01. Cuman Mimpi
Suasana di kantin sekolah menengah atas ini sangatlah riuh, mengingat sekolah cukup favorit ini memiliki total murid sebanyak 1400 yang menyebabkan kantin sekolah yang sudah hampir 2 kali diperluas karena banyaknya murid.
Dari sekian banyak murid yang ada di SMA Karya Negara ini ada satu kelompok yang sangat di kenal oleh seluruh warga sekolah siapa yang tidak mengenali Ranger?.
Sekelompok cowok yang sangat dikenal diseluruh penjuru sekolah mau dari guru, siswa-siswi, pengurus, satpam, ibu kantin di sekolah mengenali 6 cowok ganteng itu mulai dari Dika, Jefran, Juna, Dirga, Kemal, dan Farezi. Yang diketuai oleh Dika Ragesta.
Dika Ragesta. Cowok yang sangat diidam-idamkan para wanita di sekolah, karena wajah? Sudah pasti ganteng, tubuh profesional dengan tinggi 180 cm, wajar karena ayahnya orang Spanyol dan bussines man terkenal, kulit tidak terlalu putih dan tidak terlalu hitam, tapi...
Dika seorang playboy bahkan ia tidak perlu menyatakan perasaannya agar bisa memberikan perhatian kepada lawannya karena siswi di SMA Karya Negara ini siap-siap saja dijadikan pacar oleh seorang Dika Ragesta. Tapi meskipun playboy dan lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan ia tetap mandiri dengan membuat kafe dari tabungannya sendiri. Unik.
Jefran atau yang biasa dipanggil Jeje, ia memiliki wajah lokal tapi siapa sangka kakeknya adalah orang Belanda. Ia lebih terlihat santai dan good boy dibandingkan kelima temannya dan Jefran sangat setia dengan pacar waktu ia masih kelas 4 SD padahal mungkin cewek itu sudah bahagia dengan pacar masa kininya.
Juna. Cowok satu ini salah satu penggemar beratnya dari satu juri di masterchef Indonesia yaitu Chef Renata menurutnya sesuatu yang harus ia jaga dan ia miliki adalah Harta, Tahta, dan Chef Renata. Tapi untungnya Juna memiliki kemampuan masak yang cukup bagus karena dari kecil ia penggemar Chef Juna karena memiliki nama yang sama.
Dirga. Cowok satu ini kebalikan dari semua temannya ia terlihat seperti cowok yang dingin dan jarang berbicara, sekalipun teman satu gengnya. Ia tidak mau membuang tenaga dan mulutnya untuk ikut menggoda cewek-cewek dan hal yang tidak penting, ia akan berbicara jika butuh atau ada yang bertanya kepadanya.
Kemal dan Farezi adalah spesies yang satu jenis, kerjaan mereka tidak jauh-jauh dari mencari info tentang cewek-cewek cantik di sekolah dan mulai bergosip di gengnya dan pasti mereka berdua mulai memasukkan mangsa ke dalam perangkap secepat mungkin, oh iya jika sudah bersatu dengan Dika kelar sudah para cewek cantik yang mereka godai.
Saat berjalan di kantin sambil sibuk tebar pesona dan memberikan pilihan cewek cantik kepada Dika yang butuh perhatian dari temannya itu namun Kemal mengikuti arah pandangan mata Dika yang tertuju kepada cewek berambut sebahu dengan polesan make-up yang natural. Menurutnya biasa saja.
"Woy Dik! Gua ngoceh dari tadi sibuk nyariin cewek yang cocok sama lo eh basatnya lo malah ngelirik cewek laen!!" Kesal Kemal memukul bahu Dika.
Dika melihat Kemal yang mencibir sambil kembali melihatnya.
"Dia anak baru ya?" Tanya Dika sambil masih memperhatikan cewek yang sedang tersenyum mendengar teman-temannya bercerita.
Kemal mengikuti arah mata Dika, lalu menggeleng namun seperkian detik mengangguk.
"Ck! Lo yang bener apa Mal iya tuh iya, nggak tuh nggak labil banget kek abege" Kini Dika yang kesal karena Kemal.
"Gua juga baru lihat Dik selama menjadi anak tengah di sekolah gua baru sekali ini lihat dia" Dika mengangguk paham.
"Tapi kenapa? Lo suka, menurut gua dia biasa aja nggak ada bagus-bagusnya, eh? Tapi ah kaga tahu ah gua" Lanjut Kemal sambil memperhatikan gadis yang memakai jepitan berwarna merah disisi rambutnya.
"Kalau yang itu boleh tuh Dik, cakep noh belum pernah lu masukin list noh dia" Tunjuk Kemal kepada cewek yang duduk di sebelah cewek berjepitan merah. Dika hanya tersenyum dan mendorong kecil Kemal agar mulai berjalan ke meja biasa mereka makan.
"Omaygat! Omaygat!!. Dika gantengnya nggak bohong mana bikin nyegerin lagi huaaa" Ucap Teresa lebay sambil terus memperhatikan setiap kegiatan Dika disana mulai duduk, tersenyum, dan ketawa.
"Babang Dika mah jangan ditanya lagi dah paling number one in my heart" Timpal Nadia yang disetujui oleh Naya.
"Bener banget Dika tuh kayak Yamaha semakin didepan" Teresa mendengar ucapan kedua temannya itu mengigit semua jarinya dengan mata terus memperhatikan Dika.
Chika hanya terdiam selama ketiga temannya itu sibuk memuji cowok yang dibanggakan oleh cewek-cewek di kelasnya atau mungkin satu sekolah siapa lagi kalau bukan bernama Dika Ragesta. Chika tersenyum geli melihat ekspresi muka temannya dan ternyata benar jam istirahat adalah jam yang ditunggu-tunggu cewek-cewek untuk bisa melihat Dika si pangeran Sekolah.
"Udah lihat'kan lo betapa tampannya seorang Dika Ragesta, gua rasa tuhan nyiptain dia pas lagi seneng" Teresa menyikut lengan Chika.
Gadis yang ia sikut hanya mengangguk. Oke menurutnya memang ganteng tapi sekedar ganteng saja, entahlah bagaimana bisa cewek satu sekolah tergila-gila dengan cowok itu sebaiknya dia diam saja kalau ia mengatakan opininya bisa-bisa diserbu oleh penggemar cowok itu.
"Eh! Chik lo yang mesen mie ayam sekarang jangan curang lo yeee jamilah" Nadia memberikan uangnya kepada Chika yang melebarkan mata saat Teresa dan Naya juga ikut memberikan uangnya.
"Dih?! Yaampun gua baru pertama kali ke kantin makan dikantin udah di babuin aja ish jahat banget gilaaa" Ya benar Chika memang baru kali ini makan dikantin biasanya ia lebih suka makan di kelas karena tidak sumpek dan lebih tenang.
Dengan malas namun terpaksa yang mengharuskan Chika memesan makanan untuk mereka. Tidak berapa lama Chika memesan Mie ayam, tiba-tiba saja Dika berdiri di sebelahnya ikut memesan makanan yang sama ia sedikit bergeser menjaga jarak dari pangeran itu ia belum siap dilabrak para penggemar Dika yang kini sudah menatapnya nyalang.
Mending geser deh gua dari pada digosipin yang bikin panas kuping, sadar diri juga anak bawang kayak gua mana cocok sama bawang Sultan kayak dia batin Chika merendah.
Dari belakang Teresa, Nadia, dan Naya merasa tidak percaya karena Dika dengan terang-terangan melihat Chika tanpa sembunyi-sembunyi. Mereka benar-benar penasaran apa yang dirasakan oleh Chika saat ditatap seperti itu sama Dika. Mereka bertiga saja yang sering makan dikantin belum pernah ditatap seperti itu Chika lucky sekali.
Chika baru menyadari bahwa Dika memperhatikan dirinya entah sejak dari kapan tapi ia baru menyadari kini, jujur ia bukan salah tingkah tapi terkejut dan juga takut dilihat sedalam itu. Chika melihat kearah lain dan kembali melihat ke sebelahnya apakah Dika sudah tidak melihatnya seperti tadi namun ternyata masih dengan cepat ia kembali membuang muka.
"Lo anak baru ya?"
Chika menggeleng tanpa melihat Dika disebelahnya yang kini sudah terkekeh karena tingkah Chika yang menggeleng dan mengintip tadi membuatnya gemas.
"Jangan bohong sama gua, lo anak barukan gua baru lihat lo soalnya"
Chika menggeleng lagi kini sambil memainkan jari-jarinya di meja yang sedadanya mencoba biasa saja namun malah terlihat lucu dimata Dika jarang sekali ia melihat cewek yang mau membuang kesempatan untuk menyia-nyiakan wajahnya tapi gadis ini dengan santainya menolak kontak mata dengannya.
"Nama lo siapa hey?" Tanya Dika yang ketiga kalinya namun reaksi cewek itu masih seperti tadi diam, Dika paham cewek ini bukannya sombong atau apa karena ia terlihat sedang menyembunyikan groginya.
"Lo denger gua nggak sih?"
Chika mengangguk pelan sebagai jawaban agar tidak disangka sombong atau apalah itu, Dika sangat gemas melihat tingkah cewek disebelahnya ini ia mencolek pipi Chika sambil tersenyum manis menampilkan gingsulnya.
Deg!
Chika reflek melihat Dika yang tersenyum manis kepadanya tapi untung saja ibu kantin itu memberikan pesanannya dengan cepat Chika memberikan uang dan langsung berjalan cepat kearah temannya yang tidak berkedip sedikit pun berbeda dengannya yang mengigit bibir.
"Gua nggak mau lagi makan di kantin, nggak mau pokoknya" Chika mengambil mangkoknya dan berjalan keluar dari kantin tanpa menengok ke Dika yang masih memperhatikan dirinya begitu juga dengan cewek yang ada di kantin.
"Lha? Ini kembaliannya belum diambil" Ucap Ibu kantin itu melongo melihat Chika yang berjalan dengan cepat keluar.
Dika tersenyum geli melihat tingkah Chika cewek yang belum ia tahu namanya namun sudah membuatnya penasaran sekaligus gemas.
"Biar saya yang ngasih nanti bu" Dika mengambil uang kembalian Chika.
"Kamu mah bisa aja Dik ngambil kesempatannya, dia anak baru ya?" Ibu kantin pun menyangka Chika anak baru di SMA karya Negara yang banyak diminati orang-orang.
Dika menggeleng, "nggak katanya, tapi saya juga nggak tahu" Ibu kantin tadi mengangguk pelan dan memberikan pesanan Dika dan kawan-kawan.
Saat berjalan menuju ke mejanya ia sempatkan untuk menggoda cewek yang tersenyum kepadanya dengan mengedipkan sebelah mata. Dan membuat cewek itu histeris karena di notice oleh Dika.
Chika memakan mie ayamnya dengan nikmat dan tenang di kelas yang sepi hanya dirinya di dalam kelas sambil memakan pesanan tadi dengan damai bodoh amat dengan rambutnya yang berantakan karena kepedesan. Cowok mana paham.
Pintu kelasnya terbuka dan tiba-tiba Dika sudah berada di bangku Nadia yang disebelahnya dan bodohnya Chika, ia bukan merapikan rambut tetapi malah melongo melihat Dika yang duduk dan memperhatikan wajahnya. Dika tertawa kecil dan menempelkan uang kembalian tadi di keningnya.
Chika menaikkan bola matanya untuk melihat apa yang diberikan Dika di kepalanya. Melihat ekspresi Chika yang sangat membuatnya gemas jangan sampai dia ngemis duluan ke cewek ini. Namun ia tidak bisa berbohong soal rasa yang tiba-tiba muncul di hatinya.
"Uang?"
Dika tersadar dari lamunannya yang memperhatikan setiap inci wajah Chika yang kini terlihat lucu keringat di kening, dan dibawah mata, hidung dan bibir yang merah akibat kepedesan, rambut yang sedikit berantakan, untuk ia tidak lulusan S3 permesuman seperti otaknya Farezi yang tidak jauh dari cewek sexy dan hot seperti di majalah dewasa adalah tipe cewek idaman Farezi.
"Kembalian lo, yang tadi belum diambil gara-gara kabur seenaknya aja" Jelas DDika
"makasih ya" Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Chika yang merasa kurang nyaman dengan keberadaan Dika di kelasnya.
"Lo nggak balik ke kantin?" Tanya Chika sedikit kikuk karena cowok itu tidak ada henti-henti memperhatikan setiap wajahnya itu membuat rasa waspada timbul dipikiran Chika.
Dika menyudahi tatapannya dan menghadap ke depan seperti yang dilakukan oleh cewek disampingnya.
"Gua mau makan bareng sama lo" Chika melebarkan matanya ia tidak mau ada gosip tentangnya dan belum siap dihujat oleh murid perempuan di sekolah karena mencoba mendekati Dika.
Chika makan dengan cepat-cepat agar bisa terbebas dari Dika dengan suapan yang banyak dan cepat menyebabkan ia tersedak kuah mie ayam yang bergelimang sambal dan saos.
Uhuk! Uhuk!.
Dika yang melihatnya tersedak langsung membukakan botol air mineral yang ada di meja dan membantu memegang botol itu sambil mengusap punggungnya, saat sudah mulai mendingan ia melihat wajah khawatir Dika yang menutup kembali botol itu.
Dika langsung menghapus keringat yang ada di wajah Chika dengan tangannya itu membuat pemilik wajah melongo atas perlakuannya yang terlalu berlebihan. Chika langsung mencegah tangan Dika yang tadi menghapus keringatnya kini ia paham apa yang membuat cowok satu ini digilai banyak cewek.
"Makasih"
Chika langsung berjalan sambil membawa mangkok tadi dan berlari kecil ke kantin ia benar-benar terasa bermimpi bisa mendapatkan perhatian dari Dika tapi jika mimpi ini terlalu terasa nyata oh pleaseee...
"CHIKA RADELA!!!"
Chika terkejut bukan main ia langsung berdiri dan melihat bu Mala di depannya sambil melipat tangan di d**a.
"Kamu kekenyangan pas jam istirahat sampai tidur di jam saya?!" Omel bu Mala selaku wali kelasnya 11 IPS 1.
"Cuci muka sana!"
Chika menunduk dan berjalan gontai saat menuju toilet sekolah yang berada di lantai dasar terpaksa ia harus menuruni anak tangga satu persatu dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul karena terkejut saat tidur tadi.
Kenapa bisa mimpiin Dika sih?! Semua gara-gara Dika!!.