah seperti ini dengan Derris merasa bingung harus melakukan apa. Akhirnya Hana bangkit berdiri, membuat Derris menengok ke arah Hana dengan kebingungan. "Mau pergi kemana?" Hana menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya aku mengganggu waktu istirahatmu. Jadi aku mau pulang saja." Derris bangkit berdiri dan menahan lengan Hana yang akan berjalan ke arah pintu. "Jangan pulang dulu. Temani aku disini sebentar, nanti aku akan mengantar kamu pulang." Hana mengangguk pelan lalu mereka berdua duduk kembali di tempat semula. "Aku minta maaf." gumam Derris pelan sambil menunduk. "Aku tidak akan memaksamu, jika kamu belum siap untuk menceritakan semuanya." ujar Hana. "aku hanya berharap tidak ada kebohongan dalam hubungan kita ini." Derris mengangkat kepala dan membalikan badannya menghadap Hana. Derris menatap Hana sangat lama, kemudian ia menarik Hana ke dalam pelukannya. Hana hanya diam melihat apa yang sedang Derris lakukan. Hana lalu membalas pelukan Derris yang sangat erat padanya. Pelukan hangat ini sangat Hana rindukan. Hana paham Derris kini sedang menghadapi masalah. Dan Derris sengaja menutupi semua masalahnya pada Hana. Entah apa yang sedang Derris pikirkan. Padahal sudah jelas, Derris bisa membagi masalahnya bersama Hana. Namun Derris memilih memendamnya sendirian. Derris melepas pelukannya pada Hana dan tersenyum kecil padanya. "Ayo aku akan antar kamu pulang." Hana mengangguk dan bangkit berdiri. Sepanjang perjalanan Hana dan Derris hanya berdiam tanpa ada satupun yang membuka suara. Setelah sampai di depan rumah Hana Derris langsung pamit pada Hana. "Derris." panggil Hana pelan. Derris membalikkan badannya pada Hana dan menatapnya dengan bingung. "kamu bisa berbagi masalahmu padaku. Kau tahu di sekelilingmu banyak orang yang peduli padamu." setelah mengucapkan kalimat itu Hana langsung masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Derris yang berdiri mematung karena mendengar ucapan Hana. Hana langsung memasuki kamar tidurnya dan merebahkan badannya di atas tempat tidur. Ia memijat pelipisnya dengan perlahan. "Sepertinya aku akan menua sebelum waktunya." gerutu Hana. Seakan teringat sesuatu Hana langsung meraih ponsel yang berada di sampingnya lalu menghubungi Rian. Tanpa harus menunggu lama, pada sambungan pertama Rian langsung mengangkat telepon dari Hana. "Aku sudah mendapatkan bukti." kata Hana dengan senyuman lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD